Download versi cetak: 1454_KebaktianSore_13Sep2026_STong

Panggilan Tuhan pada Elia – 2

Pdt. Dr. Stephen Tong

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Pada waktu kalimat yang diucapkan oleh nabi Elia dikonfirmasikan oleh Tuhan, seluruh bangsa Israel ketakutan dan mereka mengaku dia adalah hamba Tuhan. Dalam 3 tahun sungguh hujan tidak turun dan embun tidak ada di bumi. Manusia yang biasa menerima anugerah Tuhan, mereka tidak pernah sadar betapa pentingnya air di dalam hidup mereka. Setelah berapa bulan tidak hujan, tanah mulai kering, air sungai surut, tunas tumbuhan tidak tumbuh. Orang yang takut kepada Tuhan mulai merasa mungkin dosa telah mengakibatkan kemarahan Tuhan. Orang yang tidak takut Tuhan akan lebih marah kepada Tuhan, mengapa engkau tidak baik pada kami? Kita sering melihat perbedaan reaksi manusia pada Tuhan. Orang yang kurang dapat anugerah mungkin menjadi ateis. Tetapi sama-sama tidak dapat anugerah, ada juga orang yang menjadi lebih rendah hati, lebih takut dan dekat kepada Tuhan.

Tuhan memerintahkan Elia untuk pergi dan tinggal di tepi sungai Kerit dan Tuhan akan memberi makan melalui burung yang membawa roti dan daging untuknya. Elia minum dari air sunga Kerit sampai ketika sungai itu menjadi kering, Tuhan memerintahkan agar Elia pergi ke Sidon. Saya tidak mengerti, mengapa harus ke tempat orang kafir, apalagi harus pergi ke rumah seorang janda dan tinggal di sana. Elia seorang yang taat kepada Tuhan, dia melakukan perintah Tuhan. Ketika Elia tiba di sana, janda itu sedang mengambil kayu mau masuk rumah. Dia akan membakar adonan roti dari tepung terakhir yang dia punyai untuk dia dan anaknya, setelah itu dia bersedia mati. Namun karena perintah Tuhan ia harus membuat roti untuk Elia terlebih dahulu, janda itu taat. Sesudah ia menyuguhkan roti itu pada Elia, dia masuk dan melihat bahwa tepung dan minyak tidak berkurang, sehingga dia masih bisa membuat roti untuk dia dan anaknya. Demikian juga keesokan harinya. Dengan cara begini Elia dan janda dan anaknya tidak mati. Sampai kapan? Elia tinggal di rumah janda di Sidon sampai hujan turun. Mungkin engkau mengatakan itu cerita kuno, apakah mungkin masih terjadi pada hari ini? Tiga hari yang lalu ada orang dari Medan datang ke Jakarta menceritakan bagaimana Tuhan pimpin proses pembangunan gereja di Medan.  Waktu Medan mau bangun gereja, mereka punya uang sedikit sekali. Lalu Tuhan pimpin, Tuhan gerakkan mereka mulai bangun. Setelah mulai bangun, mulai pancang fondasi, mendadak ada orang kirim uang, sehingga mereka bisa meneruskan pembangunan. Sampai hari ini hampir 2 tahun, setiap kali uang mau habis, ada orang kirim uang persis sejumlah yang diperlukan. Waktu saya dengarkan kalimat-kalimat itu, saya bersyukur kepada Tuhan. Mukjizat yang terjadi di Sidon, juga sering terjadi di GRII. Kalau kita pikir kembali Kemayoran seluruhnya perlu 420 miliar, setiap minggu ada ratusan pekerja yang harus dibayar gajinya. Kita menyaksikan ketika uang hampir habis, ada lagi yang memberikan persembahan. Yehova Jireh, Tuhan menyediakan. Saya bersyukur kepada Tuhan karena saya mengerjakan banyak kehendak Tuhan, Tuhan memberikan saya kesempatan melihat apa artinya Yehova Jireh. Di seluruh dunia salah satu gereja yang tidak ada endowment adalah GRII. Apakah kita tidak takut dan kuatir? Saya membuktikan Tuhan terus mencukupi kita. Kira 3 minggu yang lalu saya menghitung berapa yang kita butuhkan untuk pembangunan gereja, baik di Jambi, Makassar, Medan, Semarang, Solo, Jogja, Bandung, Surabaya, Malang, Manado, Kupang, Ambon, dll.  Kalau 3 tahun yang lalu kita rencana bangun 25 gereja, ternyata 1 bulan yang lalu kita sudah bertambah menjadi rencana bangun 42 gedung gereja. Dulu kita memberanikan diri sebelum Kemayoran ada uang, kita tetap bantu cabang lain yang sedang membangun dan membutuhkan uang. Tuhan mengkonfirmasikan satu dalil yang tidak pernah berubah. Apakah dalil itu? Hatimu harus besar dan mementingkan orang lain dulu. Tuhan tidak mungkin tidak memberikan kecukupan kepada kamu. Sekarang mama saya sudah meninggal berapa puluh tahun tapi ajarannya terus mendorong, terus memberikan ingatan dan memberikan satu keberanian kepada saya. Sebelum engkau sendiri cukup, cukupi orang lain. Inilah cara Tuhan yang saya belajar melalui mama saya. Saya hitung kembali dari 37 tahun lalu sampai sekarang GRII tidak pernah satu hari kurang uang. Tidak pernah Pembangunan gereja berhenti karena kurang uang. Kita melihat pimpinan Tuhan begitu jelas. Saya bersyukur kepada Tuhan. Jadi mukjizat seperi di Sarfat menjadi tanda Tuhan menyertai GRII.

