Download versi cetak: 1460KebaktianSore_2026-25-Oct_STong

Panggilan Tuhan pada Elia – 4

Pdt. Dr. Stephen Tong

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Ketika nabi Elia di gunung Karmel adalah kebangunan anak-anak Tuhan terbesar sepanjang sejarah dari Abraham sampai Elia. Tidak pernah ada nabi mempunyai kuasa dan keberanian lebih besar daripada Elia. Di zaman itu kerusakan agama dan kemunduran iman memuncak, maka Tuhan memakai orang yang paling besar untuk membangun kembali anak-anak Tuhan dan membawa mereka kembali pada iman yang benar. Meski di Alkitab Musa menuturkan setiap tahun orang Israel laki-laki harus tiga kali ke Yerusalem dengan membawa persembahan, tetapi kita melihat seumur hidup Elia sampai dia naik ke surga, tidak pernah dicatat ia pergi ke Yerusalem. Hari ini saya tidak kritik ini, tapi saya berkata, situasi Elia tinggal di daerah negara bagian utara, maka dia lain dengan mereka yang tinggal di Yudea yang dekat Yerusalem. Kita tidak pernah dengar Tuhan menegur dia mengenai hal ini.

Seluruh rakyat tercengang menyaksikan api turun dari surga membakar seluruh korban yang diberikan kepada Tuhan. Ini bedanya Tuhan yang sejati dan Baal yang adalah ilah palsu. Saudara bayangkan berapa tersendirinya Elia? Karena di dalam pikiran dia seluruh bumi hanya sisa dia seorang nabi yang melayani Tuhan. Namun demikian dia begitu teguh berkata, “Come ye people, come over me”. Dia panggil seluruh rakyat  dan waktu dia berdoa kepada Tuhan, dia tidak lupa janji Tuhan, kesetiaan Tuhan yang diberikan menjadi ikatan iman orang Israel. Kita bukan datang kepada seorang dewa semaunya kita, minta dia mengikuti kebutuhan kita. Tetapi kita setiap kali doa, kita datang kepada Tuhan yang berjanji, yang setia, yang mempunyai rencana sepanjang sejarah. Elia berdoa, “God of Abraham, Isaac, and Jacob. Today let your people know that you are the true God. And I am Your servant.” Doa jangan panjang-panjang. Doa yang tepat teologinya, doa yang benar imannya, doa yang berkenan kepada Tuhan, itu lebih penting daripada doa bertele-tele. “Let your people know that you are the true God. And I am Your servant.” Yang menjadi hamba Tuhan, engkau yang melayani Tuhan, jangan lupa prinsip yang penting seperti demikian. Setelah Elia keluarkan dua kalimat itu, langsung api dari surga turun membakar korban yang diberikan kepada Tuhan. Bukan saja demikian, api juga menghanguskan, mengkeringkan semua air yang sudah dituang tiga kali di dalam parit di sekelilingnya. Sekarang banyak gereja sudah menyimpang ajarannya, imannya sudah jauh dari firman Tuhan. Zaman ini perlu orang seperti Elia yang membawa kembali orang percaya kepada jalur yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Lalu Elia berkata kepada mereka, “Sampai kapan hatimu masih bercabang? Kembalilah kepada Tuhan.” Lalu seluruh umat sadar Baal itu palsu. Mereka mengerti Allah itu sejati. Maka seluruh bangsa kembali kepada iman yang benar. Kita harus berdoa, “Kiranya kebangunan yang sejati terjadi pada zaman ini.”

Di Indonesia engkau lihat gereja terbesar adalah gereja yang tidak mempunyai iman yang sungguh-sungguh. Kita melihat Indonesia perlu peperangan rohani. Indonesia perlu proklamasi kuasa dan kehendak Tuhan. Saya percaya apa yang dikerjakan oleh Elia hampir tidak pernah dikerjakan oleh nabi-nabi yang lain. Gunung Karmel menjadi tempat kebangunan yang besar dan asli dari Tuhan. Mengapa bukit Sion mempunyai Yerusalem, mempunyai bait Allah, tetapi semua ahli Taurat tidak berkuasa melakukan ini? Saya minta anak muda yang menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan, tuntutlah muka Tuhan dan tuntutlah kuasa Tuhan. Jangan hanya tuntut degrees, academic achievement atau nama besar dari dunia. Kira-kira 15 tahun yang lalu di Singapura ada delapan anak muda mendadak tahun itu menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan. Setelah mereka sekolah teologi di seminari dan mereka menjadi pendeta di berbagai tempat, saya minta berdoalah supaya gelombang seperti ini terjadi lagi di Singapura. Setelah kebangunan terjadi, Baal tidak berkuasa melawan Tuhan. Ahab tidak berkuasa mencela Elia. Mereka bungkam, mereka berhenti, mereka tidak berdaya apa-apa.

