Download versi cetak: 1286_1459_KebaktianPagiSore_18Okt2026_HW

Makna Pengorbanan Ishak

Kejadian 22:1-19, Ibrani 11:17-19, Yakobus 2:21-23

Pdt. Hendra Wijaya, M.Th.

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Sering kita membaca Kejadian 22 dengan satu model pembacaan yang terlalu sederhana. Sejak dari sekolah minggu kita sudah diajarkan tentang Abraham, bapa orang beriman yang penuh dengan ketaatan dan imannya kepada Allah dengan rela melakukan apapun untuk memperkenankan hati Tuhan. Demikian pula Ishak anak perjanjian yang penuh ketaatan dan patuh kepada ayahnya, membawa kayu dan tali mengikut ayahnya ke gunung Moria dengan tanpa mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Kemudian muncul domba kecil yang lucu yang dijadikan korban untuk menggantikan Ishak. Dalam tradisi Yudaisme kisah ini yang dikenal dengan istilah “Akeidat Yitzhak” (Eng : the binding of Isaac). Akedah bukan sekedar satu ikatan biasa. Kata ini berasal dari kata akad yang berarti ikatan yang sangat keras seperti layaknya orang akan mengikat seekor binatang untuk dijadikan korban persembahan. Kisah ini menempatkan pembaca di dalam ketegangan antara perintah Ilahi, dan sesuatu yang sangat kita cintai dalam hati kita yang tidak mudah untuk kita lepaskan.

Ayat kedua, “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak. Pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Aku katakan kepadamu.” Allah meminta kepada Abraham untuk memberikan apa yang Tuhan sendiri sudah janjikan dan untuk menerima janji ini ia harus menunggu 25 tahun. Sekarang Abraham diminta memberikan kembali kepada Allah sebagai korban persembahan. Ada dua filsuf yang membaca kisah ini dan memberikan kita insight yang sangat dalam. Soren Aabye Kierkegaard, seorang filsuf Kristen dan Jacques Derrida, seorang filsuf ateis Yahudi mengatakan kisah ini bukan kisah yang sederhana. Keduanya mengatakan di dalam kisah ini terlalu banyak pertanyaan tentang etika dan moralitas yang tidak mudah untuk kita selesaikan. Sebaliknya Craig Bartolomew seorang teolog Reformed Perjanjian Lama berdiri sebagai suara ketiga yang menegaskan bahwa kisah ini bukan kisahnya Abraham tetapi drama world view-nya Allah. Kita akan menelusuri pertanyaan-pertanyaan ini. Apakah maknanya ketika Tuhan memintanya kembali? Apa relevansi dengan hidup kita. Apakah artinya menyerahkan kembali penggenapan janji itu kepada yang memberikan janji? Pertama, bagian ini mempunyai elemen perintah yang tidak biasa. Allah mencobai Abraham. Dalam teks Ibraninya di Kej 22:1 dikatakan Allah “nissah”. Kata yang mempunyai konotasi menguji, bukan mencobai. LAI menerjemahkan sebagai mencobai. Karena ada dua hal yang kontras antara mencobai dan menguji. Di dalam konteks mencobai selalu konotasinya negative, tapi menguji selalu konotasinya positif. Tindakan Allah menguji Abraham, bukan ingin memperoleh informasi tentang pengetahuan Abraham, melainkan Allah sedang membentuk formasi kerohanian Abraham. Yang menjadi tidak biasa bukan soal mengujinya, tetapi isi ujiannya. Oleh karena perintah di dalam ujian ini ternyata bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh Torah, yaitu tentang mempersembahkan korban. Ulangan 12:31, “Allah membenci orang yang mempersembahkan korban dengan cara membakar anak-anaknya.” Selain itu Kejadian 21:12 khususnya 12b dikatakan kepada Abraham telah diberikan janji bahwa yang disebut sebagai keturunanmu adalah keturunan yang berasal dari Ishak. Saudara bisa perhatikan dua kontras ini. Membunuh Ishak bukan saja bertentangan dengan Taurat, tetapi juga berarti merusak janji Allah.

