Download versi cetak: 1279_1452_KebaktianPagiSore_30Aug2026_IR

Keterbatasan Manusia dan Besarnya Kuasa Tuhan

Yohanes 6:1-15

Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Kita telah membahas tiga tanda mukjizat yang Yesus lakukan di dalam Injil Yohanes. Dan yang tadi kita baca adalah tanda atau mukjizat yang keempat, di mana Tuhan Yesus memberi makan kepada 5000 orang. Di ayat keempat dicatat peristiwa itu terjadi ketika hari raya Paskah itu sudah dekat. Ada tiga peristiwa di dalam kisah Injil Yohanes yang dikatakan terjadi pada saat Paskah atau menjelang Paskah. Yang pertama adalah di pasal 2, ketika Yohanes menceritakan bagaimana Yesus sedang merayakan Paskah di Bait Allah Yerusalem, dan Dia kemudian mengusir pedagang-pedagang di Bait Allah. Peristiwa yang kedua adalah yang terjadi di sini, dicatat menjelang Paskah dan terjadi di danau Galilea, bukan di Yerusalem. Yang ketiga adalah ketika Yesus kembali ke Yerusalem, dan itu adalah untuk terakhir kalinya, di mana Dia akhirnya ditangkap dan disalibkan.

Dalam pembahasan kita hari ini, kita melihat bagaimana mukjizat ini dikaitkan dengan Paskah,itu sendiri sudah menjadi satu hal yang penting. Apalagi ini adalah satu-satunya mukjizat Tuhan Yesus yang dicatat di dalam empat Injil. Ketika kita bicara 5.000 orang mendapatkan mukjizat dari Tuhan Yesus, kita juga bisa mengatakan mungkin ini adalah mukjizat yang paling disaksikan oleh paling banyak orang. Kalau kita bicara tentang mukjizat Tuhan Yesus yang disaksikan di depan umum, mungkin yang terkenal salah satunya adalah membangkitkan Lazarus dari kematian. Itu salah satu mukjizat puncak di dalam Injil Yohanes, yang Yesus lakukan di hadapan banyak orang yang sedang berduka atas kematian Lazarus. Paulus mencatat peristiwa kebangkitan Yesus sendiri disaksikan oleh lebih dari 500 orang. Sedangkan yang dicatat di perikop yang kita baca, mukjizat ini disaksikan 5000 laki-laki, kalau ditambah Perempuan dan anak, diperkirakan 15.000 orang.

Teologi liberal yang tidak percaya tentang mukjizat, mereka mengatakan, tidak mungkin terjadi Yesus melipatgandakan roti dan ikan. Ini cuma sekadar cerita moral yang mengajarkan murah hati seperti anak kecil yang rela membagikan makanannya kepada orang lain. Hal ini menggerakkan hati banyak orang, sehingga mereka yang tadinya mengaku tidak punya makanan, tiba-tiba mereka keluarkan bekalnya masing-masing dan saling membagikannya, sehingga semua orang mendapatkan makan siang. Mereka mengatakan peristiwa ini tidak menunjukkan Yesus itu punya kuasa ilahi. Tapi ini mengajarkan supaya kita sebagai manusia untuk sering memberi donasi dan memberikan makanan bagi orang yang kekurangan. Tentu saja kita melihat ada masalah yang besar ketika kita membaca cerita tersebut seperti demikian. Peristiwa ini dicatat di dalam empat Injil dan semua mencatat Yesus melakukan mukjizat yang tidak disangka-sangka. Kalau orang liberal mengatakan, itu penulis Injil saja yang terlalu melebih-lebihkan. Ini pun susah, karena peristiwa ini dilihat oleh lebih dari 5000 orang. Sekalipun Injil Yohanes ditulis agak belakangan, Matius, Markus, Lukas itu ditulis awal sekali, di mana saksi-saksi mata masih hidup. Kalau peristiwa ini hoax, maka pasti banyak orang protes. Fakta bahwa cerita ini terus beredar di antara umat Tuhan, maka tidak dapat disangkali peristiwa ini memang terjadi secara demikian.

