Download versi cetak: 1458_KebaktianSore_11Okt2026_ST

Panggilan Tuhan pada Elia – 3

Pdt. Dr. Stephen Tong

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Dua minggu lalu kita bicara Elia bertemu Obaja. Dia claim hari ini Ahab boleh ketemu saya. Satu wibawa yang tidak ada di orang biasa. Jikalau Tuhan mau seseorang boleh ketemu seorang nabi, nabi itulah yang menjadi inisiator. Tuhanlah yang memberi kesempatan itu. Saya sangat kaget membaca kalimat ini, “Hai Obaja, beritahu kepada tuanmu. Hari ini Tuhan mengizinkan dia boleh ketemu saya.” Tetapi Obaja menjawab dengan sangat mengherankan. “Benarkah tuanku boleh bertemu Anda? Jikalau saya beri tahu Ahab, mendadak engkau dipanggil Tuhan, dipimpin ke lain tempat, apa yang akan terjadi? Saya pasti dibunuh oleh Raja Ahab.” Ini membuktikan Obaja seorang yang teliti. Dia mengetahui kuasa politik tidak boleh dimainkan. Dan dia mengetahui yang bisa memakai politik menjadi situasi yang berbeda, kuasanya hanya ada pada Tuhan. Setelah dia mengatakan kalimat ini, Elia bersumpah di hadapan Tuhan, “Aku sumpah hari ini raja boleh bertemu saya.” Lalu Obaja percaya 100% apa yang dikatakan Elia. Lalu dia pergi menghadap Ahab dan berkata, “Inilah harinya engkau boleh bertemu Elia.” Kalimat ini membuktikan Ahab-lah yang sangat perlu bertemu Elia. Bukan sebaliknya.

