Download versi cetak: 1268_KebaktianPagi_2026-14-Jun

Eksposisi Matius (93) – Bapa Kami yang di Sorga

Matius 6:9; Yohanes 5:18; Yohanes 1:12-13; Matius 27:46

Pdt. Adrian Jonatan M.Th

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Doa merupakan sesuatu yang sangat penting di dalam kehidupan kerohanian kita. Doa menjadi barometer kerohanian kita. Kerohanian kita bukan dinilai dari betapa berhasilnya hidup kita, atau berapa banyaknya pengetahuan teologi yang kita miliki, atau betapa emosionalnya kita waktu menyanyi kepada Tuhan. Barometer kerohanian kita yang sesungguhnya bisa dilihat dari berapa banyak kita boleh berdoa, berapa banyak kita boleh lari kepada Tuhan untuk bergantung kepada Tuhan melalui doa.

Martin Lloyd-Jones mengatakan, “Prayer is undoubtedly the ultimate test, because a man can speak to others with greater ease than he can speak to God. Ultimately, therefore, a man discovers the real condition of his spiritual life when he examines himself in private, when he is alone with God.” (Doa tak diragukan lagi adalah ujian tertinggi, karena manusia dapat berbicara dengan orang lain dengan lebih mudah daripada berbicara dengan Tuhan. Oleh karena itu, pada akhirnya, seseorang menemukan kondisi sebenarnya dari kehidupan spiritualnya ketika ia memeriksa dirinya sendiri secara pribadi, ketika ia sendirian bersama Tuhan.) Untuk kesehatan tubuh, kita punya berbagai teknologi dan cara untuk mendiagnosis keadaan badan kita. Tetapi bagaimana kita mendiagnosis keadaan rohani kita? Salah satunya adalah dengan melihat dan merefleksikan kehidupan doa kita.

Selain menjadi barometer dari kerohanian kita, doa juga menjadi suatu kekuatan yang menolong kita untuk bertahan dalam segala pencobaan dan kesulitan. Martin Lloyd-Jones berkata, “Prayer is beyond any question the highest activity of the human soul. Man is at his greatest and highest when upon his knees he comes face to face with God.” Manusia berada dalam keadaan yang paling tinggi waktu dia berlutut. Di dalam dunia ini, waktu seseorang mau meninggikan dirinya, dia berdiri, bahkan berdiri dengan tegak supaya lebih tinggi dari orang lain. Tetapi orang yang mengenal Tuhan menyadari bahwa orang yang “paling tinggi” posisinya di dalam kerohanian justru adalah orang yang biasa berlutut dan berdoa, bergantung kepada Tuhan.

Pdt. Stephen Tong sering mengatakan, mengutip Martin Luther, When I am on my feet, I tremble. But when I am on my knee, I secure.” Waktu kita berdiri, kita harus mengandalkan kaki kita. Tetapi waktu kita berlutut, kita mengandalkan Tuhan. Inilah kekuatan rohani yang sesungguhnya. Waktu kita mengandalkan kekuatan kita, kita akan menyadari bahwa kekuatan itu tidak akan bertahan selama-lamanya. Tetapi waktu kita bergantung di hadapan Tuhan dengan berlutut, kita mengambil kekuatan yang tidak ada habisnya. Karena itulah orang-orang yang berlutut, berdoa itu bisa menghadapi tantangan yang begitu berat di dalam kehidupan, bahkan saat mereka terancam kematian.

Kalau kita mengandalkan kekuatan kita, kita akan banyak kecewa, banyak marah, dan banyak gelisah, apalagi kalau yang kita andalkan itu mulai goyang. Pekerjaan kitakah? Status kitakah? Kekayaan kita? Begitu Tuhan izinkan hal-hal itu goyang, kita mulai sangat gelisah. Tetapi waktu kita bergantung kepada Tuhan, kita mendapatkan kekuatan. Seperti sebuah mainan telur yang didorong dan kemudian bisa balik lagi karena titik beratnya ada di bawah, kita bisa kembali lagi kalau posisi kita berlutut di hadapan Tuhan. Itulah pentingnya doa di dalam kehidupan rohani kita.

