Download versi cetak: 1278KebaktianPagi_2026-23-Aug_IR

Yesus: Sang Pemberi Hidup dan Hakim Dunia

Yohanes 5:19-30

Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Bagian ini adalah pengajaran yang Yesus berikan setelah Dia melakukan mukjizat di tepi kolam Betesda. Di dalam pembahasan kita yang sebelumnya, kita membahas bahwa Yesus adalah Anak Allah karena Dia melakukan hal-hal yang Bapa juga kerjakan, karena Dia memiliki otoritas seperti Bapa. Kalau Bapa bisa membangkitkan orang mati, maka Anak juga bisa menghidupkan siapa pun yang dikehendaki-Nya. Dia memiliki otoritas dan kuasa. Siapa yang mendengarkan suara Anak, orang itu akan memperoleh hidup. Dan sama seperti memiliki hidup dalam diri-Nya, maka Anak juga memiliki hidup dalam diri-Nya sendiri. Yesus memproklamasikan diri-Nya bahwa Dia adalah Anak Allah dengan sangat jelas. Selain Yesus adalah Anak Allah, kita juga membahas bahwa Dia juga adalah Sang pemberi kehidupan. Dikatakan, “Saatnya sudah tiba, orang yang mati mendengar suara Anak Allah dan hidup.” Sudah tiba saatnya di mana setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan percaya kepada Yesus, mereka akan dibangkitkan secara rohani dan mereka akan mendapatkan hidup yang baru.

Kita juga membahas bahwa di dalam hidup, setidaknya ada tiga perspektif. Pertama, hidup bisa dilihat sebagai hidup secara fisik, yaitu bios. Kalau jantung kita masih berdetak, itu kita hidup secara fisik. Namun, kedua, hidup juga bisa bicara mengenai psuche atau psychological life. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan. Tetapi hidup yang dimaksudkan di sini, hidup yang diberikan oleh Kristus Yesus adalah zoe, yaitu hidup yang rohani. Hidup yang berkenan di hadapan Tuhan dan yang berdamai dengan Tuhan. Maka bukan saja kita hidup baik secara fisik dan mental, tetapi kita hidup dekat dengan Tuhan dan dipakai oleh Tuhan. Namun bukan hanya untuk sekarang ini, apa yang Yesus berikan itu juga adalah untuk masa depan. Yesus di ayat ke-28 mengatakan, “Saatnya akan tiba,” yang kali ini “akan” tiba, “bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.” Maka di dalam Yesus, kita mendapatkan hidup yang baru sekarang ini, tetapi kita juga mengharapkan adanya kehidupan kekal yang akan kemudian kita rasakan ketika Dia datang kembali dan membangkitkan semua orang yang sudah mati.

Kita akan melihat sisi yang lain dari bagian ini: bagaimana Yesus Anak Allah itu bukan saja Pemberi kehidupan, tetapi Yesus Anak Allah juga adalah Sang Hakim. Yesus diberikan otoritas untuk memberikan kehidupan, tetapi di bagian yang sama, Bapa juga memberikan otoritas kepada Yesus untuk menghakimi (Yohanes 5:26-27). Bahkan Yohanes 5:22-23 mengatakan, “Bapa tidak menghakimi siapa pun, tetapi telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti menghormati Bapa.” Ini menjadi bukti lain bahwa Yesus adalah Allah. Karena Allah tidak akan memberikan kehormatan-Nya kepada ciptaan dan Dia tidak akan membiarkan kemuliaan-Nya dicuri oleh ciptaan. Namun, Bapa membiarkan supaya Anak itu dihormati sama seperti Dia dihormati, sehingga ada kualitas yang sama antara Anak dan Bapa.

Yesus di dalam Yohanes 5 ini bukanlah sekadar yang mendatangkan hidup bagi yang sudah mati, tetapi Dia juga adalah yang di mana setiap orang harus berhadapan untuk dihakimi. Sang Anak adalah Hakim dunia, bukan sekadar Juru Selamat. Memang sekarang Dia datang untuk menyelamatkan, bukan untuk menghakimi, tetapi nanti Dia akan datang sebagai Hakim dunia. Inilah yang ingin saya ajak kita semua untuk renungkan. Ketika Yesus adalah Hakim dunia, apa artinya bagi kita? Ketika kita sadar Yesus adalah Hakim dunia, bagaimana kesadaran ini membentuk cara kita hidup? Bagaimana kita menantikan masa depan? Bagaimana kita hidup di dalam zaman sekarang ini? Bagaimana kita mengingat atau melihat masa lalu?

