Download versi cetak:  1441_KebaktianPagi_2026-14-Jun

Panggilan Tuhan Kepada Daud (16)

Pdt. Dr. Stephen Tong

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Dua minggu lalu saya telah berbicara seorang namanya Martin Buber. Kira-kira 100 tahun lalu Martin Buber menulis satu buku yang merubah seluruh pengertian sifat filsafat, buku tersebut berjudul ‘I and Thou’. Kalimat ini setiap orang pernah mengatakan dengan intim. Waktu engkau punya pacar, engkau pertama kali berani mengatakan I and Thou. Biasanya kita bicara sama papa, mama, saudara, teman sekolah, sering pakai I and you, tetapi tanpa makna khusus. Sampai saat engkau jatuh cinta kepada satu orang lalu engkau tidak berani bicara dengan dia. Mengapa? Karena engkau ketakutan kalau ditolak oleh dia. Ketika engkau memberanikan diri mengatakan pada dia dan dia menerima engkau, baru engkau merasa stabil hidup ini dan tidak usah kuatir lagi. Mendirikan hubungan I and Thou dengan terlalu cepat juga sangat bahaya. Karena cinta kasih yang diperoleh dengan terlalu mudah kurang berarti dan kurang memberi kesan yang dalam di dalam merubah hidupmu. Tetapi kalau engkau memang tidak mudah mendapatkannya, setelah lama baru dia menerima engkau, saat itu engkau mulai memperkembangkan bagaimana mencapai I and Thou yang paling stabil dan konsisten. Seumur hidup kalau bisa tidak usah berubah lagi. Sayang sekali banyak orang telah mendapatkan keindahan dan kemanisan I and Thou, tidak lama lagi mereka berubah, tidak konsisten cintanya. Itulah sebabnya ada perceraian. Yang dikatakan oleh Martin Buber bukanlah relasi antara cinta kasih antara laki dan perempuan. Martin Buber akan membawa kita masuk ke dalam kedalaman pengertian di lapisan yang tertinggi, yaitu hubungan relasi antar pribadi di dalam agama. Banyak orang pernah mendengar tentang Tuhan. Banyak orang pernah memikirkan tentang Tuhan. Banyak orang pernah mengimajinasikan tentang Tuhan. Tapi tahap pertama Tuhan hanyalah satu istilah namanya ‘itu’. Tuhan itu di surga. Tuhan itu jauh sekali. Tuhan itu mempunyai kuasa besar. Tuhan itu mencipta segala sesuatu. Tuhan itu penuh bijaksana. Tuhan itu penuh kuasa yang kekal. Tuhan itu lebih baik jangan ada hubungan sama saya. Mengapa sambil percaya dan membayangkan adanya Tuhan tetapi juga sambil mengharapkan tidak perlu ada hubungan antara Tuhan dan saya? Karena di dalam imajinasi Tuhan terkandung pengertian bahwa Dia Maha Kuasa. Dia suci dan Dia mengadili manusia. Itu sebab mengerti tentang agama dibubuhi dengan ketakutan dan tidak ada cara melarikan diri daripadanya. Sehingga timbullah kalau ada Allah lebih baik jangan ganggu saya. Allah jangan mengetahui semua rahasia hidup saya, supaya jangan Dia menghakimi saya, saya tidak tahu bagaimana melarikan diri. Di dalam keadaan demikian, Allah tetap menjadi ‘itu’. Waktu engkau berdiskusi tentang Allah, Allah adalah sesuatu itu. Engkau menganggap Allah tidak berpribadi, tidak mempunyai hidup, tak mungkin mempunyai kuasa, dan tak mungkin mempunyai pengaruh terhadap saya. Lambat laun engkau mengatakan Allah itu tidak ada kuasa, tidak ada hubungan dengan saya, Allah itu pasti adalah benda, bukan hidup. Kalau allah itu benda, allah itu pasti bukan Allah. Kalau Allah tidak berkuasa, pasti itu hanya satu bayang-bayang. Maka engkau mulai merubah mengatakan Allah dia sekarang bukan ‘it’ tapi ‘him’. Kalau waktu engkau mengatakan Allah itu adalah Him, tapi engkau harap dia tidak ada kuasa dan tidak ada pengaruh untuk mengganggu hidupmu. Karena dia itu Dia, dan engkau adalah engkau.

