Download versi cetak: 1273_1446_KebaktianPagiSore_2026-19-Jul_HW
Mata yang Buta, Hati yang Melihat
Markus 10:46-52
Pdt. Hendra Wijaya, M.Th.
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Salah satu motif teologi yang paling dominan di dalam Injil Markus adalah ketegangan antara kedekatan fisik dan pengenalan secara rohani, bahwa pengalaman indrawi tidak akan pernah cukup untuk menghasilkan pengenalan akan Allah yang mendalam di dalam hidup kita. Para murid telah berulang kali menyaksikan mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh Yesus, tetapi mereka selalu saja gagal menangkap makna mukjizat itu. Seorang teolog bernama R. T. France mengatakan bahwa kegagalan yang berulang ini sengaja dicatat oleh Markus untuk memperlihatkan betapa orang-orang yang berada di luar lingkaran, di luar sistem/komunitas justru memperlihatkan pengenalan yang lebih mendalam daripada mereka yang dekat secara fisik dengan Yesus.
Jangan-jangan kita yang merasa diri dekat dengan Tuhan, yang paling aktif melayani Tuhan, justru yang paling tidak mengenal Tuhan. Sementara itu ada orang di luar sana yang kita anggap orang lingkaran luar, orang-orang yang jauh dari Tuhan, tetapi justru memperlihatkan iman yang begitu mendalam kepada Tuhan. James R. Edwards, seorang teolog yang lain, menyebutnya sebagai ironi kerohanian di dalam Injil Markus, di mana mereka yang paling dekat secara fisik dengan Yesus seringkali justru adalah yang paling jauh dari Yesus secara hati. Karena itu Injil Markus mengajarkan bahwa kedekatan dengan Yesus secara fisik tidak menjamin pengenalan yang benar dan mendalam tentang identitas Yesus, Anak Allah yang berinkarnasi ke dalam dunia. Ketegangan ini terlihat makin mencapai puncaknya dalam kisah Bartimeus, seorang pengemis yang buta tetapi mampu melihat dan mengenali Yesus jauh lebih jelas daripada para murid yang telah selama ini mengikuti Yesus.
Kisah Bartimeus dimulai dengan transisi perjalanan Tuhan Yesus yang tiba di Yerikho. Yerikho adalah sebuah kota yang kaya secara ekonomi dan politik. Seorang arkeolog terkemuka Israel, Ehud Netser, menemukan ada istana musim panas Herodes di wilayah kota itu, serta catatan tentang jalan-jalan model arsitektur Romawi yang menghubungkan Yerikho dengan Yerusalem. Yerikho juga memiliki signifikansi teologis yang penting karena menjadi tempat berlangsungnya beberapa momen penting di dalam pelayanan Yesus. Pertama, kota ini adalah kota tempat Zakheus bertobat (Luk. 19), yang menegaskan misi mesianik Yesus yang datang ke dalam dunia ini untuk mencari dan menemukan yang terhilang. Kedua, pemulihan Bartimeus yang buta, yang menyoroti tema pengakuan iman bahwa Mesias datang dari keturunan keluarga Daud. Ketiga, Yerikho juga berfungsi sebagai titik transisi antara pelayanan Yesus di wilayah Galilea dan perjalanan-Nya menuju Yerusalem, tempat klimaks karya penebusan Kristus akan terjadi.
Karena itu, Yerikho bukan sekadar latar belakang geografis, melainkan ruang simbolis yang menyatakan identitas Yesus sebagai Mesias melalui belas kasihan dan pemulihan yang Ia lakukan. Saat Yesus menempuh perjalanan terakhir menuju Yerusalem untuk menerima salib, orang banyak mengikuti-Nya dengan harapan Ia akan melakukan mukjizat, menyatakan diri sebagai Mesias, atau mendeklarasikan diri sebagai Raja orang Yahudi. Namun, Markus mengalihkan fokus dari kerumunan itu kepada seorang pengemis buta, yang dalam bahasa Yunani disebut tuphlos prosaiteo. Menurut Ben Witherington III, hal ini merupakan strategi retorika Markus untuk menunjukkan bahwa orang yang paling tidak signifikan secara sosial justru menerima anugerah Allah dan pernyataan diri Yesus yang melampaui keterbatasan fisiknya.
