Download versi cetak: 1288_1461_KebaktianPagiSore_2026-1-Nov

Eksposisi Matius (96) – Jadilah Kehendak-Mu

Matius 6:9-10

Pdt. Adrian Jonatan M.Th

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Ini adalah bagian dari Doa Bapa Kami. Hari ini kita akan berfokus kepada ayat yang ke-10. Datanglah Kerajaan-Mu dan jadilah kehendak-Mu.


Kerajaan Allah adalah suatu topik yang sangat penting, tetapi suatu topik yang sering kali kita salah mengerti. Karena di dalam dunia ini, waktu kita membayangkan suatu kerajaan, kita sering kali membayangkan suatu batas, suatu daerah, atau suatu istana kerajaan. Memang kadang-kadang, dengan gambaran-gambaran yang juga ada dalam Alkitab, seakan-akan Kerajaan Allah adalah sesuatu yang jauh di sana, yang akan datang. Tetapi Kerajaan Allah bukan hanya bicara mengenai hal tersebut. Kata “kerajaan” bukan sekadar bicara mengenai kingdom, tetapi kingship, yaitu realitas bahwa Allah adalah Raja. Kita sulit mengerti tema kerajaan ini karena memang kita hidup di dalam dunia yang menolak Tuhan, yang tidak pernah hidup dengan sepenuhnya berada di dalam konsep kerajaan.

Mengenai Kerajaan Allah, David Pawson, seorang teolog dari UK, menjelaskan demikian, “Saya tidak bisa memberi contoh di dalam dunia ini seperti apa kerajaan itu. Tetapi saya bisa memberi contoh apa yang bukan kerajaan. Apa yang bukan kerajaan? United Kingdom. It is neither united nor a kingdom.” Mengapa? “Karena walaupun ada ratu, dia tidak ada hubungannya dengan saya. Saya tidak terus memikirkan mengenai ratu itu. Saya tidak mengagumi kemuliaan dan kebesaran ratu itu.” Kehendak ratu ini tidak menjadi kehendaknya. Kerohanian ratu ini juga tidak memengaruhi kerohaniannya. Oleh sebab itu, dalam hal ini, United Kingdom bukanlah sebuah kerajaan.

Apakah Kerajaan Allah? Kerajaan Allah itu berarti Allah adalah Raja. Kemuliaan Allah adalah sesuatu yang harus membuat hati kita terpukau dan menyadari betapa mulianya Tuhan. Kehendak Allah harus menjadi kehendak kita. Kita harus menghabiskan hari-hari kita berpikir bagaimana memakai kehidupan kita untuk menjadikan kehendak Allah nyata. Kebenaran, kesucian, dan kerohanian Allah seharusnya menjadi teladan bagi keadaan kita.

Konsep Kerajaan Allah ini adalah konsep yang terus-menerus dijelaskan dan diajarkan oleh Yesus sendiri. Kalau kita bertanya apa yang terus-menerus Yesus ajarkan selama Dia hidup dalam dunia ini? Ada yang berpikir: kasih. Sebenarnya berapa kali Yesus bicara mengenai kasih? Cuma tiga kali: kasihilah Allahmu dengan segenap hatimu; kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; dan kiranya engkau saling mengasihi supaya dunia tahu bahwa engkau adalah pengikut-Ku. Ada yang mengatakan: keselamatan; Yesus datang untuk mengajarkan mengenai keselamatan, yang percaya kepada-Nya masuk surga. Atau ada yang mengatakan: mukjizat, atau pertobatan. Sebenarnya topik-topik ini jelas Yesus bicarakan. Tetapi kalau Saudara memperhatikan tema yang terus berulang di dalam pengajaran Yesus, maka semua yang tadi kita sebut adalah berkaitan dengan Kerajaan Allah. Yesus sangat tertarik dengan tema Kerajaan Allah. Herannya kita sering kali melewatkan hal ini. Kita tertarik dengan apa yang menarik bagi diri kita dan tidak tertarik dengan apa yang menarik bagi Yesus.

Semua topik tadi bisa dilihat di dalam kacamata Kerajaan Allah. Apa itu kasih? Kasih adalah gaya hidup dan energi yang mendorong semua orang yang berada dalam Kerajaan Allah. Apa itu keselamatan? Menjadi warga Kerajaan Allah. Apa itu pertobatan (repentance)? Berarti menyerahkan diri, karena Kerajaan Allah sudah dekat. Musuh-musuh Kerajaan Allah akan mengalami akibat dari perlawanan mereka. Dan karena itulah beritanya, ”Bertobatlah karena Kerajaan Allah sudah dekat.” Ubah kesetiaanmu, ubah ketaatanmu. Taatlah kepada kerajaan yang baru datang ini.

