Download versi cetak: 1263_1436_KebaktianPagiSore_2026-10-Mei

Boros Bagi Tuhan?

Matius 26:1-13

Pdt. Eko Aria

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Di dalam penulisan sebuah cerita, biasanya bagian klimaks itu akan ditaruh di ujung. Tokoh-tokoh yang paling penting dan peristiwa-peristiwa yang paling genting ditaruh di ujung, juga biasanya lokasinya dipertimbangkan dengan sangat sungguh-sungguh. Misalkan Anda nonton film John Wick: Chapter 4. Saat klimaks, lokasinya ada di mana? Sacré-Cœur. Waktunya kapan? Sunrise. Tokoh-tokohnya siapa? Keanu Reeves dan Donnie Yen. Lalu mereka melakukan duel pistol. Sangat klimaks. Bagian Injil Matius ini juga adalah bagian klimaks seperti itu. Ini adalah Injil tentang Yesus Kristus, yang adalah Anak Daud. Di sini kita mendapatkan semuanya: the man, the place, and the time. The man-nya siapa? Yesus Kristus. Lokasinya ada di mana? Betania, dekat Yerusalem. Waktunya kapan? Dua hari menjelang Paskah.

Dari kacamata orang-orang Yahudi, seluruh tradisi besar dimasukkan dan dijejalkan semua di sini. Bicara tentang Anak Daud dan Yerusalem, itu adalah tradisi Davidic. Dan bicara tentang Paskah, itu adalah tradisi Mosaic. Sekarang Anda bayangkan seluruh cerita Exodus (sepuluh tulah, perjalanan keluar dari Mesir, tiang awan dan tiang api) dan seluruh cerita tentang Daud dan Yerusalem dijejalkan jadi satu di dalam Matius 26 ini. Oleh karena itu, kita melihat ada sebuah tindakan yang sangat proper untuk momen yang seperti ini, yaitu Rajanya, Sang Mesias, Sang Kristus, diurapi.

Besar kemungkinan ini adalah peristiwa yang sama dengan peristiwa yang ada di dalam Yohanes 12. Pdt. Ivan mengkhotbahkan tentang bagaimana Yesus diurapi oleh Maria. Meskipun ini adalah sebuah peristiwa yang sama, Yohanes dan Matius memakai sorotan yang berbeda. Di dalam kacamata Yohanes, ada sebuah penekanan pada tindakan Maria yang sangat berdevosi terhadap Yesus. Maria membawa minyak yang begitu mahal (ada catatan Yudas Iskariot mengatakan harganya mungkin bisa dijual 300 dinar), dan minyak itu ditaruh di kaki Yesus, lalu dilap dengan rambutnya. Ada seorang komentator yang mengatakan, “Maria itu tokoh yang unik.” Semua cerita di dalam kitab Injil tentang Maria, itu dia selalu ada di kaki Yesus. Pada waktu Lazarus mau dibangkitkan, dia ada di kaki Yesus. Di dalam Injil Lukas, di dalam peristiwa Maria dan Marta juga, Maria ada di kaki Yesus. Demikian juga di dalam Injil Yohanes, Maria di dekat kaki Yesus menyeka kaki Yesus dengan rambutnya. Sebuah tindakan devosi yang sangat ekstravaganza.

Tetapi Matius mempunyai penekanan yang berbeda. Di dalam catatannya, kita tidak mendapati ada Maria yang menyeka dengan rambut. Juga tidak ada minyak mahal yang ditaruh ke kaki. Minyaknya dicurahkan ke kepala. Mungkin Anda bertanya, “Loh, kok Yohanes dengan Matius berbenturan?” Satu ngomong kepala, satu ngomong kaki. Ya, bisa dua-duanya. Dari kepala terus minyaknya turun sampai ke kaki, lalu dilap pakai rambut bisa juga. Tetapi saya kira kita tidak perlu melakukan harmonisasi di sini. Justru kita highlight perbedaannya karena mereka memang mau menekankan hal yang berbeda.

Di dalam versi Matius, kita tidak mendapatkan tindakan Maria sebagai tindakan devosi super besar. Tindakan ini biasa saja. Kenapa? Karena ini adalah main event. The man, the place and the time, semuanya pas. Kalau ada tradisi Exodus dan tradisi Davidic dimasukkan jadi satu, jangankan minyak seharga 300 dinar, 3.000 dinar juga tidak mahal. Matius justru meng-highlight polemik dengan orang yang menganggap itu sebagai peristiwa yang luar biasa. Murid-murid gusar berkata, “Untuk apa pemborosan ini? Uang yang begitu banyak, upah orang satu tahun bekerja, satu kali tuang habis. Boros sekali itu.” Apakah boros itu artinya sama dengan mengeluarkan uang yang jumlahnya besar? Tidak sama. Boros itu bukan mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Boros itu adalah mengeluarkan sejumlah besar uang untuk hal yang kecil. Kalau yang dikeluarkan itu angkanya tidak begitu besar tetapi yang didapatkan itu kecil, itu pun sudah boros. Kalau Anda membeli botol air mineral seharga 200 dolar, itu boros. Tetapi misalkan Anda membeli rumah, jangan-jangan 1 juta dolar pun bisa tidak boros. Jadi boros atau tidak itu tidak ditentukan dari jumlah besar uangnya, sebaliknya boros atau tidak itu ditentukan dari value yang akan didapatkan.

