Download versi cetak: 1257_KebaktianPagi_2026-29Mar

Yesus: Raja Kita Yang Lemah Lembut

Yohanes 12:12-19; Zakharia 9:9-11

Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Saudara sekalian, ketika memasuki masa-masa Jumat Agung, kita memahami adanya passion week, yaitu satu minggu sebelum Kristus naik ke kayu salib, yang menjadi bagian paling intens dalam Injil. Dalam Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, kehidupan Tuhan Yesus memang dicatat secara menyeluruh, tetapi porsi terbesar justru terlihat pada minggu terakhir kehidupan-Nya di dunia. Kisah kelahiran hanya mencakup beberapa pasal, dan masa pelayanan sekitar tiga tahun mengambil sekitar 60% dari Injil. Namun, satu minggu terakhir dicatat dengan sangat detail hingga mencapai sekitar sepertiga dari seluruh isi Injil. Seperti sebuah film yang membangun cerita secara perlahan di awal, lalu mencapai puncak yang sangat intens di bagian akhir, demikian juga kisah hidup Tuhan Yesus. Setelah berbagai konflik dan pergumulan selama pelayanan-Nya, semuanya mencapai klimaks pada momen-momen terakhir ini, sebagaimana yang akan kita renungkan dari Yohanes pasal 12.

Di dalam satu minggu sebelum Tuhan Yesus mati dan bangkit, terdapat rangkaian peristiwa yang sangat intens. Jika Jumat nanti adalah Jumat Agung untuk memperingati penyaliban Yesus, maka hari ini dikenal sebagai Minggu Palem, saat Yesus memasuki Yerusalem dan dielu-elukan oleh orang banyak. Sehari sebelumnya, dalam Yohanes pasal 12 bagian awal, diceritakan Yesus diurapi oleh Maria, sementara di pasal 11 dicatat mukjizat besar ketika Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian. Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan ketegangan yang semakin memuncak. Setelah pelayanan Yesus yang berkeliling mengajar dan melakukan mukjizat, kebangkitan Lazarus membuat banyak orang percaya dan berharap bahwa Yesus adalah Mesias. Namun sebaliknya, orang Farisi semakin mengeraskan hati dan berencana menangkap-Nya, bahkan mengumumkan agar siapa pun yang mengetahui keberadaan Yesus melaporkannya. Di tengah situasi itu, Yesus justru diundang ke rumah Lazarus, Marta, dan Maria, di mana Maria mengurapi-Nya dengan minyak narwastu yang mahal, dalam suasana yang bersifat pribadi.

Pembacaan dari Injil Markus yang tadi dibacakan menggambarkan peristiwa dua hari sebelum penyaliban. Setelah sebelumnya Yesus diurapi, pada hari ini Ia tampil di depan umum, lalu beberapa hari kemudian, yaitu hari Rabu, Ia kembali diurapi di rumah Simon si kusta. Hari ini menjadi sangat menggemparkan karena Yesus bukan hanya muncul di tengah keramaian, tetapi juga melakukan tindakan simbolis pada momen yang sangat penting. Hari Minggu sebelum Paskah membuat Yerusalem dipenuhi orang dalam jumlah besar. Menurut Yosefus, jumlahnya bisa mencapai jutaan, meskipun setidaknya ratusan ribu orang berkumpul di kota itu. Hal ini karena tanggal 10 Nisan adalah waktu setiap keluarga memilih domba Paskah untuk dikorbankan, yang kemudian dibawa ke Bait Suci untuk diperiksa. Dalam konteks ini, setelah Yesus masuk ke Yerusalem, keesokan harinya Ia juga masuk ke Bait Suci. Namun yang terutama, hari Minggu ini menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya Yesus secara terbuka mendeklarasikan diri-Nya sebagai Mesias di hadapan publik.