Elia terus tinggal di rumah janda itu. Setiap hari ada roti yang cukup untuk dimakan oleh Elia, janda bersama anaknya. Sampai hujan turun ke tanah Israel, minyak dan tepungnya mulai habis. Karena sudah datang anugerah Tuhan, tidak perlu lagi saban hari mengharap mukjizat. Saya hari ini membicarakan ini untuk mendorong anak muda di GRII sepanjang hidupmu jangan kuatir Tuhan meninggalkan engkau. Tuhan kita adalah kekal, Dia hidup dan menyatakan keagunganNya. Kiranya iman kita diteguhkan Tuhan.

Namun meski hari-hari ada pemeliharaan dari Tuhan, mungkinkah tidak ada goncangan dalam hidup ini? Tidak! Mendadak anak janda itu sakit keras mau mati. Dia datang pada Elia dan bertanya apa dosanya, sehingga Tuhan mengutus Elia harus datang ke rumahnya.  Anak itu mati. Janda ini menjadi kecewa. Dia hanya bisa mempersalahkan, kalau Elia tidak datang, mungkin anak saya tidak mati. Karena Elia orang suci, dia datang ke rumah ini, Tuhan melihat rumah saya kurang suci maka anak saya diambil. Alkitab berkata Elia tidak menjawab satu kalimat. Elia hanya mengatakan satu kalimat “Give your child to me”. Elia membawa dia naik ke loteng masuk ke dalam kamarnya. Di situlah dia berdoa dan bersekutu dengan Tuhan Allah. Di situlah dia bersiap bagaimana melayani Tuhan. Waktu menaruhkan anak di atas tempat tidurnya sendiri Alkitab mencatat, dia menghadapi mulut, mata, hidung, muka anak itu dengan muka sendiri menempel di atas anak itu. Lalu dia berkata kepada Tuhan, “Berilah roh anak ini kembali ke dalam tubuhnya.” Ini satu-satu kalinya di Alkitab mengatakan yang diartikan mati berarti roh meninggalkan tubuh manusia. Ayat in mengandung doktrin yang penting. Tubuh tanpa jiwa, mati adanya.