Murid-murid tidak ditegur oleh Tuhan Yesus karena mereka concern terhadap orang miskin. Bahkan faktanya, di dalam satu perikop sebelumnya (Mat. 25:35-40), Tuhan Yesus itu menunjukkan concern-Nya juga terhadap orang-orang miskin. Jadi sekarang, waktu murid-murid menunjukkan concern mereka terhadap orang miskin, bukankah seharusnya Tuhan Yesus memuji mereka?

Sebelum GRII Batam dibangun, suatu kali di dalam sebuah master class, Pdt. Stephen Tong bercerita tentang sebuah tanah di Batam yang harganya dijual murah. Beliau langsung menekankan untuk cepat-cepat dibeli, lalu beliau mulai bercerita apa yang akan beliau lakukan dengan tanah tersebut, akan ada gereja yang sekarang sudah jadi GRII Batam itu, lalu dia bicara tentang akan membuat sebuah stasiun radio yang akan dipancarkan ke Malaysia supaya bisa meneriakkan tentang Yesus Kristus satu-satunya Juruselamat terus-menerus. Ketika kebanyakan orang melihat sejengkal tanah itu dikonversikan menjadi rupiah, beliau melihat tanah itu dikonversikan menjadi berita Injil bagi orang-orang yang jauh di sana. Setelah semuanya itu, kami mengadakan janji iman. Tentu saja saya menuliskan sebuah angka, angka yang kecil tetapi angka itu adalah lebih besar daripada seluruh isi rekening saya, dan saya tidak punya harta lain selain rekening di situ. Maka saya tuliskan dengan hati yang takut akan Tuhan, dengan tangan bergetar, kiranya Tuhan mau memakai diri saya yang kecil ini. “Tuhan, uang ini cuma kecil sekali, tetapi kalau Engkau mau, Engkau juga pakai seluruh hidup saya, Tuhan. Seluruh hidup saya juga kecil, tidak ada apa-apanya, tetapi tolong Tuhan terima, kalau bisa.” Setelah acara itu selesai, ketika saya pulang, saya mulai pikir-pikir lagi angkanya, makin lama makin vivid di dalam kepala saya. Saya pikir saya khilaf, “Terjebak saya. Aduh, boros!”

Saudara, apakah memberi kepada Tuhan bisa boros? Memangnya kita bisa boros memberi kepada Tuhan? Kesalahan murid-murid sekali lagi bukan concern-nya terhadap orang miskin. Bukan. Masalah mereka adalah mereka itu tidak kenal siapa Yesus yang di depan mereka ini. Itu bukan boros, tetapi mereka tidak tahu value yang ada di depan mereka itu seperti apa.

Di dalam susunan Injil Matius, Matius 26 ini adalah sebuah cerita setelah lima discourses besar. Discourse pertama adalah khotbah di bukit (pasal 5-7). Discourse kedua adalah perutusan (pasal 10). Discourse ketiga itu bicara perumpamaan Kerajaan Surga (pasal 13). Discourse keempat itu bicara tentang komunitas Kerajaan Surga (pasal 18). Discourse kelima itu adalah tentang akhir zaman (pasal 24-25). Bagi orang-orang Yahudi yang membaca Injil Matius ini, ketika mereka mendengar ada lima great discourses, mereka ingat Torah, lalu mereka mengingat Musa yang adalah liberator-nya bangsa Israel. Maka sekarang, Yesus yang mereka lihat adalah the Greater Moses, dicampur dengan the neo-David. Lokasinya Yerusalem. Momennya adalah Paskah. Ini bukan cuma the main event of the evening, ini adalah the main event bagi seluruh zaman. Tidak ada waktu yang lebih penting daripada itu. Kalau kita berpikir kita bisa memberikan sesuatu dan kita rasa boros, itu namanya kita yang buta, tidak kenal Yesus yang kita layani itu siapa. Tetapi pertanyaannya, kenapa para murid bisa buta seperti itu? Saya pikir salah satu jawabannya adalah karena para murid itu punya ekspektasinya sendiri tentang Anak Daud itu seperti bagaimana.