Setelah bertahun-tahun pelayanan Tuhan Yesus, Ia tidak secara terbuka menyatakan diri sebagai Mesias. Ketika ada yang bertanya, Ia meminta agar hal itu tidak disebarkan. Bahkan saat Petrus mengakui bahwa Ia adalah Mesias, pengakuan itu hanya terjadi dalam lingkup para murid. Namun pada hari Minggu ini, Yesus secara terbuka menyatakan diri-Nya sebagai Mesias dengan masuk ke Yerusalem menunggang keledai. Peristiwa ini terjadi setelah Ia membangkitkan Lazarus, saat nama-Nya semakin dikenal luas sekaligus menimbulkan kontroversi, di tengah keramaian besar ketika orang-orang datang untuk memilih domba Paskah. Di balik suasana Yerusalem yang begitu ramai dan padat pada saat itu, terbayang kontras dengan kondisi sekitar 600 tahun sebelumnya. Kota itu pernah menjadi sangat sepi setelah dihancurkan oleh Nebukadnezar dari Babel, dan bangsa Israel dibuang ke Babel selama hampir satu abad, meninggalkan Yerusalem dalam keadaan sunyi sebelum akhirnya dipulihkan kembali.

Setelah pembuangan selama satu abad, bangsa Israel kembali ke Yerusalem dan sejak sekitar 500 tahun sebelum peristiwa ini, mereka hidup dengan pengharapan akan datangnya seorang pembebas. Melalui nubuat para nabi, mereka mendengar janji tentang seorang raja Mesias, keturunan Daud, yang diurapi dan disebut sebagai anak Allah, yang akan membawa keselamatan dan Syalom bagi umat-Nya. Harapan ini terus hidup dari generasi ke generasi, sejak masa kanak-kanak hingga tua. Pengharapan panjang itu mencapai puncaknya ketika Yesus masuk ke Yerusalem. Setelah melihat mukjizat-Nya, terutama kebangkitan Lazarus, orang banyak tidak lagi sekadar memandang-Nya sebagai guru, tetapi mulai bertanya apakah Dia adalah Mesias yang dinantikan. Seperti orang-orang yang lama tertindas lalu melihat harapan akan perubahan besar, demikianlah antusiasme mereka saat itu. Pada momen Minggu Palem ini, Yesus sendiri menjalani sebuah prosesi simbolis yang menegaskan bahwa Dialah raja Mesias yang dijanjikan.

Yesus menyatakan diri sebagai raja Mesias dengan dua cara. Pertama, Ia menggenapi nubuat dalam kitab Zakharia. Kitab Zakharia ditulis setelah bangsa Israel kembali dari pembuangan dan sedang membangun kembali Bait Allah. Kitab ini banyak dikutip dalam Perjanjian Baru, dan salah satunya memprediksi kedatangan seorang raja yang diurapi, yang naik keledai, adil dan lemah lembut, yang akan mengakhiri peperangan dan membawa kedamaian, serta membebaskan dan menyelamatkan Israel. Tindakan Yesus menunggang keledai muda masuk Yerusalem secara jelas menggenapi nubuat ini.

Kedua, Yesus memproklamasikan diri sebagai raja dengan cara yang mencerminkan peristiwa penting dalam sejarah Israel. Peristiwa sekitar satu setengah abad sebelumnya. Sehingga kedatangan-Nya tidak hanya memenuhi nubuat, tetapi juga menunjukkan hubungan dengan pengalaman bangsa Israel dalam sejarah panjang mereka. Sekitar tahun 160-an sebelum Masehi, bangsa Israel berada di bawah penjajahan Seleucid, yang dipimpin oleh Antiochus IV Epiphane, seorang penguasa yang sangat dibenci. Ia pernah menjarah Bait Suci, merampas perkakas emas dan harta berharga, menghancurkan tembok Yerusalem, serta membunuh banyak orang Yahudi. Antiochus juga memerintahkan penghancuran gulungan kitab suci, membawa pasukannya masuk Bait Suci untuk berbuat hal-hal najis, serta memaksa orang Yahudi menyembah dewa-dewa Yunani, dengan hukuman mati bagi yang tetap mempraktikkan tradisi mereka, termasuk sunat dan perayaan Sabat. Kekejaman ini memuncak ketika ia mendirikan mezbah untuk mempersembahkan korban kepada Dewa Zeus di Bait Suci, menggunakan babi sebagai korban bakaran, sesuatu yang dianggap najis oleh orang Yahudi. Berbagai perlawanan pun terjadi, termasuk kematian tragis seorang tua bernama Eleazar yang dicambuk hingga mati, dan seorang ibu bersama tujuh anaknya yang dibantai karena menolak menyembah berhala. Peristiwa-peristiwa ini meninggalkan luka mendalam dan kemarahan besar bagi bangsa Israel.