Perampok yang disalib di sebelah kanan Yesus menangkap hal ini dengan sangat benar. Pertama, dia sadar bahwa dia adalah orang berdosa dan layak menerima akibat dari dosanya. Dia bukan mengatakan, “Tuhan, saya percaya, izinkan saya masuk surga.” Sebaliknya, dia menegur perampok yang lain dengan mengatakan, “Kamu tidak sadar ya bahwa kita layak mendapatkan akibat dari dosa kita.” Dan yang kedua, dia sadar bahwa yang mati di sebelah dia ini adalah Raja yang lebih dari raja dalam dunia. Karena dia berkata kepada Yesus, “Yesus, ingatlah akan aku kalau Engkau kembali dalam Kerajaan-Mu.” Dia tidak menuntut mau masuk surga karena sudah percaya, melainkan dia hanya memohon belas kasihan dari seorang Raja. Raja apa? Yesus akan mati, mana bisa jadi Raja? Tidak demikian! Perampok ini sadar, walaupun Dia mati, Dia adalah Raja di atas kematian. Orang ini akan kembali di dalam Kerajaan yang sesungguhnya. Inilah iman dari seseorang yang betul-betul berada di dalam Kerajaan Allah. Inilah ide dari Kerajaan Allah yang perlu kita miliki. Sehingga kita menyadari Kerajaan Allah ini bukan sekadar sesuatu yang akan datang, yang ada jauh di sana, sehingga saya akan baru serius memikirkan Kerajaan Allah kalau rasanya sudah dekat. Kalau kita mengerti konsep Kerajaan Surga sebagai Allah sebagai Rajanya, kapan kita bisa masuk dan hidup dalam Kerajaan Surga? Sekarang. Kita bisa hidup di dalam Kerajaan Surga sekarang dengan menghidupi realitas Allah sebagai Raja dalam hidup kita. Panggilan untuk menjadi warga Kerajaan Allah itu justru sekarang. Nyatakanlah kesetiaanmu kepada Raja itu sekarang. Tidak perlu menebak-nebak kapan Kerajaan itu akan datang sepenuhnya, tetapi justru di dalam kehidupan kita sehari-hari, kita menghidupi realitas Allah sebagai Raja. Itulah warga Kerajaan Allah. Kalau kita hanya tunggu sampai sebelum kita mati atau waktu kiamat, berarti kita sedang bersifat oportunis. Tidak ada orang oportunis bisa masuk dalam Kerajaan Surga, karena Kerajaan Surga tidak bisa dipermainkan. Tuhan tahu siapa yang betul-betul menganggap Dia sebagai Raja.


Ada beberapa implikasi kalau kita melihat bahwa Allah adalah Raja. Pertama, kalau Allah adalah Raja, berarti saya bukan raja. Bukan kehendak saya yang paling utama, bukan kehidupan saya yang paling penting, tetapi Allah. Ini justru membuat kita damai dan tenang. Kenapa sering kali kita gelisah? Karena kita merasa bahwa kita harus mempertahankan kerajaan kita menggunakan kekuatan kita sendiri. Tetapi kalau kita menyadari bahwa saya adalah warga dari Kerajaan Surga, berarti hidup saya bukan milik saya, tetapi milik Tuhan. Dan Rajaku adalah Raja yang peduli dengan semua orang yang ada dalam kerajaan itu, sehingga saya tidak dipanggil untuk mempertahankan hidup saya atau kerajaan saya, melainkan untuk menghidupi Kerajaan Surga dan melayani Raja itu. Dan Raja itu akan melindungi saya. Yesus mengajarkan, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, dan segala yang lain yang kamu suka khawatirkan akan ditambahkan kepadamu karena Tuhan tahu engkau membutuhkannya.”

