Download versi cetak: 1270_1443_KebaktianPagiSore_2026-28-Jun28_IR
Beriman Tanpa Melihat Bukti
Yohanes 4: 43-54
Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Saya ingin mengajak kita merenungkan rangkaian tujuh tanda yang dilakukan oleh Tuhan Yesus di dalam Injil Yohanes. Karena dengan metode/pola seperti inilah Yohanes menuliskan Injilnya. Di akhir Injilnya, Yohanes mengatakan memang masih banyak tanda yang lain yang dibuat Yesus, tetapi semua yang dicatat di sini itu adalah supaya kamu percaya bahwa Dialah Mesias, Anak Allah. Beberapa waktu yang lalu kita telah membahas tanda yang pertama, yaitu Yesus mengubah air menjadi anggur. Yesus bukanlah sekedar menolong tim konsumsi yang lagi kelabakan, makanannya, minumannya habis. Tetapi karena ini merupakan bayang-bayang dari pernikahan sang Anak Domba yang akan Yesus berikan kepada umat-Nya. Yesus menyediakan anggur bagi pasangan yang menikah di kota Kana itu untuk menutupi rasa malu keluarga mereka dan memberikan sukacita bagi mereka. Demikianlah Tuhan Yesus akan memberikan kepada umatNya atau mempelai wanitanya darahNya. Ayat 46 dicatat Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea. Pasal 3 & 4 dicatat Yesus pergi dari Galilea ke Yerusalem dan ke Samaria. Jadi sebetulnya ini bukanlah mujizat kedua yang Yesus lakukan, tetapi mujizat kedua yang dicatat di dalam Injil Yohanes. Setelah Yesus mengubah air menjadi anggur di Kana, Tuhan Yesus pergi ke Yerusalem untuk merayakan hari raya di sana. Di Yerusalem Dia melakukan banyak mujizat. Ada orang-orang Galilea yang juga pergi merayakan hari raya di Yerusalem itu menyaksikan bagaimana Yesus melakukan banyak mujizat di Yerusalem. Setelah itu Yesus pergi ke Samaria di mana kita mengenal kisah perjumpaan Kristus dengan perempuan Samaria di tepi sumur. Dari sana Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea. Sepertinya bagian ini sengaja ditulis untuk mengaitkan antara tanda pertama yang Yesus lakukan dengan tanda kedua yang akan Dia segera lakukan. Kalau kita bandingkan, keduanya mempunyai banyak kemiripan. Dalam peristiwa mukjizat di Kana dikatakan pada hari yang ketiga ada pernikahan di Kana. Dalam peristiwa kedua ini dikatakan setelah 2 hari Yesus berangkat ke Galilea. Jadi Yesus melakukan mujizat kedua ini juga pada hari yang ketiga. Hari ketiga adalah hari umat manusia mendapat pengharapan karena Yesus bangkit.
Persamaan kedua, dalam peristiwa pernikahan di Kana, Tuhan Yesus menegur ibunya yang mengatakan mereka kehabisan anggur. Yesus mengatakan, “Mau apa kamu dariku, hai wanita?” Dan demikian juga nanti kita melihat Tuhan Yesus semacam menegur ayah yang anaknya sedang sakit. Persamaan ketiga, dua mujizat ini dikerjakan oleh Yesus sekedar dengan Dia berkata-kata saja tanpa Dia melakukan hal yang lain. Dalam dua peristiwa itu ada sekumpulan pelayan atau hamba-hamba yang menyaksikan mujizat itu. Sedangkan pemimpin pesta itu tidak tahu apa yang terjadi. Para pegawai dari pejabat istana itu tahu anak itu sembuh, tetapi ayahnya sendiri belum tahu anaknya sembuh.
