Download versi cetak: 1246KebaktianPagi_2026-11-Jan_HW

Allah atau ilah

Pengkhotbah 5:8-20

Pdt. Hendra Wijaya, M.Th.

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Ada sebuah lukisan yang merupakan karya seorang pelukis Renaisans dari tradisi Flemish, pada masa awal Belanda, bernama Quentin Matsys. Lukisan ini diberikan judul “The Moneylender and His Wife.” Dalam lukisan tersebut, kita melihat seorang rentenir, atau peminjam uang, bersama istrinya sedang duduk di dalam rumah mereka. Di atas meja terdapat sebuah timbangan dan setumpuk uang logam. Sang rentenir tampak dengan sangat teliti menghitung dan menimbang nilai setiap keping uang yang dia dapatkan. Namun, perhatian kita kemudian diarahkan kepada seorang sosok yang lain, yaitu perempuan yang duduk di sampingnya, yaitu istri sang rentenir. Perempuan itu sedang membalik halaman sebuah buku, yang barangkali adalah Kitab Suci atau buku rohani. Pada masa itu, buku semacam ini merupakan barang yang sangat berharga, barangkali bahkan hadiah paling mahal yang dapat diberikan oleh suaminya yang kaya. Perempuan itu tampak serius membaca dan bermeditasi atas isi buku tersebut. Namun, arah matanya sepertinya teralihkan kepada tumpukan uang yang sedang dihitung oleh suaminya. Maka seakan-akan dia membaca Kitab Suci dengan satu mata, sementara mata yang lain tertawan oleh tumpukan uang yang berada di tangan suaminya.

Matsys hendak menyampaikan sebuah pesan yang sangat serius bagi kehidupan kita. Lukisan ini mengingatkan kita bahwa setiap orang percaya, sejak dini, harus dengan sungguh-sungguh mengambil keputusan: apakah kita memilih untuk beribadah kepada Tuhan Allah, ataukah kita memilih untuk beribadah kepada uang dan menjadikannya tuan yang berkuasa atas hidup kita, hingga akhirnya membawa kita kepada kebinasaan. Dengan memakai latar belakang kota Antwerp di Belgia, yang pada masa itu dianggap sebagai pusat perdagangan dan keuangan dunia. Matsys ingin memperlihatkan betapa mudahnya uang menarik jiwa manusia menjauh dari ibadah kepada Allah dan berpaling kepada ilah yang lain.

Apa yang digambarkan oleh Matsys dalam lukisan tersebut adalah ketegangan hidup manusia sepanjang zaman, termasuk kita yang hidup di era postmodern ini. Manusia senantiasa berada di tengah dua tarikan yang saling berlawanan. Di satu sisi, ada pilihan untuk beribadah sepenuh hati kepada Allah, tetapi di sisi yang lain, ada tarikan realitas kehidupan sehari-hari yang justru membuat kita melupakan Allah dan mengandalkan ilah-ilah yang lain. Secara logika, kita mengetahui dengan benar bahwa Allah menuntut umat-Nya untuk hanya beribadah kepada Dia. Kita juga percaya bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada Injil Yesus Kristus, yang menyediakan pengampunan dosa dan hidup yang kekal. Namun, sering kali pengetahuan rasional dan pengakuan iman yang kita ucapkan secara verbal tidak berakar dengan mendalam di dalam hati kita. Kita dengan mudahnya tertawan oleh uang, lalu mengalihkan perhatian kita kepada daya tarik dunia ini dan segala kekayaannya. Sehingga kita dengan mudah melepaskan diri dari ikatan firman Tuhan. Kita merelatifkan firman Tuhan, seolah-olah firman Tuhan tidak lagi relevan bagi hidup kita.

