Download versi cetak: 1247_1420_KebaktianPagi_2026-18Jan
Eksposisi Matius (88) – Hal Memberi Sedekah
Mat 5:48; 6:1-4; Ul 15:7-11
Pdt. Adrian Jonatan M.Th
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Dalam Matius 5, Yesus menyampaikan khotbah di bukit bukan sekadar sebagai ajaran moral yang baik dan dapat diterima semua orang, melainkan dalam konteks besar Kerajaan Allah. Karena itu, khotbah di bukit bukan hanya kumpulan ajaran menarik, tetapi gambaran karakter dan gaya hidup warga Kerajaan Surga. Mereka yang mendengar dan merespons ajaran Yesus melakukannya karena menyadari bahwa Raja mereka sedang berbicara dan menegaskan identitas mereka sebagai warga kerajaan. Dalam Matius 5, hal ini terlihat melalui dua bagian utama, yaitu tentang “being” sebagai identitas, dan “doing” sebagai perwujudan hidup warga Kerajaan Surga.
Bagian pertama dari khotbah di bukit menekankan “being”, yaitu identitas warga Kerajaan Surga sebagai orang-orang yang berbahagia, namun kebahagiaan ini berlawanan dengan standar dunia. Dunia menyebut bahagia mereka yang kaya dan bersenang-senang, tetapi Yesus menyebut berbahagia mereka yang miskin di hadapan Tuhan dan yang berdukacita karena menyadari dunia yang jatuh dalam dosa serta keberdosaan diri mereka. Orang-orang yang merespons ajaran Yesus adalah mereka yang dimungkinkan menjadi warga Kerajaan Surga, meskipun sering kali mereka adalah orang-orang marginal, tidak dianggap penting, bahkan dicemooh dan dianiaya. Namun justru merekalah yang ada dalam hati Tuhan dan yang akan mewarisi bumi sebagai anak-anak Allah. Yesus menegaskan bahwa mereka adalah garam dan terang dunia bukan karena usaha atau tindakan mereka sendiri, melainkan karena karya dan kuasa Tuhan yang memberi Roh dan identitas baru. Karena itu Yesus tidak memerintahkan mereka untuk menjadi garam dan terang, tetapi menegaskan bahwa mereka sudah menjadi demikian. Yesus simply berkata kamu sudah menjadi garam dan terang. Yang perlu engkau pergumulkan adalah jangan engkau menjadi tawar dalam identitasmu. Biarlah identitas dan apa yang engkau lakukan, yang engkau hidupi, itu dilihat oleh orang, dan terangmu bercahaya, meskipun dengan risiko dilawan, diserang atau dicemooh.
Bagian kedua mengenai “doing”-nya, apa yang mereka lakukan. Kita melihat mereka hidup dalam hukum Tuhan. Yesus berkata, “Aku datang bukan untuk menyingkirkan hukum Taurat, Aku datang untuk menggenapinya dan melaksanakannya.” Bagi orang-orang yang betul-betul adalah warga kerajaan surga, ini bukan berarti mereka tidak perlu lagi hidup di bawah hukum. Mereka tetap di dalam hukum karena justru mereka sudah dibenarkan. Mereka melakukan kebenaran bukan karena mereka berharap memiliki atau mendapatkan kebenaran. Tetapi karena mereka sudah dibenarkan, maka mereka hidup dalam kebenaran itu. Karena itulah waktu mereka melakukan hukum, mereka bukan melakukannya sebagai sesuatu yang menekan mereka. Tetapi mereka menjadi orang yang menerima hukum lalu mereka meng-investigate, merenungkan, menyelidiki hati dari hukum (the heart of the law), dan menjadikan hukum itu hukum hati mereka (the law of their heart). Inilah yang dilakukan warga kerajaan surga. Mereka hidup dalam hukum Tuhan, mengerjakan kebenaran Tuhan. Dalam Matius 5, mereka melakukan semua itu karena mereka ingin menjadi sama seperti Bapa di surga. Seperti seorang anak yang melihat kepada ayahnya dan ingin menirukan apa yang ayahnya lakukan. Itulah mindset dari warga kerajaan surga. Mereka melihat Bapa di surga yang sempurna, dan ingin menjadi sempurna seperti Bapa di surga. Ada yang mengatakan waktu baca Matius 5:48, merasa itu menjadi suatu yang berat sekali. Tetapi kalau kita membaca dari sisi yang lain, dari apa yang kita renungkan, sebenarnya Tuhan mengatakan ini bukan untuk memberikan beban yang berat. Tetapi justru untuk mengingatkan, kita sungguh-sungguh adalah anak dari Bapa di surga. Kalau kita adalah anak, kita ingin melihat kepada Bapa, mengagumi kesempurnaan-Nya, ingin meniru Bapa kita, meskipun tidak sesempurna itu. Inilah yang menjadi sikap yang melandasi Matius 6.
