Download versi cetak: 1265_1438_KebaktianPagiSore_2026-24-Mei

Yesus Sang Air Hidup

Yohanes 7: 37-39

Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Para penafsir sepakat bahwa Injil Yohanes ditulis dengan kecanggihan yang luar biasa. Pasal-pasal di dalamnya disusun dengan struktur yang sangat mengagumkan. Ada penafsir yang melihat bahwa Yohanes pasal 5 sampai 10  10 disusun berdasarkan hari raya orang Yahudi. Misalnya, pasal 5 berbicara tentang hari Sabat. Walaupun Sabat bukan perayaan tahunan melainkan mingguan, hari itu sangat penting bagi orang Israel. Kemudian pasal 6, saat Yesus memberi makan 5.000 orang, terjadi pada masa perayaan Paskah atau Passover. Lalu pasal 7 yang tadi dibaca terjadi pada puncak Hari Raya Pondok Daun, dan pasal 10 berbicara tentang perayaan Hanukkah. Saudara sekalian, bagian ini dipelajari seperti pendalaman Alkitab sehingga perlu sedikit berpikir untuk menghargai latar belakang Yahudi yang dipakai Yohanes. Dalam perayaan orang Yahudi, angka 7 dan 8 memiliki makna yang sangat penting. Pada Hari Raya Passover, selama 7 hari mereka memakan roti yang tidak beragi. Setelah itu, pada hari ke-8 mereka mengadakan pesta untuk merayakan hasil panen pertama pada musim semi. Ini merupakan perayaan panen pertama yang dirayakan dengan pesta besar dalam tradisi Yahudi. Namun dalam Perjanjian Baru, perayaan ini dipahami sebagai hari kebangkitan Yesus, yaitu Minggu Paskah.

Tujuh minggu setelahnya, yang juga disebut lima puluh hari sejak kebangkitan Yesus, terjadi hari raya Pentakosta, yang menandai akhir musim panen musim semi. Dalam Perjanjian Baru, hari ini menjadi momen pencurahan Roh Kudus kepada para murid seperti yang dicatat dalam Kisah Para Rasul pasal 2. Jika dikaitkan dengan kalender, Paskah tahun ini jatuh pada tanggal 5 April, sehingga lima puluh hari setelahnya termasuk Minggu Paskah itu sendiri jatuh pada 24 Mei, yaitu hari Pentakosta. Karena itu, baik Minggu Paskah maupun Pentakosta selalu jatuh pada hari Minggu. Hal ini juga sering dikaitkan sebagai salah satu alasan mengapa umat Kristen beribadah pada hari Minggu, karena banyak penggenapan peristiwa dalam Kristus terjadi pada hari tersebut. Selanjutnya dibahas juga perayaan besar dalam tradisi Yahudi lainnya, yaitu hari raya Pondok Daun yang biasanya dirayakan sekitar bulan September atau Oktober. Walaupun tidak secara khusus dirayakan dalam kekristenan, perayaan ini dalam Injil Yohanes dikaitkan dengan janji Kristus tentang kedatangan Roh Kudus. Injil Yohanes sendiri tidak banyak membahas Pentakosta, tetapi menggunakan konteks Pondok Daun sebagai pengarah pada janji tersebut. Karena itu, pada hari Pentakosta ini, pembahasan diarahkan untuk merenungkan makna hari raya Pondok Daun tersebut dan kaitannya dalam penggenapan janji Tuhan.

Dalam perayaan Pondok Daun, orang Israel merayakannya selama tujuh hari, di mana mereka tinggal di dalam tenda sebagai satu keluarga. Bahkan sampai sekarang, orang Yahudi yang masih taat akan melakukan praktik serupa dengan berkemah di halaman rumah mereka selama satu minggu. Pada zaman Yesus, perayaan ini dilakukan dengan pergi ke Yerusalem dan berkemah di sekitar kota tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengenang perjalanan nenek moyang mereka yang mengembara di padang gurun selama 40 tahun dan hidup di dalam kemah. Perayaan ini juga berkaitan dengan musim panen, khususnya panen musim gugur, berbeda dengan Paskah dan Pentakosta yang berkaitan dengan panen musim semi. Pada masa ini, Israel sudah memasuki periode kering setelah beberapa bulan tanpa hujan lebat, sehingga tanah menjadi kering dan air semakin terbatas. Dalam kondisi tersebut, perayaan Pondok Daun juga menjadi pengingat bahwa sekalipun nenek moyang mereka pernah hidup dalam kekeringan di padang gurun, mereka tetap dipelihara oleh Allah yang mampu menyediakan air, bahkan mengalirkannya dari batu karang.