Di sinilah penulis Kitab Pengkhotbah, yaitu Kohelet, menolong kita untuk memenangkan pergumulan serta peperangan rohani ini dengan menunjukkan kepada kita kesia-siaan uang dan harta benda duniawi yang bersifat fana. Di dalam ayat ke-7, Kohelet menghadirkan sebuah contoh pengalaman yang sering kali bersifat personal. Pengalaman ini kemudian diproyeksikan ke dalam gambaran yang lebih luas, yaitu kegagalan sistem dan struktur masyarakat. Bagaimanapun idealnya suatu sistem sosial dibangun, pada akhirnya sistem tersebut tidak pernah sempurna. Jangan heran kalau hukum dan keadilan diputar balikkan. Dalam sejarah kehidupan manusia, realitas semacam ini selalu terjadi dimana-mana. Di berbagai negara, baik di Barat maupun di Timur, baik dalam sistem demokrasi maupun totalitarian, ketidakadilan dan penindasan senantiasa dapat ditemukan. Sehingga, Kohelet berkata, “Janganlah engkau heran akan perkara-perkara ini.” Janganlah heran terhadap kesia-siaan harapan akan keadilan di bawah sistem manusia. Demikianlah hidup yang harus dijalani di bawah matahari. Hidup yang kita jalani saat ini adalah hidup di dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa.

Mengapa Kohelet melihat hierarki birokrasi dalam pemerintahan seolah-olah sebagai faktor penyebab terjadinya ketidakadilan? Barangkali yang dimaksudkan Kohelet adalah bahwa pada setiap tingkat birokrasi pemerintahan di semua negara dan di sepanjang sejarah, selalu ada kecenderungan terjadinya penindasan. Pejabat pada satu tingkat kerap mengambil keuntungan dari tingkat di bawahnya dengan cara memanipulasi otoritas dan kekuasaan yang dimilikinya. Pola ketidakadilan dan penindasan semacam ini kemudian terus berlangsung secara bertingkat ke bawah, hingga akhirnya menimpa orang-orang miskin. Mereka yang berada di lapisan paling bawah tidak lagi bisa menindas pihak lain, karena mereka sudah berada di tingkatan yang paling bawah. Namun, kalau kita menelusuri lebih jauh, menurut Kohelet, yang menjadi akar persoalan yang sesungguhnya bukanlah birokrasi, tetapi hati manusia yang telah dikuasai oleh dosa. Dosa menjadikan manusia tiran bagi sesamanya. Dalam posisi sebagai tiran, manusia memanipulasi kekuasaan dan keadilan demi kepentingannya sendiri, lalu menggunakan keduanya sebagai alat untuk menindas sesamanya.

Di dalam ayat ke-8, Kohelet seolah-olah menawarkan paling tidak sebagian solusi untuk menyelesaikan persoalan ini, tercatat: “Suatu keuntungan bagi negara dalam keadaan demikian ialah kalau rajanya dihormati di daerah itu.” Ada perbedaan antara terjemahan TB dengan ESV untuk ayat ke-8 ini, ESV mencatat: “But this is gain for a land in every way: a king committed to cultivated fields.” Kalau kita mengikuti terjemahan daripada ESV, maka cara terbaik melawan pemerintahan yang korup, suka menindas, dan memanipulasi keadilan adalah dengan membangkitkan seorang raja yang penuh kesalehan. Namun, seperti apa figur raja yang saleh itu? Raja yang saleh yang dimaksudkan di sini adalah raja yang saleh yang hanya dapat ditemukan di dalam Injil. Salah satu nubuat yang paling penting mengenai raja yang saleh tercatat di dalam Yesaya 9:5-7. Beberapa atribut pada ayat kelima dipadankan dengan begitu harmoni. Contohnya, Allah yang perkasa berpadanan dengan raja damai. Allah itu adalah Allah yang perkasa, tetapi di dalam kekuasaan-Nya, Dia menciptakan damai sejahtera. Itulah raja yang saleh.