Di dalam bagian sebelumnya, Yesus sudah bicara mengenai bagaimana kita jangan berdoa. Ada dua macam tipe orang. Pertama, orang Farisi. Orang Farisi itu mengenal Tuhan. Dia tahu dia tidak bisa menggerakkan Tuhan, melainkan Tuhan yang akan menggerakkan dia. Tetapi kemudian dia tidak berdoa karena dia betul-betul ingin berdoa dan menyembah Tuhan. Dia berdoa karena dia ingin dilihat oleh orang lain, “Tuh, lihat kan saya berdoa.” Di sinilah Yesus mengatakan, “Jangan berdoa seperti ini. Waktu kamu berdoa, masuk ke dalam kamar, tutup pintu.” Ini bukannya literal, tetapi adalah sebuah mindset. Orang yang masuk ke dalam kamar untuk suatu urusan tidak akan peduli dilihat orang atau tidak, tetapi fokus dengan urusan yang mau dibereskan. Demikian juga waktu kita berdoa, kita fokus kepada Tuhan. Kita sedang bersama dengan Tuhan, seperti berada dalam suatu kamar yang sudah kita tutup pintunya. Bahkan waktu kita berdoa bersama pun, mindset ini harus kita miliki, karena kita semua masing-masing masuk ke dalam “kamar” kita dan kita berdoa di hadapan Tuhan.

Orang yang kedua adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah. Mereka juga berdoa, tetapi mereka tidak berdoa kepada Allah yang menyatakan diri-Nya kepada mereka. Doa mereka adalah alat untuk menggerakkan Allahnya, seperti mantra yang mereka harus ucapkan supaya Tuhannya itu tergerak. Karena itulah Tuhan Yesus berkata, “Jangan bertele-tele.” Atau, tidak usah tumpuk-tumpuk kata-kata yang tidak ada artinya, seakan-akan kata-kata itulah yang menggerakkan Allah. Allahmu, Bapa di sorga tahu apa yang kamu butuhkan.

Sebagai umat Tuhan, kita harus berdoa menjadi orang yang mengenal Tuhan, sehingga kita boleh berdoa dengan benar. Di sinilah kemudian Yesus mulai mengajar bagaimana berdoa. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Waktu kamu berdoa, berdoalah demikian.” Atau lebih tepatnya, “Berdoa sedemikian.” Bahasa Inggrisnya lebih jelas, Yesus bukan mengatakan, “Pray this,” tetapi, “pray like this.” Jadi Yesus bukan memberikan mantra Doa Bapa Kami untuk kita ulang-ulang seperti orang yang tidak mengenal Tuhan, tetapi Yesus memberikan suatu contoh, suatu pattern yang boleh kita mengerti, sehingga kita kemudian bisa menghidupi doa itu dengan natural. Bukan tidak ada tempatnya untuk mengulang Doa Bapa Kami, tetapi penting untuk kita mengerti dan menyelami makna dari setiap perkataan dalam doa ini, lalu kemudian menghidupinya.

Yesus mengajar, “Berdoalah demikian. Bapa kami yang di sorga.” Kita akan melihat betapa indahnya dan sekaligus mencengangkannya sebenarnya kata ini. Pertama, betapa indahnya. Yesus mengajarkan kepada kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa kita yang di sorga. Relasi kita, manusia dengan Bapa kita, itu ternyata masuk sangat dalam di dalam subconscious kita. Ada satu lagu yang viral belakangan ini, judulnya “Papaoutai (Papa, où t’es?)”. Itu lagu bahasa Prancis yang ditulis oleh orang Afrika. Papa, où t’es? artinya adalah “Papa di mana?” Lagu itu ditulis oleh seseorang yang kehilangan ayahnya waktu kecil. Dalam liriknya, ada bagian yang mengenaskan, yang mengatakan, “Semua orang tahu bagaimana punya anak. Tetapi siapa bisa bilang kepada saya bagaimana punya papa?” Karena dia sudah kehilangan papanya sejak kecil. “Papa, apakah Papa sedang sembunyi? Papa, saya sudah berusaha mencari. Apa kamu mau saya cari sampai ketemu? Keluar papa. Saya sudah menyerah.” Saya pikir lagu itu betul-betul mencerminkan keadaan manusia yang haus dan membutuhkan relasi dengan seorang bapak. Relasi kita dengan bapak itu sangat memengaruhi subconscious kita.

Waktu saya mempelajari ini, saya kemudian melihat juga suatu fakta yang menarik. Ada sebuah buku berjudul Faith of the Fatherless yang mencatat bahwa ternyata banyak orang-orang ateis yang terkenal mempunyai suatu kemiripan, yaitu mereka kehilangan ayahnya waktu masih kecil. Nietzsche, seorang ateis dari Jerman, papanya meninggal waktu dia berumur empat tahun. Bertrand Russell, ateis dari Inggris, papanya meninggal saat dia umur tiga. Sartre, ateis dari Prancis itu kehilangan papanya waktu dia umur 15 bulan. Saya bukan mengatakan bahwa kalau Saudara kehilangan ayah di masa kecil, Saudara pasti jadi ateis. Dan kalau Saudara ada di sini, saya bersyukur berarti Tuhan terus menjaga Saudara. Di sisi yang lain banyak orang Kristen yang penting juga adalah orang-orang yang kehilangan ayahnya waktu kecil. Ada anugerah Tuhan yang menjaga mereka dan bahkan menjadi turning point, sehingga mereka betul-betul melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Tetapi ada suatu kaitan yang mendalam: relasi seorang anak dengan bapaknya itu memengaruhi kerohanian dan karakter dia tanpa dia sadari. Ada sebuah statistik, 3/4 dari anak-anak yang ada di dalam juvenile delinquent (penjara anak-anak muda) memiliki sosok ayah yang absen. Sekali lagi, ini bukan otomatis, tetapi betapa dalamnya sebenarnya kebutuhan kita untuk relasi dengan bapak.