Dan yang paling penting, dua peristiwa mujizat ini diakhiri dengan sekelompok orang yang percaya pada Yesus. Sekalipun banyak kemiripan antara dua peristiwa ini, kita juga bisa melihat perbedaan yang kontras dari keduanya. Dalam peristiwa pertama itu latar belakangnya adalah sebuah pernikahan. Peristiwa yang penuh sukacita, perayaan dan kebahagiaan. Sedangkan dalam kisah yang hari ini akan kita renungkan, latar belakangnya adalah satu kengerian terhadap kematian, ada kegelisahan, ada semacam rasa desperate dan kekuatiran karena ada anak yang sedang sakit keras. Kalau kita renungkan siapapun juga mungkin mengalami kekuatiran, kesedihan, bahkan tragedi yang dalam hidup. Sang ayah dikatakan dia adalah seorang pegawai istana (basilikos). Basilikos itu terkait dengan basilia, terkait dengan kerajaan. Ada posisi yang tinggi yang dipegang oleh orang ini. Dan jikalau dia ada di Kapernaum, maka kemungkinan dia adalah salah satu pejabat di istana raja Herodes Antipas yang memang berkuasa di Kapernaum. Orang ini memiliki jabatan yang tinggi, pasti juga memiliki harta. Dia memiliki pelayan dan juga pengaruh. Tetapi dia merasa tidak berdaya karena semua yang dia miliki tidak bisa menurunkan demam anaknya satu derajat pun. Mungkin dia sudah mencari tabib yang terbaik dan mencoba segala hal yang dia tahu. Tapi yang dia lihat hanyalah wajah anaknya yang mungkin semakin pucat, nafas yang makin lemah. Yang pernah merawat anak sakit mungkin pernah mengalami perasaan ketidakberdayaan seperti ini. Saya pernah mengalami ketika anak saya lompat dari ranjang dan kepalanya terbentur tepi meja, darah ada di mana-mana dan anak menjerit-jerit. Saat itu perasaan kacau, panik dan tidak berdaya. Yang kedua, belum lama anak saya lompat dari kursi sambil memegang gelas. Gelasnya pecah dan darah di mana-mana. Meski sudah dicuci darah tidak mau berhenti. Banyak momen dalam hidup di mana kita merasa betul-betul tidak tahu apa yang harus kita lakukan.
Kadang juga relasi dalam keluarga, atau studi ataupun pekerjaan. Banyak hal yang seperti tidak ada jalan keluarnya. Pergumulan-pergumulan di mana kita sadar kita tidak bisa memperbaikinya dengan kekuatan kita sendiri. Tapi justru pada titik seperti inilah banyak orang pertama kali sungguh-sungguh mencari Yesus. Ketika kita sadar kita itu begitu terbatas. Mungkin kita bisa dapat uang banyak. Dengan uang itu kita bisa beli ranjang yang paling mahal, tapi kita tidak bisa membeli tidur yang nyenyak. Dengan uang kita bisa beli rumah yang besar, tapi kita tidak bisa membeli home yang di mana kita bisa pulang dan merasa nyaman. Dengan uang kita bisa punya banyak staff yang membantu pekerjaan kita, tapi kita tidak bisa membeli seorang sahabat yang kita bisa percayakan nyawa kita kepadanya. Dengan uang kita juga bisa beli gedung gereja, tapi uang sebanyak apapun saudara tidak bisa membeli kita masuk ke dalam surga. Hanya ketika kita sadar kita begitu terbatas, baru kita punya pengharapan. Bersyukur bahwa Tuhan yang kita sembah bukanlah Tuhan yang hadir dalam momen-momen sukacita seperti dalam pernikahan di Kana. Tapi dia juga Tuhan yang hadir dalam momen-momen di mana kita rasa gelisah, kuatir, bahkan berdukacita. Tuhan Yesus memiliki tempat dalam berbagai keadaan hidup kita. Kalau kita mengundang Dia masuk ke dalam sukacita kita, maka sukacita kita akan bertambah. Kalau kita datang kepada Dia saat kita rasa sedih, kuatir, berduka, Dia akan memberikan kita penghiburan, damai, dan sukacita yang bukan berasal dari dunia ini.