Dalam Matius 6, Yesus lanjut berbicara mengenai tindakan-tindakan keagamaan yang kita lakukan. Yesus memberi 3 contoh dalam hal ini. Contoh-contoh ini tidak exhaustive, bukan hanya ini yang perlu kita kerjakan. Tetapi ini menjadi contoh bagaimana kita melihat segala kegiatan dan tindakan rohani yang kita lakukan. 3 hal yang Yesus berikan yaitu memberikan sedekah, berdoa, dan kemudian berpuasa. Hal-hal ini adalah hal yang masih perlu kita lakukan, bagi orang-orang yang dalam kebenaran. Dulu waktu saya masih kecil, ada yang mengajarkan engkau tidak lagi perlu melakukan ini semua karena engkau sudah dibenarkan. Ada orang-orang yang berdoa, yang memberikan sedekah, dan yang berpuasa untuk mendapatkan kebenaran. Tentu saja kita tidak setuju akan hal tersebut, karena hal-hal itu tidak akan membuat kita mendapatkan kebenaran, tetapi itu bukan berarti hal-hal tersebut tidak perlu lagi dikerjakan. Justru sebaliknya, Yesus masih mengajarkan kita mengerjakan hal ini karena kita sudah di dalam kebenaran. Kita tidak melakukan ini untuk memperoleh kebenaran bagi diri kita sendiri, karena kebenaran itu diberikan Tuhan kepada kita. Yang salah itu bukan tindakannya, tetapi sikap terhadap tindakan tersebut. Kenapa kita melakukannya, itu yang menjadi kunci.
Di sini Yesus mengingatkan, “Jangan kamu melakukan tindakan keagamaanmu itu di hadapan orang supaya dilihat mereka. Karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu di surga.” Yesus mau mengajarkan waktu engkau melakukan tindakan-tindakan keagamaan ini, apakah kamu melakukannya karena ingin dilihat orang kamu sudah mengerjakannya? Kalau demikian akhirnya banyak yang kita rasa kalau tidak dilihat orang, akhirnya kita tidak mengerjakannya. Tetapi seperti ayat terakhir tadi, kita harus melakukan itu semua dengan kesadaran bahwa kita adalah anak dari Bapa di surga. Kita melakukannya dengan mengharapkan penghargaan dari Bapa di surga. Dalam LAI ini, istilahnya itu kewajiban agama, itu agak miss poin dalam kebenaran ini. Dalam ESV itu lebih tepat, bukan sekadar kewajiban agama, tetapi practicing your righteousness, menghidupi kebenaranmu. Kita memberikan pertolongan kepada orang lain, kita berdoa, kita berpuasa, itu adalah bagian dalam menghidupi kebenaran, bukan mencari/mengumpulkan kebenaran bagi dirimu sendiri. Kita melakukan kebenaran bukan untuk dibenarkan, tetapi karena kita sudah dibenarkan. Orang yang sudah dibenarkan ingin hidup dalam kebenaran. Karena itulah Yesus bukan mengatakan engkau harus melakukan ini dan itu, karena Yesus sudah take for granted bahwa mereka akan melakukannya. Tetapi waktu mereka melakukannya mereka mesti memiliki sikap yang benar.