Kedua, kalau kita berdoa, kita mengharapkan datangnya Kerajaan Allah. Meskipun kita hidup dalam kerajaan dunia, kita sadar identitas kita, dan kita tidak kemudian menaruh pengharapan di dalam kerajaan dunia. Sukacita kerajaan dunia tidak menjadi sukacita kita. Apa yang dikagumi, apa yang disembah sujud oleh dunia ini tidak menjadi sesuatu yang kita sembah sujud. Dan ini juga seharusnya memberikan ketenangan dalam hidup kita. Kenapa? Karena waktu kita melihat kekacauan-kekacauan yang terjadi di dalam dunia ini, kita diingatkan kembali bahwa memang kerajaan dunia ini akan berlalu dan Kerajaan Allah sudah dekat. Saat kerajaan dunia mengejar uang dan menaruh pengharapan di dalam uang, begitu ekonomi goyang, kita ikut goyang. Kita menaruh pengharapan dalam satu pemerintah, begitu pemerintah itu goyang, kita ikut goyang. Tetapi kalau kita menaruh pengharapan dalam Kerajaan Allah, waktu melihat kerajaan-kerajaan dunia ini goyang, kita diingatkan kembali bahwa memang Kerajaan Allah sudah dekat.


Implikasi yang ketiga, kalau kita mengatakan kita hidup dalam Kerajaan Allah, berarti kita tidak hidup demi kehendak kita, tetapi demi kehendak Tuhan. Suatu perkembangan yang alami saat kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu”, maka akibatnya, “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga”. Di surga kehendak Allah jadi, tetapi kita berdoa dan kita berjuang kiranya kehendak Allah juga jadi di dalam dunia ini.

Kita melihat beberapa ayat seputar topik “jadilah kehendak-Mu”. Ini adalah topik yang begitu besar dan penting sekali untuk kita pikirkan, tetapi juga sering kali disalahmengerti oleh banyak orang yang ingin mencari kehendak Allah. Matius 7:21: “Bukan setiap orang yang berseru kepadaku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.” Ini sangat konsisten dengan tema sebelumnya. Orang yang berada dalam Kerajaan Surga adalah orang yang menyadari Allah adalah Raja, dan orang yang menyadari bahwa Allah adalah Raja adalah orang yang menghabiskan hidupnya untuk melakukan kehendak Rajanya. Ini bukan berarti orang berada dalam Kerajaan Allah karena mereka melakukan kehendak Allah. Mereka berada dalam Kerajaan Allah karena Allah yang memilih mereka untuk berada dalam Kerajaan Allah, karena Yesus mati bagi mereka, dan karena Roh Kudus membawa keselamatan itu ke dalam hati mereka dan melahirbarukan mereka. Semuanya adalah tindakan Allah. Manusia bisa berada dalam Kerajaan Allah karena Allah yang bertindak, bukan kita. Tetapi kita bisa meyakini dan menyadari bahwa kita adalah warga Kerajaan Allah, waktu kita menyadari saya mau memakai hidup saya untuk melakukan kehendak Allah. Kalau kita kemudian berkata, “Wah, tidak seru ya masuk Kerajaan Allah. Saya pikir masuk Kerajaan Allah itu berarti Tuhan menerima saya apa adanya, lalu saya bisa melakukan apa saja yang saya mau.” Di ayat tadi tidak demikian; dikatakan tidak semua orang yang sekadar menyebut “Tuhan, Tuhan”, masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kalau kita hidup di dalam dunia ini hanya berfokus kepada kehendak kita dan kehidupan kita, kita sebenarnya bukan warga Kerajaan Allah. Kiranya kita boleh merefleksikan dengan benar bagaimana menjadi warga Kerajaan Allah.

Sering kali orang-orang ingin mencari kehendak Allah, tetapi bukan di dalam pengertian yang benar. Mereka mencari kehendak Allah supaya tahu apa yang akan terjadi. John Piper mengatakan, “Kalau kamu mencari kehendak Allah demikian, kamu tidak sedang mencari kehendak Allah. Kamu tidak perlu hamba Tuhan untuk mencari kehendak Allah. Kamu cuma perlu ahli nujum.” Ini bukan mencari kehendak Tuhan. Sebagai warga Kerajaan Allah, pertanyaan kita seharusnya adalah: Apa kehendak Allah itu, dan bagaimana saya memakai hidup saya untuk menjadikan kehendak Allah itu menjadi nyata, di bumi seperti di surga? Karena di surga semua warga Kerajaan Surga itu berjuang dan bekerja untuk menyatakan kehendak Allah itu jadi, cuma di dalam dunia ini manusia tidak mengerjakan kehendak Allah.

Sebenarnya kehendak Allah itu ada dua macam. Walaupun kadang-kadang Alkitab memakai istilah yang sama, tetapi saya pakai dua istilah yang membedakan, yaitu kehendak dan kedaulatan.

