Download versi cetak: 1274_1447_KebaktianPagiSore_2026-26Jul

Sabat yang Sejati

Yohanes 5:8-21, Keluaran 20:8-11, Ulangan 5:12-15

Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Saya sedang bahas seri mukjizat yang Tuhan Yesus lakukan dalam Injil Yohanes. Hari ini adalah mukjizat ketiga, Tuhan menyembuhkan orang lumpuh di tepi kolam Betesda (Yoh 5). Hari ini kita fokus kepada tema hari Sabat. Dalam kisah ini, Tuhan Yesus mengatakan tiga perkataan. Pertama “Maukah engkau sembuh?”. Tuhan Yesus di sini menunjukkan ketidakberdayaan kita dan membongkar pengharapan palsu kita. Dalam anugerah Tuhan, Tuhan yang pertama kali datang, bukan orang ini mencari Tuhan, tetapi Tuhan yang datang kepadanya. Kedua, Yesus menyatakan kuasa-Nya ketika Dia mengatakan, “Bangun, angkat tilam dan berjalanlah.” Kata “bangunlah” itu kata yang sama untuk bangkit. Orang mati yang akan dibangkitkan oleh Allah itu kata yang sama, bangunlah. Kita melihat ketika Yesus mengatakan hal ini kepada orang yang menyebalkan dan tidak layak ini, ini menunjukkan belas kasihan Tuhan bagi yang tidak layak. Ketika akhirnya orang ini telah sembuh, Yesus datang kedua kalinya dan mengatakan, “Sekarang jangan berbuat dosa lagi.”

Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk mengalami keselamatan, tapi untuk hidup kudus. Tujuan Allah menyelamatkan kita adalah untuk menguduskan kita. Hari ini kita mendalami makna dari Sabat. Dalam Yohanes 5, Yesus sepertinya sengaja menyembuhkan orang lumpuh ini di hari Sabat. Karena Tuhan mau mengatakan bahwa Sabat itu bukan sekedar aturan agama atau hari libur. Tuhan mau menunjukkan apa yang sebetulnya manusia itu butuhkan, yaitu rest. Rest yang sejati itu apa? Kenapa banyak orang yang hidupnya sebetulnya baik-baik saja, tidak mengalami penganiayaan, penindasan, tapi sepertinya tidak pernah sungguh-sungguh at rest? Banyak dari kita yang bisa tidur berapa jam pun kita tetap lelah. Kita bisa pergi liburan ke mana saja tapi tetap gelisah. Hidup kita juga bisa dikatakan cukup berhasil tapi sepertinya tidak pernah puas. Bahkan ketika kita sedang beribadah di tempat ini, mungkin banyak dari kita yang pikirannya masih dipenuhi dengan pekerjaan dan segala kekhawatiran hidup.

Singapura banyak sekali taman-taman, tempat yang banyak hijau-hijauan, tempat terbuka. Tempat-tempat yang seharusnya memberikan healing dari segala kepenatan di Singapura ini. Tapi kenapa justru di negara yang banyak tempat hijau ini, kita menemukan banyak sekali orang stres? Masalah di sini bukan karena terlalu sibuk, bukan karena hidup kita terlalu susah. Tapi mungkin kita sudah tidak tahu lagi apa itu rest yang sejati. Kita kehilangan rest yang sejati. Saya bingung bahasa Indonesianya itu apa. Biasanya rest itu diterjemahkan istirahat. Tapi rest dalam bahasa Inggris juga bisa arti lain, misalnya berhenti. Rest itu juga bisa berarti tenang atau damai. Sebaliknya, restless artinya penuh kegalauan. Jadi sebetulnya apa rest yang sejati yang manusia perlukan dalam hidupnya?

Dalam zaman dan konteks budaya yang berbeda, makna atau konsep rest itu ternyata berubah. Dalam zaman Yunani kuno seperti Aristoteles, budaya ini melihat rest itu sebagai kondisi seluruh jiwa kita, bukan sekedar mental, state of inner being. Jadi kegiatan rest adalah kegiatan di mana mereka tidak disibukkan dengan pekerjaan. Tetapi mereka bisa memakai waktu itu untuk berpikir, merenung, dan untuk kontemplatif, untuk memikirkan kondisi jiwa mereka dan belajar mengembangkan diri menjadi orang yang lebih baik. Sehingga bagi orang Yunani, kerja kasar, kerja fisik itu adalah sesuatu yang rendah. Kalau bisa, tidak usah bekerja. Bekerja kalau memang perlu mencari uang, barulah kita bekerja. Kalau kamu memang budak, nasibnya kapan pun kamu disuruh kerja, kamu harus kerja. Tetapi idealnya hidup itu harusnya kegiatannya restful, memikirkan tentang kebenaran, berfilsafat,  itu baru kegiatan yang level tinggi. Sayangnya dalam pandangan klasik Yunani ini berarti hanya sebagian orang saja yang bisa menghabiskan waktu untuk melakukan hal seperti ini. Hanya para bangsawan, aristokrat yang bisa tidak perlu bekerja. Sedangkan orang biasa, atau bahkan budak, harus bekerja kasar.