Di tengah penganiayaan yang semakin parah, orang Yahudi akhirnya memberontak. Sejarah Israel sebelumnya juga mencatat munculnya pahlawan-pahlawan seperti Yosua, Gideon, dan Daud. Sekitar 160 tahun sebelum Masehi, seorang pemimpin bernama Yudas Makabeus bangkit untuk melawan kekejaman Antiochus IV Epiphane. Ia memimpin sekelompok orang Yahudi dalam pemberontakan yang akhirnya berhasil mengalahkan pasukan penindas. Setelah kemenangan itu, Yudas Makabeus memasuki Yerusalem disambut sorak-sorai penduduk yang melambaikan daun palem, sebagai tanda kemenangan dan kembalinya kota mereka. Langkah pertamanya adalah masuk ke Bait Allah untuk membersihkannya dan menguduskannya kembali, memulihkan kesucian tempat yang sebelumnya dinodai oleh tindakan Antiochus. Tindakan Yesus saat memasuki Yerusalem mengingatkan orang Israel pada sejarah mereka. Ia memasuki kota, pergi ke Bait Suci, dan menyucikannya dengan cara menjungkirbalikkan meja-meja penukar uang. Seperti Yudas Makabeus satu setengah abad sebelumnya, orang Israel menaruh harapan pada seorang pemimpin yang membebaskan mereka. Namun, Yudas Makabeus dan dinasti Makabeus yang menjadi dinasti Hasmonean akhirnya gagal. Generasi-generasi selanjutnya hidup mewah, korup, dan sering bertentangan dengan orang Yahudi tradisional seperti Farisi. Harapan akan Mesias sejati tetap hidup. Momen itu akhirnya tercapai ketika Yesus memasuki Yerusalem pada Minggu Palem. Para murid yang telah mengikuti-Nya selama tiga setengah tahun menyadari bahwa Yesus bukan orang biasa; Ia memiliki hikmat, karisma, dan kuasa yang luar biasa. Namun setiap kali mereka berharap akan kemuliaan, Yesus mengejutkan mereka dengan pengajaran tentang penderitaan, penangkapan, dan kematian-Nya, yang membuat para murid belum sepenuhnya memahami rencana Allah.

Pada hari itu, saat orang-orang Israel sibuk memilih domba Paskah, Yesus tampak tidak menahan diri dalam menyatakan diri sebagai Mesias. Para murid pun bergembira, merasa yakin bahwa selama ini yang mereka ikuti adalah Sang Mesias. Orang banyak meletakkan jubah mereka di jalan, sebagai tanda penghormatan, ini mirip seperti karpet merah bagi seorang raja, sementara Yesus menunggang keledai muda yang belum pernah dipakai, menggenapi nubuat kitab Zakharia. Sambutan dengan pohon palem mengingatkan mereka pada Yudas Makabeus, pahlawan yang dulu memenangkan peperangan, dan simbol pohon palem kemudian menjadi lambang semangat perlawanan bangsa Yahudi terhadap penindas. Orang-orang menyambut Yesus dengan nyanyian pujian dari Mazmur, berseru, “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan,” dan bersorak “Hosana!”, yang berarti “Tuhan akan menyelamatkan kita.” Seluruh suasana menunjukkan pengakuan publik akan status Yesus sebagai Mesias dan harapan besar akan keselamatan yang Ia bawa. Dari peristiwa ini, kita bisa merenungkan makna pentingnya. Yesus bukan sekadar sahabat, penyembuh, atau penyelamat tetapi juga Dia adalah Raja kita. Meski rendah hati Dia bukan orang yang remeh. Yesus berulang kali menyatakan klaim-Nya sebagai Raja, bahkan raja alam semesta. Saat orang Farisi meminta agar para murid berhenti memuji-Nya, Yesus menegaskan bahwa pujian itu memang pantas diterima, karena Dialah Raja yang layak disembah, bahkan jika batu-batu pun harus bersaksi. Peristiwa Minggu Palem menunjukkan konfirmasi publik bahwa Yesus adalah Raja, dan pentingnya pengakuan itu tercatat di keempat Injil. Ia mengingatkan kita bahwa pengakuan akan kuasa dan kemuliaan-Nya bukan hanya soal simbol atau ritual, tetapi pengakuan atas otoritas-Nya yang sejati, Raja yang harus dihormati dan dipuji.