Kehendak Allah adalah apa yang Allah sudah nyatakan. Tetapi kadang-kadang dalam dunia yang berdosa, kehendak Allah tidak terjadi. Bukan berarti Allah kaget, lalu kemudian Allah lepas kontrol. Ini memang sesuatu yang sulit untuk kita mengerti, karena sebagai manusia, kita tidak punya kedaulatan, kita cuma punya kehendak. Dan kalau kehendak kita tidak terjadi, kita panik. Tetapi Allah tidak demikian. Kehendak Allah adalah apa yang Allah nyatakan tetapi di dalam kebebasan yang Tuhan berikan. Makhluk yang diciptakan tidak melakukan kehendak Allah, tetapi itu masih berada di dalam kedaulatan Allah. Sebagai contoh, Allah tidak mau manusia jatuh ke dalam dosa. Tetapi di dalam kedaulatan-Nya, Allah mengizinkan manusia jatuh di dalam dosa, karena Allah menghargai kebebasan yang Dia berikan kepada manusia.

Sebelum kita bicara mengenai kedaulatan Allah, kita perlu bicara mengenai kehendak Allah yang telah dinyatakan. Seluruh Alkitab sudah menyatakan kehendak Allah, jadi ironis kalau kita membaca Alkitab lalu kemudian masih bertanya, “Jadi, kehendak Allah apa?” Kita seakan-akan masih ingin menebak-nebak seperti apa kehendak Allah yang precise, yang khusus. Kita harus kembali melihat bahwa Tuhan sudah menyatakan kehendak-Nya. Misalnya begitu manusia diciptakan, Allah menyatakan kehendak-Nya yang pertama, yaitu, “Bertambah banyak dan penuhilah bumi, berkuasalah atas bumi ini.” Atau, kehendak Allah adalah kita hidup di dalam kebenaran Tuhan, misalnya di dalam 10 Hukum Taurat. Maka kita harus bertanya, bagaimana saya menghidupi kehidupan saya betul-betul menjalani kehendak Allah yang sudah dinyatakan ini?

Kemudian, fokus yang sebenarnya dari kehendak Allah itu bukanlah untuk diri kita, tetapi untuk Kristus. “Lalu kata mereka kepada-Nya: ‘Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?’ Jawab Yesus kepada mereka: ‘Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.’” (Yoh. 6:28-29) Inilah fokus dari kehendak Allah, kita datang dan percaya kepada Yesus. Dan lebih lagi, karena kita sadar bahwa seluruh dunia harusnya melakukan kehendak Allah, itulah mengapa kita mengajak orang lain untuk datang dan percaya kepada Dia juga. Yesus sendiri datang ke dalam dunia ini untuk melakukan kehendak Allah (Yoh. 6:38-40). Saudara melihat contoh yang sangat indah. Seluruh kehidupan Yesus adalah kehidupan untuk melakukan kehendak Allah. Demikian juga seharusnya kita melihat hidup kita.

Tetapi memang di dalam kita bergumul mengenai kehendak Allah, ada beberapa kesulitan atau problem. Banyak orang mencari kehendak Allah tetapi bukan demi Allah, melainkan demi keuntungan dirinya sendiri, sehingga kehendak Allah itu menjadi sesuatu hal yang diperalat untuk men-justify apa yang kita inginkan. Justru sebaliknya, kehendak Allah itu sudah jelas dinyatakan. Tempat kita adalah bukan mencoba mencari-cari siapa tahu ada kehendak Allah yang belum dinyatakan yang sesuai dengan kehendak kita, tetapi yang sudah Tuhan nyatakan saya perjuangkan untuk saya kerjakan.

Misalnya ada seorang laki-laki yang sudah menikah, istrinya cantik. Tetapi ternyata sesudah menikah, dia baru sadar bahwa istrinya ini bukan menjadi penolong, tetapi penodong, perongrong, dan selalu komplain, sehingga dia mulai bergumul, tidak puas dengan pernikahannya. Kemudian di kantor datang seorang asisten, lembut, tidak komplain. Mulailah dia bergumul. Ini fiksi, tetapi Saudara menyadari bahwa ini bisa terjadi kepada kita semua. Laki-laki itu mulai bergumul, “Wah, jangan-jangan saya tidak di dalam kehendak Allah. Kehendak Allah semestinya saya menikah sama yang ini. Dahulu itu saya memang tidak di dalam kehendak Allah, saya mesti cepat-cepat nih kembali ke dalam kehendak Allah.” Bukankah sebenarnya kehendak Allah itu sudah jelas? Pernikahan harus dianggap dengan sangat suci dan kudus. Dan suami harus mengasihi istrinya, istri harus tunduk kepada suaminya. Seandainya saja semuanya tunduk di dalam kehendak Allah, walaupun pernikahan mungkin mulai dengan suatu hal yang berat, jawabannya bukan kemudian membatalkannya; itu berarti kita menolak kehendak Allah lagi. Jawabannya adalah kembali kepada kehendak Allah yang telah dinyatakan, bukan mencari-cari mungkin ada kehendak Allah yang lain. Kembali kepada kehendak Allah yang telah Dia nyatakan, dan di situlah ada pengharapan. Tidak ada pernikahan yang tidak ada pengharapan. Kalau setiap orang di dalam pernikahan itu mau kembali kepada kehendak Allah, pernikahan bisa kembali berada dalam kehendak Allah.