Jikalau Dia tahu mengenai apa yang saya pikirkan tentang Dia, apa yang terjadi? Apalagi kalau dia tahu saya sedang meragukan dan melawan Dia, apa yang dia akan lakukan pada saya? Dalam perubahan seperti ini, engkau mulai menjadi serius. Waktu engkau menganggap agama satu hal yang sangat serius bagi hari depanmu, engkau mulai dewasa dan menjadi manusia yang mengetahui harus bertanggung jawab. Ini perubahan yang sangat besar sekali. Lalu kadang-kadang engkau diam-diam mengatakan di dalam hati, “Oh Tuhan, tolong berikan sedikit pengertian tentang Engkau kepada saya. Apakah Engkau tahu apa yang saya pikirkan tentangMu? Apakah Engkau mengetahui aku sedang meragukanMu? ” Pengalaman agama seperti ini kadang-kadang muncul pada waktu kita tidak sadar. Tetapi pada waktu engkau mulai sadar, kalimat-kalimat ini muncul, engkau sendiri menjadi kaget. Engkau sendiri menjadi takut. Tuhan itu hidup, Tuhan itu mempunyai perasaan, Tuhan itu mempunyai pengertian. Dia adalah Tuhan yang memelihara, Tuhan yang memberi pengertian saya diketahui oleh Dia. Maka engkau mulai takut, kalau Tuhan hidup, bagaimana dia menghadapi keraguan saya? Jangan-jangan Tuhan sudah tahu proses saya dari meragukan dia sampai menganggap dia mungkin tahu saya punya perasaan. Maka engkau mulai diam-diam di dalam hati mengatakan Tuhan jikalau Engkau hidup nyatakanlah sedikit demi sedikit mengenai siapakah Engkau? Waktu orang ajak bicara, “Apa engkau tahu adanya Allah?” Engkau mengatakan, “Ya, saya pikir saya tahu sedikit tentang Allah.” Lalu orang itu tanya, “Siapakah Dia yang kau katakan engkau tahu sedikit tentang Dia?” Maka engkau bicara sama orang lain tentang Tuhan, engkau pertama memakai saya tahu sedikit tentang ‘Dia’. Di dalam pikiranmu, Tuhan adalah seorang ‘Dia’. Engkau berbicara tentang Dia, tapi tetap tidak ada hubungan antara Dia dengan engkau. Namun rasio memberitahu, masakan Tuhan tidak tahu apapun? Apakah di dalam pikiranmu engkau kira Dia begitu pasif? Allah yang pasif. Allah yang tidak sadar. Allah apa itu? Itu Allah benar atau Allah salah? Allah di dalam ide atau Allah di dalam relasi? Waktu istilah relasi muncul di dalam konteks dan di dalam hidupmu, dan engkau mulai takut kalau Dia mengetahui semua apa yang engkau perbuat, bagaimana saya bisa melarikan daripada Dia?

Seperti kalau engkau bicara tentang orang lain. Orang kira orang itu tidak tahu, maka engkau seenak hati terus bicara mengenai dia. Waktu engkau mendadak sadar, dia sedang mendengar perkataanmu, engkau langsung terkejut. Engkau akan merasa takut karena engkau sadar dia sudah tahu apa yang kau katakan. Satu kali waktu saya umur sembilan saya bicara sama teman saya di sekolah tentang satu guru yang kami sangat tidak senang. Kita sedang kritik guru kita. Saya berkata, “Saya tidak suka guru itu terlalu tinggi seperti bambu yang panjang dan dia jelek dan kaku.” Teman saya juga mengiyakan. Tiba-tiba ada suara bertanya, “Kamu sedang bicara tentang siapa?” Saya kenali suara dia, ternyata waktu kita lagi kritik, dia berdiri di belakang kita dan kita tidak sadar. Siapakah yang kau sedang bicarakan? Saat itu saya lihat ke belakang. Mukanya sedang lihat saya, dia berada di depan saya. Saya mendadak tak tahu mau lari ke mana, tidak bisa menyangkal karena sudah keluar namanya. “Apakah kamu sedang bicara tentang saya?” Saya mendadak pucat, saya melihat teman saya, dia lebih pucat dari saya. “Apa engkau membicarakan saya?” “Iya, Pak. Kami sedang membicarakan tentang Bapak.” “Jadi kamu tidak senang saya menjadi gurumu. Kamu benar tidak? Kamu anggap menjadi murid saya boleh begitu terhadap saya?” “Tidak.” Saya bukan saja mulai gemetar. Saya mulai cucurkan air mata dan saya pegang tangan teman saya, tidak berani bicara satu kalimat. Matilah kita hari ini. Kita ini akan diapain sama dia? Saya tidak tahu harus bicara apa lagi. Saya hanya menengadahkan muka dan saya melihat guru yang tinggi seperti bambu itu. “Tak layak, Pak. Tak boleh, Pak.” Dia menjawab, “Tetapi kamu sudah kata-katakan kritik terhadap saya. Sekarang pergi ke kantor saya.” Celakalah. Apa yang akan dia lakukan? Mau usir saya, atau mau dicatat kelakuan saya yang jelek” Atau mau dia tulis surat suruh bawa ke mama saya? Saya sama sekali tidak tahu. Saya cuma tahu satu hal. Waktu di dalam kantornya, dia bukan dia. Dia bukan benda. Dia bukan bambu. Dia adalah guru yang sedang mengkritik, sedang menghakimi saya yang sudah bersalah kepada dia. Dalam pikiran saya, dia itu dia. Dia itu galak, dia seorang yang saya tidak senang. Dia seperti bambu. Waktu kita kritik bicara seperti itu, kita rasa kita hebat. Tapi semenjak dia mengatakan, “Apakah yang kau bicarakan? Apa engkau mengkritik saya?” Waktu dia mengatakan, “Saya ada di sini,” kita langsung cucur air mata. Engkau adalah orang yang hidup. Engkau memiliki kuasa. Engkau memiliki hak untuk menghakimi kami. Saya tidak memiliki hak untuk mengkritik engkau. Waktu itu yang ada gemetar, yang ada air mata. Ada takut yang tidak tahu bagaimana menjawab dia. Saya harap perumpamaan ini boleh memberi tahu kepada engkau apa artinya perubahan pengalaman agama mengenal Tuhan dari ‘it’ menjadi ‘Him’, akhirnya menjadi Engkau adalah Allahku.