Sekarang kita beralih kepada ayat 9. Pada ayat ini, tampak seolah-olah Kohelet berpindah tema: dari pembahasan pada tingkat negara dan struktur sosial, ia mengarahkan perhatian kepada tatanan kehidupan pribadi, secara perorangan. Kohelet menegaskan bahwa bukan hanya para pejabat negara yang memiliki kecenderungan untuk mengejar kekayaan yang lebih besar dengan memanipulasi keadilan dan kekuasaan. Pencobaan semacam ini dapat menimpa siapa saja, termasuk kita. Oleh sebab itu, Kohelet mengingatkan kita: “Barangsiapa mencintai uang tidak akan pernah puas oleh uang. Barangsiapa mencintai kekayaan tidak akan pernah puas oleh kekayaannya.” Semua itu adalah kesia-siaan belaka. Sepanjang sejarah umat manusia, kebenaran ini terus terbukti. Berapa pun banyaknya kekayaan yang dimiliki seseorang, hati manusia yang telah ditawan oleh dosa sangat sukar untuk merasa puas dengan apa yang ada di tangannya. Hal ini juga diamati oleh seorang psikolog bernama Jessie H. O’Neill dalam bukunya The Golden Ghetto: The Psychology of Affluence. Ia menggunakan istilah affluenza untuk menggambarkan dampak psikologis sosial dari uang dan kekayaan, yaitu suatu kondisi di mana manusia modern memiliki relasi yang tidak sehat dengan uang dan kekayaan.

Pada masa kini, di kota-kota besar di seluruh dunia, banyak orang muda tanpa sadar telah terpapar persoalan psikologis yang serius, yaitu perasaan tidak pernah puas. Mereka sukar mengatakan “cukup,” sukar berhenti, dan sukar merasa puas dengan apa yang dimiliki. Salah satu persoalan paling serius dalam hidup kita hari ini justru terletak pada satu kata yang paling sulit untuk kita ucapkan, yaitu, cukup. Realitas kehidupan terus menuntut lebih dan lebih lagi. Kita mungkin berkata bahwa kita percaya kepada pemeliharaan Tuhan. Namun pada kenyataannya, hati kita sering kali tidak mampu menyerah untuk berkata, cukup. Hati kita tidak tunduk kepada iman yang mengatakan cukup. Hati kita terus bergejolak menuntut untuk lebih dan lebih lagi.

Sekalipun kita bersyukur atas apa yang telah kita miliki, tetapi sering kali secara diam-diam kita memikirkan hal-hal yang masih belum kita miliki, dan kita terus mencari cara untuk memilikinya. Salah satu pergumulan besar dalam hidup kita pada masa kini adalah ketidakmampuan untuk melepaskan apa yang tidak dapat kita miliki. Salah satu kesulitan hidup kita hari ini adalah untuk melepaskan hal yang kita tidak bisa miliki, hal yang Tuhan tidak sediakan bagi kita, dan hal yang bukanlah kehendak Tuhan bagi kita. Secara verbal kita mengaku berserah, mengaku mengikuti Tuhan, dan menyatakan pasrah kepada-Nya, tetapi hati kita tidak sungguh-sungguh tunduk. Hati kita terus berada dalam ketegangan dan kita terus berusaha, seakan-akan Tuhan tidak melihat gejolak dan nafsu di dalam hati kita.

Satu-satunya cara untuk mengendalikan hati kita adalah melalui iman sehingga kita bisa merasa cukup atas pemeliharaan Tuhan dan hal yang Tuhan telah sediakan dalam hidup kita. Kapan terakhir kali kita berdoa dan berkata, “Tuhan, aku bersyukur; cukup sampai di sini?” Kapan terakhir kali kita berkata, “Tuhan, anugerah-Mu sudah cukup bagiku. Aku tidak mau meminta yang lain lagi. Biarkan orang lain yang memperoleh sehingga mereka lebih besar dan maju.”