Istilah kebenaran dalam bahasa Yunani itu adalah dikaiosune. Dalam bahasa Ibrani itu istilahnya tsedeq. Istilah tsedeq itu lari ke bahasa Arab, lalu masuk dalam bahasa Indonesia, menjadi 2 istilah: salah satunya sedekah. Sering kali waktu kita bicara sedekah, konteksnya adalah kita lihat orang miskin, kita kasihan lalu kasih sedekah. Sehingga dorongan untuk memberi sedekah itu adalah kasihan. Tetapi kalau lihat akar katanya, tsedeq, sebenarnya waktu orang itu melakukan sedekah yang dibicarakan Alkitab, itu sebenarnya tindakan mengerjakan kebenaran dan keadilan, bagi orang yang sedang membutuhkan hal ini. Sehingga waktu kita memberikan sedekah, kita harus memiliki mindset ini. Saya bukan hanya kasihan dengan orang ini, tetapi saya sedang berusaha menegakkan kebenaran/keadilan bagi orang ini. Dia mungkin dalam kesulitan karena suatu ketidakbenaran, ketidakadilan terjadi kepada dia. Karena itulah sedekah itu juga harus dilakukan dalam menegakkan kebenaran/keadilan, bukan sekadar karena kasihan. Kalau kita melakukannya hanya sekadar kasihan, justru berbahaya kita tidak menegakkan kebenaran/keadilan bagi orang tersebut. Jadi istilah sedekah itu suatu hal yang perlu kita rewire mindsetnya kenapa kita memberikan hal ini. Apa yang Yesus katakan di sini adalah mindset itu, mereka harus melakukannya bukan sekadar karena feel generous, tetapi karena mereka melihat kepada Bapa di surga. Pengakuan dan penghargaan Bapa di surga itulah yang mereka kejar. Seperti anak yang melakukan apa yang baik lalu dia tidak mengejar itu untuk dilihat orang lain, tetapi dia mencari senyum dan sukacita dari bapaknya, di situlah hatinya bergelora. Itulah yang harusnya menjadi motivasi kita untuk melakukan hukum dan menghidupi kebenaran dalam ibadah kita.
Kita pernah bahas, yang paling penting dalam ibadah ini bukan hamba Tuhan, bukan song leader atau lagu-lagunya atau pemusiknya. Yang paling penting dalam ibadah justru yang tidak kelihatan, yaitu kehadiran Tuhan sedang kita cari. Itu yang harusnya menjadi dorongan kita melakukan segala tindakan ibadah kita. Kita perlu terus refleksi jangan sampai kita melakukannya karena dilihat orang lain. Contoh pertama yang Yesus berikan mengenai tindakan beribadah/agama yang sebenarnya menghidupi kebenaran ini adalah memberikan sedekah. Tadi kita baca latar belakang perintah ini dalam Ulangan 15:7-11. Penting untuk kita melihat Perjanjian Lama setiap kali bicara apa yang Yesus ajarkan, karena Yesus waktu mengajarkan hal tersebut, sudah take for granted bahwa orang yang Dia ajarkan sudah tahu apa yang Perjanjian Lama ajarkan. Kalau kita tidak mengerti konsep Perjanjian Lama dalam apa yang Yesus bicarakan, kita kehilangan the big picture dan akan memakai konsep kita tentang sedekah ke dalam apa yang Yesus bicarakan. Dalam perintah dalam Ulangan 15, setidaknya ada tiga landasan penting yang menjadi kesadaran mereka. Pertama, bangsa Israel itu sadar bahwa keberadaan mereka di tanah Israel itu adalah karena anugerah Tuhan. Tanah itu bukan tanah mereka, tanah itu diberikan oleh Tuhan kepada mereka supaya mereka boleh pakai. Sehingga waktu mereka memiliki kelebihan, kekayaan dalam tanah tersebut, itu adalah anugerah Tuhan. Karena itu ditekankan “di negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan Allahmu”. Jadi yang pertama, kesadaran bahwa kelebihan dan kekayaan yang mereka miliki adalah anugerah Tuhan.
Yang kedua, kalau ada di antara mereka yang akhirnya menjadi miskin, mungkin karena wabah, karena perang, bencana atau masa kering seperti dalam Yeremia; maka mereka harus saling menolong dengan leluasa, dengan kesadaran bahwa mereka adalah saudara. Satu keluarga besar bangsa Israel yang Tuhan sudah pelihara dengan memberikan tanah bagi mereka. Dengan kata lain, mereka tidak bisa mengatakan ‘orang miskin adalah urusan Tuhan’. Karena Tuhan sudah memelihara bangsa Israel sebagai satu kesatuan dengan memberikan tanah itu kepada mereka. Waktu ada orang di sana yang menjadi miskin, itu adalah tanggung jawab mereka untuk memperhatikan orang-orang tersebut. Untuk menguatkan dan mengembalikan mereka di dalam, menjadi orang yang bisa bekerja dan menghasilkan hal-hal di dalam. Mereka mesti ingat bahwa mereka adalah satu kesatuan, satu keluarga besar dan mereka adalah anak Yakub. Sampai sekarang Saudara masih melihat bahwa sense ini ada dalam orang Israel. Waktu ada satu orang Israel diserang, semuanya merasa juga ikut diserang. Mereka tidak boleh berpikir: yang penting saya, saya hidup sendiri sebagai suatu individual. Tidak! Mereka adalah bagian dari satu kesatuan yang lebih besar yaitu Israel. Kalau ada orang yang menjadi miskin karena suatu hal, saya juga menderita bersama dia, saya akan menolong dia.