Saya mau tanya, sudah engkau menganggap Tuhan itu Tuhanmu? Apakah engkau berkata Tuhan, Engkau adalah penciptaku? Atau engkau sudah ikut kebaktian di sini berapa tahun belum pernah ada hubungan pribadi antara engkau dan Tuhan? Saya percaya Martin Buber mau mendirikan satu hubungan antar pribadi yang percaya atau berdiskusi tentang Allah dan menyembahNya. Martin Buber sedang mau mendiskusikan tentang seseorang yang membicarakan tentang Allah dan memiliki relasi dengan Dia. Waktu kamu diskusi tentang Allah, dia adalah seorang it, seorang him. Tetapi pada waktu engkau betul-betul dipengaruhi oleh Tuhan, betul-betul engkau merasa Dia mempedulikan, Dia mengasihi, dan Dia mempunyai hubungan dengan engkau, baru pertama kali engkau berubah dan mengatakan, “Allahku, Engkau adalah penciptaku. Engkau mengenalku, Engkau mengasihiku, Engkau mau menyelamatkanku. Aku berterima kasih kepada-Mu.” Itulah pertama kali relasi antar pribadi di tengah-tengah engkau yang dicipta dengan Dia yang mencipta menjadi satu realita. Tiga ribu tahun yang lalu raja Daud adalah orang pertama yang mengerti relasi I and Thou di dalam seluruh manusia yang pernah hidup.