Yang pertama, melihat kepada masa depan dengan penuh pengharapan. Kenapa demikian? Karena Yesus adalah Hakim dunia. Yesus memberi penghakiman yang pasti, universal, dan adil. Sadarkah kita bahwa suatu hari nanti akan ada yang namanya Hari Penghakiman? Hari Penghakiman pasti akan datang dan berlaku untuk semua orang. Hidup setelah kematian itu adalah satu hal yang pasti. Kebangkitan dari kematian itu adalah satu hal yang pasti. Akan datang harinya di mana semua orang yang sudah mati akan mendengarkan suara Kristus, Sang Hakim. Tidak peduli dengan cara seperti apa manusia itu mati, kuburan sebesar atau sekecil apa pun, itu tidak akan menjadi akhir dari segala sesuatu, karena kematian tidak menghapus keberadaan diri manusia. Kematian tidak menjadikan hidup manusia tidak berarti. Kematian bukanlah yang menjadi kata akhir. Ada satu hari ketika Yesus nanti akan bersuara, memanggil setiap orang yang mati, dan semua orang akan bangkit untuk dihakimi. Ini berarti,  sekalipun ada hal-hal dalam hidup kita yang masih mengganjal dan belum tuntas, akan datang saatnya di mana semuanya itu akan dituntaskan dan diselesaikan. Akan datang Hari Penghakiman, dan semua sejarah akan menuju ke hadapan takhta penghakiman Kristus. Ini bukan saja hal yang pasti akan terjadi, tetapi ini juga akan berlaku bagi semua orang. Bukan hanya orang Kristen, bukan hanya orang jahat, tetapi semua orang akan dibangkitkan dan tidak ada seorang pun yang akan lolos.

Ada perkataan yang mengatakan, “kematian adalah the great equalizer.” Karena tidak peduli orang kaya, orang miskin, kuat, lemah, pria, wanita, semua orang akan mati. Namun, ada sesuatu yang melampaui kematian, yang akan menjadi a greater equalizer, yaitu Yesus sendiri. Pada akhirnya, semua orang akan berhadapan dengan Dia. Semua orang akan berdiri di hadapan takhta penghakiman Kristus. Ini berarti segala ketidakadilan yang dilakukan dalam dunia, tidak akan dilupakan. Orang yang jahat, orang yang korup akan di-exposed dan dihakimi. Orang yang selama ini tidak diperhatikan, tidak dipedulikan, akhirnya akan didengar dan dikenal. Kematian tidak menghapuskan pertanggungan jawab hidup kita di hadapan Tuhan, karena penghakiman itu pasti, universal, sempurna, dan adil. Adil berarti Dia akan memberikan kepada setiap orang apa yang pantas untuk orang itu dapatkan. Dalam pengadilan-Nya, tidak ada korupsi, favoritisme, atau manipulasi. Tidak ada orang yang punya uang, punya kuasa bisa membeli jalan keluar. Di sisi lain, tidak ada korban yang akhirnya dilupakan. Kristus akan melihat segala sesuatu dengan sempurna dan adil.

Ini berarti, kita tidak perlu menjadi hakim bagi diri kita sendiri. Kita tidak perlu menghabiskan hidup kita untuk memastikan setiap hal yang salah harus dibayar sekarang juga. Kita bisa mengatakan, “Tuhan yang nanti akan menghakimi.” Tentu ini bukan berarti kita sama sekali tidak peduli dengan injustice. Kita harus terus memperjuangkan keadilan, tetapi kita tidak perlu menanggung beban sebagai the final and ultimate judge, karena itu adalah bagian Tuhan, bukan bagian kita. Ketika kita sadar Yesus adalah hakim dunia, maka kita percaya Dialah yang akan menjadikan segala sesuatu baik pada akhirnya. Inilah yang seharusnya membuat kita melihat masa depan dengan penuh pengharapan, sekalipun ada banyak ketidakadilan di dalam dunia sekarang ini. Keadilan manusia itu penting, tetapi kita harus sadar bahwa keadilan manusia tidak akan pernah sempurna.