Setiap kali Yesus hadir di sebuah kota, seorang pengkhotbah mengatakan bahwa Yesus seperti menantang setiap orang untuk mengambil sikap, entah menolak, melawan, atau memahkotai-Nya. Tidak ada posisi netral. Seperti tertulis di Wahyu, orang yang suam-suam akan dimuntahkan. Jika seseorang benar-benar mengenal Yesus, responsnya hanya dua: menolak atau tunduk mengakui-Nya sebagai Tuhan dan Raja dalam hidupnya. Tidak ada sikap biasa-biasa saja bagi yang pernah berjumpa dengan-Nya. Refleksi ini penting bagi kita sebagai orang Kristen. Banyak yang sekadar mengagumi atau setuju dengan Yesus, tetapi belum menempatkan-Nya sebagai Raja di pusat hidup mereka. Mengaku percaya, melayani di gereja, atau terlibat dalam kegiatan rohani saja tidak cukup. Seperti orang-orang yang berdagang di Bait Allah zaman itu, mereka tampak beribadah, tapi tidak benar-benar mengenal Allah maupun Kristus.

Pertanyaannya adalah, apakah Yesus benar-benar menjadi prioritas dalam hidup kita? Dalam cara kita menggunakan waktu luang, memilih pakaian, menentukan pasangan, dan mengambil keputusan sehari-hari. Apakah setiap hal dipandu oleh Yesus sebagai Raja? Sering kali kita ingin Yesus di versi kita sendiri, yang membantu karier, menyelesaikan masalah, dan tidak mengganggu keputusan kita, tanpa benar-benar mengakui Dia sebagai Tuhan yang memimpin hidup kita. Kita ingin Dia sebagai Juru Selamat, tapi menolak Dia sebagai Raja. Yesus tidak memberi opsi itu. Dia menantang kita: menolak atau menerima Dia sebagai Raja. Dan Raja yang kita lihat dalam pribadi Yesus sering berbeda dari ekspektasi manusia. Saat Dia memasuki Yerusalem menunggang keledai, berbeda dengan Yudas Makabeus yang menunggang kuda perang, Yesus menunjukkan raja yang adil, mulia, namun lemah lembut, sebuah kepemimpinan yang menuntun dengan keadilan dan kasih, bukan dengan kekerasan atau dominasi.

Banyak orang yang menyambut Yesus pada hari itu mungkin bingung melihat Dia naik ke keledai, bukan kuda perang seperti yang mereka harapkan. Mereka membayangkan Mesias sebagai raja yang akan menghancurkan Romawi, namun Yesus sengaja memilih keledai. Pesan yang disampaikan jelas: “Ya, Aku Rajamu, tapi bukan raja yang sesuai ekspektasimu.” Dia datang bukan untuk berperang atau menaklukkan dengan kekerasan, melainkan untuk membawa perdamaian dengan cara yang berbeda dari yang manusia bayangkan. Seperti seorang pemimpin dunia yang tiba di medan perang dengan sepeda, simbol keledai menunjukkan bahwa tujuan Yesus bukan kemenangan melalui pertumpahan darah. Ketika penduduk Yerusalem siap menawarkan takhta kerajaan, Yesus menolak, menegaskan bahwa kerajaan-Nya bukan berdasarkan kekerasan atau perang, tetapi pada keadilan, kasih, dan perdamaian. Naik ke keledai bahkan menandai bahwa jalan-Nya menuju kemenangan adalah melalui kerendahan hati dan penderitaan, bukan kekuatan militer.

Inilah sebabnya mengapa orang banyak di Minggu Palem menyambut Yesus dengan penuh antusiasme, namun hanya lima hari kemudian mereka berteriak, “Salibkan Dia.” Pergeseran itu terjadi karena Yesus berbeda dari ekspektasi mereka. Ia datang sebagai Raja, dan memang pantas diakui sebagai Raja kita, tetapi cara-Nya menggenapi rencana-Nya tidak selalu sesuai harapan manusia. Yesus membawa kebaikan bukan dengan kekerasan atau kemarahan, tetapi melalui kelemahlembutan. Hal ini mengingatkan kita bahwa cara Allah bekerja sering berbeda dari cara manusia membayangkan, dan dunia ini memiliki masalah yang lebih dalam daripada sekadar konflik fisik atau kekuasaan. Kita ditantang untuk menerima kepemimpinan-Nya meski kadang tampak bertolak belakang dengan keinginan dan ekspektasi kita.