Tuhan menerima doa Elia. Tuhan masukkan jiwa anak itu kembali bersatu dengan tubuhnya dan anak itu hidup kembali. Peristiwa ini adalah peristiwa yang terjadi pertama kali di dalam sejarah. Alkitab mencatat lebih dari 10 kali kebangkitan. Pertama kali adalah Elia membangkitkan anak dari janda di Sarfat. Dalam Perjanjian Lama, dua orang nabi, yaitu Elia dan Elisa yang pernah Tuhan pakai untuk membangkitkan orang. Dalam Perjanjian Baru dua orang rasul, yaitu Paulus dan Petrus yang dipakai Tuhan membangkitkan orang. Paulus membangkitkan Euthikus dan Petrus membangkitkan Dorkas. Yesus membangkitkan tiga orang, Yairus yang anak perempuannya umur 12, anak seorang janda di Nain yang anaknya mau dikuburkan dan Lazarus yang sudah mati 4 hari. Ini membuktikan Yesus lebih besar dari semua nabi dan rasul. Semua catatan Alkitab mempunyai arti yang dalam sekali. Bukan saja demikian, rasul dan nabi di dalam membangkitkan orang mati, mereka berdoa, baru Tuhan memberikan mukjizat membangkitkan orang mati. Berbeda dengan Yesus yang tidak berdoa sebelum Dia membangkitkan yang mati. Ini karena nabi-nabi hanya menjadi media. Rasul-rasul hanya menjadi alat Tuhan. Maka mereka minta pertolongan Tuhan untuk membangkitkan. Tuhan nyatakan kuasaNya dan memberi hidup kembali. Baik rasul dan nabi, mereka perlu doa, karena mereka hanya manusia, mereka bukan Tuhan. Yesus sendiri adalah Tuhan, Yesus tidak perlu doa minta kuasa untuk membangkitkan yang mati. Sebelum Elia membangkitkan anak janda itu, tidak pernah ada orang dibangkitkan dari kematian. Oleh sebab itu Elia mempunyai peranan yang paling penting. Elia menjadi nabi yang paling besar. Akhirnya pada peristiwa Trasnfigurasi, di mana Yesus menyatakan kemuliaanNya, yang muncul mewakili nabi adalah Elia dan yang muncul mewakili Taurat adalah Musa. Roma 3:19-20 mengatakan, “Kebenaran Allah sudah dinyatakan melalui Injil Yesus Kristus dan dibuktikan oleh nabi dan Taurat.” Yesus di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Dia adalah inti pokok kebenaran Allah yang dinyatakan ke dalam dunia. Kita bersyukur kepada Tuhan.

Setelah Elia membangkitkan anak itu, dia turun dari loteng menggendong anak yang sudah hidup dan mengembalikan kepada ibunya yang akan mendidik dia. Dr. Andrew Gih mengatakan “Engkau mengabarkan Injil harus bisa membangkitkan jiwa orang sudah mati di dalam dosa. Kamu menjadi hamba Tuhan harus berdoa yang dengar Injil yang kau khotbahkan harus memperoleh hidup yang baru. Dan jangan lupa setelah ada orang menerima Tuhan mendapatkan hidup yang baru, jangan diserahkan sembarangan kepada siapa saja. Ketika satu orang diselamatkan melalui  pelayananmu memberitakan Injil, Dia mendapatkan hidup yang baru. Jangan membawanya kepada siapapun. Bawalah kepada seorang pribadi dengan jiwa ibu untuk menjaganya dan memeliharanya.” Saya mengingat setiap kalimat yang diucapkan hamba Tuhan yang saya sangat kagum yaitu Dr. Andrew Gih. You only give the newborn baby to the mother. Only the heart of mother will care and build up the life of the newborn children.

