Download versi cetak: 1267_1440_KebaktianPagiSore_2026-7-Jun_2026_IR

Yesus Sang Air Hidup

Yohanes 2: 1-11

Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Saya telah mengkhotbahkan beberapa bagian dari Injil Yohanes. Jikalau dibandingkan dengan tiga Injil lainnya, Injil Yohanes mempunyai keunikan. Ada banyak cerita yang hanya dicatat dalam Injil Yohanes. Tiga Injil lainnya (Matius, Markus dan Lukas) disebut sebagai Injil sinoptik karena ketiganya memiliki banyak bagian yang paralel satu dengan yang lainnya. Injil Yohanes menjadi Injil yang paling berbeda, dalam Injil ini sangat jelas dinyatakan bahwa Yesus adalah Allah. Yoh 1:1 mengutip seperti apa yang dicatat di dalam kitab Kejadian yaitu dikatakan “Pada mulanya”. Kalau di kitab Kejadian dicatat pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi, dalam Injil Yohanes dikatakan, pada mulanya adalah firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan firman itu adalah Allah. Sang Firman itu menjadi manusia, turun dan diam di tengah-tengah kita. Dalam Injil Yohanes dinyatakan tujuh perkataan yang terkenal, yaitu tujuh perkataan “I am”. Di Perjanjian Lama ketika Musa bertanya, “Siapakah engkau?” Maka Yahweh mengatakan, “Aku adalah aku.” Dalam Perjanjian Baru khususnya Injil Yohanes ada tujuh kali di mana Yesus mengatakan “I am”. d Aku adalah roti hidup, Aku adalah terang dunia, Aku adalah pintu bagi domba. Aku adalah gembala yang baik. Aku adalah kebangkitan dan hidup. Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Dan Akulah pokok anggur yang sejati.

Para komentator biasanya melihat Injil Yohanes dibagi menjadi dua bagian besar. Di tengah-tengah antara pasal 1 dan 21, pasal 13 sampai seterusnya mencatat momen-momen menjelang Tuhan Yesus naik ke kayu salib. Pasal 1 sampai 12 itu adalah the book of signs atau kitab tanda-tanda. Dan 13 sampai seterusnya adalah the book of glory, di mana kemuliaan Kristus dinyatakan. Antara tanda dan kemuliaan Kristus ada kaitan yang sangat erat. Satu ayat yang menjadi kunci untuk kita mengerti bagaimana Yohanes menyusun Injilnya dicatat di pasal 20:30-31. Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-muridnya yang tidak tercatat dalam kitab ini. Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat supaya kamu percaya bahwa Yesus lah Mesias, Anak Allah, dan supaya oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya. Ayat ini menjadi kunci untuk kita mengerti tujuan,motivasi dan pola Yohanes menuliskan Injilnya. Tujuh tanda mujizat yang Yesus lakukan, menyatakan kemuliaanNya dan mengajarkan kepada kita siapa Dia serta apa yang Dia berikan dan kerjakan di tengah-tengah kita. Selain itu juga bagaimana seharusnya kita berespons kepada Yesus. Mujizat pertama yang Yesus lakukan di depan umum adalah mengubah air menjadi anggur, dicatat di Yohanes 2:1-11. Ini adalah tanda yang pertama yang Yesus kerjakan. Kalau dalam Injil sinoptik lainnya mujizat menggunakan istilah dunamis (acts of power), maka di sini menggunakan kata semeia (tanda). Jadi kalau dalam Injil lain Yesus melakukan mujizat itu adalah kuasa dari kerajaan Allah yang dihadirkan di tengah-tengah dunia, dalam Injil Yohanes bukan sekedar kuasa yang dinyatakan, tetapi ini menjadi tanda akan apa yang sebetulnya Yesus kerjakan di dunia. Mujizat bukan menjadi yang paling penting, tetapi itu menjadi tanda untuk mengajarkan kepada kita siapakah Yesus dan apa yang Dia kerjakan. Tanda pertama yang Yohanes pilih untuk dicantumkan dalam Injilnya adalah tanda ini. Yohanes sangat kental dengan angka tujuh. Dia memilih air menjadi anggur sebagai mujizat yang pertama. Ini pun bukti bahwa apa yang Yesus kerjakan itu bukan sekedar dikarang oleh para muridNya. Karena kalau para murid mengarang cerita, mungkin mereka akan membuka dengan mujizat yang paling spektakuler.