Setelah Yesus melakukan mukjizat ini, yang menjadi respons dari orang-orang, dalam Injil Lukas, Yesus bertanya kepada Petrus, “Menurutmu siapa Aku?” Petrus mengatakan, “You are the Christ.” Dalam Injil Yohanes setelah Yesus melakukan mukjizat ini, orang banyak mengatakan, “Dia sungguh-sungguh nabi.” Mereka mau menjadikan Yesus sebagai raja. Artinya, mereka melihat ini bukti Yesus adalah Mesias yang dinanti-nantikan. Kalau Yesus sekadar mengajarkan untuk berbagi bekal makan siang, itu tidak akan membuat orang mau mengangkat Dia sebagai Mesias. Mereka mau menjadikan Yesus sebagai Mesias karena mereka melihat ada hal yang begitu luar biasa yang terjadi. Mereka percaya melalui perkataan para nabi, melalui tulisan-tulisan Yahudi pada zaman itu, bahwa ketika Mesias datang, Dia akan memberikan makan kepada umat Tuhan dari surga. Misalnya, dalam kitab 2 Baruk (ini bukan kitab yang kita anggap sebagai bagian dari Alkitab. Ini tulisan-tulisan tradisional yang beredar pada zaman itu), dikatakan pada hari-hari ketika Mesias muncul, maka Dia akan memberikan mereka makan roti dari surga. Ini mengingatkan kita pada banyak peristiwa di Perjanjian Lama. Kita ingat cerita Elisa yang memberikan makan 100 orang dengan 20 roti. Dan kita ingat di jaman Musa, Tuhan memberikan manna dari surga. Tapi dalam Perjanjian Lama, manna itu hanya cukup untuk satu hari, kecuali di hari Jumat — maka itu dikumpulkan untuk dua hari, karena besoknya hari Sabat. Tapi apa yang Yesus lakukan, bukan sekadar cukup untuk hari itu saja. Dia memberikan sampai sisa 12 bakul. Dia nabi yang melampaui segala nabi di Perjanjian Lama. Dia adalah utusan Allah yang menyatakan kuasa Allah yang penuh dengan kelimpahan. Itulah salah satu hal yang ingin dinyatakan di dalam cerita ini, bahwa dalam diri Yesus ada kuasa Allah yang menciptakan segala sesuatu dari tidak ada apa-apa menjadi ada. Ada kuasa Allah yang sanggup memberikan kepada kita lebih daripada apa yang kita butuhkan.

Saya percaya mukjizat ini bukan sekadar mau menyatakan kuasa Yesus. Kalau memang tujuannya sekedar untuk menunjukkan kuasa Yesus, maka Yesus bisa saja langsung melakukannya, atau bahkan tanpa ada apa-apa. Tapi kita baca di sini, Tuhan Yesus sengaja bertanya kepada Filipus, “Dari mana kita bisa beri makan orang ini?” Ini gunanya kita membandingkan apa yang dicatat di satu kitab injil dan kitab injil yang lain. Matius dan Markus mencatat mukjizat ini dengan adanya nuansa Yesus melihat orang banyak itu, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Tapi dalam Injil Yohanes, ketika Dia bertanya kepada Filipus, “Filipus, di mana kita bisa beli roti, supaya mereka bisa makan?” Tidak ditulis Dia menanyakan itu karena Dia ada belas kasihan. Di ayat keenam dikatakan hal itu dikatakan-Nya untuk menguji Filipus dan para murid-Nya, untuk membentuk para murid-Nya. Karena dikatakan, Dia sendiri tahu sebetulnya apa yang akan Dia lakukan. Tuhan Yesus bertanya dalam Injil Yohanes karena Dia ingin mengajar para murid-Nya. Tuhan Yesus sedang mempersiapkan bagaimana mereka bisa mengambil bagian di dalam menyatakan kuasa-Nya yang besar.