Sebelum itu, kalau kita membaca ayat 43-45, mungkin kita merasa ada sesuatu yang aneh dalam bagian ini. Dikatakan Tuhan Yesus berangkat dari Samaria ke Galilea. Sebab Yesus sendiri telah bersaksi bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Pertanyaannya, mengapa Tuhan Yesus kembali ke Galilea, tempat asalnya? Pertanyaan kedua, ketika Yesus tiba di Galilea, ternyata orang-orang Galilea ini menyambut dia. Orang-orang Galilea ini menyambut Yesus dengan sukacita dan sambutan yang luar biasa. Karena mereka melihat segala mujizat yang dikerjakan oleh Yesus di Yerusalem. Jadi, apakah Tuhan Yesus diterima atau ditolak sebenarnya? Jawabannya tentu saja seperti orang Reformed biasanya mengatakan ya dan tidak. Kuncinya kita bisa lihat ada di ayat 48. Yesus berkata hal ini bukan hanya kepada pegawai istana saja tapi juga kepada orang-orang di sana. Dia mengatakan kalau kamu tidak lihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya. Ini adalah sebuah kalimat teguran. Orang Galilea, orang Yahudi adalah orang yang mencari tanda. Ketika orang-orang Galilea ini menerima Tuhan Yesus, penerimaan mereka adalah penerimaan yang dangkal. Mereka menerima Yesus karena Yesus melakukan banyak mujizat, itulah yang mereka cari. Bahkan ada peristiwa di mana Yesus baru saja kasih makan 5.000 orang dengan roti dan ikan. Tetapi orang mengatakan, “Guru, berikan kepada kami tanda.” Jadi orang Yahudi tidak pernah puas dengan berapa banyak tanda yang diberikan. Mereka adalah orang-orang yang terlalu fokus kepada tanda dan melupakan tandanya sedang menunjuk ke mana. Tanda itu sekedar sesuatu yang menunjuk tujuan akhirnya. Maka konyol kalau kemudian kita hanya fokus kepada tandanya dan lupa kepada tujuan akhirnya. Ibaratnya saudara melihat tanda menuju ke sebuah kota di mana saudara dan keluarga mau pergi liburan di sana. Tapi bukannya saudara pergi ke arahnya setelah melihat tanda, saudara malah berhenti dan camping di sana. Itu sesuatu yang konyol. Atau gambarannya saudara diberikan peta harta karun. Tetapi saudara terlalu sibuk dan mengagumi teka-teki yang ada dalam peta itu dan tidak pergi mencari harta karunnya. Inilah orang-orang Galilea yang ditegur oleh Tuhan Yesus. Ketika sang Firman itu menjadi manusia, orang-orang itu hanya terpukau dengan daging manusia yang ada di depan mata mereka dan tidak peduli dengan Firman yang sebetulnya di depan mereka. Inilah pergumulan yang Tuhan Yesus akan hadapi dalam tujuh pasal ke depan. Ini adalah sesuatu yang kita orang Kristenpun mungkin bisa lakukan di dalam kehidupan rohani kita. Kita terlalu sibuk dengan segala urusan kita. Lalu kita minta Tuhan berikan solusi pada kita. Kita hanya fokus pada solusi, tapi lupa sebetulnya Tuhan kasih kita pergumulan ini untuk membawa kita ke mana. Kita tidak suka mengalami pergumulan dan proses pembentukan yang Tuhan berikan. Kita mencari gereja yang nyaman, nanti kalau saya menikah maka gereja ini bisa memberkati. Kalau ada anak, gereja ini bisa melayani. Tapi begitu ada pergumulan di mana gereja mendisiplin atau gereja mengarahkan, jika tidak sesuai dengan kita, kita pergi meninggalkan gereja itu. Kita terlalu fokus kepada tanda-tanda dan solusi demi solusi, tanpa kita peduli sebetulnya Tuhan mau bawa kita ke mana lewat pergumulan ini.