Pandangan Sabat orang Yahudi itu sangat berbeda dengan pandangan klasik Yunani. Karena dalam pandangan Sabat orang Yahudi, dikatakan kamu beserta anak-anakmu laki-laki, perempuan, budakmu laki-laki, perempuan, bahkan orang asing yang tinggal di rumahmu, harus merayakan rest. Tapi pengertian Yunani tentang rest ini sedikit diadopsi oleh tradisi gereja juga. Misalnya, Agustinus, Aquinas dan orang-orang yang masuk dalam biara, mereka melihat hidup itu harusnya seperti ini. Hidup yang dijalani untuk kontemplasi, meditasi itu jauh lebih baik daripada hidup sibuk sana sini. Akhirnya pada zaman biarawan monastery, orang-orang yang masuk monasteri itu dianggap level hidupnya lebih tinggi daripada orang-orang yang pergi berdagang, berpolitik. Karena orang masuk biara itu kerjanya baca Alkitab, membaca tulisan bapak gereja, berdoa, meditasi, membangun jiwa mereka. Ini hidup yang jauh lebih baik. Makanya banyak orang pikir masuk sekolah teologi karena nanti saya jadi hamba Tuhan / pendeta, bisa setiap hari baca Alkitab, berdoa, begitu bekerjanya. Waktu jadi pendeta lalu harus khotbah beberapa kali seminggu baru anda sadar, ternyata persiapan khotbah tidak seindah itu.

Memasuki zaman Renaissance atau zaman reformasi, pandangan rest mulai bergeser. Zaman Renaissance sebetulnya lebih dipengaruhi Romawi daripada Gerika. Kalau Yunani, tujuan paling tinggi adalah rest itu sendiri. Pandangan Romawi itu kita rest supaya kita bisa kerja. Ini sepertinya senada dengan pandangan Reformasi dari Luther dan Calvin, yang juga cenderung mengkritik kehidupan biarawan. Tentu banyak hal baik dalam biara. Mereka mengatakan hidup ini adalah menjalankan panggilan bagi setiap orang percaya dari Tuhan untuk bekerja, priesthood of all believers (keimaman setiap orang percaya). Apapun pekerjaanmu, kalau memang itu adalah panggilan Tuhan, kerjakan dengan sungguh-sungguh. Penulis-penulis Reform melihat tujuan dari kita rekreasi, dari istirahat, supaya kita bisa dipulihkan dari segala keletihan untuk kita kembali mengerjakan panggilan Tuhan.


Memasuki zaman industri mulai ada pergeseran lagi. Istirahat atau rest sekarang dilihat sebagai waktu kosong, waktu bebas. Tadi Yunani lihat rest itu sebagai meditasi, kontemplatif. Kalau Renaissance Reform itu melihat rest sebagai kegiatan-kegiatan yang tidak terkait dengan pekerjaan, supaya nantinya kita bisa bekerja. Pada zaman industri, rest itu dilihat sebagai waktu kosong ketika saya bisa lakukan apa yang saya mau tanpa tuntutan tertentu. Karena pada zaman industri itu muncul dua hal, pertama muncul alat pengukur waktu (jam). Jam waktu sekarang bisa diukur dengan detik, menit dan jam. Dalam satu kota, satu negara itu bisa dibuat satu standar jam. Selain itu ada pergeseran dari pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan orang-orang zaman itu. Sebelumnya biasanya orang itu bekerja di rumah, tempat tinggal mereka, berternak atau bertani. Tapi zaman industri, orang bekerja keluar pergi ke pabrik, ke kantor, ke tempat lain, sehingga ada lokasi dan ada jam tertentu yang dialokasikan untuk bekerja. Sedangkan waktu istirahat adalah waktu di luar jam kerja. Mungkin ini juga konsep sampai zaman sekarang. Kita lihat free time itu adalah misalnya sedikit waktu sebelum kita pergi bekerja, satu jam di tengah hari untuk makan siang, setelah office hour,juga weekend di mana saya tidak usah ke kantor. 