Hal kedua, ada keheningan Abraham yang tidak biasa. Jika di Kejadian 18 dicatat Abraham dengan sangat penuh antusias negosiasi dengan Tuhan untuk keselamatan kota Sodom. Abraham memohon kepada Tuhan jangan menghancurkan Sodom. Tuhan mengatakan, “Kalau ada 50 orang dalam kota ini, aku tidak hancurkan.” Lalu Abraham mencoba tawar-menawar dengan Tuhan sampai angka 10. Negosiasi selesai. Abraham tidak berani minta lagi. Dan terbukti di kota Sodom itu tidak ada 10 orang yang benar di hadapan Tuhan. Tetapi Kejadian 22:4 Abraham hening untuk peristiwa yang sama seriusnya. Tuhan kasih tahu hancurkan Sodom, Abraham negosiasi. Tapi Tuhan bilang ambil anakmu jadikan korban bakaran di Gunung Moria, Abraham tidak buka suara. Untuk mengambil keputusan penting ini bahkan Abraham tidak melibatkan Sarah. Bayangkan seandainya Abraham bawa Ishak ke gunung Moria lalu ikat Ishak di mezbah itu dan menyembelih Ishak, lalu membakar tubuh jasmaninya. Bagaimana perasaan Sarah? Itulah sebabnya para filsuf mengatakan ini melawan etika. Tidak ada orang yang punya moralitas melakukan ini tanpa memberi  tahu istri yang sudah mengandung 9 bulan, melahirkan dan membesarkan dengan susah payah. Abraham juga hening kepada Ishak. Tiga hari lamanya mereka dalam perjalanan ke gunung Moria, dia hanya menjawab singkat ketika Ishak menanyakan tentang domba untuk korban. Abraham menjawab, “Allah menyediakan korban bakaran bagiNya.” Kata Ibraninya muncul Elohim Yireh. Yireh diterjemahkan melihat dan juga bisa menyediakan.

Ketiga, tema providensia yang tidak biasa dalam bagian ini. Ayat 13, 14, Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu “Tuhan menyediakan”. Sampai sekarang dikatakan orang, di atas gunung Tuhan akan sediakan. Ketika Abraham melihat anak domba itu dinamainya tempat itu Yahweh Yireh yaitu Allah menyediakan. Abraham melihat Allah memperhatikan, Allah menyediakan. Penulis surat Ibrani memperjelas peristiwa ini. Karena iman maka Abraham tatkala dia dicobai mempersembahkan Ishak, Ia yang telah menerima janji itu rela mempersembahkan anak yang tunggal. Bagian berikutnya kita melihat kesadaran Abraham akan providensia Allah yang sangat luar biasa. Abraham percaya Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Abraham percaya bahwa kebangkitan itu nyata sebelum kebangkitan itu sendiri terjadi.