Mujizat pertama yang Yesus lakukan adalah menolong tim konsumsi. Dia menolong satu pesta pernikahan yang sebetulnya ada dalam keadaan susah, tetapi tidak banyak orang tahu. Mengapa ini menjadi peristiwa yang sangat penting bagi pelayanan Yesus? Yang pertama, kita melihat bahwa peristiwa perkawinan di Kana ini terjadi pada hari yang ketiga. Ada apa dengan hari yang ketiga? Hari yang ketiga ini adalah hari yang ketujuh dari sejak peristiwa di Yohanes pasal pertama itu dicatat. Hari pertama yang dicatat dalam Injil Yohanes adalah hari di mana Yohanes Pembaptis berjumpa dan berhadapan dengan para pemimpin orang Yahudi. Di situ Yohanes Pembaptis mengkonfrontasi para pemimpin Yahudi. Hari kedua adalah hari di mana Yohanes akhirnya mengatakan pada Yesus, “Lihatlah Anak domba Allah.” Hari ketiga adalah hari di mana Andreas dan salah satu murid yang kemungkinan adalah Yohanes memutuskan untuk mengikut Yesus. Hari keempat, Andreas mengajak saudaranya, yaitu Petrus untuk mengikut Yesus. Hari kelima Yesus berjumpa dengan Natanael. Hari keenam mereka berjalan pergi dalam perjalanan. Dan hari ketujuh Yesus tiba di Kana bersama dengan para muridNya untuk menghadiri pernikahan. Kalau di Perjanjian Lama Allah menciptakan enam hari dan hari ketujuh Dia beristirahat menikmati ciptaanNya, maka hari ketujuh dalam Injil Yohanes adalah hari di mana Yesus menikmati perjamuan pernikahan. Ayat kedua dikatakan Yesus dan murid-muridNya diundang ke perkawinan. Memang kemungkinan besar semua orang dalam kota itu diundang. Apalagi kemungkinan yang menikah juga adalah keluarga besar dari Maria sendiri. Sehingga Maria dapat info insider bahwa anggurnya sudah habis.

Kita juga melihat bahwa Yesus dan para muridnya itu bukanlah orang-orang yang anti perayaan atau anti sukacita. Karena kemungkinan besar justru Yesus itu adalah tipe orang yang sangat diharapkan kehadirannya untuk datang ke pesta-pesta. Tipe orang yang membawa tawa dan sukacita kepada orang-orang ketika Dia hadir di tengah mereka. Dalam perayaan pernikahan yang bisa berlangsung selama berhari-hari, bahkan bisa sampai 7 hari, tiba-tiba ibu Yesus mengatakan bahwa mereka kehabisan anggur. Kita sebagai orang Indonesia mungkin bisa membayangkan bahwa pernikahan itu adalah urusan penting. Dalam budaya timur ketika seorang pasangan itu menikah, maka yang menikah  bukan sekedar dua orang ini, tetapi urusan keluarga besar, bahkan satu daerah. Pernikahan adalah momen yang harus dirayakan oleh komunitas, bukan hanya oleh dua orang yang akan menikah. Dan pada zaman Tuhan Yesus, salah satu hal yang menjadi kunci kesuksesan pernikahan itu adalah anggur. Maka kehabisan anggur di tengah-tengah perayaan itu menjadi bencana besar yang menyangkut nama baik keluarga yang menikah, khususnya keluarga dari mempelai pria. Karena adalah tanggung jawab dari keluarga mempelai pria untuk mengatur dan memastikan mereka memiliki pesta yang mewah dan yang cukup menyenangkan hati setiap orang yang datang. Kalau ekspektasi masyarakat tidak terpenuhi, ini bisa mencoreng nama baik mereka. Kita melihat juga kebergantungan Maria kepada Yesus. Karena kemungkinan besar Yusuf sudah meninggal. Maria men-sharingkan hal itu kepada Yesus. “Mereka kehabisan anggur.” Ayat keempat kita melihat Yesus menjawab, “Mau apakah engkau daripadaKu ibu? Saat-Ku belum tiba.” Mengapa Yesus menjawab seperti ini? Seolah-olah dengan kalimat yang kasar. Bahasa Indonesia masih menggunakan kata ibu dan bahkan terjemahan baru juga menggunakan kata ibu. Tapi dalam bahasa Inggrisnya dan bahasa aslinya itu menggunakan kata woman. “Hai wanita, mau apa kamu?” Mengapa Tuhan Yesus tiba-tiba seperti jadi orang yang sensitif, jadi orang yang troubled sampai dia menjawab dengan kata-kata yang seolah-olah kasar. Nanti kita akan melihat bahwa kuncinya ada dalam perkataan Yesus ketika Dia mengatakan, “SaatKu belum tiba.” Moment Ku yang itu belum tiba. Istilah teknis di dalam Injil Yohanes memang banyak digunakan yang menunjuk pada satu momen tertentu. Kita juga bertanya-tanya mengapa setelah Yesus mengatakan seperti ini pada akhirnya Dia tetap melakukan mujizat. Sebenarnya Yesus tidak bertanggung jawab pada segala macam disaster yang terjadi dalam dunia ini.