Seorang teolog dan pengkhotbah besar dari tradisi Anglikan, Charles Bridges (1749–1869), yang sangat dihormati oleh Charles Spurgeon, pernah menyampaikan pernyataan seperti ini: ketika keinginan-keinginan kita berlari mendahului kebutuhan-kebutuhan kita, itulah saatnya bagi kita untuk berhenti, duduk diam, serta menikmati dan merasa puas dengan keadaan kita saat ini. Merasa puas dengan keadaan kita saat ini. Itu lebih baik daripada kita berada di tempat yang kita harapkan di dalam khayalan keinginan kita yang tidak akan pernah terpuaskan. Daripada kita terus selalu menginginkan lebih, kita diajak untuk berbahagia dengan lebih sedikit, tetapi menikmatinya bersama dengan Tuhan Allah. Tidak berguna bagi kita mengajar lebih jikalau itu tidak disertai oleh berkat Tuhan.

Keinginan terhadap uang merupakan tantangan dan pergumulan sepanjang hidup manusia. Namun, keinginan dan tantangan ini harus dikendalikan. Yang paling utama, kita harus mampu mengendalikan hati kita terhadap uang, karena hati manusia tidak diciptakan untuk uang, melainkan untuk Tuhan. Di dalam hati kita, Tuhan harus menempati tempat yang paling utama, bukan uang, bukan dunia, dan bukan harta kekayaan. Martin Luther berkata, “Jikalau di dalam hatimu terdapat sesuatu yang engkau taruh sejajar dengan Kristus, engkau sudah jatuh kepada menyembah berhala, bukan beribadah kepada Allah.” Karena Allah menuntut seluruh hati kita dikuasai sepenuhnya oleh Dia. Tidak ada ruang bagi yang lain. Segala sesuatu yang lain harus ditempatkan di bawah Tuhan dan di bawah Kristus.

Oleh sebab itu, Kohelet, memberikan peringatan agar kita senantiasa waspada terhadap arah hati kita, karena hati kita begitu mudah bercabang. Apabila hati kita tidak dikuasai oleh firman Tuhan, maka hati kita pasti dikuasai oleh ilah. Hanya ada Allah atau ilah, tidak ada Allah dan ilah. Tidak ada separuh Allah dan separuh ilah. Untuk orang percaya, harus 100% Allah dan tidak ada tempat untuk ilah. Apakah berarti kita tidak boleh memikirkan hidup kita dan pursuing excellency? Justru sebaliknya, karena kita orang percaya, kita harus pursue excellency di dalam dunia ini untuk menjadi tanda kesaksian kita kepada dunia ini bahwa kita adalah milik Tuhan. Namun, dalam mengejar keunggulan itu, Tuhan harus menjadi arah kita. Segala sesuatu yang lain hanyalah sarana untuk mempermuliakan Tuhan. Semua dikejar bukan untuk kita, tetapi untuk menyatakan bahwa dunia ini dan segala isinya adalah milik Tuhan Allah. Karena Allah telah memberikan mandat kepada kita untuk mengolah dan memperkembangkan dunia ini bagi kemuliaan nama Tuhan.

Salah satu hal yang paling saya takutkan adalah ketika orang Kristen selalu menjadi yang tertinggal di dalam dunia ini. Hal ini sering kali terjadi karena kita dipengaruhi oleh pemahaman teologis yang keliru, yaitu penekanan antitesis yang terlalu kaku dan tidak pada tempatnya. Antitesis yang benar bukanlah pemisahan secara struktural dari dunia, melainkan terletak pada arah hati. Jikalau dunia ini tidak diperjuangkan oleh orang Kristen, maka tempat-tempat tersebut akan diisi oleh mereka yang bukan Kristen. Maka banyak orang Kristen merasa marah melihat dunia yang semakin kacau. Dunia yang dipenuhi oleh berbagai ide filsafat sekuler yang menakutkan. Semua ini terjadi karena orang Kristen tidak berjuang di dalam ranah publik. Keputusan-keputusan penting dunia diserahkan sepenuhnya kepada mereka yang tidak mengenal Tuhan. Orang Kristen sibuk mengurusi hal-hal internal gereja, sementara urusan dunia dianggap bukan tanggung jawab orang Kristen. Orang Kristen lupa bahwa Tuhan menempatkan kita di dalam dunia ini supaya kita menjadi terang di tengah-tengahnya.