Tetapi ini membuat hidup jadi terkotak-kotak, terfragmentasi. Ini menunjukkan bahwa konsep berhenti dari kerja itu sendiri tergantung konteks dan zaman. Orang Yahudi, ketika mendapatkan perintah merayakan atau menguduskan hari Sabat, ketika hari itu mereka harus berhenti dari segala pekerjaanmu. Mereka mulai pikir, kita disuruh berhenti dari pekerjaan. Apa maksudnya berhenti dan rest dari pekerjaan? Akhirnya, bagi orang Yahudi, Sabat itu adalah hari dan jam tertentu, di mana dalam periode waktu itu kamu tidak boleh melakukan ini dan itu. Mereka mencoba mendetailkan berhenti dari pekerjaan itu maksudnya apa, termasuk salah satunya tidak boleh mengangkat tilam di hari Sabat. Tidak boleh jalan lebih dari beberapa langkah. Tidak boleh melakukan hal-hal tertentu, yang kalau dilihat ini konyol sekali. Ini akhirnya membuat orang Yahudi seperti orang Farisi, punya konsep yang sangat detail tentang Sabat, sampai akhirnya mereka kehilangan makna Sabat yang sejati. Itulah kenapa Tuhan Yesus datang, seperti sengaja menyembuhkan di hari Sabat. Karena menurut orang Farisi tidak boleh menyembuhkan orang di hari Sabat. Tapi di sini Tuhan Yesus mau mengatakan ada yang salah dalam konsep Sabat mereka. Kisah ini bukanlah sekedar kisah seseorang yang tidak bisa jalan lalu sembuh. Ini adalah kisah seorang yang tidak bisa mengalami apa yang seharusnya manusia itu alami. Manusia yang seharusnya mengalami rest yang sejati, tidak tahu apa itu rest yang sejati. Maka Yesus akhirnya menyembuhkan orang ini bukan sekedar supaya orang itu akhirnya sembuh secara fisik saja dan bisa mengalami hari-hari yang baik. Tapi untuk menunjukkan bahwa Dia datang memulihkan apa itu sebetulnya rest yang sejati bagi umat manusia. 

Dua bagian Alkitab tentang hukum Sabat. Keluaran 20:8-11. Ulangan 5:12-15. Ada beberapa hal yang kita bisa renungkan ketika kita membandingkan dua perintah tentang Sabat ini. Pertama, kita lihat dua perintah ini sama-sama memerintahkan untuk kita menguduskan (set apart) satu hari bagi Tuhan, yaitu dengan berhenti melakukan pekerjaan. Hal ini harus dilakukan bersama-sama dengan orang lain, yaitu seisi rumah kita. Kenapa Tuhan memberikan hukum Sabat ini? Kitab Keluaran memberikan alasan karena Tuhan ciptakan dunia ini 6 hari, pada hari yang ketujuh Dia beristirahat. Kitab Keluaran memakai kisah penciptaan untuk menjadikannya sebagai alasan hukum Sabat. Tapi dalam perintah kedua dalam kitab Ulangan, kita merayakan Sabat karena Tuhan pernah membebaskan engkau. Dulu engkau diperbudak Mesir, lalu engkau dibawa keluar oleh Tuhan. Di sini kita bisa menyimpulkan beberapa hal terkait makna Sabat, makna rest dalam Alkitab. Ada empat poin terkait makna rest.

Kitab Keluaran menjadikan kisah penciptaan sebagai alasan hukum sabat. Karena konteksnya kitab Keluaran, Allah itu sedang berbicara kepada orang Israel yang baru keluar dari perbudakan Mesir di atas Gunung Sinai. Selama puluhan tahun mereka diperbudak Mesir, mereka pikir mereka hanyalah budak-budak yang hanya hidup untuk melayani Firaun. Tetapi melalui Musa, Tuhan mengatakan tidak Israel, kamu itu manusia, kamu itu gambar dan rupa Allah. Sekarang aku akan mengajari engkau apa artinya hidup sebagai gambar dan rupa Allah. Salah satunya adalah ini, karena Allah bekerja menciptakan dunia 6 hari dan berhenti pada hari yang ketujuh, maka kita juga dipanggil untuk bekerja 6 hari dan beristirahat pada hari yang ketujuh.