Elia tinggal di rumah itu, dia menerima mendapatkan dukungan hidup jasmani dari janda itu, tetapi Elia bukan menerima anugerah cuma-cuma saja. Dia memberikan kuasa hidup yang membangkitkan anak janda itu. Ini sungguh-sungguh adalah pengajaran yang sangat luar biasa untuk kita. Setelah hujan turun, maka Tuhan suruh Elia pergi dari Sarfat dan meneruskan pekerjaannya. Berarti hamba Tuhan tidak ada rumah yang kekal. Hamba Tuhan tidak bersandarkan orang tertentu. Do not depend on certain people. Waktu kita mau bangun universitas, ada seorang kaya sekali yang mau memberikan tanah yang besar kepada kita. Tetapi akhirnya saya tolak. Mengapa? I do not want to depend on any person. Jika kita menerima tanah itu, maka uang untuk bayar tanah bisa dipakai untuk membangun. Kalau pakai tanah lain, maka kita masih harus bayar tanah dan masih perlu uang untuk membangun. Dari mana uangnya? Banyak orang tidak mengerti apakah yang dikerjakan Stephen Tong. Waktu itu saya tidak mengerti kenapa harus tolak. Orang kira saya sombong, mungkin orang mau lihat apakah kita sanggup bayar tanah yang kita harus beli. Akhirnya Tuhan memberikan uang dan sama sekali kita tidak kurang. Sekarang kita sudah mulai bangun universitas di atas tanah itu. Jika orang mengasihi dan melihat apa yang akan kita bangun, saat kita membangun, orang akan memberikan persembahan. Saya tahu kalau terima tanah, mungkin dia akan  kasih uang.  Kalau tidak terima tanah dia, satu rupiah tidak dikirim. Tetapi Tuhan mengajar saya, “Jagalah hatimu bersih! Jangan bersandar kepada orang-orang kaya! Karena Allah kita jauh lebih kaya daripada orang-orang kaya di dunia ini.” Mengatakan kalimat-kalimat di dalam khotbah ini gampang? Tidak gampang sama sekali. Tapi Tuhan mengajar saya harus konsisten, harus bersandar Tuhan, harus tidak kuatir dan harus terus beriman. Saya percaya 3 tahun lagi bagian yang penting dari universitas akan jadi. Kalau mungkin 5 tahun lagi seluruh kampus akan genap.  Kalau Tuhan mengizinkan, biarlah Tuhan memperpanjang umur saya, saya bisa melihat bangunan itu jadi.  Hidup Elia menjadi teladan terbaik untuk saya. Elia tidak sandar sama satu orang. Tuhan pakai burung burung gagak. Tuhan pakai janda di Sarfat. Tuhan pakai malaikat mengisi segala kebutuhan Elia. Sampai satu hari hujan turun, semua mukjizat berhenti.

Di jaman itu Raja Ahab membunuh satu-persatu nabi-nabi dan Ahab tidak mau Yehova, Tuhan yang asli. Dia memimpin dan membawa rakyatnya menyembah dewa Baal. Ahab berkata, “Tidak ada bukti Allah itu Allah yang sejati, Allah yang satu-satunya. Lihatlah bangsa-bangsa mempunyai ilah-ilah sendiri. Mengapa orang Israel tidak boleh memilih ilah yang lain?” Maka Raja Ahab pilih Baal menjadi dewa Israel. Dia berkuasa besar, mempunyai banyak uang. Yang menjadi ratu dari Ahab namanya Izebel.  Izebel mengatakan, “Saya tidak mau menyembah kepada Baal. Saya mau menyembah Asyera.” Ahab memelihara 450 nabi dan istrinya memelihara 400 nabi. Pimpinan istana mempunyai 850 nabi di seluruh negara Israel. Mereka tidak mau Tuhan, mereka tidak mau bait Allah, mereka tidak mau Perjanjian Lama, mereka tidak mau Taurat, mereka tidak mau Yehova, mereka tidak mau kitab suci. Masing-masing jalan sendiri. Di dalam zaman begitu sulit, begitu banyak orang melawan Tuhan, Elia menjadi nabi yang setia kepada Tuhan. Menjadi satu-satunya yang konsisten semangatnya menyembah Tuhan. Tetapi waktu itu Tuhan membangkitkan seorang luar biasa. Namanya Obaja. Obaja hidup sezaman dengan Elia. Bedanya Obaja seorang juru kunci dari raja Ahab, sedang nabi Elia  tidak campur politik. Tapi Obaja seorang yang agung sekali, orang yang suci sekali. Alkitab mengatakan sejak kecil dia takut kepada Allah yang sejati. Pada waktu Ahab membunuh nabi-nabi Yehova. Obaja dengan gentar bicara pada Tuhan, “I will not let your prophets to be killed like that. Lord keep me, let me be able to preserve, to protect your servants.” Obaja menyimpan 100 nabi masuk ke dalam goa di gunung, sehingga mereka tidak dikejar dan tidak dibunuh. Keberanian seperti ini adakah di dalam hatimu? Kalau orang agama lain mematikan semua pendeta, engkau berani memelihara pendeta supaya tidak dicelakai? Alkitab mencatat Obaja mengumpulkan nabi-nabi. Sudah cukup? Tidak. Mereka makan apa di sana? Obaja membawa makanan minuman saban hari ke dalam gunung masuk ke goa. Jikalau di Indonesia ada 100 pendeta yang dikejar mau dibunuh, siapakah orang Kristen yang berani memelihara hamba Tuhan? Siapakah antara kamu yang cari makanan di dalam masa seluruh dunia kekeringan karena tidak hujan untuk supaya hamba Tuhan ini hidup?  Saya sangat kagum sama Obaja. Saya bersyukur kepada Tuhan karena Obaja. Menjadi Obaja tidak gampang, karena di dalam keadaan kelaparan harus cari makanan untuk 100 orang. Beli makanan di mana, cari air di mana, bayar berapa.