Lalu Elia berkata, “Budak, tolong ke atas bukit, lihat ke arah laut apakah ada awan gelap menjadi tanda turun hujan atau tidak.” Seorang hamba naik ke atas bukit tujuh kali melihat, enam kali bicara tidak ada apa-apa. There is nothing. Tak ada awan, tak ada gejala hujan mau turun. Elia tidak kecewa. Sampai pada kali ketujuh hamba itu berkata, “Aku melihat ada sekepal kecil awan gelap seperti tangan manusia naik dari laut itu.” Elia bilang cukup, sekarang beritahu kepada raja Ahab, “Pasang tenda karena hujan deras akan turun.” Seperti tadi yang dinyanyikan oleh koor: Thanks be to God! Because He laveth the thirsty land, and sent the storm, and the heavy rain to the  earth. Tanah yang biasa kering sekarang penuh dengan air yang meluap. Bayangkan, 3 tahun tidak turun hujan, banyak yang sudah mati karena tidak cukup air minum, mereka dahaga, mereka meninggal dunia. Sekarang air hujan turun dengan deras. Sungai penuh dengan air. Semua mendapatkan sukacita yang tidak terbicarakan. Semua senang sekali. Semua raja, semua permaisuri, semua menteri, semua pejabat bungkam tidak bisa bicara apa-apa.

Kadang-kadang, Tuhan sengaja membiarkan tidak ada hujan, yang ada kekeringan, kelaparan, sehingga akhirnya ada kematian. Ini supaya engkau lihat kalau tidak ada anugerah, berapa sulitnya kita hidup di dunia. Kadang-kadang Tuhan tunda hari-hari kesulitan tidak lewat-lewat, mendadak turunkan hujan baru kita sadar berapa besar cinta Tuhan kepada kita. Raja Ahab cepat-cepat pasang tenda. Dia punya kereta, ditutup dengan baik dan dia turun dari gunung Karmel ke kotanya.

Saudara perhatikan waktu itu Elia di mana? Yang pasti Elia tidak ikut naik kereta. Kereta yang ditarik mungkin 2, mungkin 4 kuda,  larinya pasti cepat sekali. Alkitab berkata, Elia berlari lebih cepat, di depannya kuda. Cara Tuhan bekerja begitu ajaib. Elia tidak mau naik kereta turun dari gunung beserta dengan raja. Dia dipimpin Tuhan berada di depan pemimpin politik yang besar. Kalau Elia duduk di sebelahnya raja Ahab mungkin menyatakan kesombongan, pemimpin politik lebih tinggi dari hamba Tuhan. Tetapi Tuhan menyatakan hambanya jauh lebih penting daripada raja-raja di dunia. Dia turun dulu. Sampai dulu. Dia menunggu Ahab datang. Ternyata Ahab yang ketinggalan.

Elia tidak membiarkan para nabi Baal melarikan diri. Dan dengan tangannya ia membunuh 450 nabi Baal, semua mati. Ini adalah pembunuhan yang paling berani dari seorang hamba Tuhan kepada musuhnya Tuhan Allah. Setelah dia membunuh semua nabi, orang Israel sekarang bersih, tidak lagi menyembah Baal. Orang Israel sekarang tahu, Yehova adalah Allah yang sejati. Elia menjadi pahlawan. Elia menjadi pemimpin Israel. Elia menjadi pembangun rohani yang terbesar di dalam sejarah. Namun setelah itu Alkitab berkata, Ahab menceritakan semua itu kepada Ratu Izebel. Ratu Izebel langsung marah dan keluarkan satu kalimat yang luar biasa. Dia berkata, “Aku sekarang bersumpah demi dewaku. Besok hari ini saya akan mengambil nyawanya Elia. Jikalau ini tidak terjadi, biarlah para dewa menghukum aku.” Setelah Elia begitu sukses, datanglah kalimat yang mengatakan dia akan dibunuh. Saya mau tanya, waktu dia dengar, bagaimana reaksinya? Inilah yang mengherankan dan mengejutkan semua orang. Setelah Elia menang, dengar kalimat itu, langsung dia menjadi penakut. Siapakah Elia? Mengapa begitu cepat berubah? Dari muda saya merenungkan ayat ini. Saya terus pikir-pikir. Saya pikir mungkin dia sudah kalkulasi semua. Kuasa politik bukan berada di dalam tangan Ahab, tetapi kuasa politik berada di dalam tangan ratu Izebel. Dia berani membunuh semua nabi dari Ahab. Tapi dia tidak berani menghadapi Izebel. Manusia pintar menilai dan kalkulasi.

Calvin dalam bagian ini mempunyai pendapat, “Waktu dulu dia menang, Tuhan menaungi dia. Waktu Tuhan tidak menaungi satu orang, seberapa besar nabi itu, hanya kelihatan seorang yang lemah sekali.” Kita melihat ketakutan Elia begitu besar, dibandingkan keberanian dia sebelumnya begitu besar. Kita tidak mengerti Elia itu sifatnya seperti apa. Dulu saya mengambil kesimpulan. Orang besar mempunyai keberanian besar, rencana besar, kemarahan besar. Tetapi orang besar ketakutan juga besar, kelemahan juga besar. Saya tafsirkan seperti itu. Tapi setelah saya mengerti maksud Calvin, saya berubah. Dia besar bukan karena dia hebat, bukan karena dia berani.  Tapi karena Tuhan sedang menaungi dia. Kalau waktu Tuhan tidak menaungi, semua orang besar, sebenarnya hanya orang berdosa yang penuh semua kelemahan. Tuhan sekarang bertanya, “Who are you Elijah? Now you are very timid, a very terribly weak man.”

Ketakutan Elias berapa besar? Alkitab berkata, “Dia takut, lalu dia melarikan diri begitu jauh, satu hari satu malam.” Elia lari begitu jauh. Jauh dari raja dan ratu. Dia pergi ke satu tempat di bawah pohon. Dia berhenti karena terlalu capai. Di situ dia berdoa kepada Tuhan. “Oh Tuhan, tolong ambil nyawa saya. Biar aku mati saja.” Kecewanya sudah sampai minta mati. Mengapa minta mati? Saya percaya di sini paling sedikit 10, 20 orang pernah minta mati. Tetapi kalau ditanya apa sebab engkau minta mati? Kebanyakan karena putus pacaran. Hampir orang minta mati karena tidak jadi nikah, orang minta mati karena ditolak oleh pacar. Alkitab juga ada orang minta mati. Ada orang harap tidak pernah dilahirkan. Ada satu orang yang tidak minta mati, tapi Tuhan mengatakan lebih baik dia tidak dilahirkan. Saya tanya yang minta lebih baik tidak, dilahirkan siapa? Yang mengkutuk hari kelahiran siapa? Ayub. Yang minta mati siapa? Elia. Yang Tuhan katakan lebih baik tidak dilahirkan siapa? Yudas Iskariot. Elia minta mati karena dia mempunyai alasan yang cukup, “Take away my life, Lord. Let me die, Lord. Because I am no better than my forefathers.” Waktu kalimat ini saya baca, untuk pertama kali saya kaget. Mengapa ada orang yang tidak lebih baik, dari nenek moyangnya, minta Tuhan kasih mati? Bolehkah minta mati dengan alasan demikian? Haruskah manusia hidup mengalahkan nenek moyang? Adakah orang hidup lebih daripada nenek moyang? Nanti kalau orang itu tidak lebih baik dari nenek moyang, bolehkah dia minta mati? Hal-hal ini ada di pikiran saya.