Ayat kelima dikatakan bagaimana Maria berkata kepada para pelayan, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu.” Ini menjadi sesuatu yang sering dipakai oleh teman-teman kita di Katholik. Istilah co-redemptrix adalah semacam title yang tidak official yang diberikan kepada Maria, seolah-olah membuat Maria punya peran di dalam penebusan manusia. Memang tidak setara dengan apa yang Yesus kerjakan. Tapi Maria punya peran. Misalnya ketika berdoa kepada Bunda Maria, kemungkinan besar doa dijawab oleh Yesus itu lebih besar. Karena kalau Maria yang bersyafaat kepada Yesus, Yesus yang seolah-olah tadinya enggan untuk mengabulkan doa itu, akhirnya Yesus mungkin akan tergerak untuk melakukannya.

Ayat 6-7, dikatakan bahwa ada enam tempayan batu (stone jar) yang digunakan untuk pembasuhan (ritual cleansing). Masing-masing isinya 2-3 buyung. Buyung adalah satuan volume yang kalau kita terjemahkan ke dalam zaman sekarang, enam tempayan itu bisa menampung sekitar 450-700 liter air. Jadi jangan bayangkan ini tempayan dari tanah liat yang kecil, yang biasanya dibuat minum. Mereka mengisinya dengan air sesuai dengan perintah Yesus. Dan Yesus memberikan kepada mereka 450-700 liter anggur. Kalau zaman sekarang satu botol wine sekitar 750 ml, berarti ini sekitar 700-1000 botol anggur. Memang zaman itu anggurnya itu lebih diluted ketimbang anggur yang sekarang kita minum yang sangat concentrated. Tapi jumlah itu jauh lebih daripada yang dibutuhkan.

Ayat ke-8 Yesus mengatakan kepada para pelayan itu, “Ya sekarang cedok dan bawa ke pemimpin pesta.” The lord of the feast adalah orang yang seharusnya bertanggung jawab untuk memastikan semua pesta itu berjalan dengan baik. Di sini kita melihat siapa sesungguhnya Tuhan atas feast itu. Siapa yang memberikan kecukupan akan anggur yang terbaik? Yesus. Dan ketika pemimpin pesta itu mencicipi anggur yang diberikan, dia mengatakan, “Biasanya orang kasih anggur yang terbaik itu di depan.” Karena setelah orang minum lumayan banyak, maka mereka akan mulai sedikit tipsy dan mereka susah membedakan anggur yang baik dan yang tidak baik. Jadi kalau mau reputasinya bagus, harusnya keluarkan yang baik dulu. Di sini Tuhan Yesus seperti mau menyatakan bahwa apa yang Dia berikan itu lebih daripada standar yang diharapkan. Hidup di dalam Kristus bukanlah sekedar hidup yang acceptable. Tapi di dalam Kristus kita boleh mendapatkan kelimpahan yang tidak habis-habis. Inilah yang Yesus berikan kepada kita. Apa yang sebetulnya ingin diajarkan lewat tanda mengubah air menjadi anggur ini? Mengapa memberikan 1000 botol anggur itu menjadi tanda pertama yang menggambarkan misi pelayanan Yesus di dunia? Mungkin kita bisa mengatakan yang Yesus ingin berikan adalah untuk menutupi rasa malu