Dalam konteks budaya Mediterania kuno, kebutaan bukan hanya kondisi fisik, tetapi juga menyangkut identitas sosial yang dibentuk oleh penafsiran Taurat, hukum kesucian, dan budaya pada masa Bait Allah kedua. Di satu sisi, Taurat melindungi orang buta dengan melarang orang Israel menaruh batu sandungan di hadapan mereka, seperti dinyatakan dalam Imamat 19:14. Namun, di sisi lain, hukum kesucian membatasi partisipasi orang buta dalam ruang-ruang sakral, termasuk memasuki Bait Allah. Komunitas Qumran dan peraturan keimaman dalam Imamat 21:17-24 juga mengecualikan orang buta dari pertemuan ritual dan pelayanan di Bait Allah. Akibatnya, orang buta pada masa itu menghadapi kesulitan bukan hanya secara fisik, tetapi juga mengalami penolakan secara sosial dan keagamaan.
William L. Lane mencatat bahwa dalam tradisi Yudaisme, cacat fisik sering disalahartikan sebagai cacat rohani. Identitas Bartimeus sebagai orang buta menjadi paradoks karena di satu sisi ia dilindungi oleh Taurat, tetapi di sisi lain dikecualikan oleh hukum kesucian sehingga tidak dapat berpartisipasi dalam ibadah dan kehidupan sakral. Selain mengalami keterbatasan fisik, ia juga dimarginalkan secara sosial dan ekonomi, sehingga hampir tidak memiliki harapan untuk menerima anugerah Allah atau menjalankan kewajiban Taurat. Karena itu, keberadaannya di pinggir jalan (hodos) dalam Injil Markus mencerminkan realitas hidup orang-orang seperti Bartimeus yang tersisih dalam masyarakat pada zaman Bait Suci kedua.
N.T. Wright memberi perhatian khusus pada istilah “jalan” dalam kisah Bartimeus yang berada di pinggir jalan. Menurutnya, istilah ini penting karena Injil Markus secara keseluruhan merupakan narasi tentang perjalanan Yesus. Perjalanan itu dimulai dari seruan Yohanes Pembaptis, “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan,” kemudian berlanjut dengan baptisan dan pencobaan Yesus, pelayanan-Nya di Galilea, pemanggilan para murid, hingga perjalanan bersama mereka menuju Golgota. Karena itu, ungkapan “Yesus dalam perjalanan” menjadi tema yang berulang dalam Injil Markus dan membentuk keseluruhan alur naratifnya. N.T. Wright memaknai posisi Bartimeus di pinggir jalan bukan sekadar sebagai keterangan lokasi, melainkan sebagai tempat di jalur yang akan dilalui Yesus menuju Golgota. Jalan itu merupakan lintasan perjalanan Yesus dalam membentuk para murid menghadapi penderitaan dan salib, sekaligus bagian dari sejarah keselamatan yang akan digenapi melalui peristiwa salib. Karena itu, Bartimeus yang duduk di pinggir jalan bukan hanya menantikan sedekah atau belas kasihan dari orang yang lewat, tetapi secara harfiah dan simbolis sedang menantikan kedatangan serta panggilan Yesus, yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.
Di tengah keramaian orang banyak, Bartimeus tiba-tiba mendengar bahwa Yesus dari Nazaret sedang lewat. Mendengar nama itu, hatinya dipenuhi harapan karena ia telah mendengar berbagai kesaksian tentang Yesus yang membebaskan anak bisu yang kerasukan roh jahat, memberi makan empat ribu orang hanya dengan tujuh roti dan beberapa ikan, serta menyembuhkan seorang buta di Betsaida. Tanpa ragu atau mempertimbangkan logikanya sendiri, Bartimeus segera percaya kepada Yesus. Ia beriman kepada perkataan dan perbuatan Yesus yang hanya dikenalnya dari cerita orang lain, sikapnya Bartimeus ini sejalan dengan makna iman dalam Ibrani 11:1.