Apa maksudnya Allah beristirahat pada hari yang ketujuh? Ini bukan berarti pada hari ketujuh Allah berhenti bekerja. Tidak! Karena kalau Allah berhenti bekerja sebagai Allah yang menopang dunia dan alam semesta, maka semuanya akan hancur. Tapi perhentian Allah pada hari ketujuh, itu adalah gambaran di mana setelah Allah 6 hari menciptakan dunia sebagaimana yang Dia inginkan, maka Dia berhenti karena Dia puas. Setelah Allah menciptakan dunia yang baik adanya ini, maka Dia bertahta di atas dunia dan menikmatinya. Dia melihat semua ini baik adanya. Itu juga kenapa manusia yang diciptakan pada hari keenam, ketika besoknya sudah hari ketujuh. Allah ingin manusia menikmati ciptaan Allah yang baik itu di Taman Eden. Maka kita percaya makna pertama Sabat, rest yang sejati adalah ketika kita menikmati ciptaan Allah yang baik, kita merayakan kehidupan yang berasal dari Allah. Sebagai gambar dan rupa Allah, betul kita punya panggilan bekerja, tetapi kita juga punya kesempatan untuk menikmati dan merayakan hidup yang berasal dari Allah ini.

Ada dua macam ekstrem, pertama, orang yang hidupnya hanya ingin full entertainment, tidak mau kerja, hanya mau senang-senang. Kisah penciptaan ini mengingatkan bahwa kita hidup punya tanggung jawab mengerjakan panggilan Tuhan, bekerja dalam dunia ini. Allah Anak bekerja karena Bapa-Nya bekerja. Kita, gambar dan rupa Allah, anak-anak Allah juga seharusnya bekerja sebagaimana Allah bekerja. Tapi di sisi lain adalah ekstrem workaholic. Kita hanya bekerja, bekerja, bekerja dan istirahat supaya kita bisa bekerja lebih keras lagi. Untuk orang-orang seperti ini, harus belajar untuk bisa menikmati segala hal baik dari Tuhan. Bahkan John Calvin yang hidupnya kelihatannya sangat kerja keras, dia tulis commentary, melakukan banyak hal. Orang yang kerjanya sedemikian squeeze. Dia juga mengatakan dunia ini adalah teater dari kemuliaan Allah. Maka Sabat itu harusnya menjadi perayaan kehidupan yang membuat hidup kita penuh sukacita.

Tapi kitab Ulangan katakan alasan hukum Sabat, itu adalah kisah penebusan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Kitab Ulangan itu konteksnya disampaikan oleh Musa kepada generasi kedua bangsa Israel setelah keluar dari Mesir. Dalam kitab Ulangan, Musa berbicara kepada orang Israel yang sudah mengembara di padang gurun selama 40 tahun. Sekarang ketika mereka berdiri di tepi garis tanah perjanjian, maka Tuhan mengatakan hal ini. Waktu kita belajar kitab Yosua, kita baca list pembagian tanah kepada 12 suku Israel, tentang kota-kota perlindungan yang Tuhan berikan, kota-kota bagi kaum Lewi. Waktu kita baca semua itu berpasal-pasal kita merasa bosan, tapi bagi bangsa Israel, itu adalah momen-momen yang mereka sudah nanti-nantikan lebih dari 40 tahun. Bayangkan mereka sudah diperbudak oleh Mesir selama berapa puluh tahun. Sekarang ketika mereka keluar dari Mesir, 40 tahun mereka mengembara di padang belantara tanpa rumah. Setelah Musa meninggal dunia digantikan oleh Yosua selama 7 tahun, mereka berperang merebut kota demi kota di tanah perjanjian. Setelah 47 tahun itu, akhirnya mereka punya sepetak tanah yang mereka bisa sebut sebagai rumah, tanah ke mana mereka akhirnya masing-masing bisa pulang untuk rest. Tidak lagi jadi budak Mesir, tidak lagi merantau di padang belantara, tidak lagi berperang. Mereka sekarang bisa melepas lelah, mendapat kelegaan dari segala beban mereka selama ini.