keluarga mempelai laki-laki sehingga mereka tidak dipermalukan. Bukankah itu juga yang manusia gumulkan sepanjang zaman? Bagaimana kita bisa hidup dengan rasa malu? Kita malu karena kegagalan kita, masa lalu kita, dosa yang tidak diketahui orang lain tapi kita sendiri tahu. Kita malu karena kita tahu dan sadar kita tidak cukup baik. Ada orang yang kelihatan begitu baik, begitu sukses, berhasil di luar. Tapi dalam hatinya ada rasa malu yang terus menghantui. Yang dikerjakan Yesus di mujizat pertama, dia menutupi rasa malu sebuah keluarga. Tapi sekali lagi saya rasa ini bukanlah menjadi yang utama, Yesus datang bukan sekedar untuk menghilangkan rasa malu kita. Yesus datang memberikan sukacita dan hidup yang berkelimpahan. Seperti sukacita yang ada dalam sebuah pesta pernikahan. Yang kita bisa rasakan, yang bisa kita lihat dengan mata kita, yang kita bisa kecap dengan lidah kita ketika meminum anggur itu. Berulang kali Alkitab menggunakan sensory language untuk menyatakan seperti apa Allah itu. Mazmur mengatakan, “Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu.” Pemazmur seperti mau mengatakan tidak cukup kamu tahu Tuhan itu baik. Kamu juga perlu merasakan, mengecap dan melihat dengan matamu kebaikan Tuhan. Orang Kristen dipanggil bukan sekedar percaya atau tahu, tapi juga mengalami.

Jonathan Edwards mengatakan, misalnya ada perbedaan antara memiliki pendapat bahwa Allah itu suci dan penuh dengan kebaikan dan memiliki sense atau merasakan keindahan atau loveliness dari kesucian dan anugerah itu. There is a difference between having an opinion that God is holy and gracious and having a sense of the loveliness and beauty of that holiness and grace. Jadi, ada perbedaan sama seperti ada perbedaan antara kita tahu madu itu manis, dan kita mencicipi madu yang asli yang rasanya begitu manis dan menyegarkan. Itulah yang Tuhan Yesus ingin berikan kepada kita, pengalaman sukacita yang berasal dari keindahan dan kebesaran Allah. Ini menjelaskan mengapa buah roh yang pertama disebutkan adalah sukacita. Orang Kristen memang harus meratapi dosa. Kita adalah orang yang juga harus berduka melihat segala ketidak adilan dan ketidak benaran. Kita juga mungkin harus berkabung melihat keadaan Indonesia yang semakin hari semakin kacau. Kita perlu berlutut, berdoa, menangisi, bahkan bagi yang ada panggilan tertentu, kita harus siap untuk mengambil resiko melakukan apa yang benar. Sebagai orang Kristen kita harus pikul salib dan sangkal diri. Tetapi ada sukacita yang juga harus dimiliki oleh orang Kristen. Kalau orang Kristen hanya terus memikirkan segala hal yang tidak baik, hanya terus melihat dosa, fokus kepada hal-hal yang jahat di dunia ini, dan lupa untuk melihat kepada Sang sumber sukacita yang jauh lebih besar daripada itu semua, maka mungkin itu yang akan mengubah seorang Kristen. Terlalu banyak fokus kepada segala kejahatan dan ketidakbenaran yang terjadi, sampai kita melupakan sukacita dan pengharapan yang ada di dalam Tuhan. Tuhan datang untuk memberikan sukacita kepada kita. Sukacita yang tidak bisa diberikan oleh dunia ini. Itulah yang harusnya menjadi kekuatan dan pengharapan kita hidup di dunia ini.