Mengapa kita berani mengatakan kalimat seperti ini? Karena Ahab tidak ada jalan lain. Dia mau minta hujan harus melalui siapa? Dia mau menghentikan kelaparan dengan kuasa apa? Dia tahu Yehova mempunyai seorang nabi namanya Elia. Meski dia mempunyai 450 nabi, tapi nabi palsu apa gunanya? Dia sadar tidak mempunyai kuasa, tidak mempunyai kedaulatan, tidak mempunyai kemungkinan merobah kesulitan bangsa, maka Ahab tahu dia perlu bertemu Elia. Tanpa berdebat, dia langsung pergi bertemu Elia. Ketika dia bertemu dengan Elia, dia mengambil inisiatif bicara dulu. Anak-anak muda belajar satu hal. Waktu engkau bertemu dengan orang yang penting, engkau harus pikir siapa yang seharusnya bicara terlebih dahulu. Seharusnya Elia bicara dulu, tapi Ahab mengambil inisiatif di dalam dialog itu. Begitu bertemu Elia, Ahab langsung berteriak, ”Engkaukah yang telah mencelakakan seluruh bangsa Israel? Tahukah engkau sekarang sudah berapa tahun tidak ada hujan, panen tidak berhasil sama sekali, kelaparan sudah melanda seluruh bangsa dan begitu banyak orang mati karena tidak ada makanan. Inilah kecelakaan yang terbesar yang pernah dialami di dalam sejarah Israel. Jikalau Elia bukan hamba Tuhan yang mempunyai keberanian dan pendirian yang teguh sekali, pertanyaan daripada Ahab sulit dijawab. Saudara belajar baik-baik dari Alkitab. Waktu Ahab mempersalahkan Elia, bagaimana Elia menjawab? Elia mengatakan, “Bukan aku, tetapi engkau Ahab! Engkau dan keluarga bapamu yang telah mencelakakan seluruh bangsa Israel, sehingga hujan tidak turun dan bumi tidak memberi hasilnya. Engkaulah yang seharusnya bertanggung jawab!” Waktu Elia menjawab begitu keras, Ahab diam. Ahab tidak berbicara apapun. Karena memang tidak ada alasan apa-apa untuk dia berhak menjawab semua perkataan tersebut. Hamba Tuhan di dalam zaman ini tidak boleh takut, tidak boleh gemetar dan tidak boleh menyerah pada musuh. Pada waktu seorang pendeta di Jakarta mengatakan, “Saya akan menghardik COVID supaya berhenti, saya akan hardik ekonomi yang lesu supaya tidak melanda di Indonesia!” Waktu saya dengar kalimat ini, dari mimbar saya mengatakan, “Dalam nama Yesus, hanya Tuhan Allah berhak menghardik kesulitan di dalam zaman. Manusia yang tidak berkuasa, tidak berhak menghardik.” Lalu banyak orang membicarakan hal ini. Saya tidak menjawab semua itu, saya tetap berkhotbah yang saya harus khotbahkan. Setelah beberapa bulan, COVID tetap tidak berhenti dan ekonomi juga makin lesu. Saat itu orang baru sadar perkataan siapa yang benar. Waktu Elia dia tidak gentar dan tidak takut, Elia mempunyai keberanian berbicara karena dia tahu dia diutus oleh Tuhan Allah. Elia berkata, “Sekarang mari kita bersama-sama membandingkan iman kita. Panggillah nabi-nabimu naik ke gunung Karmel. Saya sendiri juga akan naik ke atas gunung itu. Mari kita membuat dua mezbah. Kita potong dua sapi, satu di atas mezbahmu untuk menyembah Baal, satu di atas mezbahku untuk menyembah Tuhan Allah. Panggillah nabi-nabimu. Suruh mereka naik ke bukit. Mari kita bersama-sama berdoa di situ. Kamu doa kepada ilahmu, aku berdoa kepada Allahku.” Waktu mereka dengar ini, nabi-nabi dari Ahab mengatakan kalimat ini sangat bagus adanya. Berarti mereka setuju. Elia memberi kesempatan mereka terlebih dahulu berdoa. Maka mereka terus berdoa sampai waktunya selesai. Adakah api membakar persembahan mereka?  Dalam kitab suci belum pernah terjadi, sama-sama menyatakan siapa illah palsu dan  Allah yang sejati. Sekarang kesempatan bersama-sema menyatakan siapa yang benar. Saya pernah duduk di kelas di Fuller Theological Seminary, mendengar seorang profesor mengatakan kalimat ini, “Ketika nabi yang asli bertemu dengan nabi yang palsu, itu adalah waktu yang penting di dalam sejarah; setiap orang Kristen harus memperhatikan ketika nabi yang asli bertemu dengan nabi yang palsu.” Mendengar profesor  mengatakan kalimat demikian, saya mulai memperhatikan lagi apa yang terjadi di atas gunung Karmel.

Para nabi palsu menyembah illah palsu, 450 nabi mulai berteriak, “Baal, Baal, turunlah, tiliklah, berkatilah kami. Ini persembahan yang kami sembelih. Kami berbakti kepada-Mu. Terimalah persembahan ini dan turunkanlah api, bakarlah lembu ini supaya engkau boleh nikmati persembahan yang kita berikan kepada engkau.” Berjam-jam mereka doa kepada Baal. Mereka berteriak-teriak dengan suara keras, dengan doa yang sungguh-sungguh, berapi-api. Tetapi tidak ada reaksi. Tidak ada api yang turun. Tidak ada dewa yang menjawab satu kalimatpun. Elia berbicara, “Panggillah lebih keras. Karena dialah seorang Allah. Mungkin dia sedang tidur. Mungkin dia sedang jalan-jalan. Dia belum mendengarkan doamu. Doalah lebih keras. Doalah lebih keras!” Apakah Elia sungguh-sungguh percaya mereka akan mendengar suara jawaban dari Baal? Sama sekali tidak. Elia sedang menyindir mereka. Jikalau Baal adalah Allah yang sejati, biarlah Baal mendengarkan doamu. Biar Baal mengerti seruanmu. Keras sedikit! Apakah Baal sekarang tuli tidak mendengarkan doamu.