Dua alasan ini yang menjadi makna Sabat, pertama adalah perayaan kehidupan menikmati ciptaan Tuhan yang baik. Kedua adalah mengingat hari pertolongan dan keselamatan dari Tuhan, di mana Tuhan membebaskan umat-Nya dari beban yang selama ini membelenggu mereka. Maka betapa konyolnya orang Farisi mereduksi Sabat sekedar menjadi hari di mana kamu tidak boleh angkat tilam. Bagi Tuhan, Sabat, rest adalah ketika Dia melihat segala yang dilakukan-Nya itu baik. Memang kemudian dosa masuk, ciptaan Tuhan yang sempurna akhirnya menjadi rusak, ada kejahatan, ketidakadilan, penderitaan, sakit penyakit. Sehingga seperti orang lumpuh dalam Yohanes 5 ini, 38 tahun dia tidak bisa melakukan hal sederhana yang seharusnya setiap manusia bisa nikmati dalam hidupnya, berdiri, berjalan, bekerja dengan kedua kakinya. Dia seperti dibelenggu oleh kakinya sendiri yang lumpuh, berjalan masuk ke kolam beberapa meter di depannya saja tidak bisa.

Dalam realita hidup yang berat dan terbelenggu seperti ini, tiba-tiba Yesus datang. Dia yang punya kuasa untuk menata ulang kembali ciptaan, yang rusak menjadi baik kembali. Yesus yang datang membebaskan orang ini dari kelumpuhan yang membelenggunya. Orang ini yang selama 38 tahun diikat oleh kakinya sendiri, sekarang akhirnya bisa lepas, bisa lega. Sabat adalah momen-momen di mana kita ingat dan lihat pertolongan yang Tuhan berikan dalam hidup kita. Momen-momen yang seharusnya membuat kita jadi orang yang bersandar kepada Tuhan hari demi hari. Ada satu bagian dari Perjanjian Lama di mana Tuhan mengajarkan Israel apa arti Sabat itu lewat roti manna. Tuhan kasih roti manna diturunkan dari langit setiap hari kepada orang Israel. Orang Israel hanya bisa kumpulkan cukup untuk satu hari itu saja. Kalau mereka ambil lebih untuk disimpan, langsung menjadi busuk kecuali hari keenam. Hari keenam Tuhan memberikan dua kali lipat supaya setiap orang Israel bisa kumpulkan dua kali lebih banyak daripada biasanya, supaya hari ketujuh mereka tidak usah bekerja, tidak usah kumpulkan roti manna. Ini mengajarkan bahwa kalau kita berhenti bekerja satu hari saja, hidup kita tidak akan kekurangan, belajar percaya kepada pemeliharaan Tuhan. Dunia sekitar kita terus mengajarkan kita untuk terus kerja lebih berat, usaha lebih kuat, lebih cepat, lebih produktif. Kita kadang hidup merasa seperti orang lumpuh itu, yang juga ingin buru-buru masuk ke dalam kolam tapi selalu keduluan orang lain. Karena dalam hidup ini selalu ada orang lain yang lebih cepat, lebih pintar, lebih beruntung. Tapi yang Yesus akhirnya nyatakan kepada orang ini adalah bukan seberapa besar usahamu, tetapi berapa besar anugerah Tuhan. Akhirnya orang ini disembuhkan bukan karena dia paling cepat, tapi karena Tuhan berbelaskasihan. Kesadaran ini yang bisa memberikan kita rest dalam hati, bahwa akhirnya segala sesuatu yang kita punya itu semata-mata anugerah pertolongan Tuhan. Saya hanya perlu kerjakan apa yang Tuhan mau saya kerjakan 6 hari. Kita kerja 7 hari seminggu pun, tidak akan membuat kita dapat lebih banyak kalau bukan Tuhan yang kasih. Belajar bersandar pada pemeliharaan Tuhan, barulah kita punya rest dalam hati ini.

Dua hal ini saja tidak cukup, pertama hati yang penuh sukacita menikmati segala pemberian baik Tuhan. Kedua, hati yang tenang, yang bersandar pada pertolongan dan pemeliharaan Tuhan. Ini tidak cukup kalau kita tidak punya yang ketiga, yaitu hati yang menikmati Tuhan itu sendiri. Makna Sabat ketiga ini yang paling penting. Karena bisa saja seseorang itu hidup menikmati segala hal baik dalam dunia ini, bisa saja seseorang berulang kali dalam hidupnya merasakan banyak pertolongan, lolos dari kesulitan dan bahaya tapi dia tidak ingat Tuhan. Dia tidak pernah merasakan sukacita menikmati Tuhan itu sendiri. Orang-orang yang hanya menginginkan berkat dan pertolongan Tuhan tanpa menginginkan Tuhan itu sendiri. Karena itu poin ketiga, kita harus ingat Sabat itu adalah momen di mana kita berhenti fokus pada segala sesuatu yang lain, untuk fokus, mencari dan menikmati hadirat Tuhan itu sendiri. Itulah kenapa dikatakan Sabat, hari di mana kita berhenti bekerja dan set apart, kuduskan hari ini jadi milik Tuhan.