Waktu itu Elia beranggapan dia orang paling tersendiri di dunia. Elia tidak tahu ada 100 hamba Tuhan yang lain di goa-goa. Hari itu bukan saja Elia mengalami kesulitan. Hari itu ada 100 nabi mengalami kesulitan. Saya seumur hidup pernah 40 hari tidak makan. Waktu itu kira-kira saya umur 3 setengah. Mama saya berdagang ke desa diberhentikan oleh tentara dan tidak bisa pulang ke tempat saya selama 40 hari. Pembantu di rumah mengolah kulit ubi untuk anak-anak makan. Tak ada uang, tak ada beras, tak ada nasi, tak ada sayur, tak ada daging, saban hari makan kulit ubi 40 hari. Saya mengalami apa yang disebut kelaparan. Apa yang disebut kemiskinan. Dari kecil Tuhan membiarkan saya mengalami hidup susah luar biasa. Maka pada waktu saya baca Elia, saya mempunyai pengertian dan perasaan lebih tajam dari banyak orang. Lebih sulit dari 100 nabi yang disimpan oleh Obaja adalah hidup Obaja sendiri. Dia bukan hanya harus cari makanan untuk sendiri. Sendiri di dalam kelaparan, sendiri di dalam kekurangan masih mencari makanan untuk 100 orang lain dulu. There will be no other people have greater love than Obadia, because he is serving the servant of God.

Obaja adalah juru kunci raja. Dia pejabat tinggi di dalam istana. Di atas dia ada raja tapi dia percaya di atas raja ada Tuhan. Siapakah yang saya harus layani? God is higher than my king. I should serve God more than serve my king. Ini orang yang menjadi contoh bagi kita. Ribuan tahun sebelum Yesus mengajar carilah lebih dahulu kerajaan Allah dan kebenaran Allah maka apa yang kau perlukan akan diberikan tambahan secara limpah. Alkitab tidak tulis akhir hidup Obaja.  Demikian juga 100 orang nabi itu akhir hidupnya juga tidak dibahas lagi. Tetapi pada waktunya sudah sampai Tuhan memberikan firman kepada Elia.  Elia di tengah-tengah jalan bertemu Obaja yang sedang bersama Ahab pergi cari rumput supaya kudanya ada makanan dan tidak mati. Berapa sulitnya Obaja, dia harus bantu raja cari rumput untuk kuda-kuda dia makan. Dia masih harus cari makanan, cari air, masuk ke goa kasih 100 orang makan supaya mereka jangan mati juga. Ketika Ahab dan Elia akhinya berpisah untuk mengumpukan rumput, di situlah Elia bertemu dengan Obaja. Waktu Obaja bertemu Elia, ia berkata, “Hari ini engkau harus bertemu Raja Ahab. Katakan padanya bahwa Tuhan mau dia bertemu saya.” Elia berkata, “If I don’t pray there will be no rain on the Israel land.” Kalimatnya besar sekali.  Obaja berkata pada Elia bahwa raja sudah memberikan ijin. Obaja betul-betul ketemu Ahab. Setelah Obaja bicara sama Ahab, Ahab betul-betul tunduk tidak debat. Ahab berangkat mau cari Elia.