Yang ingin saya ajak kita renungkan pada malam hari ini. Bagaimana kita bisa ambil bagian? Bagaimana kita bisa mengalami kuasa Yesus yang sedemikian besar, ketika kita diperhadapkan pada keadaan, atau kebutuhan, atau masalah yang sangat sulit, tetapi akhirnya kita bisa jadi berkat buat orang banyak? Ada lima hal. Yang pertama, Tuhan ingin kita belajar melihat kebutuhan yang ada. Ketika Yesus memandang sekelilingnya dan melihat, “Ada orang banyak ini yang perlu makan,” maka Dia bertanya kepada Filipus, “Bagaimana kita bisa kasih mereka makan?” Di sini kita diajar, menjadi murid Yesus berarti kita diajar untuk melihat apa yang Yesus lihat. Ini yang seringkali menjadi kesulitan dalam hidup kita. Kita jarang memperhatikan apa yang Tuhan lihat, karena kita terlalu sibuk melihat diri kita sendiri. Kita sangat pintar dan gampang untuk melihat apa yang saya butuhkan, apa yang saya tidak punya, apa yang saya inginkan. Kita terlalu preoccupied dengan hidup kita sendiri, sampai-sampai kita menuntut orang lain juga melihat hidup kita. Kita menuntut, seolah-olah orang lain harusnya memperhatikan saya.  Beberapa waktu lalu, di dalam PA Jumat, kita memutar ulang video master class Pak Tong dari tahun 2007, beliau men-sharing-kan, GRII menjalankan visi Tuhan. Bagaimana kita sebagai satu gerakan, sebagai gereja Tuhan bisa satu hativuntuk mengerjakan apa yang menjadi isi hati Tuhan. Sering kita berharap Pdt. Stephen Tong memberikan jawaban konkrit tentang visi dan misi GRII dan yang menjadi program kerja 5-10 tahun ke depan. Tapi kalau kita lihat dalam apa yang beliau sharing-kan, seringkali tidak seperti itu. Yang selalu beliau ulangi adalah kita mengerjakan visi Tuhan. Dan visi Tuhan itu apa? Isi hati Tuhan. Yang kadang Tuhan sharing-kan adalah sekedar, “Lihat, ada kebutuhan ini. Ada masalah ini yang gereja harus kerjakan.” Detailnya bagaimana? Itu jadi bagian pergumulan kita bersama-sama. Dan itu yang akhirnya membuat seseorang yang dalam segala keterbatasan kelemahannya akhirnya bisa dipakai oleh Tuhan mengerjakan hal yang besar. Ketika melihat ke belakang, kita tidak tahu kenapa akhirnya bisa jadi besar. Yang dikerjakan hanyalah sekedar melihat, ada kebutuhan apa yang Tuhan bebankan kepada kita, dan kita taat mengerjakannya. Yesus mengajarkan Filipus bukan melihat kepada diri sendiri, tetapi melihat apa yang jadi kebutuhan orang lain. Melihat orang-orang lain di sekitar kita yang perlu dilayani, yang perlu Injil. Sulitnya seringkali kita melihat orang-orang di sekeliling kita itu sebagai inconvenience? Orang-orang sekitar kita sebagai hambatan bagi rencana-rencana kita, bukan sebagai orang-orang yang membutuhkan Injil. Kita tidak peka akan kebutuhan orang lain yang sudah di depan mata kita, seolah-olah kita tutup mata atau tidak peduli kepada kebutuhan mereka. Kadang Tuhan memberikan kepada kita beban yang kita tidak bisa lari lagi, mengajar dan mendidik kita untuk mengerjakan isi hati Tuhan. Saya merasa mungkin KKR regional itu juga salah satu hal seperti itu. Kita dipercayakan Kalimantan Tengah. Di mana untuk bisa sampai ke sana, kita harus ke Jakarta, baru ke Palangkaraya. Itu bukan hal yang convenient bagi kita. Tuhan memberikan beban ada orang-orang di sana yang bisa dilayani dan tidak ada yang lain yang melayani. Ketika kita taat, kita belajar melihat apa yang Tuhan sharing-kan kepada kita, maka Tuhan juga makin tambahkan beban itu dalam diri kita. Dan saya sangat bersyukur Tuhan menggerakkan hati banyak orang. Tapi bukankah seringkali ketika Tuhan men-sharing-kan apa yang menjadi isi hati-Nya, memberikan kepada kita beban kebutuhan yang harus dikerjakan, maka kita biasanya akan langsung tertegun dan terdiam? Karena apa yang jadi kebutuhan yang harus dikerjakan itu ternyata jauh lebih besar daripada kemampuan kita. Dan ini adalah poin yang kedua yang kita mau renungkan bersama-sama.