Pertanyaannya, bagaimana Yesus memberikan sukacita yang digambarkan oleh anggur kepada kita? Tadi kita sudah memperhatikan kejanggalan di mana ketika Maria meminta, maka Yesus seperti membalas dengan agak kasar. Maria mengatakan “Yesus mereka kehabisan anggur.” Yesus menjawab, “Wanita memang apa yang kamu mau dari saya?” Ada yang mengatakan mungkin kita bisa sense bahwa Yesus merasa sangat troubled dalam keadaan itu. Apa yang kira-kira membuat Yesus itu merasa troubled? Bayangkan kita menjadi Tuhan Yesus yang hidup di zaman itu. Kita diundang ke pesta pernikahan keluarga besar kita. Pada zaman itu orang menikah bisa umur 15. Yesus sudah umur 30, Dia masih single. Kita yang memasuki umur 27 dan seterusnya, kalau datang ke pernikahan, saudara pasti ditanya, “Kamu kapan?” Kita ingin jawab, “Apa urusanmu denganku?” Yesus memang tidak mau menikah dengan satu orang tertentu. Sekalipun Yesus tidak menikah dengan seseorang, dalam Perjanjian Lama, relasi antara Allah dan umatNya digambarkan sebagai relasi suami istri. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus sendiri berulang kali menyebut dirinya sebagai mempelai pria. Ketika ada orang Farisi menegur para murid Yesus, “Mengapa mereka tidak berpuasa dan melakukan ini dan itu?” Yesus mengatakan, “Memangnya sahabat dari mempelai pria itu berpuasa waktu mempelai prianya sedang bersama dengan mereka?” Yesus mengatakan, “Aku ini mempelai pria sedang hadir di tengah-tengah kamu.” Penulis Injil Yohanes, Yohanes itu sendiri nanti juga akan menuliskan kitab Wahyu. Dan kitab Wahyu itu ditutup dengan pernikahan Anak domba. Wahyu 21:2, “Bagaimana Yerusalem yang baru turun dari surga itu berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.” Wahyu 19:7 dikatakan hari perkawinan Anak domba telah tiba dan pengantinNya telah siap. Maka mari kita bersukacita dan bersorak-sorai. Hari yang penuh sukacita. Hari di mana Tuhan Yesus menantikan kapan gerejaNya, mempelai wanitaNya siap datang kepada Dia.

Yesus sebagai mempelai pria adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Yesus bukan sekedar mengampuni gereja, menutupi rasa malu kita. Tapi dia mengasihi kita seperti mempelai wanitaNya. Dia bukan sekedar menerima kita karena terpaksa, Dia bersukacita karena kita. Banyak orang Kristen yang percaya Tuhan sudah mengampuni dosa saya, Tuhan menerima saya. Tapi sadarkah kita bahwa Allah bukan sekedar mengampuni dan menerima kita? Yesus sebagai mempelai pria dari gerejaNya, itu yang harusnya menimbulkan sukacita besar bagi kita. Tapi sekali lagi pertanyaannya, mengapa Tuhan Yesus sepertinya meresponi Maria dengan gusar? Yesus mengatakan, “Ini belum saatKu.” Saat di dalam Injil Yohanes selalu merujuk kepada satu momen di mana Yesus ditinggikan dan dimuliakan. Yaitu momen di mana Yesus ditinggikan di atas kayu salib. Kita bisa bayangkan Tuhan Yesus ketika Maria datang kepada Dia, “Yesus, mereka kehabisan anggur.” Jawaban Yesus mempunyai makna, belum tiba waktu untuk Dia mati. Yesus sedang memikirkan pernikahan yang lain, pernikahan di mana Dia menjadi mempelai pria yang akan menyediakan anggur bagi mempelai wanitaNya. Satu-satunya cara Dia bisa memberikan anggur dalam pesta pernikahanNya adalah dengan Dia mati di kayu salib. Inilah sebab Yesus di tengah-tengah sukacita pesta pernikahan, Dia merasa begitu gusar. Untuk menyediakan pesta bagi mempelai wanitaKu, Aku harus melewati momen kematian yang mengerikan dan itu belum saatKu. Sekarang ini biarlah Aku memberikan sukacita kepada keluarga yang menikah di sini. Sebagai tanda bahwa inilah yang akan Aku berikan kepada semua yang percaya kepadaKu. Kita mendapatkan sukacita pernikahan Anak domba Allah lewat penyucian diri kita dari dosa yang dikerjakan lewat darah yang Yesus curahkan dari kayu salib. Di Perjanjian Lama Tuhan mengubah air sungai Nil menjadi darah dan itu adalah kutukan murka Tuhan. Di Perjanjian Baru kita melihat the Lord of the Feast mengubah air menjadi anggur yang terbaik. Menyucikan kita dari segala dosa dan rasa malu kita serta memberikan sukacita, bersatu dengan Dia seperti mempelai pria dan wanita. Untuk itu Dia harus mencurahkan darahNya di kayu salib.