Kita baca Mazmur 23. Dari ayat 1 sampai 3 yang dipakai kata Dia. Masuk ayat keempat, dipakai kata Engkau. Pada waktu aku berjalan di dalam lembah bayang-bayang maut, aku melewati lembah kekelaman itu, aku tidak takut, karena Engkau menyertai aku. Tongkat-Mu, gada-Mu, menghibur aku. Engkau menyertai saya, saya tidak takut. Saya tidak takut dilukai, saya tidak takut dikutuk, saya tidak takut dibuang, saya tidak takut tersendiri. Sesudah itu di ayat 5 dan 6 muncullah Tuhan sebagai Engkau, tidak ada lagi Dia. Hubungan saya dengan Tuhan tadinya saya dan Dia sekarang berubah menjadi saya dan Engkau. Sudahkah ada perubahan relasimu dengan Tuhan, dari aku dan Dia menjadi aku dan Engkau. Kalau sudah ada perubahan seperti ini, engkau menjadi orang yang suka berdoa. Engkau menjadi orang yang suka baca Alkitab. Dulu baca Alkitab hanya mengetahui sebagai pengetahuan yang teoritis saja. Tapi setelah ada perubahan ini, aku begitu suka membaca khususnya ayat-ayat yang memberi janji menguatkan rohanimu. Itulah hubungan antar pribadi yang memberikan suatu perubahan dalam hidupmu. Saya bersyukur kepada Tuhan. Setiap orang Kristen yang sejati, pernah mengalami perubahan ini, pernah mengalami keintiman ini. Engkau Allahku. Engkau Tuhanku. Engkau menjaga aku. Aku sekarang tidak takut lagi tersendiri. Aku tidak takut lagi kalau harus mati. Banyak orang takut mati. Dua bulan yang lalu, saya terbang ke Amerika melihat adik saya sisa satu harus dikuburkan. Saya tunggu 20 hari baru diizinkan melihat dia yang mau dikuburkan. Ini karena rumah duka penuh, jadi harus menunggu sampai dapat giliran. Waktu saya dikasih kesempatan melihat adik saya yang sudah mati. Saya sudah kenal dia 85 tahun. Waktu saya 18 bulan sudah bisa jalan, dia baru lahir. Waktu saya masuk sekolah, dia masih di rumah belum bisa sekolah. Waktu saya masuk sekolah teologi dia belum masuk. Saya kenal orang ini 85 tahun. Saya dari kecil tahu mukanya, tahu senyumnya, tahu marahnya, tahu matanya. Ini sudah saya kenal 85 tahun. Tetapi hari ini, saya masih bisa lihat dia, dia tidak bisa lihat saya. Saya masih bisa khotbah, bisa bicara. Dia tenang di situ. Badannya dingin sekali. Matanya tutup. Tidak bicara satu kalimat. Meskipun dia adik, tapi saya tidak pernah mempunyai perasaan dinginnya seperti hari itu. Saya diam-diam berdiri di pinggir petinya. Saya ingin memanggil namanya. Bangun, saya mau bicara sama kamu. Tapi matanya tutup. Saya sadar satu kalimat di dalam Alkitab. Waktu orang mati sudah berada di dalam akhirat, dia berkata, “Abraham kirimlah Lazarus datang kepada saya.” Abraham mengatakan, “Tidak mungkin. Kamu di tempat kamu. Lazarus di tempat pangkuanku. Dari sini tidak bisa ke sana. Dari sana tidak bisa ke sini.” Saya mulai sadar kalimat yang sudah lama saya tahu. Baru hari itu saya sadar adik saya tidak lagi ada di dalam dunia di mana saya berada. Meskipun saya lihat mukanya, saya lihat tangannya kakinya di peti mati. Tetapi dia sama saya berada di lain dunia. Semenjak saat itu saya lebih menghargai yang disebut hubungan antar pribadi.

Banyak orang takut lembah kekelaman. Lembah kekelaman diterjemahkan lembah bayang-bayang maut. Para suami istri yang sangat mencintai satu dengan lain menjadi tua mendadak satu meninggal dunia. Yang suami kalau mati istri merasa kosong sekali. Kalau istrinya mati, suami yang rasa sepi sekali. Kakak saya yang meninggal dunia 7 bulan yang lalu, istrinya tiap hari menangis. Meskipun dia sadar suaminya sudah bersama Tuhan, dia masih terus menangis. Saya tidak bisa membantu dia, saya hanya bisa mengatakan, “Jangan terus ingat dia, engkau mesti ingat Tuhan.” Apakah artinya lembah bayang-bayang maut? Tempat di mana tak ada orang menyertai kamu. Ketika engkau mati, tidak ada seorangpun yang bersama-sama dengan engkau dengan saat yang sama. Kematian adalah jalan untuk setiap pribadi tidak boleh dicampuri orang lain. Bagaimana engkau mencintai pasanganmu? Waktu dia mati engkau kuburkan, engkau pulang, tidak masuk kuburan. Hanya Alkitab berkata, “Tuhan Gembalaku.” Tuhan memberi aku pengasuhan. Tuhan menyegarkan jiwamu. Demi nama Dia sendiri memimpin aku, jangan berjalan sesat. Waktu aku harus melewati lembah bayang-bayang maut, aku tidak takut dicelakakan lagi, karena Engkau beserta aku. Engkau dan saya. Saya dan Engkau. Di sini paling jelas.

Seluruh kitab suci hanya Mazmur 23 merubah Tuhan dari Dia menjadi Engkau. Allahku, saya dan Engkau. Inilah iman yang merubah, ini pengalaman yang paling baru. Orang Kristen mengaku Tuhan sebagai Pembela, Penebus dan Tuhan kita. Engkau bicara sama Dia secara langsung. Allahku, Engkau adalah Juruselamatku, Penghiburku. Engkau selalu bersama-sama dengan aku selama-lamanya. Mari kita mempunyai iman yang begitu intim karena kita menyebut Tuhan sebagai Engkau, bukan Dia lagi. Tidak ada agama yang mengajarkan hubungan begitu intim antara manusia dengan Tuhan seperti Mazmur 23. Kita bersyukur kepada Tuhan.  Relasi aku dan Engkau bukan antara aku dan suami, aku dan istri. Karena hubungan itu semua hanya puluhan tahun saja. Kita semua pernah menyanyi satu lagu Yesus Kawan yang Sejati. Lagu itu ditulis oleh seorang yang berenang dengan pacarnya di pinggir laut dekat Toronto. Namun mendadak ada gelombang besar datang membawa pacarnya itu tidak pernah kembali lagi. Hari itu Adalah 1 hari sebelum hari pernikahan mereka. Ketika jenazah ditemukan, dia tidak bisa berhenti menangis. Akhirnya hari yang paling manis menjadi hari perpisahan selama-lamanya. Dia menggendong mayatnya yang sudah kembali dan dia tahu bahwa dia tidak mungkin menikah dengannya lagi. Akhirnya dia menulis lagu itu. Siapakah sahabat terbaik kita? Yesuslah kawan kita terbaik. Dia adalah Tuhan yang tidak pernah meninggalkan. Kembalilah kepada Tuhan, akuilah Dia sebagai “I and Thou”. Hubungan yang kekal hanya satu, yaitu relasi kita dengan Yesus Kristus.

Kita telah membahas 10 krisis terbesar dalam hidup manusia, siapakah yang bisa membawa kita keluar daripada 10 krisis itu? Hanya Dia yang kekal. Krisis terakhir, setelah mati saya entah saya harus ke mana. Yang bisa membawa kita melalui 10 krisis ini cuma satu orang. Hanyalah Yesus yang dapat mengalahkan dan menang atas semua krisis ini. Tuhan, Engkau adalah gembalaku. Tuhan, aku tidak akan kekurangan. Tuhan, Engkau membawa saya beristirahat di pinggir rumput yang hijau. Engkau membawa aku di pinggir sungai yang berair tenang. Engkau membangunkan saya. Saya tidak perlu tertidur. Engkau memimpin aku ke jalan yang benar, demi namaMu sendiri, Engkau menyertai aku di dalam lembah bayang-bayang maut. Engkau memberikan pesta di hadapan musuh yang di depan aku. Engkau mengurapi aku dengan minyak surgawi dan Engkau mengikuti perjalananku dengan anugerah dan cinta kasih. Engkau akan memberikan pengasuhan, istirahat yang kekal kepada aku karena aku akan diam di rumah-Mu sampai selama-lamanya. Biarlah hidupmu, rohanimu, imanmu mendapat pengasuhan seperti ini. Di luar Kristus engkau tidak mungkin mendapatkan penghiburan yang kekal.

Mari kita membaca Mazmur 23 dari permulaan sampai akhir. Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau. Ia membimbing aku ke air yang tenang. Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya. Sebab Engkau besertaku. Gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku di hadapan lawanku. Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak yang laku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa.

TongkatMu dan gadaMu, apa artinya? Tongkat itu bentuknya panjang dan melengkung ujungnya. Gembala memakai tongkat untuk menarik dan membawa domba Kembali. Kalau dombanya jalan sesat, gembala pakai tongkat yang melengkung ujungnya itu untuk menarik lehernya dan membawa dia kembali. Kita mengerti tongkat membawa kita pulang. Gada ujungnya banyak duri untuk memukul musuh. Jadi pada waktu kita di dalam bahaya, waktu kita jalan salah Dia membawa kita pulang dengan tongkat. Waktu domba menghadapi singa, atau beruang yang mau menerkamnya, gembala memakai gada itu untuk memukul musuh sehingga musuh kesakitan dan lari daripadanya, maka domba diselamatkan. Dari Mazmur 23 kita mengerti lebih dalam besarnya cinta Tuhan. Dan terakhir, kita berada di dalam bait Allah sampai selama-lamanya, apa artinya? Kita akan melewati kekekalan bersama dengan Tuhan, tidak pernah terpisah lagi. Puji Tuhan! Di akhir hidup kita, setelah hidup jasmani kita selesai, kita akan hidup bersama Tuhan di dalam kekekalan dan tidak berpisah dengan Dia selama-lamanya. Kiranya Tuhan menguatkan kita, memberi penghiburan terbesar untuk kita, sebagai anak Tuhan yang tidak pernah dibuang oleh Tuhan. Hari ini saya berkhotbah sampai di sini.

Close
Close Search Window