Pengharapan orang Kristen bukanlah bahwa suatu hari nanti keadilan manusia akan menjadi sempurna. Namun, pengharapan orang Kristen adalah bagaimana Yesus Kristuslah yang akhirnya akan memberikan penghakiman. Sang hakim di dalam Yohanes pasal 5 ini, bukanlah menghakimi sekedar dengan prinsip-prinsip keadilan yang abstrak, ataupun sekedar dengan hukum karma. Hakim dalam Yohanes pasal 5 ini adalah seorang pribadi yang telah diberikan otoritas dan kuasa untuk mendatangkan keadilan di dunia ini. Kita juga harus ingat bahwa sekali lagi Yohanes 5 mengatakan semua orang mati. Berarti termasuk engkau dan saya. Sebagai hakim, Yesus tidak akan sekedar menghakimi dunia di luar sana, tetapi Dia juga akan menghakimi gereja-Nya.

Maka ketika kita sadar akan hal ini, poin kedua adalah bagaimana kita menghidupkan hidup kita sekarang ini. Kita harus hidup dengan rasa takut yang kudus dan dengan rasa takut yang saleh (Godly and holy fear). Karena sang hakim dunia itu juga akan menghakimi kita dan ini harusnya membuat kita melihat apa yang kita lakukan dalam hidup kita sekarang ini adalah sesuatu yang penting dan serius. Ayat 29 mengatakan, “mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” Berarti yang mendapatkan hidup kekal yang dihukum itu tergantung kita berbuat baik atau berbuat jahat. Anak Allah sang hakim itu akan menghakimi kita atas dasar perbuatan kita. Yesus melihat tindakan-tindakan, perbuatan-perbuatan di dalam hidup kita dengan serius. Dia akan melihat, menghakimi apa yang kita lakukan dengan tubuh kita. Bagaimana kita memperlakukan pasangan dan anak-anak kita. Bagaimana kita menggunakan uang dan waktu kita. Apa yang kita lakukan waktu tidak ada orang melihat? Dia akan melihat apa yang ada di dalam hati kita, apakah penuh dengan kepahitan dan kemarahan, atau penuh dengan kebaikan dan ucapan syukur. Tuhan peduli dengan bagaimana kita menghidupkan hidu kita sekarang.

Mungkin kita akan bertanya, bukankah ini berlawanan dengan ajaran Reformed yang mengatakan keselamatan itu karena iman? Apakah itu berarti kalau kita cukup baik, maka kita bisa diampuni, saya bisa masuk ke Surga tanpa iman? Jawabannya tentu tidak. Yohanes 5:24 mengatakan, “Ya, siapa mendengar suaraku percaya, maka dia akan mendapatkan hidup yang kekal.” Jadi, kita diselamatkan memang karena iman kita dan bukan karena pekerjaan kita. Namun, iman yang menyelamatkan itu tidak pernah tanpa perbuatan. Betul iman kita yang menyelamatkan, tetapi ketika kita punya iman yang sejati, maka seharusnya ada perubahan dalam hidup kita. Memang perbuatan baik kita itu tidak membeli keselamatan, tidak membuat kita layak diselamatkan. Perbuatan kita itu menyatakan sebetulnya kita memiliki iman atau tidak.

Pohon yang baik menghasilkan buah yang baik. Maka demikian juga, di hari penghakiman Tuhan akan melihat buah apa yang kita hasilkan di dalam hidup ini. Apakah buah yang kita hasilkan itu sesuatu yang muncul dari iman kita yang sejati. Buah yang kita hasilkan lewat perbuatan kita itu menyatakan apa yang kita percayai, apa yang kita cintai, dan apa yang kita sembah. Inilah mengapa kita harus punya rasa takut akan Tuhan. Bukan takut seolah-olah Tuhan bisa tanpa alasan bisa menghancurkan saya, tetapi takut dalam pengertian kita menganggap Tuhan dengan serius karena Dia itu Allah yang suci. Takut karena kita melihat hidup kita dengan serius, karena suatu hari nanti kita harus mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan Tuhan. Rasa takut akan Tuhan yang alkitabiah adalah rasa takut yang memiliki rasa hormat, kekaguman, dan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Juga memiliki keseriusan ketika kita melihat dosa dalam hidup ini dan memiliki kerinduan untuk hidup suci karena kita ingin menyenangkan hati Tuhan.