Ia percaya kepada apa yang Yesus lakukan yang ia sendiri belum pernah alami secara pengalaman eksistensial. Berbeda dengan Bartimeus, orang modern sering kali sulit memiliki iman yang sederhana karena selalu menginginkan penjelasan, argumen, dan segala sesuatu dapat dipahami oleh akal. Hal-hal yang melampaui kemampuan nalar menjadi sulit diterima, sehingga beriman pun terasa semakin sukar. Pengalaman hidup, budaya, dan berbagai kekecewaan mengajarkan bahwa terlalu mudah percaya dapat berujung pada penipuan dan luka, sehingga orang lebih mempercayai pengalaman negatif daripada beriman. Kesederhanaan iman seperti yang dimiliki Bartimeus menjadi sesuatu yang sulit ditemukan pada masa kini.
Bartimeus percaya kepada Yesus hanya berdasarkan kesaksian orang lain tanpa meminta tanda, argumen, atau penjelasan. Ia yakin bahwa Yesus sanggup menolong dan mengubah hidupnya. Iman yang mendalam itu kemudian diwujudkan melalui seruan memohon belas kasihan kepada Yesus. Meskipun tidak dapat memastikan sendiri bahwa Yesus benar-benar sedang lewat, Bartimeus tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin hanya datang sekali. Karena itu, ia mengekspresikan imannya dengan berteriak sekuat tenaga, eleēson me, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Bartimeus memiliki pengenalan yang sangat akurat tentang Yesus, bahkan melampaui orang banyak dan para murid, karena ia mengenali Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan, keturunan Daud. Itulah sebabnya ia memanggil Yesus dengan sebutan “Anak Daud,” sebuah gelar yang sarat makna mesianis dan berakar pada pengharapan Perjanjian Lama bahwa Mesias akan datang dari garis keturunan Daud. Pengharapan ini telah dinyatakan dalam berbagai bagian Perjanjian Lama, seperti Mazmur 2, 110, 2 Samuel 7:8-16; Yesaya 11:1-5; Yeremia 23:5-8, Matius 22:41-46, dan seterusnya. Namun, meskipun Yesus telah datang dan melayani di tengah mereka, hampir tidak ada yang menyadari bahwa penggenapan janji tersebut sedang terjadi, sehingga mereka gagal mengenali Yesus sebagai Mesias.
Ironisnya, orang banyak dan para murid yang telah lama mengikuti Yesus justru tidak mengenali-Nya sebagai Mesias. Bayangkan seakan berjalan bersama Pak Tong tetapi tidak kenal dia itu Stephen Tong. Sedangkan Bartimeus, seorang buta yang duduk di pinggir jalan, mampu mengenali Yesus sebagai Anak Daud. Keadaan ini menjadi teguran keras bagi mereka yang merasa mengenal Yesus, karena justru Bartimeus yang memiliki pengenalan yang benar, bukan para murid, orang banyak, atau mereka yang pernah menerima mukjizat. Joel Marcus dan R.T. France melihat peristiwa ini sebagai ironi teologis: seorang buta dapat melihat identitas Yesus dengan benar, sementara mereka yang memiliki penglihatan fisik gagal mengenali-Nya. Akibatnya, teriakan Bartimeus untuk menarik perhatian Yesus dianggap sebagai gangguan oleh para pengikut dan murid yang sedang berjalan bersama-Nya.
Sering kali penghalang seseorang datang kepada Yesus bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam, yaitu orang-orang yang mengaku percaya tetapi justru menjadi batu sandungan. Alkitab memberi contoh ketika orang lumpuh harus diturunkan melalui atap karena tidak seorang pun di depan pintu bersedia memberi jalan untuk membawanya kepada Yesus. Sikap yang hanya mementingkan diri sendiri dan mengabaikan keselamatan orang lain menjadi teguran bagi kehidupan rohani orang percaya. Demikian pula saat Bartimeus berteriak memohon belas kasihan Yesus, orang banyak, termasuk para murid, berusaha membungkamnya karena menganggap suaranya sebagai gangguan dari seorang yang tersisih dan berada di luar kelompok mereka, sehingga tanpa sadar mereka justru menghalangi orang datang kepada Yesus.