Pada tahun 1843,  Soren Aabye Kierkegaard yang pada waktu itu memakai nama samaran latin, Johannes de Silentio. Dia pakai nama samaran karena tulisannya yang melampaui zaman, sangat mengganggu banyak orang. Banyak serangan dari orang yang tidak bisa terima pikirannya. Tahun 1843 dia menerbitkan sebuah buku dengan diberi judul dalam bahasa Denmark Frygt og Bæven (Inggris: Fear and Trembling). Karya ini dikenal luas sebagai salah satu teks dari Kierkegaard yang paling berpengaruh di dalam kontribusinya dalam filsafat agama dan filsafat eksistensialisme. Di dalam karya ini, dia mengkaji kembali  ketegangan antara etika dan iman melalui analisisnya terhadap kondisi psikologis Abraham dalam perjalanannya menuju ke gunung Moria. Teks dalam karya ini  berargumentasi bahwa tindakan Abraham tidak mungkin dapat dimengerti melalui kerangka etika filsafatnya Hegel. Sebaliknya Kierkegaard berkeyakinan bahwa ini hanya dapat dimengerti melalui iman. Karya ini ditulis saat Kierkegaard mengalami krisis. Dia baru membatalkan pertunangannya dengan Regine Olsen. Dia merasa seolah-olah baru mengkorbankan Ishak-nya. Kierkegaard mempertanyakan tindakan Abraham. Bagaimanakah bisa seorang bapak itu disebut righteousness hanya karena dia bersedia membunuh anaknya sendiri? Kierkegaard mulai dengan membicarakan tiga macam tahapan kehidupan manusia yang berbeda-beda, yaitu tahap estetika, tahap etika dan tahap beragama. Tahap estetika adalah tahap hidup manusia ditandai dengan hanya mempunyai sikap mementingkan diri sendiri. Manusia mengejar kenikmatan. Dalam tahap ini manusia hanya hidup bagi dirinya sendiri dan mencari kepuasan sesaat, menghindarkan diri dari tanggung jawab yang lebih mendalam. Tahap estetika ini lebih fokus pada pengalaman daripada soal benar dan salah di dalam hidup. Yang kedua adalah tahap etika. Tahap etika ditandai ketika manusia mulai sadar dan merelasikan dirinya dengan orang lain dan mulai menyadari akan adanya tanggung jawab moralnya kepada orang lain. Dalam tahap ini hidup diarahkan oleh kewajiban dan prinsip etika yang bersifat universal dan kewajiban-kewajiban sosial. Maka tahap ini manusia mulai menekankan akan pentingnya refleksi hidup. Manusia mulai menekankan pentingnya komitmen dan memperkembangkan karakter. Tahap yang ketiga adalah tahap beragama. Menurut Kierkegaard ini adalah bentuk eksistensi paling tinggi. Tahap ini meliputi relasi manusia dengan yang tidak terbatas, relasi ini melampaui kepentingan diri dan kewajiban sosial. Itulah sebabnya individu yang beragama akan menaruh identitasnya di dalam diri yang absolut serta menjadikan iman sebagai prinsip penuntun bagi seluruh hidup.Norma-norma etika ditafsirkan melalui lensa perintah yang ilahi dan pilihan eksistensial yang dibuat di dalam relasi rohani secara pribadi dengan Allah. Sebagaimana dijelaskan Kierkegaard melalui kisahnya Abraham ini, ketaatan kepada Allah dapat berbenturan dengan penalaran etika yang bersifat konvensional. Benturan antara perintah Allah dan kewajiban etika kepada istri dan anak. Menurut Kierkegaard, Abraham sedang melakukan apa yang disebut tindakan penangguhan teleologis etik. Dia menangguhkan etika universal, yaitu jangan membunuh. Dia taat kepada tujuan akhir yang lebih tinggi, yaitu dari yang absolut. Kierkegaard mengatakan, sesungguhnya Abraham melakukan sebuah tindakan yang bersifat ganda. Yang pertama, dia taat kepada Allah untuk mempersembahkan Ishak, Abraham lakukan dengan satu sikap penyerahan yang total tidak terbatas. Dia tidak pura-pura sedang memberi kepada Tuhan. Bagi Kierkegaard taat kepada Allah bukan cuman sekedar menjalankan ritual agama, tetapi esensi taat kepada Allah adalah sesadar-sadarnya melepaskan apapun untuk taat kepada Allah. Ini sangat tidak mudah. Yang kedua, Abraham mempunyai iman berdasarkan hal-hal yang absurd. Di dalam bukunya Fear and Trembling, Kierkegaard menulis bahwa Abraham percaya hal-hal yang absurd. Ini bukan kepercayaan yang tidak rasional,  maksudnya adalah iman yang melampaui kalkulasi.