Saya ingin mengajak kita merenungkan poin ini. Kalau kita betul-betul percaya bahwa suatu hari nanti kita akan berdiri di hadapan penghakiman Yesus, hal-hal apa yang mulai sekarang kita akan anggap lebih serius? Mungkin kita ada masalah ke tidak jujuran yang kita sering kali lakukan di hadapan orang lain. Mungkin kita harus melihat masalah kemarahan dalam hati yang terus menumpuk dan menjadikan kita penuh dengan kepahitan. Mungkin kita harus melihat masalah kesombongan dalam hati, keinginan untuk selalu menang daripada orang lain. Atau kita ada masalah kemalasan rohani dalam hidup kita. Maukah kita menganggap hal-hal seperti ini dengan lebih serius? Ketika kita sadar suatu hari nanti kita akan berhadapan dengan Dia, sang hakim dunia, kita akan memiliki rasa takut yang suci dan saleh. Rasa takut yang alkitabiah itu bukanlah rasa takut kepada Allah yang tidak bisa diprediksi, tetapi rasa takut kepada Allah yang suci dan adil secara sempurna. Rasa takut yang harusnya tidak membuat kita sembunyi dari Allah, tetapi memperhatikan Allah dengan serius. Rasa takut yang tidak membuat kita lari dari Kristus, tetapi justru lari kepada Kristus.

Inilah yang membawa kita kepada poin yang terakhir tentang Injil, yaitu bagaimana kita melihat masa lalu dengan iman dan penuh ucapan syukur. Kita sudah melihat dua poin bagaimana Yesus adalah hakim yang akan datang untuk menghakimi semua manusia. Dia adalah hakim yang sekarang sedang melihat hidup saya. Kalau berhenti di kedua poin ini, maka ini akan menjadi satu hal yang mengerikan. Namun, Yohanes tidak berhenti di situ karena di ayat ke-24 dikatakan: “Barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, maka ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum.” Apa yang membuat kita orang berdosa, ketika kita mendengar perkataan Kristus, dipindahkan dari alam maut ke dalam hidup? Bukankah Dia hakim yang melihat segala sesuatu dan adil? Bukankah Dia melihat segala dosa dalam hati kita yang paling tersembunyi? Bukankah seharusnya Dia menghukum segala dosa kita? Namun, yang mengejutkan adalah, bagaimana di dalam Injil, sang hakim itu menanggungkan hukuman itu kepada diri-Nya sendiri. Dia yang menjadi hakim dunia, dengan sukarela tunduk di bawah penghakiman Allah, mengambil tempat kita yang berdosa. Dia yang tidak bersalah dijatuhi hukuman. Dia yang seharusnya layak menerima segala hormat diperlakukan seolah-olah Dia pantas untuk dihukum. Demi kita, Sang hakim itu menerima penghakiman.

Maka ketika orang Kristen berpikir tentang hari penghakiman, kita tidak berharap bahwa kita melakukan lebih banyak kebaikan daripada perbuatan jahat kita. Namun, kita hanya berharap kepada Yesus Kristus. Dalam menghadapi hari penghakiman, kita juga tidak mengatakan bahwa kita tidak takut karena kita tidak pernah berdosa, tetapi karena Kristus telah membayar dosa-dosa kita. Kita tidak membanggakan diri karena kita pantas mendapatkan hidup yang kekal oleh karena hidup kita yang cukup baik, tetapi karena Kristus memberikan kepada kita apa yang kita tidak pantas dapatkan. Kalau kita sadar akan hal-hal ini, maka kita akan hidup dengan cara yang sangat berbeda.