Dan bagi para bapak dan juga untuk laki-laki yang mungkin akan menjadi bapak suatu hari, kita sering menganggap bahwa yang memengaruhi anak adalah ibunya. Memang ibu itu dibutuhkan untuk memberikan care, comfort, dan compassion kepada anak. Tetapi kita harus betul-betul sadar juga betapa pentingnya peranan bapak di dalam kehidupan anak-anak. Waktu kecil, anak-anak itu mulai bisa mengenal Bapa di sorga melalui bapak di dunia, sehingga bapak itu harus mencerminkan Allah bagi mereka. Bukan menjadi Allah, tetapi mencerminkan karakter Allah. Mencerminkan karakter Allah berarti memberikan beberapa hal. Saat seorang ibu memberikan care, comfort, dan compassion, seorang bapak harus menjadi provider dan protector. Anak-anak bisa menyadari bahwa apa yang mereka butuhkan mereka boleh dapatkan karena bapak mereka menyediakan. Lalu bapak juga harus menjadi figur yang memberikan sense of righteousness kepada anak-anak. Apa itu benar, apa itu salah. Boundary-nya di mana. Ini bukan tentang masalah kecil-kecil seperti boleh makan ini, tidak boleh makan itu, tetapi prinsip besar di dalam hidup. Maka anak-anak kemudian akan menyadari, “Oh, inilah boundary-nya. Kamu boleh bebas, tetapi ada batasnya di sini.” Sama seperti karakter Allah. Allah memberi kita kebebasan, tetapi Allah juga menunjukkan kepada kita apa yang benar dan apa yang salah. Seorang bapak juga memberikan calling dan encouragement. Memberikan kepada anak-anak bagaimana mereka harus menuju masa depan mereka. Berikan purpose. Saat seorang ayah memberikan motivasi yang pas dan di waktu yang tepat, itu menjadi sangat penting buat anaknya. Bukan selalu dipuji-puji. Misalnya anaknya kalah, lalu ayahnya berkata, “You are always the champion.” Justru ada teguran kalau dia gagal atau malas. Tetapi kalau dia betul-betul berjuang lalu kemudian berhasil, ada pujian dari ayahnya. Itu sangat memengaruhi anak.

Waktu Yesus mengajarkan kita berdoa, “Bapa kami yang di sorga,” Yesus sedang mengajarkan kita bagaimana berelasi dengan Allah sebagai Bapa kita. Suatu kebutuhan kita yang paling dalam. Relasi dengan bapak di dunia itu sebenarnya menjadi bayang-bayang relasi kita dengan Tuhan. Dan karena itulah doa ini menjadi doa yang sangat indah.

Tetapi di sisi lain, kita pasti sudah biasa berdoa seperti ini, sehingga kalimat-kalimat ini tidak lagi mencengangkan (outrageous) bagi kita. Tetapi sebenarnya kalimat yang memanggil Allah sebagai Bapa ini adalah sesuatu yang sangat outrageous. Mari kita renungkan di dalam beberapa lapisan. Pertama, memanggil Allah sebagai Bapa itu sangat outrageous karena tidak ada manusia yang berhak memanggil Allah sebagai Bapa. Kita bukan anak Allah. Kita adalah ciptaan Allah. Karena itulah, waktu Yesus mengatakan hal tersebut, orang-orang Yahudi kemudian ingin membunuh Yesus karena Dia melakukan penghujatan. Dia memanggil Allah sebagai Bapa. “Siapa kamu berani-beraninya mengatakan Allah sebagai Bapa?” Di dalam semua agama dalam dunia ini, tidak ada manusia yang berhak memanggil Allahnya sebagai Bapa. Tetapi Yesus kemudian mengajarkan murid-murid-Nya untuk memanggil Allah sebagai Bapa.