Peristiwa di Keluaran 17:3–6 menjadi salah satu memori utama bangsa Israel, yaitu bahwa Yahwe adalah Allah yang sanggup mengeluarkan air dari batu karang, dan hal ini muncul kembali dalam Mazmur serta berbagai bagian lain. Pada zaman Tuhan Yesus, dalam perayaan Hari Raya Pondok Daun, ada sebuah ritual yang berlangsung selama satu minggu. Seorang imam membawa bejana emas dari Bait Suci di Bukit Sion turun ke Kolam Siloam, lalu mencelupkannya dan mengambil air sambil membaca Yesaya 12 tentang menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. Air itu kemudian dibawa kembali ke Bait Suci dan dicurahkan di atas mezbah, dan ritual ini dilakukan berulang setiap hari selama satu minggu. Pada hari terakhir, imam melakukan hal yang sama di hadapan banyak orang yang menonton sambil memegang buah seperti lemon di satu tangan dan dedaunan di tangan lainnya. Perayaan ini menggambarkan nuansa pertanian dalam budaya agraris, sebagai harapan agar air kembali menyegarkan tanah Israel yang kering dan membawa berkat bagi hasil panen. Di akhir perayaan itu, imam tersebut dikatakan akan membaca dari Yesaya 44:3.

Tadi kita menyanyikan Showers of Blessing. Bukan cuma hujan rintik tetapi hujan lebat. Inilah harapan orang Israel di dalam Hari Raya Pondok Daun. Perayaan ini mengingat bagaimana Tuhan menyertai Israel di padang belantara selama 40 tahun, memberi mereka manna dan air dari batu karang. Dari pengalaman itu mereka belajar bahwa Tuhan yang menyertai di masa lalu juga menyertai di masa sekarang. Ketika memasuki musim kering, mereka berharap Tuhan tetap menurunkan hujan dan menyegarkan tanah mereka. Namun perayaan ini bukan hanya melihat masa lalu dan masa kini, tetapi juga membuka pengharapan akan masa depan, yaitu datangnya zaman Mesias. Dalam Yesaya 44:3, Tuhan berjanji mencurahkan air di tanah yang haus dan Roh-Nya atas keturunan mereka. Ini menunjukkan bahwa harapan mereka bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga pembaruan rohani bangsa Israel. Saat imam mencurahkan air di mezbah sambil membacakan ayat ini, itu menjadi simbol doa agar Tuhan mencurahkan Roh-Nya kepada umat-Nya. Dalam Yohanes 7 dicatat bahwa pada momen itu Yesus berdiri dan berseru, “Barang siapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum.” Di dalam Yesus terdapat air hidup yang memberi kepuasan sejati dan tidak akan membuat haus lagi.

Ini adalah klaim Yesus yang sangat mencengangkan banyak orang yang mendengarnya, dan sebenarnya ini berhubungan dengan klaim yang Ia sampaikan di Yohanes pasal 6 pada masa perayaan Paskah ketika orang Israel makan roti tidak beragi selama satu minggu, di mana Yesus juga melakukan mukjizat memberi makan 5.000 orang, lalu ketika orang-orang mencari Dia karena roti dan tanda, Yesus berkata bahwa nenek moyang mereka makan manna di padang gurun tetapi tetap mati, sementara Ia adalah roti yang turun dari surga, roti kehidupan yang memberi hidup kekal bagi siapa yang memakannya, sehingga Ia membandingkan roti biasa, manna di Perjanjian Lama, dan diri-Nya sendiri sebagai roti kehidupan. Pola yang sama juga muncul dalam Hari Raya Pondok Daun ketika air dicurahkan di mezbah dan orang Israel memohon hujan sebagai pengingat penyertaan Tuhan yang dahulu memberi air dari batu karang, tetapi Yesus justru menyatakan bahwa siapa yang haus harus datang kepada-Nya karena Ia memberikan air hidup. Tema ini juga sudah muncul sebelumnya dalam Yohanes 4 ketika Yesus berbicara dengan perempuan Samaria yang ditolak oleh lingkungannya, namun kepada dia Yesus berkata bahwa jika ia tahu siapa yang berbicara dengannya maka ia akan meminta air hidup, yang akan membuatnya tidak haus lagi, sekaligus mengarah pada pengajaran bahwa penyembahan yang benar harus dilakukan dalam roh dan kebenaran.

Nah, ketika di Yohanes pasal 7 Yesus menyampaikan itu di depan orang Yahudi dalam konteks Bait Suci, Ia berkata bahwa di dalam diri-Nya ada aliran air hidup, dan dalam Perjanjian Lama aliran air hidup dipahami sebagai kehadiran Allah yang memberi kehidupan, sehingga ketika Yesus menyamakan diri-Nya dengan sumber air hidup, itu berarti Ia menyatakan diri sebagai sumber kehidupan yang ilahi. Dalam dunia modern pun air (H2O) dipahami sebagai unsur penting bagi kehidupan, bahkan dalam ilmu astronomi keberadaan air di planet lain menjadi tanda yang sangat menarik karena dianggap berkaitan dengan kemungkinan adanya kehidupan. Karena itu air memang dipahami sebagai sesuatu yang menopang, menyegarkan, dan memungkinkan kehidupan untuk bertahan. Hal ini sejalan dengan gambaran dalam Mazmur pasal 1 tentang orang benar yang seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, serta gambaran aliran air yang mengalir, bukan air yang tergenang, karena air yang mengalir memberi nutrisi dan kehidupan bagi sekitarnya.

Dan ini juga yang Yesus katakan kepada Nikodemus di Yohanes pasal 3 tentang lahir kembali oleh roh dan air, serta yang banyak digambarkan dalam Perjanjian Lama, misalnya dalam penglihatan Zakaria tentang bait suci yang darinya mengalir air terus-menerus, karena aliran air itu dipahami sebagai hadirat Allah yang memberi kehidupan. Itulah yang juga dijanjikan Yesus dalam peristiwa ini, yaitu undangan bagi setiap orang yang haus untuk datang kepada-Nya dan menerima Roh Kudus yang menghidupkan jiwa serta menghadirkan hadirat Allah sebagai sumber kehidupan dalam diri manusia. Karena itu inti kekristenan bukanlah sekadar formalitas seperti memiliki kitab suci, rutinitas ibadah di gereja, mengikuti kelas katekisasi, atau menjalani ritual seperti baptisan dan pelayanan, meskipun semua itu tetap bagian dari kehidupan Kristen, melainkan pengalaman rohani di mana Allah sungguh hadir dan hidup di dalam hati. Orang Kristen memang dipanggil untuk hidup dalam keadilan, belas kasihan, moralitas, dan etika yang baik dalam kehidupan sosial dan bisnis, namun itu saja tidak cukup, karena seseorang bisa sangat bermoral tanpa mengalami hadirat Tuhan. Yang terutama bukan sekadar moralitas atau etika, tetapi apakah di dalam hati seseorang ada kehadiran Tuhan.

Banyak dari kita mungkin sudah bertahun-tahun datang ke gereja, tetapi kalau jujur hati tetap terasa kering, karena ibadah, nyanyian, pujian, bahkan pelayanan sering dilakukan secara rutin dan mekanis, hanya secara fisik tanpa keterlibatan hati. Sehingga ada perasaan kosong dan kering di dalam diri, namun ketika menyadari hal itu justru menjadi berbahagia karena Yesus berkata “Barang siapa haus, datang kepada-Ku dan minum,” karena Ia akan memberikan aliran air hidup yang menyegarkan dan menghidupkan; tetapi dalam Yohanes 7:39 dijelaskan bahwa yang dimaksud adalah Roh yang akan diterima, namun Roh itu belum datang karena Yesus belum dimuliakan, dan dalam Injil Yohanes kemuliaan Yesus itu terjadi melalui salib, yaitu ketika Ia ditinggikan dan mati di kayu salib, di mana melalui kematian-Nya Yesus memberikan air kehidupan kepada manusia. Dan jika kita perhatikan, di dalam Yohanes 19:34 ketika lambung Yesus ditikam oleh prajurit, keluar darah dan air, yang menjadi gambaran pemberian hidup itu.

Saudara, Yesus adalah penggenapan dari batu karang yang dipukul oleh Musa, sebagaimana Paulus katakan dalam 1 Korintus bahwa batu karang itu adalah Kristus, dan peristiwa Musa memukul batu karang tempat Tuhan berdiri menjadi gambaran tentang Yesus yang tergantung di kayu salib dan ditusuk tombak sehingga mengeluarkan darah dan air, yang dari situlah air hidup diberikan kepada kita, sehingga kita yang berdosa dapat kembali kepada hadirat Allah melalui pengorbanan Kristus. Lalu bagaimana kita menerima janji ini? Yesus berkata ada tiga hal: “barang siapa haus, dia datang kepada-Ku, dan dia minum.” Aliran air hidup adalah hadirat Tuhan yang memberi kehidupan dan kesegaran bagi jiwa, yang diberikan melalui kematian Yesus di salib, dan diterima melalui sikap haus, datang, dan minum.

Haus adalah salah satu sensasi manusia yang sangat tidak nyaman, karena kalau tidak makan kita masih bisa bertahan beberapa hari, tetapi tanpa minum dalam beberapa hari saja bisa berakibat fatal. Rasa haus itu membuat seseorang berada dalam kondisi yang sangat terdesak karena tidak mendapatkan sesuatu yang paling dibutuhkan tubuh. Pengalaman paling haus yang pernah saya alami terjadi saat bersepeda di Belanda dengan sepeda bekas seharga 20 Euro, ketika saya merencanakan perjalanan sekitar 50 sampai 80 km dan biasanya satu botol minum cukup, tetapi saya tidak memperhitungkan kondisi sepeda yang kurang baik dan udara yang sangat kering sehingga dehidrasi lebih cepat, hingga setelah sekitar 20 km air habis dan di tengah area padang rumput serta hutan yang tidak ada tempat membeli minum, sisa perjalanan menjadi sangat menyiksa sampai merasa hampir seperti halusinasi dan benar-benar berada dalam kondisi yang sangat terdesak.

Nah, rasa haus yang tidak nyaman ini ternyata bisa menjadi blessing in disguise. Karena ada tiga macam orang di dunia ini, yaitu pertama orang yang merasa puas, kenyang, dan cukup minum. Tetapi sebenarnya mereka mengisi hidupnya dengan air yang mati, yakni kesenangan, hiburan, hobi, pencapaian, dan pengakuan yang dianggap remeh, sehingga mereka merasa baik-baik saja padahal tanpa sadar sedang mengalami dehidrasi secara rohani. Hal ini seperti orang yang berolahraga seperti lari atau bersepeda, yang merasa belum perlu minum, tetapi sebenarnya tubuhnya sudah kekurangan cairan tanpa disadari, sampai akhirnya melewati batas dan mengalami breakdown sehingga tidak bisa melanjutkan lagi, dan pada titik itu sudah terlalu terlambat untuk memperbaiki kondisi dengan cepat. Begitu juga dengan orang-orang yang merasa hidupnya cukup dan baik-baik saja, tetapi sebenarnya hanya mengisi dirinya dengan hal-hal yang tidak memberi kepuasan sejati dan tidak menyehatkan jiwa, sampai akhirnya melewati batas dan baru menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dalam hidupnya.

Orang jenis kedua ini adalah orang yang dari luar tampak memiliki segala hal yang diinginkan banyak orang, penuh privilege yang dirindukan orang lain, tetapi justru sering tidak bahagia dan hidupnya dipenuhi komplain serta kekecewaan. Inilah kebanyakan orang di Singapura. Tetapi orang Indonesia, walaupun pemerintahannya begitu, tetap rasanya senyum-senyum terus. Kondisi seperti ini sering terlihat pada orang-orang yang hidupnya nyaman dan tercukupi, tetapi tetap merasa tidak puas, karena sejak awal mereka mengira bahwa kebahagiaan akan datang jika berhasil mencapai target tertentu seperti sukses, tidak tertinggal, atau menjadi yang terbaik, namun ketika semua usaha, tenaga, dan emosi sudah dicurahkan, ternyata hasilnya tetap tidak memuaskan. Akibatnya mereka mulai kecewa pada pekerjaan, teman, keluarga, bahkan gereja, lalu menyalahkan orang lain, situasi, nasib, atau bahkan Tuhan, tanpa sadar bahwa sebenarnya mereka sedang mengalami kehausan rohani dan minum dari sumber yang salah, sehingga meskipun hidup terlihat baik dari luar, di dalamnya mereka sedang mengalami dehidrasi.

Kita baru memiliki pengharapan ketika dengan jujur mengakui bahwa jiwa kita kering, hati kita kosong, dan kita benar-benar haus akan sesuatu yang lebih besar daripada yang dunia ini bisa tawarkan, yaitu sesuatu yang tidak berasal dari dunia ini. Namun ketika manusia menukar air hidup dengan hal-hal duniawi, hidup justru menjadi tidak bahagia, sebagaimana Yeremia 2:11–13 menggambarkan bagaimana umat meninggalkan Allah, sumber air hidup, dan menggali kolam sendiri yang ternyata bocor dan tidak mampu menampung air, sehingga seberapa pun diisi dengan uang, kesenangan, atau hiburan tetap tidak pernah membuat hidup merasa penuh. Karena itu, jika seseorang merasakan kekosongan seperti ini, ia diajak untuk datang dan minum dari Kristus yang adalah sumber air hidup yang memuaskan. Seorang teolog menyatakan bahwa kebutuhan terdalam manusia adalah memiliki tujuan hidup, kesadaran bahwa ia dikasihi, serta hati nurani yang damai dan bersih dari rasa bersalah, dan semua itu hanya dapat ditemukan ketika manusia datang kepada Allah sebagai pencipta dan penebusnya.

Saya tidak tahu bagaimana keadaan hati saudara hari ini, mungkin ada yang datang dengan hati yang lelah. Yang saudara perlukan sebenarnya adalah Tuhan. Karena itu kita diajak untuk berhenti berpura-pura, berhenti mencoba memuaskan diri sendiri, dan menerima tawaran Yesus yang berkata, “Datang kepada-Ku yang haus,” yang berarti datang kepada-Nya dengan percaya, bersandar, dan beriman kepada Kristus, karena Roh Kudus diberikan kepada mereka yang percaya. Yesus sendiri sudah lebih dulu datang ke dunia, dan sekarang Ia mengundang kita untuk datang kepada-Nya, namun sering kali kita hanya hadir secara fisik di gereja tanpa benar-benar mendengar, berpikir, atau percaya kepada-Nya, sehingga datang kepada Kristus berarti membawa segala beban, letih, dan rasa bersalah kepada-Nya. Dan ini hanya mungkin jika kita menyadari bahwa kita haus, karena rasa haus itu justru menjadi berkat besar, sebab Yesus tidak mensyaratkan kesempurnaan atau pencapaian apa pun, melainkan hanya kehausan dan kebutuhan kita, sehingga hari ini kita diajak datang dengan rasa haus dan pulang dengan iman serta percaya kepada Kristus.

Tapi Yesus juga berkata “datang dan minum,” karena bisa saja seseorang sudah datang tetapi tidak benar-benar mengambil dan menerima apa yang Kristus berikan, padahal “minum” berarti menjadikan Kristus dan anugerah-Nya sebagai bagian dari hidup kita sehingga hidup kita sungguh dipuaskan. Namun ini tidak mudah, karena membiarkan Allah masuk dalam hidup kita adalah sesuatu yang mengerikan, ini menuntut penyangkalan diri dan penyerahan yang dalam. Hal ini digambarkan melalui ilustrasi Narnia dalam The Silver Chair karya C. S. Lewis, ketika Jill yang sedang lari ke dalam hutan menemukan sungai yang segar tetapi di sana ada singa yang menjaga, dan ketika singa itu berkata ia boleh minum. Tetapi tidak berani dan meminta janji agar sang singa tidak berbuat sesuatu, akan tetapi sang singa tidak menjanjikan apa pun, Jill merasa takut, ragu, dan ingin meminta jaminan atau mencari sungai lain, namun akhirnya ia dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak ada sumber air lain, sehingga dengan keberanian ia datang dan minum, dan setelah itu jiwanya disegarkan dan dikuatkan kembali.

Ini menggambarkan Tuhan Yesus yang mengundang kita yang haus untuk datang dan minum dari Dia, yang memberikan kesegaran, tetapi tidak menjanjikan bahwa hidup orang Kristen akan selalu baik-baik saja. Melainkan kita dipanggil untuk beriman dan percaya kepada pimpinan-Nya dalam hidup kita, menerima Dia sebagai Juru Selamat sekaligus Tuhan dan Raja. Kristus bukanlah pribadi yang jinak yang bisa dikendalikan sesuai keinginan kita, sehingga segala kenyamanan dan rasa aman dari dunia ini bisa saja diubah oleh-Nya, namun jika kita percaya dan bergantung kepada-Nya, akan ada kepuasan di tengah kehausan itu. Dan pada akhirnya, seperti dikatakan dalam ayat 38, “Barang siapa percaya kepada-Ku, dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup,” sehingga ketika kita menerima air hidup yaitu Roh Kudus dari Allah, Roh itu akan bekerja menyucikan dan membersihkan kita dari segala dosa.

Saudara, ada orang yang sering bersaksi tentang bagaimana Tuhan memberkati dan ia sering berkata “puji Tuhan.” Itu tidak salah, tetapi kadang kita bisa melihat ada yang terasa janggal karena hidupnya tidak berubah. Setelah bertahun-tahun tetap sama, sombong, mudah tersinggung, sulit memaafkan, dan tidak mengalami pembaruan karakter. Seharusnya jika ada air hidup di dalam hati kita, itu juga menyucikan kita dari dosa, sehingga kesombongan dan ego perlahan dikikis, hati yang sensitif dan mudah marah menjadi lebih tenang, kebiasaan menyimpan dendam berubah menjadi kemampuan untuk mengampuni, dan hati yang sempit menjadi lebih luas sehingga bisa bersyukur bahkan atas berkat Tuhan dalam hidup orang lain. Air hidup itu bukan hanya memberi kesegaran, tetapi juga membersihkan dan memperbarui kita.

Ketika kita mendapatkan air hidup, kita akan semakin membenci dosa karena gambaran Allah yang suci semakin nyata di dalam hati kita. Roh Kudus membuat kita semakin mengenal siapa Allah dan siapa Kristus, sehingga kesadaran akan kekudusan dan kasih Allah membawa damai di hati kita. Kita juga menyadari bahwa hikmat dan kuasa Allah jauh melampaui pengertian kita, sehingga ada keberanian dan kekuatan untuk bertahan dalam kesulitan. Semakin kita dibersihkan dari dosa, semakin jelas kita melihat kehadiran Allah dan semakin kita dapat menjadi berkat bagi orang lain. Ketika kita datang dan minum dari Kristus, dari dalam hati kita akan mengalir air hidup. Tuhanlah sumber kehidupan, tetapi melalui anugerah Roh Kudus, hidup kita juga dipakai menjadi saluran berkat bagi orang lain. Orang yang sungguh menerima Roh Kudus akan menjadi mata air yang tidak hanya memberkati dirinya sendiri, tetapi juga memberkati sesamanya.

Di Palestina ada dua perairan besar, yaitu Laut Mati dan Danau Galilea, di mana Laut Mati tidak memiliki kehidupan di dalamnya karena hanya menerima air tetapi tidak mengalirkannya ke mana-mana, sehingga tidak ada ikan yang hidup di sana. Sementara Danau Galilea menjadi tempat banyak mukjizat Yesus dan sumber mata pencaharian para nelayan karena di dalamnya terdapat kehidupan, sebab danau ini tidak hanya menerima air tetapi juga mengalirkannya ke berbagai tempat hingga ke Sungai Yordan sehingga menjadi perairan yang memberi kehidupan. Dari gambaran ini kita diajak untuk bertanya apakah Roh Allah sudah ada dalam diri kita sehingga kita menjadi sumber berkat bagi orang lain atau justru sebaliknya kita menguras energi orang di sekitar kita, karena seharusnya pengikut Kristus menjadi aliran air hidup yang menyegarkan dan menguatkan orang lain, dan untuk itu kita perlu terus datang kepada Tuhan dengan hati yang haus dan kering untuk minum dari-Nya, sehingga setelah disegarkan kita pun dapat menjadi pribadi yang menyegarkan jiwa orang lain.

Close
Close Search Window