Setelah Ahab dan nabi-nabinya tidak dengar jawaban dari Baal, lalu Elia mengatakan, the time is up, berhenti berdoa, engkau tidak lagi memiliki kesempatan. Ini giliran saya untuk berdoa kepada Allah saya. Biarlah bangsa ini tahu siapa Allah yang sejati. Lalu Elia berpaling kepada orang Israel dan berkata, “Orang-orang Israel datanglah kemari. Mari kita berdoa kepada Allah. Allah Abraham, Ishak, dan Yakub.” Ratusan ribu orang Israel setelah melihat Baal tidak menjawab, korban tidak diterima, tidak ada api yang turun dari surga, maka mereka berpaling, mereka jalan dekat kepada Elia, keliling di tempat di mana korban yang kedua sudah dipotong, sudah ditaruh di atas mezbah menunggu api dari atas. Ahab sendiri ikut datang melihat apa yang terjadi. Setelah semua rakyat datang dekat kepada Elia, Elia berkata, “Siramlah air di atas lembu yang dipotong ini.” Kalau api mau turun, lembu sudah penuh dengan air, pasti tidak mudah terbakar. Waktu itu orang kira Elia sudah gila. Sudah 3 tahun tidak hujan, air langka sekali. Setiap tetes air lebih mahal daripada berlian, lebih mahal dari mutiara. Barangsiapa buang-buang air akan dibunuh, akan dituntut, karena itu barang paling mahal. Tapi nabi dari Tuhan Allah sama sekali tidak takut, ia berkata, “Ambillah air, tuanglah ke dalam got-got di sini, bikin penuh got nya sampai penuh air.” Saya tidak mengerti saat itu siapakah berani seperti Elia. Dia tidak takut ada orang melawan dia. Elia tidak gentar semua raja dan nabi palsu sedang memberikan ancaman kepada dia. Orang Israel taat dan menuangkan air seperti yang diperintahkan Elia.  Setelah itu Elia berkata, “Sekarang saya mau berdoa kepada Tuhan. Israel dengarlah. Kalau Tuhan Allah yang sejati, ibadahlah kepada Dia. Kalau Baal Allah yang sejati, engkau beribadah kepada Baal.” Setelah itu dia berdoa, “Oh Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, sekarang tunjukkanlah bahwa Engkaulah Allah yang sejati, dan tunjukkanlah kepada umatmu bahwa aku adalah hamba-Mu yang sejati.” Hanya dua kalimat ini. Dia bicara kepada Allahnya Abraham, Ishak dan Yakub, yaitu Yehova yang berjanji kepada anak-anakNya.

“Tunjukkanlah kepada umat ini bahwa Engkau adalah Allah. Tunjukkanlah kepada umatMu, akulah hambaMu yang sejati.” Dia hanya bicara dua kalimat, langsung api dari surga turun ke atas mezbah. Binatang yang sudah dibasahi dengan air langsung terbakar habis hangus diterima oleh Tuhan. Melihat ini semua, Israel berteriak dan berkata bahwa Allah orang Abraham, Ishak dan Yakub yang menurunkan 12 suku Israel, adalah Allah yang sejati. Elia berkata, “Janganlah bercabang hatimu. Jangan ikut illah yang palsu. Sekarang kau tahu Tuhanmu adalah Allah yang sejati. Maka berpalinglah dan kembalilah kepada Dia.” Elia membawa seluruh bangsa kembali kepada Tuhan. Inilah fakta yang terjadi setelah Baal tidak turunkan api, Elia turunkan api yang sejati kepada persembahan yang dipersembahkan kepada Tuhan. Di dalam Alkitab terjadi hanya satu kali Tuhan mendengar doa hamba-Nya yang begitu sungguh-sungguh. Semua bersorak-sorak, semua berteriak Allah adalah Allah yang sejati. Sudah selesai, Elia bukan saja tidak mundur, dia berkata, “Tangkap 450 nabi palsu. Tidak boleh satupun orang lari. Bawa mereka kepada aku.” Lalu Elia membunuh 450 nabi yang palsu itu satu persatu. Ini hal yang sangat menakutkan kita. Waktu Taurat turun, Tuhan suruh Israel bunuh saudaramu sendiri. Tiga ribu orang Israel yang dibunuh karena mereka tidak beriman kepada Tuhan. Pada waktu api turun di dalam jamannya Elia, 450 nabi palsu dibunuh. Ini adalah catatan seorang nabi bunuh orang paling banyak di dalam kitab suci. Betapa berani dan kerasnya Elia! Seorangpun tidak diampuni. Seorang pun tidak ditoleransi. Dengan tangan Elia sendiri dia membunuh 450 nabi palsu di dalam satu hari. Raja Ahab melihat keadaan seperti ini tak bisa bicara, cuma bungkam saja. Orang Israel semua tidak bisa melawan, cuma bungkam saja. Inilah kemenangan yang terbesar. Rakyat melawan raja. Nabi melawan pemimpin agama palsu. Bisa bayangkan lumuran darah penuh di gunung Karmel yang mengalir menjadi sungai merah yang turun ke atas bumi itu.