Saya terus tebak, apa sebab Ahab mau cari Elia? Karena dia tahu yang menyebabkan tidak turun hujan adalah Elia. Kalau mau selesaikan kesulitan seluruh bangsa harus bertemu Elia. Ahab betul-betul datang bertemu Elia. Ini dua musuh, politik dan agama. Politik yang palsu, agama yang sejati. Pada waktu raja yang tidak seharus memimpin rakyat merajarela menguasai seluruh negara, bertemu dengan seorang pendeta yang berani berbicara, tapi bersandarkan Tuhan. Dua orang kalau bertemu, siapa harus bicara dulu? Ada dalilnya, waktu Elia bertemu Ahab, siapa bicara dulu? Waktu Nicodemus bertemu Yesus, siapa bicara dulu? Semua catatan Alkitab mengandung bijaksana tertinggi. Ahab bicara dulu. Mengapakah di dalam psikologi you attack others, you are the active man those required by you, those attacked by you, they become passive man? Ahab berpikir dia harus menaklukkan Elia. Saya raja, dia hanya nabi agama. Pendeta mengapa berani sama raja? Ahab tidak peduli. Maka hari itu waktu bertemu Ahab, langsung dia bicara, “Engkaukah Elia? Engkau yang membuat celaka Israel, engkau yang bikin seluruh tanah kering tidak ada hujan. Kamu yang bikin seluruh Israel berada di dalam kecelakaan. Betul tidak? Tidak bisa lawan! Engkau berkata, “Aku pernah berkata jikalau aku tidak doa tidak ada hujan yang turun.” Sekarang sudah hampir 3 tahun betul-betul tidak ada hujan yang turun. Jadi orang Israel tak ada makanan, seluruh tanah kering, semua lapar mau mati. Kamu harus tanggung jawab. Waktu Elia dengar kalimat ini, Elia menjawab, “Bukan aku, tapi engkau dan rumah bapamu menjadi sumber kecelakaan untuk seluruh bangsa.” Elia berani mempersalahkan seluruh keluarga bahkan sampai nenek moyangnya Ahab. Seorang pendeta, seorang hamba Tuhan, seorang Kristen, kalau dikejar-kejar dan dipersulit orang agama lain, jangan menjual kedudukan anak sulungmu.

Sekarang Elia mulai berbicara. Ini adalah pembicaraan Elia yang paling penting selama hidup dia. “Ahab, pergilah ke gunung Karmel. Bawalah 450 nabi-nabi Baal juga ke situ.” Ini kalimat berani sekal, satu orang bukan melawan 10 orang. Satu orang melawan 450 pendeta palsu dan melawan pemimpin paling tinggi di dalam negara. Kita mau memperbandingkan siapakah Allah yang sejati. Siapakah nabi yang sejati? Di dalam Alkitab inilah satu contoh minoritas melawan mayoritas. Banyak orang setelah hitung pihak dia minoritas mulai takut, mulai minder, tidak berani bicara. Sekarang banyak sekali pendeta yang tidak berani bicara kalimat untuk mewakili Tuhan. Mereka semua hanya lulusan sekolah teologi. Sudah dapat angka tinggi, tapi pada waktu mereka harus berbicara membela kebenaran, mereka semua mundur. Elia tidak demikian. Saya percaya pada saat paling sulit, banyak pendeta dan orang Kristen menjadi pengecut yang mempermalukan nama Tuhan. Ini adalah peperangan rohani yang akhirnya membuktikan siapakah Allah yang sejati dan siapakah hamba-Nya yang sungguh-sungguh. Jangan lupa pelayanan itu peperangan. Waktu saya masih muda sekali saya pernah mengusir setan yang merasuk seorang. Saya berkhotbah minta orang bertobat sampai hari ini sudah tua, saya masih ke kota-kota kecil, lalu beribu-ribu orang datang mendengar khotbah orang tua ini. Bukankah engkau sekarang muda seperti berapa puluh tahun lalu saya masih muda?  Bukankah berpuluh tahun kemudian engkau akan menjadi orang tua seperti saya. Kalau tidak siap mulai hari ini, jikalau engkau tidak mulai perang hari ini, waktu engkau tua tetap tidak akan berbuah banyak. Saya akan berhenti khotbah di sini. Elia sudah keluarkan tantangan. Elia sudah paparkan peperangan. Elia sudah beranikan diskusi dengan yang lawan dia. Elia sudah berani minta Tuhan membuktikan yang dia layani adalah Tuhan yang sejati dan yang dilayani oleh Raja Ahab itu palsu. Kiranya Tuhan memberkati kita. Tuhan pimpin kita.

Close
Close Search Window