Ketika kita melihat kebutuhan yang Tuhan berikan, yang harus jadi beban kita, kita juga kadang dipaksa untuk mengakui segala keterbatasan dan ketidakberdayaan kita. Filipus menjawab, “Tuhan, roti seharga 200 dinar saja itu tidak cukup untuk memberi makan semua ini. Kalaupun kasih makan, masing-masing cuma dapat secuil saja.” Dua ratus dinar adalah setara gaji 8 bulan. Kalau minyak narwastu 300 dinar itu gaji 1 tahun, maka 200 dinar itu gaji 8 bulan. Dalam keadaan tidak berdaya seperti inilah sebetulnya Tuhan sedang membentuk kita. Sebelum kita bisa menjadi saluran kuasa Allah yang begitu besar, selalu syarat pertama adalah kita mengakui keterbatasan kita.  Dengan kerendahan hati kita mengatakan, “Tuhan, saya melihat kebutuhan yang begitu besar, tapi, Tuhan, apa daya kami?” Kita sudah siapkan sungguh-sungguh KKR Regional ini. Bahkan beberapa bulan sebelumnya, bulan April, saya dan tim kecil pun sudah ke sana mempersiapkan. Jemaat yang tergerak juga sudah keluarkan uang untuk beli tiket dan juga hotel yang tidak bisa di-refund. Ada keluarga yang mengorbankan liburannya dan membawa anak-anak mereka untuk ke Kalimantan Tengah, bukan jalan-jalan. Orang-orang yang berkhotbah juga memakai waktu banyak untuk persiapan dan berlatih. Dengan persiapan yang begitu banyak, begitu matang ini, ternyata tetap belum tentu kita bisa melayani. Tuhan ijinkan ada kebakaran hutan dan asap. Inilah salah satu pembentukan Tuhan yang harus kita lewati. Betul, ada kebutuhan di depan, dan kita yakin ini pimpinan Tuhan, kita persiapkan apa yang kita bisa lakukan. Tapi akhirnya kita harus dipaksa rendah hati dan mengakui kelemahan kita.

Saya rasa prinsip ini juga berlaku bukan hanya dalam pelayanan, tapi dalam pergumulan pribadi kita. Dua poin ini saja, melihat ada masalah, ada kebutuhan, lalu mengakui kelemahan kita. Dua hal ini saja mungkin dalam pergumulan pribadi kita, kitapun tidak siap untuk lakukan. Kita tidak suka untuk mengakui bahwa kita ada problem dan ada keterbatasan. Kita bersembunyi dalam segala pencapaian akademis kita, profesi kita, karena ini yang jadi kebanggaan kita, ini yang kita bisa highlight di dalam hidup kita, ini yang jadi postingan-postingan kita di Instagram. Perjalanan bisnis, liburan dan seterusnya. Tapi mungkin kita kesampingkan dan tutupi, bahkan kita self-denial bahwa ada problem-problem tertentu dalam hidup kita. Mungkin ada relasi dengan pasangan, mungkin ada kebingungan dalam menghadapi anak kita. Mungkin ada ketegangan relasi dengan orang tua kita. Atau mungkin ada yang merasa sangat kesepian dalam hidup. Ini menggerogoti hidup kita, di mana akhirnya kita makin tidak sanggup untuk mengendalikan dan memendam emosi kita, sampai akhirnya kerohanian kita begitu kering dan kita rasa jauh dari Tuhan. Namun kita mengatakan, “Tidak, saya baik-baik saja. Lihat profesi saya, lihat pencapaian saya.” Kalau kita tidak mau mengaku bahwa kita ada masalah, maka kita tidak bisa mengalami kuasa Tuhan yang besar. Dan saya berani mengatakan, selama kita belum ada di surga, kalau Saudara mengatakan tidak ada masalah, maka itulah masalah Saudara. Di sini kita diingatkan, kita belajar untuk dengan rendah hati mengakui, identify masalah kita dan mengakui keterbatasan kita. Setelah kita tahu, ada dua macam ekstrem yang salah. Ekstrem yang pertama yang salah adalah kita, dengan begitu sombong dan over confidence, kita mengatakan, “Ah, ini saya pasti bisa menyelesaikannya.” Di sisi yang lain, yang salah adalah kalau kemudian kita menjadi despair,  kita rasa tidak ada harapan, kita mengatakan, “Ya sudahlah, memang semua orang mengalami ini, saya tidak mungkin lolos dari masalah ini.” Kisah Yesus memberikan makan 5000 orang ini mengajak kita melihat option yang ketiga dengan mengatakan, “Tuhan, apa yang saya punya, saya bawa kepada Tuhan. Saya tidak bisa selesaikan masalah ini, tapi Tuhan bisa. Dan segala brokenness hidup saya, saya datang dengan apa adanya ke hadapan Tuhan.”Ini bukan pride atau despair, tapi ini adalah iman. Datang kepada Tuhan yang lebih besar daripada semuanya. Terkadang kerohanian yang dewasa itu adalah kerohanian yang berani mengatakan seperti ini. Seorang pasangan mungkin mengatakan, “Tuhan, saya tidak tahu apa yang bisa saya kerjakan lagi untuk pernikahan saya.” Sebagai orang tua, kita mengatakan, “Tuhan, saya tidak tahu lagi bagaimana menghadapi anak saya. Saya mengaku ada yang salah dalam keluarga saya, pernikahan saya, dan seterusnya. Tapi aku datang kepada-Mu apa adanya. Aku serahkan semua ke dalam tangan Tuhan.” Pengakuan seperti ini bukanlah kegagalan, tapi inilah kerendahan hati.