Anggur apapun yang diberikan oleh dunia itu akan habis. Hanya anggur dari Yesus Kristus yang memberikan sukacita yang kekal. Apa yang memberikan sukacita dalam hidupmu? Mungkin karir, atau keluarga dan anak-anak. Itu memang adalah bagian dari berkat Tuhan. Tetapi kalau kita jadikan itu menjadi sukacita yang paling tinggi, suatu hari semuanya akan habis. Hanya anggur dari Kristus yang akan terus ada dan memberikan kita sukacita yang terbesar. Anggur yang mengingatkan pada kita bahwa kita adalah mempelai wanita yang telah ditebus dan disucikan oleh darahNya.Anggur yang mengingatkan bahwa tidak peduli keadaan kita seperti apa, kita bisa mengecap dan melihat kebaikan Tuhan yang mengasihi kita. Untuk bisa kita merasakan hal ini, kita perlu belajar taat. Yesus yang mengubah air menjadi anggur. Ini terjadi setelah para pelayan sekalipun tidak mengerti, mereka melakukan apa yang diperintahkan dengan taat. Maria juga tidak tahu apa yang akan Yesus lakukan, tapi dia tahu siapa Yesus. Karena itu dia berkata, “Taat dan lakukan apa yang Dia minta.” Ketaatan itu muncul bukan ketika kita sudah mengerti semuanya. Tapi ketaatan muncul setelah kita percaya kepada siapa yang memerintah kita. Banyak hal yang kita rasa tidak make sense. Tidak make sense Tuhan untuk saya memaafkan orang ini. Tidak make sense untuk saya melayani dalam keadaan seperti ini. Kita hanya perlu taat. Ketaatan dalam doa, dalam menjaga kesucian hidup, dalam terus berusaha mengasihi seseorang, ada mujizat bisa terjadi.

Dalam keadaan dunia yang penuh dengan dukacita dan penderitaan. Kita boleh mendapatkan kekuatan dengan mengecap sukacita dari masa depan yang akan datang. Di tengah-tengah pesta pernikahan di Kana di mana semua orang sedang bersukacita. Pemimpin pesta yang sejati justru sedang memikirkan salib. Di tengah sukacita manusia dia justru mengecap penderitaan yang akan datang. Supaya hari ini ketika kita duduk di tengah-tengah penderitaan dalam dunia ini, kita dapat kekuatan dengan mengecap dari sukacita yang akan Tuhan berikan di hari pernikahan Anak domba nanti. Momen di mana tidak ada lagi air mata. Hanya ada sukacita yang tidak akan pernah habis. Mungkin hari ini ada saudara yang merasa hidupnya seperti pesta di Kana, persediaan anggur sudah hampir habis. Kekuatan, harapan, sukacita mulai habis. Tapi hari ini, injil Tuhan memberitakan bahwa Yesus adalah Tuhan atas pesta. Dia sanggup mengubah air menjadi anggur, mengubah rasa malu menjadi sukacita, mengubah orang berdosa sebesar apapun, menjadi mempelaiNya yang tidak bercacat cela. Karena Dia telah naik ke atas kayu salib, kita boleh punya keyakinan bahwa suatu hari nanti kita akan duduk bersama dengan Dia dalam perjamuan kawin Anak domba. Sampai saat itu tiba, biarlah kita menjadi mempelaiNya yang setia mempersiapkan diri dan menyucikan diri sampai kita berjumpa dengan Dia. Ringkasah belum dikoreksi oleh Pengkhotbah.

Close
Close Search Window