Bagaimana dengan pegawai istana yang anaknya sakit keras? Bersyukur dia adalah orang yang mau belajar. Kemungkinan dia sudah mendengar berbagai cerita yang beredar tentang Yesus, berbagai mujizat yang Dia lakukan baik di Kana maupun di Yerusalem. Sehingga begitu dia mendapatkan informasi Yesus sudah kembali ke Kana, ke Galilea, dia langsung putuskan, “Hari ini juga saya sendiri akan pergi dari Kapernaum ke Kana untuk mencari Yesus.” Dari Kapernaum ke Kana itu kira-kira 40 km, 4-5 jam. Pegawai istana itu begitu sayang kepada anaknya. Dia tidak mengutus orang lain, tapi dia sendiri pergi mencari Yesus, memohon supaya Yesus mau ikut dengan dia kembali ke Kapernaum. Pada momen ini, apakah pegawai istana ini punya iman kepada Yesus? Saya rasa kita akan sulit mengatakan, dia belum beriman. Kalau ini bukan iman, apa lagi? Dalam keadaan desperate, dia lihat Yesus satu-satunya yang bisa tolong dan dengan kerendahan hati dia sendiri datang mencari Yesus. Saya percaya inipun adalah bentuk iman sebetulnya. Iman yang sadar dirinya tidak sanggup mendapatkan jalan keluar dan hanya Yesus yang bisa menolong, dengan kerendahan hati pergi minta Tuhan datang tolong saya. Tapi iman yang masih sangat lemah. Karena sekalipun dia percaya Yesus bisa menolong, dia pikir Yesus harus ikut dengan dia pulang ke Kapernaum, ketemu dengan anaknya, meletakkan tangan di atas anaknya mungkin, dan baru anaknya itu sembuh. Dua kali dikatakan dia minta kepada Yesus (ayat 47 dan 49).
Ayat 48 Yesus memberikan teguran, “Kalau kamu tidak lihat tanda mujizat, kamu tidak percaya.” Teguran ini terkesan dingin dan tidak peduli. Saya percaya bahwa Yesus tahu orang-orang Galilea itu suka sekali melihat mujizat dan cari Yesus hanya untuk minta lakukan mujizat, tapi Dia tetap kembali ke Galilea. Itu menunjukkan bahwa Yesus ada kerinduan untuk mengajar, menolong orang-orang yang imannya lemah seperti pegawai istana ini, supaya iman mereka bertumbuh. Itulah kemudian di ayat ke-50 Tuhan Yesus mengatakan kepada orang ini pertama, “Pergilah.” Yesus mendorong pegawai istana ini ke arah iman yang benar dengan menyuruh orang ini pergi. Di sisi yang lain Tuhan Yesus juga memberikan janji, memberikan perkataanNya, “Anakmu hidup.” Yesus memang menegur, tetapi pada saat yang sama Dia tidak menolak. Saya minta saudara terus ingat, khususnya ketika saudara bergumul dengan iman. Banyak orang berpikir mereka harus punya iman yang kuat baru boleh datang kepada Yesus. Justru kebalikannya. Orang ini datang sekalipun imannya kecil. Orang ini datang karena dia tidak punya tempat lain untuk dia bisa pergi. Dia tidak tahu banyak hal tentang Yesus. Tapi dia ada sense sedikit bahwa Yesus-lah yang bisa menolong. Iman yang sekecil ini, Yesus tidak tolak, Yesus mau supaya orang itu belajar untuk mempercayai Yesus. Tuhan Yesus minta orang ini belajar percaya kepada Yesus bukan karena dia sudah lihat hasilnya, tapi percaya, pegang janji Yesus. Yesus mengajar kita untuk belajar percaya tanpa melihat hasil terlebih dahulu. Puncaknya kita ingat dalam peristiwa Thomas. Yesus mengatakan, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.”
Kita tahu percakapan dengan Tuhan Yesus ini terjadi pada pukul satu siang atau pada jam yang ketujuh menurut standar orang Yahudi. Jadi sebetulnya kalau dia langsung pulang, masih ada 4-5 jam sebelum matahari terbenam. Tapi kita tahu dari cerita ini bahwa ternyata dia tidak pulang. Dia tetap mungkin stay di Kana. Kita tidak tahu apakah dia ada urusan bisnis di sana, ataukah dia perlu istirahat dulu, atau mungkin dia pikir, apa bisa membujuk Yesus lebih lagi. Mungkin dia ingin mendengarkan pengajaran Yesus. Kita tidak tahu. Ketika akhirnya dia putuskan untuk pulang ke Kapernaum, dia pulang tanpa melihat bukti. Dia pulang hanya dengan berpegang pada satu kalimat, “Anakmu hidup.” Mungkin sepanjang malam dan di tengah perjalanan muncul banyak pertanyaan. Bagaimana kalau ternyata anaknya sudah mati. Kadang inilah pengalaman iman kita. Dalam keadaan susah kita datang kepada Tuhan, kita berdoa, kita belajar pegang Firman-Nya. Tapi hari demi hari berlalu tanpa kita melihat ada perubahan.