Kita mungkin mengatakan saya beriman kepada Tuhan, tapi waktu kita mau melakukan sesuatu dalam kehendak Tuhan, kita kalkulasi dulu. Contoh paling gampang, ketika kita diminta janji iman, apakah suara ambil kertas langsung tulis? Spontan? Atau pikir dulu. Kalau gereja masih punya banyak uang, saya kasih sedikit saja. Itu  bukan iman, Kierkegaard mengatakan iman adalah sesuatu yang melampaui kalkulasi. Abraham percaya Allah akan tetap menepati janjinya bahkan jika sekalipun Ishak mati. Bahkan lebih jauh lagi Kierkegard mengatakan Abraham telah bertindak berdasarkan hal-hal yang mustahil. Abraham tidak dapat menjelaskan sendiri tindakannya. Abraham juga tidak dapat membenarkan tindakannya secara etik. Ia bahkan tidak mengandalkan akalnya, tradisinya, maupun moralitasnya. Itulah sebabnya Kierkegaard mengatakan satu-satunya kemungkinan apa yang dilakukan oleh Abraham dalam bagian ini, Abraham adalah seorang pahlawan iman. Iman yang rela mengembalikan seluruh berkat Tuhan kembali kepada sang Pemberi berkat. Siapa di antara kita yang mempunyai sikap rohani semacam ini yang rela mengembalikan seluruh pemberian berkat Tuhan kembali kepada sang Pemberi berkat tanpa kalkulasi? Ini adalah kisah iman yang penuh paradoks. Pemberian harus totalitas diserahkan agar dapat menerimanya kembali sebagai sesuatu yang baru. Kita harus mengukur ketaatan kita berdasarkan ukuran Tuhan.

yang bersifat paradoks maka Derrida menunjukkan kepada kita paradoks pemberian. Betapa mustahilnya memberi dengan tanpa mengharapkan imbalan. Dalam bukunya Donner la mort )The Gift of Death), Derrida menyingkapkan betapa etika itu sebetulnya telah tersusun oleh struktur pengorbanan. Ketika kita memilih tanggung jawab tertentu, berarti kita harus mengorbankan tanggung jawab yang lain. Memilih bertanggung jawab kepada satu orang berarti kita mengkhianati yang lain, artinya kita tidak bertanggung jawab kepada orang yang lain. Setiap keputusan akan melibatkan pemberian. Ketika engkau memilih merawat anakmu, maka sebetulnya engkau sedang mengorbankan engkau bisa memberi makan anak-anak yang lain di Afrika. Ketika engkau memilih waktu untuk berangkat bekerja, itu berarti engkau mengorbankan waktu bisa bersama dengan keluargamu. Derrida mengatakan etika adalah ekonomi pengorbanan. Baginya Kejadian 22 adalah satu paradigmatik tanggung jawab yang absolut. Satu tanggung jawab yang penuh kerahasiaan dan ketidakmungkinan untuk melakukan pembenaran etis. Interpretasi ini bukan tafsiran biblika tetapi sebuah renungan filosofis, apa artinya memberi, taat dan bertanggung jawab di hadapan Allah. Karena dia ateis, dia tidak menyebut istilah Allah. Tetapi dia memakai istilah holy other. Untuk bisa bertanggung jawab kepada Allah, maka Abraham harus mengabaikan tanggung jawabnya kepada Sarah dan Ishak. Bagi Derrida untuk taat kepada Allah berarti Abraham harus mengkhianati Sarah dan Ishak. Sedangkan menyelamatkan Ishak berarti mengkhianati Allah. Tidak ada jalan tengah di antara keduanya. Taat kepada Allah absolut berarti apapun yang Dia minta kamu absolut taat. Derrida melihat Abraham sebagai satu sosok yang mewujudkan tanggung jawab yang melampaui etika yang bersifat universal. Ketaatan Abraham untuk mengorbankan Ishak memang tidak dapat dibenarkan secara etika, tetapi tindakan ini adalah satu bentuk tanggung jawab yang bersifat tunggal, tidak dapat dialihkan kepada siapapun dan hanya ditujukan kepada yang absolut. Dalam konteks relasi ini, tidak dapat kita nilai secara publik. Aspek relasi yang penuh kerahasiaan inilah merupakan bagian yang membentuk hakikat tanggung jawab religius. Itu sebabnya Abraham tidak dapat menjelaskan tindakannya. Derrida mengatakan kerahasiaan ini adalah struktur dasar dari tanggung jawab religius. Itulah sebabnya tindakan Abraham secara etis sangat mengerikan, tetapi secara religius menjadi sesuatu teladan.

Dalam bukunya The Gift of Death, Derrida membicarakan pemberian sebagai sesuatu yang paradoks. Derrida mengatakan sebuah pemberian yang sejati diberikan dengan tanpa mengharapkan imbalan. Memberi dengan mengharapkan balasan adalah transaksi ekonomi. Berbuat baik dan mengharapkan balasan adalah relasi transaksional. Jikalau kita memberi kepada Allah tapi menghitung imbalan, maka itu bukan pemberian. Ekstrem yang lain Derrida mengatakan pemberian yang murni seperti ini tidak mungkin ada dalam kehidupan etika kita sehari-hari. Abraham yang rela memberikan Ishak tanpa kalkulasi. Pemberian Ishak ini menjadi model pemberian yang murni. Jadi kalau kita mau memberi persembahan kepada Allah, teladannya cuma satu, yaitu persembahan Abraham melalui Ishak kepada Allah. Kejadian 22 menjadi peristiwa di mana pemberian dan kematian itu bertemu. Abraham melepaskan dan memberikan Ishak kepada Allah. Dengan melakukan hal ini maka dia telah menyerahkan Ishak kepada kematian. Bukan karena Allah menginginkan kematian, melainkan pemberian di dalam ketaatan yang mutlak tidak dapat dipisahkan dari kemungkinan adanya kematian. Ringkasnya bagi Derrida, ketatan Abraham adalah sebuah anugerah kematian. Bukan karena Allah menginginkan kematian tetapi Abraham telah bersedia memberikan apa yang paling berharga tanpa jaminan, tanpa imbalan, tanpa kalkulasi, bahkan memberikan itu kepada kematia. Bagi Derrida kesediaan Abraham untuk mengorbankan Ishak adalah satu pemberian yang paling murni. Karena Allah telah terlebih dahulu memberikan Ishak. Itulah yang memungkinkan Abraham bisa memberi. Derrida menolong kita untuk melihat Akedah adalah sebuah momen ketika pemberian yang dikembalikan kepada sang Pemberi dalam kerahasiaan yang mutlak dan kepercayaan yang mutlak. Maka persembahan itu adalah pemberian kita kepada Allah di dalam rahasia yang mutlak antara kita dengan Allah. Juga kepercayaan mutlak kepada Allah.

Ketiga adalah pembacaan Craig Bartholomeow. Bila Kierkegaard membaca kejadian ini secara eksistensial, Craig Bartholomeow dalam bukunya Drama of Scripture dan Old Testament God, dia membaca kisah ini secara kanonik. Bartholomeow bertanya, apakah peran kisah ini dalam kisah yang lebih besar bagi seluruh umat manusia? Bartholomeow mengajukan dua langkah korektif perspektif kita dalam bagian ini. Pertama, dia menolak cara baca yang disebut reductionisme. Banyak pembaca modern melewatkan fungsi ini sebagai kisah worldview. Kejadian 1-11 telah menunjukkan kepada kita ada satu masalah yang serius yaitu ciptaan yang terpecah. Alkitab memperkenalkan kepada kita solusinya melalui Abraham dan pada akhirnya seluruh alam semesta akan mengalami restorasi dalam Kristus. Kejadian 22 itu merupakan klimaks dari drama itu. Orang Kanaan mempunyai tradisi mengorbankan anaknya kepada Moloch dan Baal untuk memperoleh berkat. Bartholomeow mencatat Kejadian 22 ditulis untuk melawan worldview itu. Bila Moloch berkata, “Berikan anakmu maka aku akan memberikan kau masa depan.” Yahwe berkata, “Aku sendiri akan menyediakan pengganti.” Ini membawa kita kepada poin kedua dari Bartholomeow yaitu tiga dimensi kanonikal menurut Bartholomeow. Yang pertama soal janji dan masa depan. Ayat 1 dimulai dengan kalimat “Sesudah semuanya itu.” Kalimat ini menghubungkan perjanjian Allah yang diucapkan kepada Abraham dalam Kejadian 15, di mana Allah sendiri berjalan di antara potongan daging sebagai tanda mengikat perjanjiannya dengan Abraham. Mengorbankan Ishak bukankah ini melanggar janjiNya? Maukah Abraham percaya tentang janji masa depan dari Allah sementara pengalamannya sendiri bertentangan dengan apa yang Allah janjikan? Abraham memilih percaya kepada Allah. Itulah sebabnya di dalam ayat 5 dia berkata kepada bujangnya, “Tunggu di sini, aku dan anak ini akan pergi ke sana untuk beribadah kepada Tuhan dan nanti kami yang akan kembali.” Abraham memakai kata kami. “Kami akan kembali”. Ini adalah kalimat iman, Ishak juga pasti kembali. Ini adalah kalimat dengan worldview percaya akan masa depan itu ada di tangan Allah. Abraham percaya Allah tidak dapat dibatasi dalam kehendak dan karyanya. Kedua yang menolong kita melihat korektif adalah soal gunung dan keselamatan. Allah memerintahkan Abraham, “Ambil anakmu yang tunggal itu yang kau kasihi, yakni Ishak pergi ke gunung Moria.” Di dalam 2 Tawarikh 3:1, penulis kitab Tawarikh mengidentifikasi gunung Moria sebagai bukit tempat bait suci, tempat umat Allah membakar korban dan memohon pengampunan dosa dan keselamatan. Sesungguhnya bagi manusia untuk dapat memperoleh pengampunan dosa dan keselamatan bukan pergi ke gunung Moria tetapi pergi kepada bukit Kalvari. Matius 27:33. Meskipun kedua tempat ini secara geografis dan hasil eksplorasi arkeologi memang berbeda, tetapi keduanya dapat ditarik satu unsur simbolis yang paralel tentang korban dan substitusi. Di dalam Kejadian 22:13 ada domba jantan sebagai substitusi Ishak. Di dalam Perjanjian Baru Paulus menulis Roma 8:30-32, “Allah tidak menyayangkan AnakNya sendiri tetapi menyerahkannya bagi kita semua”. Ayat ini dipakai oleh Paulus seolah hendak menggemakan kembali ayat 16. Yang ketiga, sumpah dan misi. Di dalam pembacaan kejadian 22, puncaknya ada di ayat ke-15-18. Allah menggemakan janjiNya kepada Abraham saat dia dipanggil. Semua janji di dalam panggilan itu, dikukuhkan lagi dengan sumpah oleh karena Abraham memelihara sikap takut kepada Allah. Ujian Abraham dimaksudkan supaya Abraham menjadi berkat bagi segala bangsa.