Di ayat ke-8 dan ke-9 dikatakan muncul figur yang berikutnya, yaitu Andreas, salah satu murid Yesus. Andreas mengatakan, “Tuhan, ada seorang anak, punya lima roti dan dua ikan, tapi apa  artinya ini untuk orang sebanyak itu?” Ketika kita melihat ada problem atau kebutuhan yang begitu besar dan kita sadar, kita tidak sanggup menghadapinya, kita hanya bisa datang kepada Tuhan dan mengatakan, “Tuhan, saya cuma punya segini, tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah. Tapi apa yang saya punya, saya serahkan kepada Tuhan.” Berapa banyak yang kita serahkan kepada Tuhan? Dibandingkan kebutuhan yang ada, mungkin tidak ada apa-apanya. Untuk juga berbagian dalam pelayanan, beban yang Tuhan berikan, mungkin secara waktu juga kita sudah terlalu sibuk di hidup di Singapura ini. Di tengah-tengah segala pergumulan, tantangan yang ada, mungkin energi kita, mental kita, emosi kita sudah sangat terbatas. Namun kita berkata, “Tuhan, seberapa banyak yang saya punya, saya berikan kepada Tuhan.” Dan itu berarti sekalipun tidak banyak, kita berikan semua kepada Tuhan. Ketika kita belajar menyerahkan kepada Tuhan, kita bukan hanya menyerahkan 10%, 50%, tapi semuanya, ada penyerahan total. Kita lihat justru ketika anak kecil ini menyerahkan seluruh bekalnya pada Tuhan, anak kecil itu makan jauh lebih kenyang, sampai sisa 12 bakul. Karena apa? Kita berani melakukan hal ini karena poin yang keempat, kita belajar percaya pada kuasa-Nya. Ketika kita menyerahkan yang kita punya, kita serahkan dengan percaya, Tuhan sanggup memakai seberapa banyak pun untuk pekerjaan-Nya.

Ada kontras antara Filipus dan Yesus ketika melihat kebutuhan orang banyak ini. Filipus lihat kepada dompetnya. Filipus hitung-hitungan dan berpikir kota terdekat mana yang dia bisa cari roti untuk orang banyak itu. Tidak heran akhirnya dia kemudian menjadi discouraged. Tapi ketika Yesus memegang lima roti dan dua ikan, Dia melihat ke surga. Dia mengucap syukur dan Dia berdoa. Yesus melihat kepada Tuhan di surga  yang punya kuasa, Mendatangkan roti dari surga, punya kuasa menjadikan dari tidak ada menjadi ada. Kita diajar bukan untuk mengukur masalah kita dari berapa banyak resource yang kita punya, tapi percaya bahwa sedikit resource yang kita punya itu bisa dipakai Tuhan yang begitu berkuasa untuk menyelesaikan masalah sebesar apapun. Yang jadi pertanyaannya, apakah kita sadar betapa besar kuasa Allah yang kepada-Nya aku serahkan semua ini? Kita menaruh percaya kita bukan dalam kemampuan kita, tapi dalam kuasa Tuhan.