Iman Kristen itu bukanlah iman tanpa dasar. Pegawai istana ini percaya kepada Yesus karena dia sudah mendengar berbagai macam laporan dan kesaksian tentang apa yang Yesus lakukan. Dia punya cukup informasi untuk memutuskan percaya kepada Yesus. Demikian juga kita orang Kristen, kita telah melihat catatan-catatan sejarah, Injil, para rasul, bagaimana Yesus bangkit dari kematian. Kita mendengarkan bagaimana argumentasi yang menyatakan tidak mungkin Yesus itu tidak bangkit. Kalau Yesus tidak bangkit maka tidak ada orang yang mau mati martir bagi Dia. Kalau bicara soal bukti, bagi saya bukti Yesus itu Tuhan sejati, Dia sungguh-sungguh mati dan bangkit itu lebih dari cukup. Iman Kristen bukanlah sekedar dibangun di atas cerita-cerita atau perumpamaan-perumpamaan atau metafor-metafor, tapi dibangun oleh apa yang terjadi dalam sejarah 2000 tahun yang lalu. Tapi kita memang harus belajar untuk trus dan commit. Yang namanya iman bukan percaya setelah melihat bukti. Ada satu masa di mana kita tidak bisa buktikan, tapi saya percaya, saya putuskan untuk mempercayai Tuhan. Dalam hal yang sederhana, kita mau pilih pasangan untuk menikah. Apakah saudara bisa membuktikan hidup saudara pasti bahagia dengan pasangan saudara? Pasti tidak.
Meski kita sudah kenalan, ikut kelas pranikah, belajar komunikasi, resolve conflict. Tapi tidak mungkin saudara bisa mengatakan, “Saya yakin 100% saya menikah dengan dia, pasti bahagia dan dia menikah dengan saya, pasti bahagia.” Kita tidak bisa tahu isi hati kita sendiri yang sedalam-dalamnya. Yang ada hanyalah kita bisa belajar percaya dan commit. Saya tidak tahu ke mana Tuhan akan memimpin hidup saya, tapi saya mempercayakan hidup saya kepada-Nya. Yang saya bisa pegang hanyalah janji Tuhan dan kehendakNya. Inilah yang dikerjakan oleh pegawai istana itu.
Kita lihat apa yang terjadi ketika pegawai istana ini memutuskan untuk percaya, dia pulang ke rumah hanya dengan memegang janji Tuhan. Ada dari kita yang mungkin anggota keluarga kita sakit, Tuhan tidak sembuhkan. Ada pernikahan yang mungkin sudah terlalu rusak relasinya sehingga mungkin itu juga tidak bisa pernah pulih seperti dulu lagi. Tapi lihatlah apa yang terjadi ketika kita belajar untuk percaya memegang firman Tuhan. Apa yang terjadi pada pegawai istana ini? Imannya mengalami pertumbuhan. Ketika kita membaca beberapa ayat selanjutnya, anaknya itu sembuh, kapan sembuhnya? Ketika Yesus mengatakan demikian. Dikatakan ayat 53, “Lalu ia pun percaya, ia dan seluruh keluarganya.” Jadi kapan orang ini beriman? Di ayat 47, ayat 50, atau ayat 53? Jawabannya, semuanya adalah wujud imannya. Wujud iman yang selangkah demi selangkah semakin kuat, semakin bertumbuh. Inilah yang harusnya menjadi perjalanan iman kita sebagai orang Kristen. Bukan fokus kepada tanda atau kepada hasil yang kita bisa dapatkan dalam segala circumstances hidup kita. Tapi bagaimana kita melewati semuanya itu dengan belajar beriman melihat kepada Tuhan. Dan dengan melakukannya, iman kita bertumbuh.