Jika berada di situasi itu, kemungkinan besar kita juga akan menganggap teriakan Bartimeus sebagai gangguan yang patut diabaikan. Namun, Bartimeus menolak untuk dibungkam. Semakin ditegur, semakin keras ia berseru kepada Yesus. James Edwards menyebut sikap ini sebagai iman yang menolak dibungkam, yaitu iman yang tetap konsisten dan gigih. Ketekunannya membuat Yesus menghentikan perjalanan-Nya dan memerintahkan para murid untuk memanggil Bartimeus. Menurut Joel Marcus, panggilan ini menjadi titik balik yang mengubah seluruh hidup Bartimeus. Yesus membalikkan penolakan orang banyak, memulihkan martabat Bartimeus, dan menerimanya bukan lagi sebagai orang luar, melainkan sebagai murid yang mengenal Yesus dengan benar, memahami misi mesianis-Nya, serta menjadi teladan iman yang teguh dan tidak mau menyembunyikan imannya.
Ketika Yesus memerintahkan agar Bartimeus dipanggil, sikap orang banyak dan para murid langsung berubah. Mereka yang sebelumnya menegur dan berusaha membungkam Bartimeus kini justru memanggil dan memberi semangat kepadanya. Perubahan ini menunjukkan bahwa orang banyak mudah berubah. Kita tidak boleh hanya mengikuti arus atau tren, melainkan harus memiliki prinsip yang kokoh. Dorongan yang mereka berikan kepada Bartimeus terdiri dari tiga hal penting yang dipandang para ahli biblika sebagai pola menuju pertobatan dan pembentukan seorang murid. Meskipun tampak sederhana, ketiga langkah tersebut mengandung makna rohani yang mendalam. Pertama, “Kuatkan hatimu,” yang menurut N.T. Wright menunjukkan jaminan ilahi karena Allah telah lebih dahulu bekerja dan memilihnya sebelum Yesus memanggilnya. Kedua, “Bangunlah,” yang dipahami sebagai gambaran kebangkitan, dari kematian menuju kehidupan, sebagaimana terlihat dalam kisah anak perempuan Yairus. Ketiga, “Dia memanggil engkau,” yang menurut James Edwards merupakan panggilan efektif yang menuntut respons. Menanggapi ketiga dorongan ini, Bartimeus memberikan respons kepada panggilan Yesus melalui tiga tindakan yang membentuk apa yang disebut sebagai teologi kinetik, teologi gerak.
Setelah mendengar panggilan Yesus, Bartimeus terlebih dahulu menanggalkan dan melemparkan jubahnya. Menurut Ben Witherington, jubah pada masa itu melambangkan identitas dan keamanan ekonomi, sehingga tindakan ini menjadi ungkapan penolakan yang radikal terhadap kehidupan lamanya, seperti sikap Zakheus yang rela melepaskan hartanya setelah menerima Yesus. Selanjutnya, Bartimeus segera berdiri, yang dipahami sebagai gambaran kebangkitan menuju hidup baru. Kemudian ia datang kepada Yesus sebelum dapat melihat, yang menurut N.T. Wright menunjukkan bahwa iman selalu mendahului penglihatan. Ketiga tindakan ini mencerminkan proses keselamatan orang percaya, yaitu meninggalkan hidup lama, mengalami kematian dan kebangkitan bersama Kristus, serta datang dan mengikut Yesus sebagai murid.