Setelah Perang Dunia Kedua, ada seorang yang kita mungkin sudah tahu, bernama Corrie ten Boom, dia adalah salah satu korban dari Nazi, tetapi dia kembali ke Jerman setelah perang dunia dan dia mengkhotbahkan tentang pengampunan Allah. Di dalam salah satu pertemuan gereja di Munich yang dia layani, dia bertemu dengan salah seorang penjaga yang waktu itu pernah bertugas di dalam concentration camp, di mana dia dan saudarinya Betsie, pernah ditangkap dan ditahan di sana sampai akhirnya Betsie meninggal dunia. Mantan penjaga ini pun bertobat menjadi orang Kristen. Pada pertemuan itu, penjaga ini menghampiri Corrie ten Boom untuk meminta maaf kepada Corrie ten Boom. Penjaga ini sudah diampuni oleh Kristus dan Corrie ten Boom juga datang ke gereja itu untuk memberitakan pengampunan Allah. Namun, sekalipun demikian, Corrie ten Boom merasa dia tidak bisa langsung berespons, karena bertemu dengan orang yang pernah hadir dalam concentration camp itu membawa segala memori yang sangat tidak baik dan juga memori dari kematian saudarinya. Namun, akhirnya setelah dia berdoa meminta pertolongan Tuhan, akhirnya dia bisa mengampuni mantan penjaga ini.

Kekristenan tidak mengatakan bahwa ketidakadilan itu tidak masalah, lupakan saja. Kekristenan tidak pernah mengajarkan, “Sudahlah, ampuni saja penjaga itu karena perbuatannya tidak ada artinya.” Tentu tidak demikian. Kekristenan percaya bahwa keadilan adalah sesuatu yang serius dan penting. Namun, pengampunan itu bisa terjadi hanya karena Kristus telah menyelesaikan dosa. Yang lebih mengagumkan dalam Yohanes pasal 5 ini, Yesus bukan sekedar mengajarkan kita untuk mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita, tetapi Yesus mengingatkan bahwa Dialah sang hakim itu. Hakim yang suatu hari akan menghakimi setiap manusia, tetapi Dia juga adalah hakim yang naik ke kayu salib untuk dihakimi menggantikan semua orang berdosa. Pengampunan bukan berarti keadilan itu remeh, tetapi berarti kita mempercayakan keadilan yang paling ultimate di tangan Allah, sembari kita juga menerima belas kasihan Allah lewat Kristus. Hakim yang keadilannya begitu sempurna, mengampuni kita orang yang bersalah. Bagaimana mungkin? Bukan karena dia sekedar menutup mata atas dosa-dosa kita. Namun, Sang hakim itu sendiri yang menanggung penghakiman Allah.

Di dalam perjamuan kudus, kita bukan sekedar mengingat Yesus yang mati, tetapi kita mau mengingat kenapa Dia mati. Dia mati karena Dia adalah hakim yang mengambil penghakiman kita. Hukuman yang harusnya kita tanggung diberikan kepada Kristus, sehingga kehidupan yang seharusnya milik Kristus sekarang menjadi milik kita. Itulah kenapa perjamuan kudus bukanlah sekedar mengingat masa lalu yang menyedihkan, yang terjadi pada Tuhan Yesus, tetapi ini adalah sebuah perayaan anugerah Allah lewat Yesus. Maka bagi orang Kristen, penghakiman dunia itu bukanlah sekedar sesuatu yang kita tunggu-tunggu, tetapi sesuatu yang harusnya membuat kita waspada dalam kita menjalani hidup kita sekarang ini. Sesuatu yang membuat kita lebih berpengharapan, karena ketika kita melihat ke masa depan, kita melihat seorang hakim yang akan menjadikan segala sesuatu baik adanya. Ketika kita melihat masa sekarang, kita melihat hidup yang sedang dinilai oleh sang hakim itu. Maka kita hidup dalam rasa takut yang kudus. Pada saat yang sama, kita juga seharusnya menjadi orang-orang yang hidup dalam dunia ini penuh dengan ucapan syukur dan sukacita. Karena di masa lalu, kita melihat seorang hakim yang naik ke kayu salib bagi kita. Kristus sang hakim akan datang. Maka mari kita hidup di dalam penuh pengharapan akan keadilan-Nya, hidup dengan rasa takut akan kekudusan-Nya dan hidup dengan iman yang bersyukur kepada-Nya.

Close
Close Search Window