Kohelet juga menunjukkan kepada kita bahwa memiliki banyak uang dan harta tidak selalu berarti manusia akan memperoleh kebahagiaan. Tidak semua hal di dunia ini dapat dibeli atau ditukar dengan uang. Uang tidak dapat membeli tidur yang nyenyak, cinta kasih yang murni, kebahagiaan dalam kecukupan, maupun kesehatan. Bahkan, uang tidak mampu menambah sejengkal pun usia hidup manusia. Di sisi lain, Kohelet juga memberikan peringatan bahwa uang dan harta dapat mendatangkan berbagai kesusahan dalam hidup. Ketika kita melihat orang kaya, kita sering berpikir bahwa hidup mereka pasti enak. Namun, ketika kita mulai memiliki kekayaan, kita baru menyadari bahwa semakin banyak harta sering kali berarti semakin banyak kekhawatiran dan batas-batas tertentu.

Kohelet menyebutkan salah satu kesusahan itu dalam ayat ke-10 dengan ungkapan, “orang-orang yang menghabiskannya.” Kalimat ini merujuk kepada orang-orang tertentu yang akan menghabiskan harta itu. Bisa berupa kewajiban pajak kepada pemerintah, kebutuhan keluarga dan keturunan, para pekerja dan pegawai, maupun orang-orang di sekitar yang membutuhkan pertolongan. Semakin banyak yang kita miliki, semakin banyak pula orang yang datang mengulurkan tangan, dan akan menghabiskan harta itu. Tidak jarang, harta dan uang yang kita kumpulkan hanya bisa dipandang, tetapi tidak sungguh-sungguh dapat dinikmati. Kita bekerja dan mengumpulkan kekayaan dengan tekun, namun ketika tiba waktunya untuk menikmati, kita justru dipenuhi oleh pertimbangan dan kekhawatiran sampai akhirnya harta itu berpindah tangan ke orang lain atau diturunkan kepada anak-anak kita. Maka semua ini juga adalah kesia-siaan menurut Kohelet.

Kesusahan kedua dari memiliki banyak uang adalah bahwa kekayaan sering kali membuat pemiliknya terus berjaga dan sulit menikmati tidur yang nyenyak. Ayat ke-11 mencatat, “Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur.” Secara umum, orang-orang yang bekerja sepanjang hari, apalagi mereka yang bekerja dengan fisik, akan memperoleh kenikmatan tidur di dalam tubuh yang lelah. Entah mereka makan dengan kecukupan atau mereka yang naik ke tempat tidur dengan menahan lapar. Tidak demikian halnya dengan orang-orang kaya yang malas. Mereka tidak dapat menikmati kemewahan tidur dengan tenang. Mereka akan berjaga sepanjang malam, karena dikhawatirkan oleh hartanya yang banyak dan khawatir bahwa orang lain akan mencuri dan mengambil harta mereka. Ini pun kesusahan yang sia-sia menurut Kohelet.

Kohelet melanjutkan dengan memberikan peringatan ketiga mengenai kesia-siaan memiliki harta yang berlimpah, sebagaimana dicatat dalam ayat 12 dan 13. Terjemahan bahasa Indonesia menyebutnya sebagai “kemalangan yang menyedihkan.” Namun, ungkapan ini sebenarnya belum sepenuhnya menangkap kekuatan makna yang dimaksudkan oleh Kohelet. ESV menggunakan istilah “there is a grievous evil”, yang secara harfiah menunjuk kepada sesuatu yang bersifat traumatis. Ada orang yang berusaha menyimpan dan mengelola hartanya dengan tujuan agar kekayaannya semakin bertambah. Namun, yang justru terjadi adalah harta tersebut menjadi sumber malapetaka bagi dirinya sendiri. Ambisi yang berlebihan, tanpa penguasaan diri, mendorong orang untuk melakukan investasi secara spekulatif, berharap memperoleh keuntungan besar melalui berbagai transaksi keuangan. Akan tetapi, hasilnya justru kehilangan seluruh kekayaannya dalam sekejap. Inilah yang digambarkan sebagai kemalangan yang menyedihkan. Apa yang hendak disampaikan Kohelet di sini? Hidup untuk uang itu adalah kesia-siaan. Menghitung dan bergantung hidup kepada uang adalah pekerjaan dan usaha menjaring angin.