Kesulitan atau problem yang kedua adalah kita melihat kehendak Allah, tetapi kita tidak melihat dari perspektif Kerajaan Allah, sehingga kehendak Allah seakan-akan tidak ada hubungannya dengan kita. Kalau Allah adalah Raja dan kita adalah umat warga Kerajaan Allah, waktu Allah menyatakan kehendak-Nya, siapa yang harus melakukan kehendak itu? Kita. Tetapi sering kali orang berpikir bahwa Allah yang berkehendak, berarti Allah yang kerjakan.

Kalau ada bos datang kepada asistennya, kemudian mengatakan, “Saya mau catatan ini dirapikan lalu tolong dibuat beberapa copy untuk semua orang dalam rapat berikutnya.” Bosnya menyatakan kehendaknya. Lalu kemudian asistennya membalas, “Jadilah kehendakmu. Itu ada pulpen di sana, ada kertas di sana. Silakan, jadilah kehendakmu.” Asisten itu akan langsung dipecat, karena seharusnya sebagai asisten, dia mengerjakan kehendak bosnya. Tetapi ironis, waktu kita mencari dan mendengar kehendak Allah, attitude kita itu sama dengan asisten itu. Malah kita berharap kehendak Allah itu sesuai dengan kehendak kita. Tidak demikian. Waktu kita berkata, “Jadilah kehendak-Mu,” berarti hidup kita harus kita pakai untuk menjalankan kehendak Tuhan.

Jadi kalau kita berdoa, “Jadilah kehendak-Mu,” ada beberapa implikasi. Yang pasti yang jelas, itu berarti bukan kehendakku. Persis seperti apa yang Yesus katakan, “Aku datang bukan untuk menjalankan kehendak-Ku, tetapi untuk menjalankan kehendak Allah.” Kehendak Allah itu bukan sekadar ramalan masa depan, tetapi suatu tugas yang perlu kita kerjakan. Biasakan diri di dalam hari-hari hidup kita untuk memikirkan apa itu kehendak Allah, dan bagaimana kita menghabiskan hidup kita untuk menjadikan kehendak Allah itu menjadi realitas. Biasakan juga untuk tidak menuntut kehendak kita yang terjadi. Bukan apa yang kita suka, tetapi apa yang Tuhan suka.

Dalam dunia ini kita melihat orang makin lama makin tidak puas. Apakah mereka tidak puas karena mereka mengalami penderitaan dan kesulitan? Bukan. Mereka tidak puas karena mereka mempunyai keinginan yang makin lama makin banyak. Di balik banyak keresahan adalah tuntutan demi tuntutan. Kita mesti membiasakan diri justru bersyukur untuk apa yang sudah kita miliki, lalu kemudian bertanya, di dalam keadaan saya yang sebenarnya lebih baik, bagaimana saya bisa lebih baik lagi mengerjakan kehendak Tuhan?

Sekali lagi, jangan biasakan diri kita menuntut kehendak kita. Tuntut diri kita untuk melakukan kehendak Tuhan. Bukan berkata, “Tuhan, jadilah kehendak-Mu, Engkau saja yang kerjakan,” tetapi, “biarlah saya yang melakukan kehendak itu.” Kita mau betul-betul memperhatikan semua kehendak Tuhan yang sudah Tuhan nyatakan. Kita tidak mendengar kehendak Tuhan dengan masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Marilah kita menjadi orang yang tertarik dengan apa yang Tuhan tertarik. Dan inilah yang seharusnya menjadi tujuan dari hidup kita. Kiranya Tuhan memberkati kita semua.

Close
Close Search Window
↑