Saya tanya lagi. Elia minta mati, apakah Tuhan mau dia mati? Ternyata ini sangat paradoks. Kitab suci mencatat yang pernah minta mati adalah Elia. Dan seluruh kitab suci orang yang minta mati tidak diizinkan Tuhan mati, malah hidup-hidup diangkat ke surga, adalah Elia. Elia minta mati karena  I am not better than my forefathers. Berarti dia sudah lama hidup dengan target melampaui nenek moyangnya. Apa ini tidak gila? Berani melawan nenek moyang? Ada satu kaisar namanya, Kangxi. Kangxi waktu umur 9, papanya mati, dia harus jadi raja. Lalu dipimpin oleh menteri yang lain sampai umur 18, dia naik tahta. Kangxi adalah kaisar paling lama menjabat di dalam sejarah Tiongkok. Dia menjadi kaisar 62 tahun. Dia salah satu kaisar yang paling baik di dalam sejarah Tiongkok. Di dalam Tiongkok, semenjak kaisar pertama, namanya Qin Shi Huang, kira-kira ada 56 kaisar dan di antara mereka yang paling panjang menjadi kaisar adalah Kangxi. Waktu dia mati, dia lahirkan seorang anak meneruskan kekaisaran dia. Tetapi 16 tahun penerusnya itu dibunuh. Kenapa? Karena dia terlalu keras menghadapi koruptor. Kaisar Yongzheng dibunuh, tahtanya turun pada anak namanya Qianlong. Qianlong menjadi kaisar 60 tahun. Dia masih sehat. Tapi ketika umur 80 lebih dia mengatakan saya harus mundur, mengapa? Dia mengatakan, “I should honor my grandfather. I should not surpass my grandfather. My grandfather, as an emperor, he reigned over China 62 years. I do not want to surpass my grandfather.” So even though he was strong enough, he stepped down, he did not want to be emperor anymore. Ini di dalam sejarah Tiongkok terjadi. Bandingkan emperor Qianlong dan Elia. Elia berkata, “Saya mau melampaui nenek moyang saya. Saya harus melewati nenek moyang saya. Kalau saya tidak bisa sepanjang lebih hebat dari nenek moyang saya, lebih baik biar saya mati.” Qianlong berkata, “Tidak boleh melewati nenek moyang saya.” Kebudayaan Cina lain sekali sama Alkitab. Tapi saya mulai pikirkan apakah Elia betul? Yang dia pikirkan nenek moyangnya yang mana? Dia harap melampaui nenek moyang di dalam sejarah yang mana? Alkitab tidak catat. Kita juga tidak tahu. Tetapi sikap ini bukan salah, tapi betul. Mengapa? Kalau semua orang mempunyai ambisi melampaui nenek moyang, maka kerajaan Allah bertumbuh terus, terus maju, tidak berhenti-henti di dalam sejarah. Sekarang kalau anak muda berkata “I want to serve God more than Stephen Tong. I want to achieve more people knowing Jesus Christ through me, more than Stephen Tong.” Saya akan berkata “You are right. The spirit of Elijah is in you.” Inilah kerajaan Tuhan. Tetapi kekristenan kalau tidak mempunyai ambisi melampaui nenek moyang kita, kita akan terus turun, terus mundur, terus jauh daripada Tuhan.

Kira-kira 20 tahun lalu, saya berkata, “Westminster theological seminary, you have a very important forefather. You have a very important starter of your seminary. What about you now? Are you more ambitious than him? Is your theological seminary now better than your founding fathers?” Saya tanya, gerakan Reformed iInjili. You have a founder called Stephen Tong.  Who among you are serving, are fighting, are achieving more than the founder.  Elia tidak mau ketinggalan. Elia tidak mau kalah dari nenek moyangnya. Saya sangat menghormati dan kagum kepada dia. Itulah sebabnya Elia juga mendidik seorang murid akhirnya mempunyai ambisi yang sama seperti dia. Siapa yang meneruskan Elia? Elisa. Apa yang diminta oleh Elisa? Elisa berkata kepada Elia, “Let the spirit which moved you doubly move me.” Dan itulah satu kalimat yang penting sekali.

Waktu saya muda, saya baca Alkitab. Saya rasa di sini terlatak rahasia kerajaan Tuhan, mengapa bisa maju terus. Karena ada orang yang selalu berdoa melewati nenek moyangnya. Anak muda yang minta dua kali lipat ganda, Tuhan pakai dia. Saya berkata di dalam hati saya, Siapa yang mempengaruhi saya? The one who influenced me most is Andrew Gih. When I was twelve, I was moved by him to dedicate my life to become a servant of God. Three years after that, I was cheated by communism, by evolutionism, dialectic materialism, Mao Zedong and Stalin. I gradually departed from Christianity, I became a Communist follower. But when I was 17-years-old, Dr Andrew Gih came to Indonesia and made me revived. With all tears on my shirt, I re-dedicate myself to be the servant of God. It was 9th January, 1957. Next year, the ninth of January, I want to remember, I want to give thanks to God for my 70 years of ministry in Jesus Christ. I believe there are not many people, after 70 years preaching the gospel, still preaching, still living. Now I’m old, I think about me and my teacher Andrew Gih, which one have more ministry for the Lord. I believe I have been preaching to over 39 million people who attend my own meetings. Andrew Gih is the only one in Chinese history who called upon thousands of young people, serving as a full timer. No one is like him. People who go to seminaries, a lot of people is because of him. One day, I tried to count how many people dedicate their life in my meetings. After I count all these, I was amazed and I shed my tears and I give thanks to God. From 1957 to 2025, people who come to my meetings over 39 million. People who realise they should serve the Lord and come forward, altogether more than 522,000. I said “God, I thank you. You made me more than my forefathers. I want to serve you more.  Praise God. I hope Indonesian Reformed Movement will pray to God to have this kind of spirit to more than our fathers. Let us pray like Elijah prayed.

Puji Tuhan, di dalam sejarah ada sebagian orang melayani Tuhan dengan ambisi yang besar. Tidak mau kalah, tidak mau mundur, tidak mau santai, tidak mau berhenti, tidak mau menjadi retired. When Andrew Gih was 75, he went to London. Orang mengatakan, “Are you going to retire?” Dia menjawab, “No. I am not going to retire. I now am going to be refired.” Waktu dia ceritakan kalimat itu, saya sangat tergerak. Kalau saya sudah dimensia, saya sudah pikun tarik saya turun dari mimbar. Tetapi jikalau saya masih tajam pikiran, masih berani berkhotbah, biar saya terus melayani Tuhan. Ini sangat melawan situasi dan melawan kebudayaan dunia. Sekarang banyak gereja umur 60 pensiun. If you like to relax, you are not servant of God. Sepanjang hidup saya tidak pernah minta istirahat dan santai. Terus berperang untuk Tuhan sampai hari ini. Orang minta pension umur 60 karena they have finished their sermon. No more idea to preach to the people. Saya harap murid saya tidak begini. Setiap hari minta Tuhan kasih pikiran mengisi pendengar sampai mereka diisi dengan cukup, mereka dilimpahkan dengan kenyang. Puji Tuhan. Tahun lalu saya berkhotbah lebih daripada 260 kali. 10 tahun lalu. saya setiap tahun khotbah lebih dari 380 sampai 400 kali. 20 tahun lalu. Saya khotbah kira-kira 500 kali satu tahun. Sekarang saya sudah tua. Tahun ini kira-kira 220 kali. Tahun depan harap masih bisa 200 kali. Masih bisa khotbah paling sedikit tahun depan kepada 150 sampai 200,000 orang. Kenapa? Saya harap saya tidak kalah sama orang dulu. saya tidak kalah sama guru saya. Saya harap tidak kalah sama bapak-bapak yang tua dulu. That is the reason Elijah says, “Let me die. Take away my life, because I am no better than my forefathers.” Kiranya Tuhan memberkati kita. Berikan kepada kita ambisi yang baru. Berikan kepada kita keinginan, desire, yang segar. Jangan berhenti. Jangan santai. Jangan puas dengan apa yang sudah engkau beroleh. Never satisfy yourself because of what you have achieved. Kiranya Tuhan memberkati. Tuhan memimpin kita.

Hari ini saya khotbah sampai di sini saja. Lain kali saya datang lagi, kita bicara Tuhan tidak kasih dia mati. Tuhan memberi kekuatan dia pergi lagi, berjuang untuk meneruskan, ada orang-orang lain yang menyambung pelayanannya. Puji Tuhan. Kalau engkau dipakai Tuhan, harap ada orang lain meneruskan pelayananmu. Kiranya Tuhan memberkati kita.

Close
Close Search Window
↑