Ketiga, karena problem kemiskinan itu akan selalu ada, seperti yang Yesus juga katakan waktu Yudas tidak setuju Maria memberikan parfum kepada Yesus. Problem kemiskinan itu selalu ada di dalam dunia yang jatuh dalam dosa. Maksudnya Saudara jangan berpikir bahwa masalah ini mestinya bisa dibereskan. Tidak! Masalah kemiskinan akan terus ada. Kalau ada orang yang berada dalam kemiskinan atau membutuhkan pertolongan di dalam kehidupanmu, itu adalah tanggung jawabmu untuk menolong dia. Jadi tiga hal: 1) kelebihan yang mereka miliki adalah anugerah Tuhan, bukan sekadar karena usaha mereka. 2) Mereka semua adalah saudara, sesama umat Tuhan, anak Abraham. 3) Karena mereka akan terus menghadapi problem kemiskinan di dalam dunia ini. Itulah yang menjadi landasan mereka harus terus saling menolong dan memberikan sedekah ini. Mereka harus melakukannya dengan sukacita, dengan penuh kerelaan dalam hati mereka. Jangan karena ada tahun ketujuh akhirnya mempengaruhi bagaimana mereka memberi pinjaman. Ini berkaitan dengan hitung-hitungan. Karena setiap tahun ketujuh itu adalah tahun pengampunan. Bangsa Israel menjadi bangsa yang dibiasakan oleh Tuhan untuk terus ingat mengenai pengampunan. Setiap tahun ketujuh semua utang itu dihapuskan. Dan kita bisa melihat efeknya. Ada orang-orang yang sengaja pinjam uang tahun keenam. Ada orang yang sengaja tidak mau kasih pinjaman di tahun keenam. Sehingga waktu mereka melihat seseorang yang begitu membutuhkan, tetapi ini sudah tahun keenam, akhirnya mereka clutch their hand, tunggu tahun tujuh lewat, baru saya pinjamkan. Karena mereka hitung-hitung, mereka takut rugi, sesudah pinjamkan uangnya tidak kembali. Di sini Tuhan mengajar mereka, “Kamu tidak perlu khawatir mengenai uang kamu yang akan hilang itu, karena Aku yang akan memberkati engkau. Kamu tidak usah hitung-hitung apa yang kamu berikan kepada orang yang membutuhkan karena Aku yang akan hitung bagimu. Aku yang akan memberkatimu pada waktunya.” Ini juga yang Alkitab katakan, “Tidak pernah aku melihat orang yang melakukan kebenaran ini, anak-anak cucunya menderita dan melarat” (Mzm. 37:25). Perintah ini tentu bukan hanya untuk orang Israel, tetapi juga untuk kita. Karena kita bukan hanya menjadi orang Israel yang sudah menerima tanah. Kita menerima yang jauh lebih penting yaitu keselamatan oleh Tuhan, sehingga kita harus menjadi terbiasa untuk menolong orang lain dengan leluasa.
Ketika Tuhan memakai kita untuk menolong orang lain, sesungguhnya kita sedang melipatgandakan berkat. Pertolongan yang bagi kita terasa kecil bisa berdampak sangat besar bagi mereka yang sedang berada dalam kesulitan. Hal ini saya alami sendiri ketika mempersiapkan diri masuk sekolah teologi. Saat itu tabungan saya hampir habis, saya tidak bekerja, tidak memiliki asuransi, dan menghadapi dua kebutuhan mendesak: masalah gigi bungsu dan kacamata yang patah. Di tengah tekanan dan pergumulan iman, saya hanya bisa bersandar kepada Tuhan. Dalam masa yang paling berat itu, seorang jemaat memberi persembahan kasih sebesar $500. Jumlah itu mungkin tidak besar, tetapi bagi saya saat itu, pertolongan tersebut terasa seperti penyelamatan.