Yang pertama tadi, melihat kebutuhan. Yang kedua, mengakui keterbatasan kita. Ketiga, memberikan apa yang kita punya. Keempat, percaya pada kuasa Tuhan. Dan yang kelima, ketika Tuhan memberikan pimpinan-Nya, kita taat mengikuti firman-Nya. Taat dengan iman dan setia. Yesus berkata kepada murid-Nya, “Suruh orang-orang itu duduk, lalu kamu bagi-bagi roti ini dan kumpulkan sisanya.” Para murid taat, mereka lakukan apa yang Yesus perintahkan dan mempercayakan hasilnya kepada Dia. Demikian juga dalam melayani Tuhan, kita belajar untuk taat kepada Dia, percaya bahwa akhirnya Tuhan yang pakai segala keterbatasan kita, seturut dengan kehendak-Nya. Kembali dalam pergumulan kita menghadapi satu minggu ke depan tentang KKR regional, kita jadikan ini sebagai study case, untuk kita sama-sama mengaplikasikan Yohanes 6 ini. Kita sudah berdoa terus-menerus. Kita sudah antisipasi segala kemungkinan yang kita bisa pikirkan. Tapi situasi kebakaran saat ini tidak membaik. Di satu sisi kita melihat kebutuhan yang Tuhan nyatakan. Tapi di sisi lain, kita diajar untuk rendah hati menyadari keterbatasan kita. Pada akhirnya, kita hanya bisa serahkan semua yang sudah kita persiapkan ke dalam tangan Tuhan. Kita harus rela mengatakan, rencana KKR regional ini itu bukanlah punyanya GRII Singapura, tapi milik Tuhan. Kalau Tuhan memungkinkan saya ada kesehatan yang cukup untuk pergi, kiranya Tuhan pakai saya. Tapi kalau dalam hikmat Tuhan saya harus batal, kiranya Tuhan pakai semua ini tidak menjadi sia-sia. Kita belajar mempercayakan rencana ini ke dalam kuasa Tuhan. Entah ternyata nanti semua orang tetap pergi, atau mungkin hanya setengah yang pergi, atau bahkan di cancel sama sekali. Kita harus mengakui bahwa pekerjaan Tuhan tidak bergantung pada kemampuan kita yang tidak bisa mengendalikan situasi. Injil Tuhan bukanlah sesuatu yang fragile. Kristus bukannya tidak berdaya, seolah-olah menantikan kita yang maju. Karena pada akhirnya, di tengah-tengah kebingungan para murid, Yesus tahu apa yang hendak Dia kerjakan. Dalam ketaatan iman kita belajar bertanya, “Tuhan, dengan segala yang Tuhan izinkan sekarang terjadi, dengan segala informasi yang kami kumpulkan, kami pertimbangkan, kiranya hal apa yang paling bijaksana, tapi juga setia, untuk kita tetap kerjakan?” Tidak ada jawaban yang mudah. Masih ada beberapa hari kita menunggu dan berdoa, seperti Elia berdoa minta hujan. Kiranya kita melihat bagaimana kuasa Tuhan yang besar itu dinyatakan lewat pergumulan kita.

Bagaimana mengaplikasikan Yohanes 6 ini dalam pergumulan pribadi? Pertama, kita harus berani mengakui bahwa memang ada masalah dalam hidup kita. Kita harus identify masalah kita. Kedua, kita harus berani mengakui bahwa memang kita terbatas. Ini tidak menjadikan kita orang jahat. Ini menunjukkan bahwa kita hanyalah manusia. Daripada menyalahkan diri, orang lain, situasi, mari kita datang kepada Kristus. Kita terbuka apa adanya di hadapan-Nya. Serahkan semua keterbatasan kita kepada Tuhan yang sanggup memakai semua hal yang tidak sempurna dalam diri kita untuk mengerjakan hal-hal yang melampaui pikiran kita. Dan dalam iman ketaatan, kita belajar tunduk, mau mengikuti pimpinan Tuhan dalam segala hal yang Dia mau pakai. Kita memberikan diri untuk dikoreksi, untuk diajar, untuk diarahkan, melalui firman yang diberitakan di gereja, melalui konseling, mungkin melalui nasihat dan doa dari sahabat yang bergumul bersama. Sehingga akhirnya Tuhan memberikan kepada kita kesaksian akan kuasa-Nya yang besar itu. Kita berani melakukan semuanya ini karena kita percaya, Yesus yang tahu apa yang akan Dia kerjakan. Dan dalam kisah Yohanes 6 ini, Yesus betul-betul tahu apa yang akan Dia kerjakan. Dan Dia bukan sekadar memberikan roti kepada 15.000 orang itu. Dia bukan sekedar memberikan roti yang bisa dimakan dengan mulut, tetapi Dia memecah-mecahkan tubuh-Nya sendiri dengan naik ke kayu salib. Kepada siapa kita mau datang membawa segala pergumulan kita kalau bukan kepada Kristus? Juruselamat yang bukan sekadar memberikan our daily provision, tetapi memberikan hidup-Nya sendiri bagi kita. Juruselamat yang kepadaNya kita bisa mempercayakan segala keterbatasan yang kita miliki, karena Dia sudah begitu mengasihi kita. Marilah kita datang kepada Tuhan dan mengatakan, “Tuhan, inilah yang aku punya. Tidak banyak, bahkan mungkin sangat sedikit. Tapi saya serahkan semua menjadi milik Tuhan. Kiranya Tuhan pakai untuk kemuliaan nama Tuhan.”

Close
Close Search Window