Saya ingin mengakhiri renungan kita dengan beberapa poin refleksi. Seperti apakah iman orang Kristen itu? Ada empat hal : Pertama, Iman yang datang mencari Yesus dan mencari keselamatan. Ketika saudara rasa gelisah, kuatir, sedih, kepada siapa engkau cari jawaban? Apakah engkau akan kemudian sekedar memendam segala kesedihan itu, atau saudara kemudian meledak, menyalahkan orang lain? Ketika tidak ada lagi jalan keluar, datanglah kepada Yesus.
Dua, iman yang percaya kepada Firman Kristus. Iman yang memegang janji Tuhan di dalam Firman-Nya. Sekalipun saudara tidak bisa langsung melihat bagaimana pertolongan Tuhan, percayalah kepada firman dan janji Tuhan. Tetap hidup di dalam firmanNya. Maka saudara akan melihat bagaimana segala sesuatu bisa dilihat dari sisi yang berbeda. Lewat kesulitan saya bisa jadi berkat buat orang lain. Atau lewat relasi pernikahan yang semakin bersitegang, saya baru sadar ternyata banyak hal yang harus dikoreksi dalam diri saya. Pernikahan itu tujuannya bukan supaya saya bahagia, tapi supaya saya belajar seperti apa artinya menjadi seperti Kristus. Seperti apa berkorban keluarga. Mungkin Tuhan tidak langsung menyelesaikan masalah kita, tapi ini bukan berarti Yesus tidak setia, Dia tetap mengasihi kita. Bukti kasih Kristus, Dia mati bagi kita di atas kayu salib. Dia memberikan bagi kita apa yang paling berarti, sehingga kita bisa menjalani hidup ini sekedar percaya saja kepada firmanNya. Kadang kita juga tidak percaya bahwa kita ini orang yang sungguh-sungguh berharga di mata Tuhan. Kita masih bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita menilai diri kita dengan pencapaian kita. Dengarlah firman Tuhan, percayalah kepada-Nya. Kalau engkau anak Tuhan, maka engkau adalah His treasured possession. Tuhan mengasihimu dan itu cukup. Dalam Kristus kita setiap hari makin disempurnakan.
Tiga, Iman yang bertumbuh lewat tantangan dan kesulitan. Ketika kita mengalami kesulitan dan tantangan, kita memutuskan untuk bertekun di dalamnya dan tetap setia kepada Tuhan, maka iman kita akan bertumbuh. Jangan jadi orang yang mudah lari dari pergumulan iman. Saudara pergi kadang dari gereja satu ke gereja lain karena mungkin saudara malu gereja itu tahu pergumulan saudara. Tapi justru di dalam gerejalah kita bertumbuh bersama dan belajar bersama. Empat, Iman yang melihat kepada salib Kristus. Inilah yang akan menopang kita dalam segala pergumulan perjalanan iman kita. Pegawai istana ini bersukacita karena anaknya akhirnya hidup. Tapi sebetulnya ada ironi yang luar biasa terjadi. Anak pegawai istana itu hidup karena Yesus mengatakan, “Anakmu hidup.” Tapi suatu hari nanti, ketika Yesus sendiri naik ke atas kayu salib dan mati di sana, tidak ada suara dari Surga yang berkata, “AnakKu hidup.” Allah Bapa membiarkan AnakNya masuk ke dalam dunia orang mati, supaya kita yang seharusnya mati ini memperoleh hidup. Karena itu biarlah kita belajar percaya kepada Yesus. Dengan iman sekecil apapun, kita datang kepada Yesus. Kita belajar memegang janji dan firman Tuhan sekalipun kita tidak melihat hasilnya. Kita bertekun dalam kesulitan supaya iman kita bertumbuh. Dan ketika jalan Tuhan sulit dipahami, mari kita melihat kepada salib Kristus. Tuhan mengasihi kita sampai memberikan hidup-Nya bagi kita, apalagi yang Dia tidak akan berikan kepada kita? Amin.