Beberapa bulan terakhir, dunia dipenuhi berita peperangan, dan sering kita tergoda memihak satu pihak, berpikir ini benar dan itu salah. Namun di balik semua konflik itu, ada masalah yang lebih dalam: dosa di hati manusia. Tidak ada pihak yang benar-benar sempurna, dan upaya manusia menyelesaikan masalah dengan kekuatan, politik, atau strategi duniawi selalu mengecewakan. Allah memperkenalkan Raja yang berbeda, Raja yang datang dengan keledai. Seperti Mazmur 2 mengingatkan, meski raja-raja dan bangsa-bangsa bersekutu melawan Tuhan dan yang Diurapi-Nya, Allah tetap memegang kendali. Dialah yang menentukan siapa raja dunia, dan Dialah yang mampu mengatasi masalah manusia secara sejati, bukan melalui kekerasan atau peperangan, tetapi dengan cara yang penuh hikmat, keadilan, dan kelemahlembutan.

Pada Minggu Palem ini, kita melihat Raja pilihan Tuhan. Bukan raja yang menyelesaikan masalah dunia dengan kekerasan atau pedang, tetapi Raja yang datang menunggang keledai, melambangkan kelemahlembutan. Kelemahlembutan ini sering kali terabaikan dalam hidup kita sebagai orang Kristen. Bahkan para murid pun awalnya tidak memahami makna peristiwa ini; baru setelah Yesus dimuliakan, mereka menyadari bahwa hanya Raja yang seperti ini yang mampu menuntaskan masalah dunia. Kitab Yohanes menyoroti transformasi ini. Yohanes, yang dijuluki “anak guntur” karena pernah ingin menyelesaikan masalah dengan api dan kekerasan, berubah menjadi rasul kasih setelah menyaksikan tindakan Yesus. Hal ini menegaskan panggilan kita sebagai pengikut Yesus: mengikuti Raja yang rendah hati, lemah lembut, dan memimpin dengan kasih, bukan melalui kekerasan atau paksaan.

Sering kali kita seperti para murid, lupa atau tidak memahami cara Tuhan bekerja di dunia ini. Berkat dan rencana-Nya kerap muncul di luar ekspektasi manusia, tidak melalui strategi atau kekuatan duniawi seperti kolonialisme atau dominasi. Tuhan justru bekerja melalui cara yang terlihat sederhana, bahkan dianggap remeh atau bodoh, yaitu lewat kelemahlembutan. Dalam Perjanjian Baru, kata “lemah lembut” banyak muncul, menekankan bahwa orang Kristen dipanggil untuk hidup dengan kelemahlembutan, gentleness, meekness, sebagai ciri nyata dari iman mereka. Jonathan Edwards menegaskan bahwa kelemahlembutan harus menjadi aroma kehidupan Kristen, sesuatu yang terpancar secara alami dari diri kita, bukan sekadar reaksi terhadap situasi. Kehidupan yang lemah lembut menjadi saksi nyata dari kuasa dan kasih Kristus di tengah dunia. Lemah lembut berbeda dengan kesan lemah yang sering dipahami. Berbeda dengan kebajikan lain seperti keberanian yang muncul saat bahaya, atau pengendalian diri yang muncul saat godaan hadir. Kelemahlembutan harus terpancar setiap saat sebagai aroma kehidupan Kristen. Seseorang yang lemah lembut bukanlah orang yang mudah tersinggung atau selalu ingin menang dalam argumen, melainkan orang yang kuat, yang mampu membalas, mampu menghancurkan, tapi memilih untuk menahan diri. Lemah lembut adalah kekuatan yang terkontrol: mampu berdiri tegak, tahu kapan harus bertindak, dan mengatasi konflik tanpa merusak pihak lain. Dalam dunia penuh konflik, kelemahlembutan memungkinkan kita memenangkan “perang” bukan dengan kekerasan, tetapi dengan menahan diri, bertahan, dan akhirnya membawa perdamaian, sehingga dua pihak dapat berdamai secara sejati.