Melalui pengalaman hidup, terlihat bahwa Tuhan melatih untuk belajar bergantung sepenuhnya kepada-Nya, bukan kepada tabungan atau kemampuan sendiri. Justru ketika sandaran manusia hilang, di situlah Tuhan mengajar untuk mengandalkan Dia dan mengalami pertolongan-Nya. Karena itu, Tuhan memanggil umat-Nya untuk hidup dengan hati yang rela memberi. Jika kita melihat orang yang membutuhkan di sekitar kita, kita diajak untuk memberi dengan lapang hati, tanpa menunggu menjadi kaya terlebih dahulu. Kalau Saudara dari keadaan sekarang tidak bisa memberi, jangan pikir Saudara kaya jadi bisa memberi. Alkitab mengajarkan bahwa memberi lebih baik daripada menerima, dan kebiasaan memberi menolong kita keluar dari sikap yang hanya berpusat pada diri sendiri. Memang ada kalanya pertolongan yang diberikan disalahgunakan, dan dari situ kita belajar untuk makin bijaksana. Namun sikap memberi tetap dilakukan dengan kesadaran bahwa semua itu dilakukan di hadapan Tuhan, sambil menyerahkan hasilnya kepada-Nya dan belajar membedakan siapa yang sungguh membutuhkan.
Ada suatu segitiga dalam hal ini. Kita memberi karena kita melihat kepada Tuhan. Orang yang diberi juga melihat dan mengucap syukur kepada Tuhan. Dalam pengalaman saya tadi, saya melihat bagaimana setelah saya menerima pertolongan itu, saya mengucap syukur kepada Tuhan. Saya berharap orang yang memberi itu juga melakukannya karena dia melihat kepada Tuhan. Saya menyadari Tuhan sedang menolong saya melalui orang itu, sehingga akhirnya yang dipermuliakan adalah Tuhan. Bukan urusan dua orang utang-utangan dan berputar di sini saja. Pengalaman itu membuat saya juga dengan lega memberikan kepada orang lain. Saya tahu bagaimana efeknya pemberian dalam keadaan yang paling sulit itu menjadi berkat bagi orang. Itulah yang mendorong saya juga untuk boleh memberikan waktu keadaan orang membutuhkan. Kita melakukannya bukan supaya orang lain berutang kepada kita, tetapi kita melakukannya di hadapan Tuhan. Itulah yang Tuhan kehendaki, untuk kita hidup dalam kebenaran, dalam kesadaran bahwa kita boleh dipakai menjadi alat Tuhan menolong orang dalam kesulitan. Dan Tuhan berjanji kalau engkau menolong orang yang kesusahan, Dia yang akan balas (Ams. 19:17). Kita tidak perlu khawatir karena Tuhanlah yang akan menghitung dan menghargai orang-orang yang melakukan hal ini.
Waktu kamu melakukan sedekah dan memberi, tidak perlu ada yang tahu. Karena kalau kamu melakukannya demi dilihat oleh orang, kamu sudah mendapat upahnya. Orang yang melakukan hal itu, untuk dilihat oleh orang sebenarnya sedang menghina Tuhan, karena sebenarnya mereka tidak melihat kepada Tuhan. Mereka hanya melihat kepada orang-orang sekitar yang melihat mereka. Waktu orang-orang sekitar melihat dan memuji, engkau sudah dapat upahnya dan kau tidak dapat senyuman atau penghargaan dari Tuhan. Tetapi Yesus justru berkata, “Waktu engkau memberi, jangan tangan kirimu tahu apa yang kamu lakukan.”
Sejak kecil mungkin kita diajarkan bahwa memberi dilakukan dengan sikap tidak mencari perhatian, digambarkan melalui tangan kiri yang disembunyikan saat memberi persembahan. Maknanya adalah memberi tanpa kesadaran diri dan tanpa mengingat-ingat kebaikan yang sudah dilakukan, karena Tuhanlah yang mengingat dan menyiapkan penghargaan. Orang-orang yang dihargai dalam Kerajaan Surga bahkan tidak lagi mengingat perbuatan baik mereka, sebab mereka melakukannya dengan tulus di hadapan Tuhan. Yang mendorong mereka bukanlah upah yang terlihat, melainkan kesadaran bahwa Tuhan melihat dan wajah-Nya menjadi cukup sebagai motivasi. Yesus menegur sikap orang Farisi yang melakukan kebaikan demi dilihat dan dihargai manusia, karena itu berarti mereka tidak lagi memandang Tuhan. Jika kebaikan hanya dilakukan saat ada orang lain yang melihat, hal itu justru merendahkan Tuhan yang selalu melihat. Karena itu Tuhan mengingatkan agar tidak mengejar penghargaan manusia. Namun ini tidak berarti perbuatan baik sama sekali tidak boleh dilaporkan. Bagaimana misalnya dalam organisasi aksi kasih melaporkan apa yang sudah dilakukan? Setiap orang perlu menjaga isi hati mereka agar mereka betul-betul melakukannya demi Tuhan, bukan melakukan itu demi dilihat oleh orang. Tetapi bukan berarti tidak boleh sama sekali, karena ada tempatnya untuk memberikan pertanggungjawaban. Dalam sidang sinode, koordinator tim aksi kasih itu memberikan laporan apa yang sudah dikerjakan. Dia melakukan itu bukan untuk dapat tepuk tangan, tetapi karena dia sedang memberikan pertanggungjawaban karena semua gereja ikut bersama-sama memberikan dukungan.