Kita tidak berhak memanggil Allah sebagai Bapa karena kita bukan anak Allah. Teolog liberal ingin mengajarkan bahwa Allah adalah Bapa itu memang begitu dari awalnya. Seorang teolog liberal di abad ke-19, Adolf von Harnack, mengatakan, “Apa itu kekristenan? Kekristenan adalah the universal fatherhood of God, seakan-akan sudah otomatis, memang kita anak Allah. Tetapi tidak. Kalau kita sekedar mengerti begitu, kesannya indah. Tetapi kita tidak melihat ada poin dosa. Kita tidak melihat kebutuhan kita akan Kristus. Dan kita tidak merasa perlu datang ke gereja karena kita semua sudah anak Allah anyway. Akhirnya yang terjadi adalah kemerosotan. Orang-orang tidak perlu lagi datang ke gereja, “Toh saya sudah anak Allah.” Kita bukan secara natural adalah anak Allah. Kita semua adalah ciptaan Allah. Sehingga waktu Yesus mengajarkan untuk memanggil Allah sebagai Bapa, itu menjadi suatu hal yang sangat outrageous. Makanya orang Yahudi ingin membunuh Yesus.

Lapisan kedua yang juga outrageous. Orang Yahudi itu benar. Tidak ada manusia yang bisa memanggil Allah sebagai Bapa, kecuali satu. Dan walaupun orang Yahudi itu benar, Yesus juga benar. Karena orang Yahudi tidak sadar yang ada di hadapan mereka itu adalah satu-satunya pribadi yang berhak memanggil Allah sebagai Bapa. Yesus itu adalah Anak Tunggal Allah Bapa. Mereka tidak sadar bahwa yang ada di depan mereka itulah pribadi yang boleh memanggil Allah sebagai Bapa. Kita adalah ciptaan. Terlebih lagi kita adalah ciptaan yang sudah memberontak, ciptaan yang berdosa. Kita menjadi musuh Allah yang harusnya dibinasakan. Tetapi di sini kita melihat bagaimana Yesus datang lalu mengajar kita untuk berdoa: Bapa kami yang di sorga. Ini sangat mengharukan, karena waktu kita boleh memanggil Allah sebagai Bapa, itu bukan hak natural kita. Itu adalah hak yang dimiliki oleh Yesus yang sedang Dia bagikan kepada kita. Kita bukan secara natural adalah anak Allah. Kita menjadi anak-anak Allah karena kita diadopsi di dalam Yesus.

Kalau Saudara adalah anak tunggal, lalu kemudian datang anak adopsi. Bagaimana perasaan Saudara? Mungkin kita akan, “Ih, siapa kamu? Saya punya relasi dekat, hak tunggal bersama dengan bapak saya. Pergi kamu, kamu mengganggu.” Tetapi di sini bukan itu yang Yesus lakukan. Yesus sebagai Anak Tunggal menyambut anak-anak adopsi, lalu kemudian mengatakan, “Panggil Dia Bapa.” Dia membagikan hak tunggal-Nya kepada kita sehingga kita boleh memanggil Tuhan sebagai Bapa.

Tetapi lapisan outrageous yang terakhir, kalau kita menyadari betapa luar biasanya kalimat ini dikarenakan harga yang harus dibayar supaya kita boleh memanggil Tuhan sebagai Bapa. Anak Tunggal yang seharusnya bisa memanggil Tuhan sebagai Bapa menjadi orang yang tidak bisa memanggil Tuhan sebagai Bapa. Di atas kayu salib Yesus berkata, “Eli, Eli, lama sabakhtani? (Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?)” Ini bukan Yesus yang sedang bingung kenapa Dia ditinggalkan. Tetapi Dia sedang mengutip Mazmur 22, tulisan Daud sebagai manusia yang berdosa yang sedang mengalami penghakiman Tuhan. Seorang yang berdosa, sinful person facing the judgment of God. Itulah yang dialami oleh Daud.

Tetapi waktu Daud menulis mazmur ini, walaupun dia memang sedang mengalami murka Tuhan, dia tidak betul-betul mengalami murka Tuhan yang sepenuhnya. Waktu Yesus di atas kayu salib, Dia switch place dengan kita. Manusia yang seharusnya mengatakan kalimat itu karena mengalami penghakiman Tuhan, tetapi Daud dan kita semua jadi tidak mengalami hal itu, karena Yesus menggantikan posisi kita. Sehingga kita boleh memanggil Allah sebagai Bapa, sedangkan Anak Tunggal Bapa justru menjadi orang yang tidak bisa memanggil Allah sebagai Bapa.

Saya harap setiap kali kita berdoa: Bapa kami yang di sorga, biarlah kita tidak menyia-nyiakan dan menganggap itu sepi. Betapa mencengangkan dan betapa outrageous-nya kata-kata ini, dibayar dengan harga yang begitu mahal. Kiranya Tuhan memberkati kita semua.

Close
Close Search Window