Mari kita lihat beberapa contoh di dalam Perjanjian Lama tentang Daud dan anak Daud. Tentu Anda mengenal cerita yang sangat terkenal itu, Daud dan Goliat. Tetapi jangan stop hanya sampai Daudnya saja. Mari kita coba lihat anak buahnya Daud itu orang seperti apa dari Kitab 2 Samuel 23. Dalam ayat 8 dicatat, Isybaal, orang Hakhmoni ini, dalam satu combat pakai pedang bisa bunuh 800 orang. Selanjutnya ada kisah tentang Eleazar anak Dodo. Bayangkan, ini lagi mau berperang, tetapi saat sudah melihat formasi tempurnya orang Filistin, tentara Israel bubar, lalu lari. Bayangkan Anda adalah kepala pasukan, apa yang Anda akan lakukan? Saya pikir cuma ada dua tindakan yang waras. Yang pertama, ikut lari, atau yang kedua, tanyakan syarat-syarat perdamaian. Tetapi di sini, Eleazar anak Dodo ini malah mengolok-olok orang Filistin. Dan setelah itu apa yang terjadi? Dia bangkit lalu berperang terus, membunuh begitu banyak orang. Saking banyaknya orang yang dibunuh, tangannya lama-lama capek, lalu tinggal melekat pada pedangnya. Kalau tangan sudah capek harusnya pedangnya itu lepas, kok ini terbalik, pedangnya malah lengket di tangannya? Seorang petinju kalau sudah tua, dia akhirnya menggantungkan sarung tinjunya, capek. Ada komentator yang mengatakan bahwa mungkin karena terlalu banyak darah yang bercipratan sampai kering, berdarah lagi, kering lagi, akhirnya lengket. Lalu selanjutnya, di ayat 11, kita melihat ada Sama, anak Age, orang Harari. Dia berperang, membunuh begitu banyak musuh, mempertaruhkan nyawa karena angkatan perangnya sudah lari. Sesudah itu, dia mempertahankan tanah ladang yang penuh dengan kacang merah. Itu cuma kacang merah, ya tinggal sajalah. Buat apa mati-matian demi kacang merah? Tetapi dia adalah orang yang sangat percaya. Ini musuh kecil. For nothing pun saya tetap akan fight untuk kamu.

Jadi para murid itu sudah punya bayangan namanya anak Daud itu seperti apa. Daud itu harusnya mighty warrior. Atau kalau mau son of David seperti Salomo begitu, tidak pernah ada catatan perangnya. Tidak pernah perang. Kenapa? Tidak ada yang berani. Ini lebih keren lagi. Daud pergi berperang mengalahkan banyak musuh. Anak Daud, Salomo, tidak usah berperang, semua musuh tunduk. Sekarang masanya Yesus, Anak Daud, kok tidak mirip sama sekali? Maka mereka jadi salah di dalam mengenal Yesus. Kenapa? Karena mereka memang salah juga di dalam melihat Daud. Banyak orang Kristen, ketika melihat Daud, melihat mighty warrior. Itu salah baca. Kalau Anda lihat betul-betul Kitab 1 dan 2 Samuel, memang Daud ada menang perang beberapa kali, tetapi dia tidak dikenal sebagai fierce warrior. Daud itu ketakutan terhadap keponakannya sendiri, Yoab. Yoab membunuh panglima militernya sendiri, dan Daud cuma mengatakan, “Sekarang saya lemah, dia kuat.” Daud tidak punya gambaran yang terlalu kuat. Apa yang Daud lakukan ketika terjadi perebutan kekuasaan di antara anaknya? Anak laki-lakinya memerkosa anak perempuannya dari ibu yang berbeda. Tindakan apa yang dia lakukan dengan kekuatannya? Nothing. Setelah itu terjadi bunuh-bunuhan dalam perebutan kekuasaan di antara anak-anak Daud, dia tidak punya kekuatan. Alkitab tidak mencatat Daud terutama sebagai mighty warrior.

Tetapi orang-orang Israel yang tertindas pada zaman Tuhan Yesus melihat Daud sebagai mighty warrior. Kenapa? Karena mereka memang ingin anak Daud yang seperti begitu. Ada sebuah film yang dibintangi Bruce Willis, berjudul The Sixth Sense. Dia berperan sebagai seorang psikolog yang mengonseling seorang bocah. Bocah ini mengaku melihat hantu. Dan bocah ini mengatakan, “Saya itu lihat orang-orang yang sudah meninggal. Mereka itu tidak tahu kalau mereka sudah meninggal. Mereka cuma melihat apa yang mereka ingin lihat.” Itu namanya orang meninggal. Nah, ini agak mirip dengan orang-orang Israel pada zaman Yesus. Atau jangan-jangan mirip dengan kita saat ini. Mati atau sekarat secara spiritual tetapi kita tidak tahu. Kita cuma melihat apa yang kita ingin lihat. Apa yang mereka ingin lihat? Mighty warrior. Maka Daud di dalam versi mighty warrior saja yang mereka lihat. Ketika Yesus datang tidak di dalam gambaran mighty warrior, mereka tidak bisa lihat. Gagal melihat. Dan ketika gagal di dalam melihat itu, maka kira-kira apa yang terjadi?

Kembali ke dalam Matius 26 ini, yang terjadi adalah mereka terlewatkan. Tuhan Yesus mengatakan, “… orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku.” Seorang komentator mengatakan bahwa urusan meminyaki Yesus itu akan ditutup di sini dan tidak pernah diucapkan lagi setelahnya. Kita mungkin bisa melihat ini dengan membandingkannya dengan Injil Markus. Banyak komentator yang menyetujui bahwa Injil Matius itu terutama memakai Injil Markus sebagai sumbernya. Jadi kalau sampai Matius memodifikasi apa yang ada dalam Markus, dia mau ngomong sesuatu.

Mari kita lihat Markus 16:1: “Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus.” Meminyaki Yesus, memang tidak terjadi karena Yesus akan bangkit. Tetapi kita mendapati di sini bahwa mereka datang untuk meminyaki Yesus. Lalu kita lihat dalam Matius 28:1: “Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu.” Kenapa Matius memodifikasi Injil Markus? Kenapa di dalam Injil Markus dicatat bahwa mereka itu datang untuk meminyaki Yesus, sedangkan di sini cuma dicatat menengok? Karena urusan perminyakan sudah tidak disebut-sebut lagi. Kesempatannya sudah habis, sudah tutup.

Kita perlu menyadari bahwa ketika kita gagal di dalam mengenal Tuhan kita, akan ada banyak kesempatan-kesempatan kita memberikan pelayanan yang proper itu lewat, lewat, lewat saja. Dan siapa itu yang melewatkan itu? Saudara tahu kan siapa sebetulnya main figure pada waktu itu yang mengatakan, “Ah, buat apa boros-boros ini?” Di dalam Injil Yohanes kita melihat dia adalah Yudas Iskariot. Tetapi lagi-lagi, di dalam Injil Matius kita mendapati gambar yang berbeda. Matius bukan mencatat tokoh utamanya, si pengkhianat sialan, Yudas Iskariot itu, yang tidak kenal Tuhan, tidak suka melayani Tuhan, dan tidak mau memberikan hidup untuk Tuhan. Tetapi dalam Injil Matius kita mendapati ini adalah murid-murid. Jadi saat kita membaca dari sisi Injil Matius, kita perlu wawas diri bahwa ini tidak eksklusif hanya jadi dosanya para pengkhianat dan penjahat. Kegagalan di dalam mengenal Tuhan itu adalah gejala umum dari orang-orang Kristen. Dan bahkan ini adalah murid-murid, orang-orang yang dekat dengan Tuhan.

Gagal mengenal Tuhan dan pekerjaan Tuhan itu bukan monopoli dari para pengkhianat macam Yudas Iskariot. Tetapi yang bisa gagal di dalam mengenal Tuhan itu termasuk orang-orang yang paling dekat dengan pekerjaan Tuhan. Murid-murid Yesus sendiri. Kita bisa mengecek dengan simpel: Apakah Anda pernah merasa khilaf ketika Anda memberikan persembahan, atau pelayanan, atau hidup Anda? Atau di sisi sebaliknya, Anda mengatakan, “Saya tidak pernah khilaf,” karena saya selalu hitung dengan baik. Dan tentu saja hitungannya itu kecil. Karena kita rasa cocoknya, pantasnya kita memberikan harga sekian dengan tubuh, pikiran, dan effort kita. Lebih daripada itu adalah boros.

Saudara kalau ingin tahu, apa sih yang disebut sebagai boros di dalam Alkitab? Bapa memberikan Yesus Kristus bagi kita. Itu boros. Yang diberikan itu apa? Anak Tunggal Allah yang dikasihi. Yang didapatkan apa? Orang-orang yang worthless macam kita ini. Yesus Kristus diberikan, mati di atas kayu salib, apa yang didapatkan? Yang didapatkan adalah model kita begini. Mestinya kita memarahi Tuhan, buat apa boros-boros memberikan Yesus Kristus mati di atas kayu salib demi kita yang begini? Bukannya kita marah begitu, sebaliknya kita bertanya buat apa boros-boros memberikan hidup saya untuk Yesus Kristus? Maka saya percaya kita perlu untuk belajar lebih mendalami Kitab Suci kita, belajar untuk lebih mengenal sebetulnya Yesus yang kita layani itu siapa. Kiranya Tuhan memberkati setiap kita.

Close
Close Search Window