Waktu itu Elia berkata kepada Ahab, segara segera tutup keretamu karena tidak lama lagi ada hujan yang turun. Waktu itu tidak ada hujan, kering sekali. Di langit tak ada awan gelap sedikitpun. Tapi iman Elia berani berbicara, “Sekarang pasanglah tenda di atas keretamu. Bersiaplah engkau makan, minum, lalu turun ke dalam istanamu, karena hujan sudah mau turun.” Ahab menjadi seperti sama sekali tidak berpendirian, tidak berani bicara satu kalimat, karena nabi-nabi dia semua sudah mati. Illah dia tidak menjawab dan tidak mendengarkan doanya. Alkitab mengatakan orang Israel diwajibkan setiap tahun tiga kali ke Yerusalem. Dari kota-kota yang berbeda menuju ke kota Yerusalem 1 tahun tiga kali berbakti kepada Tuhan Allah. Sekarang jawab pertanyaan saya, apakah engkau pernah baca nabi Elia pergi ke Yerusalem? Tidak ada. Mengapa orang Israel diharuskan 1 tahun tiga kali ke Yerusalem, tapi Elia dari lahir sampai mati tak pernah dicatat dia ke Yerusalem? Alkitab tidak mau kita ikut-ikut tradisi, tapi tidak mengerti arti sesungguhnya. Gunung Karmel sudah mengganti Sion di mana bait Allah berdiri di atasnya. Elia telah mewakili Kristus membawa kebangunan sejati kepada bani Israel. Dia bukan memberi persembahan di kota Yerusalem. Dia memberikan persembahan di gunung Karmel. Dia memperbarui kepercayaan orang Israel di gunung yang bukan Yerusalem, tetapi melebihi semua ibadah yang pernah di Yerusalem.