Kohelet kemudian memberikan peringatan yang keempat, sebagaimana tercatat dalam ayat 14 dan 15. Di sini, Kohelet melanjutkan gambaran tentang orang-orang yang kehilangan seluruh uang dan hartanya. Sebab kita tidak membawa suatu apa pun ke dalam dunia dan kita pun tidak bisa membawa apa-apa keluar dari dunia ini. Suatu hari akan datang, ketika kita akan kehilangan semua yang telah kita perjuangkan dan kita raih selama ini. Setiap dari kita harus menghadapi realitas kefanaan hidup di bawah matahari. Semua uang yang ada dalam genggaman tangan kita, suatu hari pasti akan dilepaskan dari tangan kita.

Mengenai uang dan harta, tidak ada seorang pun yang lebih berpengalaman dan lebih tahu dari Raja Salomo. Salomo menyimpulkan peringatannya kepada kita untuk tidak hidup bagi uang, dunia, dan segala kekayaan di dalamnya. Tidak ada yang lebih menyusahkan dan menyedihkan hidup kita, selain hidup kita yang dipimpin oleh kerakusan dan kecanduan kepada uang. Pada akhirnya kita hanya menggenggam kekosongan. Apakah dengan demikian kita tidak boleh memperoleh kekayaan dan mengumpulkan harta benda di dalam dunia ini? Bukan demikian. Kohelet mengingatkan bahwa setiap orang yang mengumpulkan uang, orang yang mengumpulkan harta benda di dalam dunia ini harus memahami betul ayat ke-18: “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya – juga itu pun karunia Allah.”

Kalau kita mengerti ayat ini, maka kita akan berbahagia ketika kita mengumpulkan kekayaan dan mengumpulkan harta. Sudahkah kita beralih dari menyembah ilah, menyembah uang, menyembah harta benda, kemudian berpaling untuk menemukan seluruh sukacita hidup kita di dalam tangan Tuhan Allah? Kohelet memberikan kita jawaban yang tuntas atas persoalan ini. Kohelet mengajarkan kita untuk bersandar sepenuhnya kepada Allah untuk menemukan kebahagiaan hidup kita.

Di dalam lukisan Quentin Massys  yang saya singgung, kita dapat menemukan kebenaran ini melalui satu detail dari lukisan ini. Lukisan ini memang berfokus kepada sang rentenir dan istrinya yang sedang berpaling dari Allah kepada uang mereka yang ada di atas meja. Namun, Massys dengan cerdik melukiskan sebuah cermin bulat yang memantulkan refleksi pemandangan yang berada di luar frame lukisan itu. Bila kita dengan teliti memperhatikan pantulan dari cermin itu, ada garis gelap di jendela yang membentuk sebuah gambar salib. Kita juga melihat ada figur di luar frame lukisan yang seolah-olah sedang memegang sebuah salib. Figur itu adalah Quentin Massys sendiri. Kohelet dan Massys mengingatkan kita: hendaknya kita jangan menaruh kepuasan hidup kita kepada uang dan harta benda. Melainkan kita diajak untuk meraih salib, tempat di mana Yesus memberikan nyawa-Nya untuk menebus dosa kita dan membinasakan dosa keserakahan hidup kita, menggantikannya dengan karunia Allah yang adalah kepuasan hidup kita yang sesungguhnya. Kiranya Tuhan menolong dan memberkati kita. Amin.