Memang dalam zaman modern ini problem kemiskinan ini terus ada. Kalau tidak hati-hati, kemiskinan itu akhirnya dipakai menjadi alat politik. Di Indonesia salah satu hukumnya adalah fakir miskin, anak terlantar dipelihara oleh negara. Waktu saya masih kecil saya rasa, itu bagus, orang miskin memang urusan negara. Tetapi waktu hal itu akhirnya kita geser menjadi urusan negara, gereja atau mungkin urusan Tuhan, kita akhirnya tidak melihat bahwa itu sebenarnya tanggung jawab dan bagian kita untuk menolong orang yang membutuhkan. Waktu masalah kemiskinan itu diserahkan kepada pemerintah untuk membereskan, kita bisa melihat sebenarnya akhirnya banyak sekali terjadi penyalahgunaan. Banyak uang yang masuk ke badan filantropi malah dipakai untuk kepentingan badan itu, seperti kasus NKF di Singapura. Kita melihat yang Alkitab katakan itu real, masalah kemiskinan akan terus ada dalam dunia yang jatuh dalam dosa. Sebenarnya Tuhan masih mengajak kita untuk tetap berbagian dalam menolong orang-orang yang kita tahu berada dalam kebutuhan.
Marilah kita melakukannya dengan tiga kesadaran tadi. Pertama, menyadari bahwa kelebihan kita itu adalah anugerah Tuhan untuk menolong orang lain. Itu bukan karena kerja keras kita, itu anugerah Tuhan mengizinkan kita berbuah banyak. Kalau kita berpikir bahwa kelebihan saya karena saya kerja keras atau karena saya pintar, berat untuk kita menolong orang lain. Kedua, kita mesti menyadari kita menolong orang karena kita sadar bahwa kita adalah satu kesatuan. Kita semua adalah saudara, sesama anak-anak Tuhan. Ketiga, karena problem kemiskinan memang akan terus ada di dalam dunia yang jatuh dalam dosa ini. Ini justru adalah kesempatan bahwa Tuhan masih mau memakai kita untuk menjadi berkat bagi orang lain. Semoga itu terus mendorong kita, untuk boleh melakukan hal ini dengan tidak jemu-jemu. Jadikan suatu kebiasaan, jangan tunggu untuk jadi kaya karena kita tidak pernah cukup kaya. Memang ada masa-masa di mana kita benar-benar kurang, tentu sulit untuk kita memberi. Tetapi kalau kita sudah memiliki kehidupan, Saudara bisa menilai sendiri. Mari kita biasakan untuk menyisihkan uang untuk menolong orang lain. Sebagai orang Kristen, saya pikir pasti waktu kita managing money, kita biasakan menyisihkan untuk menolong orang lain. Jangan juga berpikir bahwa ini masalah organisasi atau pemerintah atau gereja saja. Tentu akan ada badan-badan yang melakukan hal tersebut dan kita perlu bertanggung jawab mengetahui badan mana yang betul-betul melakukannya dengan baik. Tetapi itu tetap tanggung jawab pribadi kita dalam kita melihat keadaan orang-orang di sekitar kita. Itu sukacita kalau kita bisa melakukannya, karena jumlah yang segitu yang kita berikan mungkin sangat berarti bagi orang yang kita tolong. Janganlah kita menjadi kalkulatif dan self aware waktu kita menolong. Tidak perlu membuat orang-orang tahu dan tidak perlu hitung-hitung karena ultimately Tuhan yang akan hitung. Lakukanlah itu karena engkau melihat kepada wajah Tuhan. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita.