Download versi cetak: 1255_1428_KebaktianPagiSore_2026-15-Mar

Eksposisi Matius (90) – Kemiskinan dan Manipulasi Dosa (2)

Matius 6:1-4; Kisah Para Rasul 4:32, 34a

Pdt. Adrian Jonatan M.Th

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Sebagai pengikut Kristus, kita diajak untuk memberi pertolongan kepada mereka yang berkekurangan. Bukan sebagai kewajiban yang membebankan kita, tetapi karena kerinduan dari dalam hati kita, karena kita mau menjadi sama seperti Bapa kita yang di surga. Tentu saja di dalam dunia yang jatuh di dalam dosa, mengikuti Tuhan akan menghadapi tantangan berat, perlu sacrifice, tetapi Yesus berkata, “Kalau engkau betul-betul menjadi pengikut Kristus, engkau melakukannya dengan ringan.”

Dalam Matius 6, Yesus membicarakan tiga hal yang biasa manusia lakukan sebagai kewajiban agamanya: memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa. Tetapi dalam bahasa aslinya, ini lebih cocok diterjemahkan sebagai melakukan kesalehan atau kebenaran.

Orang yang betul-betul mengikut Kristus diajak untuk melakukan ini bukan sebagai kewajiban agama, tetapi untuk menghidupi kebenaran. Mereka melakukannya bukan supaya mereka mendapatkan kebenaran, tetapi justru karena mereka sudah berada di dalam kebenaran dan mereka menghidupi kebenaran itu. Memberi sedekah atau pertolongan kepada orang yang berkebutuhan itu juga bukan sekadar karena kasihan, atau karena kita merasa diri baik dan penuh dengan kelimpahan, tetapi kita sedang menolong orang yang berada dalam kemalangan karena ketidakbenaran (unrighteousness). Ada orang yang terus-menerus berada di dalam lingkaran kesulitan dan tidak bisa keluar dari keadaan itu, mungkin karena bencana, dikerjain oleh orang lain, atau sakit penyakit. Waktu kita menolong orang itu, kita menegakkan kebenaran baginya.

Landasan untuk menolong orang itu sudah diberikan dengan jelas dalam Perjanjian Lama. Pertama, menyadari bahwa kelebihan yang kita miliki itu adalah anugerah Tuhan. Mungkin ada dari kita yang sedang berada di dalam kekurangan, tetapi kalau kita bisa makan dan hidup, kita bisa membeli apa yang kita butuhkan, kita sebenarnya sudah mengalami kecukupan. Lalu kelebihan yang kita miliki adalah pemberian Tuhan, dan kita boleh pikirkan bagaimana kita bisa berbagian dalam pekerjaan Tuhan dan menolong orang lain. Kedua, menyadari bahwa kita semua adalah satu keluarga. Bangsa Israel diajar untuk melihat bahwa mereka itu satu keluarga, sehingga kalau ada yang menderita karena ketidakbenaran, mereka bersama-sama berbagian untuk menanggung. Ketiga, bahwa problem kemiskinan ini akan terus ada. Ini terjadi bukan karena Tuhan memberikan kurang, tetapi karena ada problem ketidakbenaran dan ketidakadilan. Tuhan mengundang kita untuk berbagian di dalam menopang kebenaran.

Tuhan mau kebenaran ditegakkan dalam dunia ini, sehingga kita perlu melihat segala sesuatu yang terjadi dalam dunia ini di dalam konteks mengerti kebenaran itu. Kalau kita sekadar kasihan, tanpa sadar kita sedang mengizinkan ketidakbenaran itu terus terjadi. Misalnya, ada orang yang memberikan pertolongan kepada orang yang minta-minta di jalan karena kasihan. Tanpa dia sadari, dia mungkin sedang mengizinkan ketidakbenaran terus terjadi, karena pengemis itu terus minta-minta di sana, menyadari bahwa ini lebih baik daripada kerja. Saya bukan mengatakan bahwa semua orang yang minta-minta di jalan itu seperti itu, juga bukan mengatakan bahwa Saudara tidak boleh sama sekali memberikan kepada orang yang di jalan. Tetapi kalau kita tidak berhati-hati, dan memberi hanya sekadar karena merasa kasihan, kita tanpa sadar sedang mengizinkan proses ketidakbenaran terus berjalan. Kita dipanggil untuk menolong orang yang kekurangan, tetapi dengan mindset menegakkan kebenaran, betul-betul menolong orang itu keluar dari ketidakbenaran atau kesulitan yang dia alami.

Itulah sebabnya dalam Gereja Mula-mula, ada satu kata kunci yang muncul: Tidak ada lagi yang berkekurangan. Mereka bukan mengizinkan orang kekurangan terus-menerus kekurangan. Mereka akan berusaha untuk melihat kenapa kamu berada dalam keadaan ini? Bagaimana kelebihan saya berguna untuk menolong kamu keluar dari ketidakbenaran ini. Sehingga kamu boleh bekerja dan memiliki kecukupan. Dan bukan hanya cukup, kamu juga mempunyai kelebihan untuk bisa menolong orang lain lagi. Karena itulah yang Tuhan inginkan terjadi kepada setiap orang di dalam kebenaran.

Mengenai kemiskinan, ketidakadilan, ketidakbenaran, saya mengajak kita melihat lima cerita tentang bagaimana dosa itu masuk ke dalam dunia ini dan merusak kebenaran sehingga terjadi kekurangan atau kemiskinan itu.

Pertama, cerita orang Israel menindas orang yang lemah. Orang Israel diberikan perintah oleh Tuhan untuk saling menolong saudara mereka yang kekurangan, tetapi malah memanfaatkan kekurangan atau kelemahan orang lain untuk menambah kekayaannya sendiri. Orang yang sedang mengalami bencana dan tidak punya makan, bukannya ditolong, tetapi malah ditindas untuk menjual tanahnya, bahkan dengan harga yang lebih murah, supaya dia punya uang untuk makan. Tuhan melihat semua itu dan marah kepada mereka yang sengaja menginjak-injak kebenaran, sampai akhirnya mereka dibuang ke dalam pembuangan.

Tuhan melihat ketidakbenaran yang terjadi dalam dunia ini. Cuma kadang memang yang membingungkan adalah kita tidak mengerti kenapa Tuhan mengizinkan ketidakbenaran terjadi, dan tidak langsung menghukum mereka yang melakukan ketidakbenaran itu? Di sini kita perlu melihat perbedaan antara kebenaran Tuhan, standar kebenaran Tuhan dan kebesaran toleransi Tuhan. Standar kebenaran Tuhan itu begitu tinggi, tetapi Tuhan juga mempunyai toleransi yang besar. Dia tidak segera menghukum. Dia mengizinkan orang yang melakukan ketidakbenaran bergumul supaya dia kembali kepada the right standard. Tetapi itu bukan berarti bahwa Tuhan membiarkan atau mengizinkan supaya ketidakbenaran terus terjadi. Tuhan mengizinkan sampai toleransi-Nya, baru kemudian penghakiman Tuhan itu datang. Waktu Tuhan memberi toleransi, bukan berarti Tuhan tidak akan menghakimi, tetapi Tuhan menanti pertobatan supaya orang kembali kepada standar Tuhan.

Problemnya adalah kita sering memakai standar kita sendiri dan men-judge standar Tuhan. Standar kita itu jauh lebih rendah daripada standar Tuhan. Kita bertanya, “Tuhan, orang ini sudah baik kok. Setiap kali saya kesulitan, dia memperhatikan saya. Kok Kau sebut dia berdosa?” Kita melihat orang lain, “Tuhan, ini orang jahat. Kenapa Tuhan tidak langsung hukum?” Kita tidak sadar bahwa toleransi Tuhan masih jauh lebih besar. Sebenarnya kalau Tuhan mau menuntut dengan standar-Nya, semua orang akan hancur. Kita sendiri juga tidak masuk ke dalam standar Tuhan. Tetapi Tuhan belum hukum karena toleransi-Nya masih ada, tetapi bukan berarti Tuhan tidak melihat. Kalau kita mengerti standar Tuhan dan toleransi Tuhan, kita bisa mengerti kenapa di dalam Alkitab kadang-kadang Tuhan memberikan hukuman yang begitu besar, tetapi juga kadang-kadang ada orang jahat yang belum Tuhan hukum. Itu cerita yang pertama, yang mengajarkan kepada kita di dalam keadaan kekurangan, ketidakbenaran dalam dunia ini, kita boleh memiliki damai sejahtera karena kita menyadari ada Tuhan yang melihat.

Kedua, cerita orang Farisi. Setelah orang Israel kembali dari pembuangan, mereka banting setir. Sekarang orang Farisi menyadari, “Kita tidak menolong orang yang kekurangan, makanya Tuhan membiarkan bangsa Israel dibuang. Makanya sekarang semua orang harus menolong orang yang berkekurangan.” Akhirnya setiap orang sekarang butuh menunjukkan bahwa mereka menolong orang miskin. Bukan betul-betul ingin menolong, tetapi simply karena mau dilihat oleh orang lain. Dan karena itu, muncullah orang-orang yang minta-minta di jalan, karena di jalan dapat dilihat banyak orang. Padahal jika firman Tuhan dijalankan dengan sungguh-sungguh, seharusnya justru tidak ada lagi orang yang minta-minta di jalan, karena mereka sudah keluar dari ketidakbenaran yang mereka alami.

Sekarang modelnya sudah berbeda. Bukan lagi minta-minta di jalan, tetapi melalui media sosial, bagaimana mereka menolong orang lain itu direkam dan menjadi konten. Tetapi yang menjadi tanda tanya besar, ke mana sebenarnya uang itu? Betul tidak menolong orang yang berkebutuhan? Kalau kita ikuti uangnya, banyak milioner yang uang filantropi malah dipakai untuk menghindari pajak, akhirnya kembali mendukung mereka lagi.

Inilah problem yang terjadi di dalam dunia ini. Tiap kali melihat keadaan ini, kita cuma bisa, “Aduh, Tuhan, dosa itu betul-betul merambak ke dalam seluruh sistem masyarakat.” Ketidakbenaran terus-menerus berkembang. Tetapi biarlah kita kembali menyerahkan kegelisahan kita ke dalam tangan Tuhan. Tuhan yang tahu keadaan ini semua. Biarlah kita fokus kepada ketidakbenaran yang sedang terjadi dan berusaha untuk menegakkan kebenaran.

Nah, bagaimana kita menjadi terang kalau orang lain tidak tahu perbuatan baik kita? (Mat. 5:16) Waktu Yesus bicara mengenai terang, itu adalah identitas, bukan perbuatan kita. Yesus bukan berkata, “Kamu harus menjadi terang.” Tetapi Yesus berkata, “Kamu adalah terang.” Kamu dijadikan terang oleh Tuhan, itulah identitasmu dan jangan ditutupi. Hiduplah sungguh-sungguh sebagai pengikut Kristus dan tidak malu kalau orang dalam dunia salah mengerti dan mencemooh kamu. Dan kalau hidupmu sesuai dengan identitasmu, orang akan melihat apa yang kamu lakukan, dan ujungnya kemuliaannya adalah untuk Tuhan. Di sisi lain, ada saatnya ketika bantuan diberikan, perlu menyatakan dari siapa datangnya. Ini sebagai bentuk pertanggungjawaban, bukan untuk membawa kemuliaan kepada dirinya. Justru bisa berbahaya jika uang pertolongan itu mengalir tetapi tidak jelas dari mana. Sehingga perlu ada suatu keseimbangan dalam hal ini.

Ketiga, cerita mengenai Yudas. Yudas adalah pengikut Kristus yang sangat memperhatikan orang yang berkekurangan, tetapi dia juga mengambil sebagian dari uang untuk orang yang berkekurangan. Makin banyak organisasi-organisasi dalam dunia ini, bahkan juga dalam gereja, yang kelihatannya memperhatikan orang yang berkekurangan, sebenarnya mengambil banyak uang untuk dirinya sendiri, malah dipakai untuk membiayai sesuatu yang sebenarnya bukan apa yang kelihatan. Sebagai contoh, USAID adalah organisasi di Amerika yang memberikan pertolongan kepada negara-negara yang sedang berkembang. Beberapa waktu yang lalu, ditemukan bahwa ternyata mereka menyalurkan uang untuk membangun negara-negara yang terbelakang tetapi sebenarnya diberikan kepada gerakan LGBT. Di dalam dunia ini, banyak fenomena seperti Yudas ini sehingga kita perlu berhati-hati dalam melihat ini semua.

Keempat, cerita Ananias dan Safira. Setelah Gereja Mula-mula mengerjakan apa yang Tuhan ajarkan, tidak ada lagi yang berkekurangan. Inilah efek dari komunitas yang betul-betul hidup di dalam Kristus, berjuang bersama-sama mengatasi kekurangan-kekurangan yang ada. Semua orang yang kekurangan dimampukan supaya mereka boleh bekerja.

Ini bukan berarti bahwa Gereja Mula-mula itu adalah komunis, di mana semua orang harus menjual semua miliknya lalu kemudian dibagi rata. Tidak. Sebab kalau orang melakukan hal itu, mereka sedang menjadi munafik karena bukan dari dalam hati mereka ingin betul-betul menolong. Gereja Mula-mula melakukan itu karena mereka sudah mengalami kasih Tuhan. Misalnya di dalam Kisah Para Rasul ada satu orang bernama Barnabas. Dia menjual ladang, miliknya, lalu kasih kepada para rasul, untuk digunakan untuk menolong orang-orang sehingga tidak ada yang kekurangan. Barnabas melakukannya karena dia didorong oleh kasih Tuhan. Ini kuncinya. Dia punya kelebihan. Dia melihat di dalam gereja ada orang-orang yang berkekurangan. Lalu dia bawa kelebihannya, “Ini kelebihan saya untuk menolong orang-orang yang berkekurangan.” Dan dia percaya bahwa pemimpin gereja akan betul-betul membaginya dengan bijaksana.

Tetapi kemudian ada cerita orang yang lain di dalam gereja yang sama, yaitu Ananias dan Safira. Ananias dan Safira juga melakukan hal yang seperti dilakukan oleh Barnabas. Tetapi mereka bukan melakukannya karena mereka didorong oleh kasih Tuhan. Dari luar kelihatan mirip dengan Barnabas—menjual miliknya lalu kemudian memberikannya kepada gereja—tetapi sebenarnya mereka hanya memberikan sebagian. Masalahnya di sini bukan cuma karena mereka memberi sebagian. Ini bukan karena para rasul ingin semuanya. Petrus berkata, “Kalau kamu tidak jual, itu kan tetap milikmu.” Jadi bukan suatu kewajiban untuk dia menjualnya. Lakukanlah itu karena engkau betul menyadari kasih Tuhan dan mau berbagian di dalam kebenaran. Masalahnya Ananias dan Safira ini adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Mereka berpura-pura menjadi bagian dari gereja, meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang dalam gereja, karena mereka mau advantage dari hal gereja. Dan di dalam momen itu, Tuhan langsung menghukum mereka. Kita kadang-kadang ngeri juga melihat kenapa Tuhan langsung memberi hukuman yang begitu kejam. Ada komentator yang mengatakan bahwa di dalam awal pembentukan, Tuhan tidak memberikan toleransi untuk menunjukkan apa standar-Nya. Standar Tuhan di dalam masa-masa awal perlu dimengerti dengan jelas. Apalagi itu akan dicatat oleh Alkitab untuk dibaca oleh umat Tuhan sepanjang zaman. Kalau Tuhan tidak segera menghakimi orang di waktu berikutnya, itu bukan berarti standar Tuhan menjadi kendor, tetapi karena Tuhan memberikan toleransi.

Kalau kita mencari kedalaman hati kita sesungguhnya, banyak dari kita mungkin mirip dengan Ananias dan Safira. Kita datang dalam gereja, tidak betul-betul percaya kepada Tuhan dan mau memberikan hidup kita bagi Tuhan. Kita melihat bahwa gereja adalah sesuatu yang menguntungkan kita. Kita berpura-pura berlaku seperti orang-orang dalam gereja. Biarlah peringatan apa yang terjadi kepada Ananias dan Safira ini boleh menyentuh hati kita. Dan waktu Tuhan masih toleransi, sebenarnya Tuhan sedang menanti supaya kita bertobat. Biarlah kita betul-betul menjadi bagian dalam gereja yang hidup dan didorong karena kasih Tuhan dan karena kita mengasihi Tuhan. Dan waktu kita mengasihi, berjuang bagi masalah ketidakbenaran dalam dunia ini, biarlah kita betul-betul melakukannya karena kita melihat kepada Bapa yang di surga.

Terakhir, cerita orang-orang yang tidak bekerja di Tesalonika (2Tes. 3:10-15). Di dalam gereja Tesalonika, waktu gereja bertumbuh, ada orang-orang di dalam gereja yang tidak bekerja dengan sungguh-sungguh. Mereka bukan orang yang tidak bisa mendapat pekerjaan atau orang cacat yang tidak bisa bekerja yang justru harus ditolong. Tetapi orang-orang ini sengaja melihat sistem gereja yang bisa menolong dan menopang mereka sehingga mereka dapat terus berada dalam keadaan tidak bekerja. Paulus melihat mereka sebagai orang-orang yang sebenarnya sedang menghidupi ketidakbenaran. Karena itulah kemudian Paulus berkata, “Yang tidak bekerja janganlah dia makan.” Bicara mengenai kasih di dalam gereja bukan menjadi alasan sehingga orang tidak perlu bekerja. Sebaliknya, waktu orang Kristen ingin menolong orang lain, mereka seharusnya memikirkan bagaimana menolong bukan sekadar dengan memberikan makan bagi dia hari demi hari, tetapi juga membawanya keluar dari keadaannya yang tidak bekerja.

Max Weber, dalam karyanya “Calvinism and Capitalism”, mengatakan bahwa di dalam kebudayaan yang dipengaruhi oleh kekristenan, biasanya tendensinya menuju kepada kapitalisme. Bukan kapitalisme yang mengeruk keuntungan dan menekan orang lain, tetapi kapitalisme yang melihat bahwa saya mempunyai kapital. Saya harus memikirkan baik-baik bagaimana kapital ini bukan hanya untuk saya habiskan sendiri, tetapi juga untuk menolong orang lain. Sehingga kapital itu dia pakai bukan sekadar untuk memberi orang makan, tetapi juga menyediakan pekerjaan kepada orang lain supaya mereka bisa bekerja dan kemudian cari makan sendiri. Tujuan dia membuka usaha bukan hanya untuk mendapat uang sebanyak-banyaknya, tetapi supaya dia boleh mengajak orang lain bekerja di dalam perusahaannya dan bisa mendapat makanan dari bekerja. Dan waktu perusahaan itu dikelola dengan baik, orang-orang di dalamnya bekerja dengan sungguh-sungguh, itu memberi hasil yang lebih banyak lagi. Berarti kapitalnya bertambah lagi. Berarti saya harus buka lagi suatu usaha yang bisa membawa orang bekerja lagi. Dan saya harus berhati-hati agar di dalam perusahaan saya tidak ada orang yang tertekan karena ketidakbenaran. Di dalam sistem seperti ini, dunia akan terus berkembang. Kita akan terus bersama-sama menikmati apa yang Tuhan berikan di dalam dunia ini.

Jadi, menanggapi ketidakadilan dan ketidakbenaran yang menyebabkan kekurangan dan kemiskinan dalam dunia ini, Tuhan sudah memberikan solusinya. Solusi yang sangat kuno, solusi yang diberikan 2.000 tahun yang lalu: Yesus yang datang dalam dunia dan mati di kayu salib. Kenapa solusi ini akan membereskan masalah kekurangan dan kemiskinan? Karena orang-orang yang dipersatukan di dalam Kristus melihat apa yang Yesus berikan kepada diri mereka. Mereka bukan menyamaratakan semuanya, sama-sama miskin atau sama-sama kaya. Di dalam dunia ini selalu ada yang lebih kaya dan ada yang lebih miskin. Tetapi yang lebih kaya menyadari, saya mau berbagian untuk menolong orang yang kekurangan, karena semua adalah satu kesatuan di dalam tubuh Kristus. Dan tentunya, setan tidak berhenti bekerja, terus menyusupi tubuh Kristus dengan orang-orang yang sebenarnya bukan bagian dalam tubuh Kristus, seperti Ananias dan Safira. Dan di sinilah kita melihat, bagaimana gereja perlu terus diingatkan akan konsep kebenaran, agar kita bertobat dan betul-betul menjadi orang yang dipersatukan dalam Kristus. Kemudian biarlah kita sadar bahwa kelebihan kita adalah anugerah Tuhan, dan Tuhan masih terus mengundang kita untuk berbagian di dalam menolong orang yang kekurangan, orang yang berada di dalam ketidakbenaran. Kiranya Tuhan memberikan kebijaksanaan kepada kita masing-masing untuk mengelola kelebihan kita. Dan kiranya kita boleh menghidupi apa yang kita renungkan pada hari ini.

Close
Close Search Window