Setelah ini semua terjadi, Elia berkata kepada budaknya, mungkin anak kecil, mungkin remaja, Alkitab tidak tulis, “Naiklah ke atas bukit, lihatlah ke arah laut, ada tidak angin akan datang? Ada tidak awan gelap akan naik? Ada tidak gejala akan hujan?” Saya sangat terharu dengan catatan Alkitab, setiap kali baca, setiap kali ingin menangis. “Pergilah ke atas bukit. Lihatlah ke laut. Lihatlah ke angkasa. Apakah ada awan gelap datang ke gunung Karmel.” Anak ini atau budak ini pergi, dan pulang berkata, “Elia, tidak ada apa-apa. Tidak ada apapun di atas awan. Tidak ada awan gelap sama sekali. Elia berkata, “Pergilah!” Untuk kedua kalinya anak itu pergi lagi dan lihat. Tapi ia pulang menjawab, “There is nothing.” Elia berkata, “Pergilah untuk ketiga kali.” Kembali, sama. “Pergilah keempat kali.” Dia pergi empat kali, jawaban tetap sama. Tidak ada apapun. Pergilah kelima kali. Pulang, jawaban tetap sama. Pergi lagi ke enam kali. Pulang menjawab dengan sama. Pergi lagi. Tujuh kali. Kali ketujuh, anak itu turun dari bukit dia mengatakan kepada Elia, “Saya melihat awan kecil seukuran segenggam tangan manusia di atas langit.” Elia mengatakan, “Cukuplah itu. Maka sekarang pergilah dan katakanlah kepada Ahab untuk menutupi keretanya karena hujan akan datang.” Sesudah Ahab dengar semua kalimat dari Elia dia pasang tenda yang berada di keretanya, lalu dia masuk ke kereta dan kudanya membawa dia turun. Saya mau tanya, Elia di mana? Elia tidak masuk kereta. Dia tidak mau duduk bersama dengan raja. Dia pelihara diri sebagai hamba Tuhan yang independent, tidak bersandar dengan raja juga tidak nebeng kereta yang indah dari raja. Elia digerakkan Roh Kudus lari lebih cepat dari keretanya Ahab. Bayangkan kereta raja mungkin paling sedikit ada dua tenaga kuda yang membawa kereta itu. Tetapi Elia tidak ada kereta, tidak ada kuda. Dia digerakkan Roh Kudus, lari mendahului raja Ahab. Saya sangat sangat tergerak. Inilah hamba Tuhan yang dengan iman berkata, “Lihat ada awan tidak?” Lihat ada awan gelap tidak? Setelah tujuh kali muncul satu awan yang kecilnya seperti tangan manusia. Cukuplah. Hujan besar akan turun. Inilah pekerjaan Tuhan yang melampaui semua pikiran dan semua bayangan manusia. Awan gelap yang seperti segumpal tangan manusia menjadi hujan besar yang membasahi seluruh tanah Israel. Hujan besar turun. Seluruh sawah menjadi basah. Seluruh Israel menerima air. Inilah hari yang baru. Inilah tahap yang baru. Tuhan menghentikan kelaparan. Tuhan menghentikan keadaan bumi yang tidak berhasil. Setelah hujan turun hasil bumi mulai naik. Apa yang menjadi kebanggaan Ahab semua menjadi kosong belaka. Apa yang menjadi kekeringan tanah berhenti pada satu saat. Alkitab berkata, Ahab naik keretanya sampai ke kota di mana istana dia berada. Tetapi Elia sudah lebih dulu sampai di sana. Hamba Tuhan melakukan segala sesuatu dengan begitu cepat dan begitu efisien, mengagetkan dunia. Inilah tahap pertama Elia dipakai oleh Tuhan. Dari kalimat pertama. Demi Allah aku bersumpah, kalau aku tidak doa tidak ada air hujan turun. Sampai 3 tahun kemudian di atas gunung Karmel, dia membuktikan Allah yang sejati yang mungkin turunkan api membakar habis korban persembahan.

Setelah semua terjadi ini, ada satu kalimat lagi. Ahab lalu memberitahu semua yang dikerjakan Eliaskepada istrinya, ratu Izebel. Ini tidak heran suami memberitahu apa yang terjadi kepada istri. Tetapi setelah Izebel mendengar kalimat laporan dari suaminya, ia mengatakan satu kalimat, “Pergi ke Elia. Beritahu kepada dia, besok hari, waktu seperti ini, saya mau ambil nyawanya seperti dia mengambil nyawa daripada nabi-nabi Baal.” Sudah sukses, sudah selesai? Sudah aman? Elia menang, senang? Tidak. Celaka mulai datang. Dua minggu lagi saya akan bicara mengenai Elia akan dibunuh oleh Izebel, bagaimana Tuhan memberkati hambaNya. Kiranya Tuhan memberikan semua riwayat ini di dalam sejarah menjadi pegangan, menjadi kekuatan kita yang bersandar kepada Tuhan.

Close
Close Search Window
↑