Kierkergaard dan Derrida hanya berhenti di gunung Moria tetapi Bartholomeow membawa kita melewati Moria dan berhenti di Kalvari tempat di mana Kristus menggenapkan semua rencana Allah. Ishak bertanya kepada ayahnya “Di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” Abraham seolah bernubuat, Allah sendiri yang akan menyediakan anak domba itu. Jawaban substitusi yang sesungguhnya adalah seruan Yohanes Pembaptis yang mengatakan, “Lihatlah Anak domba Allah.” Di gunung Moria Allah menghentikan Abraham mengorbankan anaknya, tetapi di bukit Kalvari Allah sendiri mengorbankan AnakNya yang tunggal yang Dia kasihi. Paulus mengatakan di dalam Filipi 2, “Yesus Kristus yang dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraanNya sebagai milik yang dipertahankan.” Dia inkarnasi dan menangguhkan hak ilahinya. Bila bagi Derrida Allah adalah holy other, maka di dalam Injil Allah adalah Imanuel, Allah yang inkarnasi. Dia telah dikorbankan agar kita memperoleh keselamatan. Kita harus belajar untuk bersedia kehilangan yang engkau kasihi. Bukan dengan kepura-puraan, tetapi dengan sepenuh hati. Dengan sadar meletakkan semua yang kita kasihi di atas mezbah. Kita mengatakan ini semua bukan milikku. Aku dengan segenap hati rela kembalikan kepadamu. Bahkan jikalau engkau mengambilnya sekalipun, Engkau tetap Allahku. Ketika kita dengan sepenuh hati menggenggam apa yang kita kasihi, kita akan hidup di dalam kecemasan dan ketakutan. Sebaliknya bila yang kita kasihi itu kita dengan rela taruh di atas mezbah, kita akan hidup di dalam kebebasan dan kelegaan. Tuhan Allah berkata, “Aku telah korbankan AnakKu yang tunggal, yang Kukasihi supaya engkau memperoleh damai sejahtera dan hidup yang kekal”. Beribadah berarti mengembalikan semua pemberian kasih karunia kepada Allah.

Close
Close Search Window
↑