Di hadapan Yesus, Bartimeus menerima pertanyaan yang paling penting bagi umat manusia: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Pertanyaan ini menyentuh motivasi terdalam manusia dalam beragama dan mengajak setiap orang menguji hati nuraninya. Jika Yesus mengajukan pertanyaan yang sama kepada kita, setiap orang harus memberikan jawabannya sendiri. Ada yang beragama demi kekayaan, kesehatan, kesuksesan, menghindari penderitaan, atau memperoleh kebahagiaan di dunia dan di surga. Kita hari ini datang kepada Yesus, mau menjadi orang Kristen macam apa dan apakah motivasi kita? Ketika Yesus memberi kesempatan kepada Bartimeus untuk meminta apa pun, Bartimeus tidak menginginkan kekayaan, jaminan hidup, kesehatan, atau bebas dari penderitaan. Ia hanya meminta agar dapat melihat. Bagi Bartimeus, penglihatan berarti dapat menyaksikan ciptaan Allah, mengenal Sang Pencipta dan karya keselamatan Kristus, serta menjalani hidup dengan mandiri tanpa bergantung pada belas kasihan orang lain. Kesederhanaan permintaannya menunjukkan sikap yang tahu merasa cukup, yang menjadi sumber ketenangan dan kebahagiaan. Bisa merasa cukup adalah sebuah kebahagiaan hidup manusia yang terbesar. Banyak penderitaan kita di dalam dunia ini terjadi karena kita tidak bisa merasa cukup. Tetapi kalau kita bisa merasa cukup, maka kita tidak akan takut dan gelisah oleh apa pun. Yesus kemudian mengabulkan permohonannya dengan berkata, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Saat itu juga Bartimeus memperoleh penglihatannya dan mengikuti Yesus dalam perjalanan menuju Yerusalem dan Golgota.
Bartimeus merupakan tokoh penting dalam Injil Markus, yang sering kali kita lewatkan, sebagai orang terakhir yang disembuhkan Yesus sebelum penyaliban dan murid terakhir yang dipanggil sebelum Yesus memasuki Yerusalem. Ia adalah orang buta yang mampu melihat siapa Yesus, sementara banyak orang yang memiliki penglihatan justru gagal mengenali-Nya. Kisah Bartimeus menjadi cermin bagi setiap orang percaya bahwa kedekatan secara fisik dengan Tuhan atau kesibukan dalam aktivitas keagamaan tidak menjamin pengenalan yang benar akan Dia. Mata, telinga, dan semangat rohani dapat berfungsi, tetapi seseorang tetap dapat gagal memahami kehendak Allah dan ragu mempercayakan hidup kepada-Nya. Bartimeus mengingatkan bahwa pengenalan akan Allah adalah anugerah yang lahir dari belas kasihan dan panggilan-Nya yang membangunkan manusia di tengah hiruk-pikuk kehidupan.
Bartimeus mengajarkan bahwa pemuridan dan mengikut Yesus tidak dimulai dengan kejelasan tentang seluruh perjalanan di depan. Seperti ketika Yesus memanggil para murid dengan berkata, “Mari ikutlah Aku. Aku akan menjadikan kau penjala manusia.” Mereka belum memahami sepenuhnya arti maupun tujuan panggilan itu, tetapi tetap mengikut-Nya. Sejak saat itu Yesus hidup bersama para murid-Nya. Demikian pula ketika Yesus memanggil seseorang, kepastian yang diberikan bukanlah penjelasan tentang masa depan, melainkan kehadiran-Nya yang senantiasa menyertai orang yang mengikuti-Nya.
Bartimeus mengajarkan bahwa pemuridan tidak dimulai dengan kejelasan, melainkan dengan keputusasaan terhadap diri sendiri dan kesadaran akan kebutuhan akan Allah. Iman bukan sekadar formalitas agama, tetapi tetap teguh meskipun ditentang, tidak mau dibungkam, dan terus berseru kepada Yesus. Iman juga berarti meninggalkan kehidupan lama dan datang kepada Yesus dengan mengikuti panggilan-Nya. Setelah menerima kembali penglihatannya, Bartimeus meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Yesus dalam perjalanan menuju salib dan kebangkitan. Dari seorang yang duduk di pinggir jalan sebagai orang luar, ia diubahkan menjadi bagian dari murid-murid Yesus.
Markus menutup bagian Injil ini dengan pertanyaan yang harus dijawab setiap orang: apakah kita mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya menuju Yerusalem dan Golgota, atau memilih tetap tinggal dalam kenyamanan hidup sendiri? Kisah Bartimeus mengajak orang percaya untuk segera merespons panggilan Kristus dengan meninggalkan kehidupan lama, datang kepada-Nya, dan mengikuti-Nya sebagai murid hingga ke jalan salib dan kebangkitan. Kiranya mata rohani kita dibukakan bukan karena kedekatan lahiriah, melainkan oleh penyataan dan anugerah Allah.