Dalam skala internasional, harapan manusia untuk perdamaian antara Israel, Palestina, Rusia, dan Ukraina sering terasa mustahil. Secara logika, mengharapkan mereka berdamai setelah konflik panjang adalah kekonyolan. Namun, itulah cara kerja Tuhan dan raja yang kita ikuti yaitu Dia memilih jalur yang berbeda dari ekspektasi manusia. Raja ini bisa menghancurkan pihak yang salah, tapi Dia justru mengumpulkan semua orang datang kepada-Nya. Bahkan orang Farisi dan bukan Yahudi pun mencari Yesus. Di dunia yang cepat marah, mudah tersinggung, dan sering viral karena kemarahan, panggilan kita justru sebaliknya: memancarkan kelemahlembutan. Itulah yang menonjolkan keagungan raja kita, yang rendah hati, lemah lembut, dan bijaksana. Dia mengajarkan bahwa buluh yang hampir patah dan sumbu yang hampir padam tidak akan diputuskan atau dipadamkan-Nya. Raja yang memimpin dengan kelemahlembutan ini, mengendarai keledai, menjadi teladan bagi kita bagaimana memenangkan hati dan menghadapi dunia tanpa kekerasan.

Bagaimana kita bisa memancarkan aroma raja kita lewat kelemahlembutan? Salah satunya adalah cara kita merespons berita dan informasi di sekitar kita, terutama di sosial media. Kita tahu sosial media berkembang pesat ketika berhasil memviralkan kemarahan, kebencian, atau ketidakadilan. Banyak orang terdorong untuk membagikan berita negatif karena itu menarik perhatian, membuat percakapan menjadi hidup, dan membuat mereka merasa diterima atau diakui. Sebagai pengikut Raja yang lemah lembut, kita dipanggil untuk tidak ikut memviralkan kebencian. Kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai, bukan penyebar konflik. Dalam hidup sehari-hari, di kantor, di gereja, atau dalam relasi sosial, kita bisa mempraktikkan kelemahlembutan dengan menjaga percakapan tetap membangun, tidak menyebarkan gosip, dan merespons situasi sulit dengan sabar. Bahkan ketika kita berhak marah atau membalas, kita menahan diri, memilih untuk mengasihi, menjaga hubungan, dan menumpuk “bara di atas kepala” orang yang berbuat jahat kepada kita. Itulah wujud aroma kelemahlembutan: memenangkan hati dan menebarkan damai tanpa kekerasan, persis seperti yang dicontohkan Raja kita.

Orang yang lemah lembut tidak fokus pada siapa yang menang atau kalah, melainkan pada bagaimana mengasihi orang lain, bahkan musuh sekalipun. Kelemahlembutan berarti mendatangkan damai di tempat dan konteks di mana Tuhan menempatkan kita. Dalam keluarga, misalnya, orang tua yang lemah lembut tetap disiplin tapi sabar; sabar di sini berarti menanggung beban yang berat untuk waktu yang lama, bukan sekadar memperbaiki perilaku anak, tetapi memenangkan hatinya bagi Tuhan. Ini bukan proses instan, kesabaran, ketahanan, dan kasih harus dipraktikkan setiap hari. Kelemahlembutan tidak muncul secara alami dalam diri manusia, tetapi kita bisa belajar dari Raja kita. Dia adalah raja yang kuat, yang akan menegakkan keadilan, tetapi juga raja yang lemah lembut. Dialah yang memilih masuk ke Yerusalem bukan sebagai tentara dengan kuda perang, tetapi sebagai domba Paskah di tengah ratusan ribu domba yang kelak akan disembelih, hanya satu yang mendamaikan manusia dengan Allah. Yesuslah Domba Paskah kita; Dia mendatangkan perdamaian dalam peperangan terbesar, antara manusia dan Allah. Pertanyaannya kini: sudahkah kita menjadikan Dia sebagai Domba Paskah yang mendamaikan hidup kita dengan Tuhan? Apakah kita siap mengikut Dia sebagai raja kita? Mengikuti-Nya berarti juga mempersiapkan diri untuk memancarkan aroma kelemahlembutan dalam hidup kita. Ini sesuatu yang tidak mudah, terlihat konyol di mata dunia, tetapi itulah cara Dia mendatangkan perdamaian sejati.

Close
Close Search Window