Sayang sekali dalam Yohanes 5 ini, orang lumpuh yang disembuhkan itu hanya mengalami makna rest yang pertama dan kedua saja. Dia menikmati anugerah Tuhan, ditolong Tuhan, tapi dia tidak mengerti, tidak mengalami perjumpaan yang benar dengan Tuhan. Bayangkan orang ini mengalami mukjizat luar biasa, 38 tahun tidak bisa sembuh, sekarang bisa sembuh, hidupnya baru, tetapi dia tidak mengenal Tuhan di hadapannya. Memang akhirnya dia pergi ke Bait Allah beribadah. Tapi ketika Yesus datang pertama kali dan menyembuhkan dia, dia tidak mengenali siapa Yesus. Ketika orang Farisi tanya, “Siapa yang sembuhkan kamu?”, dia mengatakan dia tidak tahu siapa. Bahkan ketika Yesus mencari dia di Bait Allah, Tuhan Yesus kedua kalinya sengaja mencari dan datang kepada dia. Tapi orang ini malah melaporkan Yesus kepada orang Farisi. Yesus datang mengatakan, “Kamu sudah sembuh, sekarang jangan lagi berdosa.” Yesus ingin mengajarkan, mengarahkan orang ini bagaimana menjalani kehidupannya yang sudah baru itu. Tapi orang ini tidak mendengarkan Tuhan dan dia malah lebih memikirkan dan gelisah ditegur dan diinterogasi orang Farisi. Akhirnya dia malah kehilangan makna rest yang sesungguhnya: menikmati hadirat Tuhan di hadapannya.

Padahal inilah inti seluruh teologi kitab suci: Allah yang hadir di tengah-tengah umat-Nya. Bicara Taman Eden, tanah perjanjian, Bait Suci, Kristus, langit dan bumi yang baru, semua itu bicara hadirat Allah di tengah-tengah umat-Nya. Tapi kadang kita malah paling tidak mau pusingkan hal ini. Kita pikirkan pandangan orang lain, pentingkan solusi terhadap masalah-masalah kehidupan kita. Tragedi terbesar orang lumpuh ini bukanlah dia tidak bisa berjalan 38 tahun. Tetapi ketika Yesus datang untuk menolong dan melepaskannya dari kelumpuhan, ketika Yesus datang mencari dia kedua kalinya, orang ini tidak kenal siapa Yesus. Kesembuhan tidaklah cukup. Sering kali kita pikir kalau masalah kita selesai barulah saya ada rest dalam hati. Ini ilusi, sekalipun dalam hidup ini Saudara bisa pensiun dini dengan kaya raya, dengan badan yang sehat, Saudara tetap bisa restless. Seperti Agustinus katakan: hati kita akan terus restless sampai mereka rest di dalam Tuhan. Sabat itu mengarahkan kita untuk menikmati rest yang sejati ketika kita bisa menikmati Allah. Ini sesuatu yang kita sebagai orang berdosa akhirnya bisa nikmati juga. Karena Kristus adalah Juru Selamat, yang bukan sekedar menolong kita keluar dari masalah-masalah hidup ini tapi Dia adalah Juru Selamat yang menghapuskan dosa kita, memperdamaikan kita dengan Allah. Itu sebabnya dalam Kristus kita menemukan rest yang sejati, dalam keadaan apapun hidup ini kita ada damai, ada rest dalam hati. Karena kita percaya Allah yang kita sembah adalah Bapa yang mengasihi kita. Kita mendapatkan kesempatan menikmati relasi yang indah dengan Tuhan. Dalam Sabat yang sejati kita bisa menikmatinya bersama dengan saudara seiman.

Makna Sabat terakhir: kita bisa menikmati Allah dalam persekutuan dengan saudara seiman. Berbeda dari konsep rest orang Yunani kuno di mana hanya kaum aristokrat yang bisa menikmati. Dalam konsep Sabat Alkitab, semua satu keluarga: anak-anak laki, perempuan, budak laki, perempuan, orang asing, bahkan hewan sama-sama berkumpul menyembah Tuhan. Itulah kenapa salah satu hal penting dalam Sabat orang Kristen itu adalah kebaktian hari Minggu. Kita stop dari pekerjaan kita, tidak peduli status sosialmu apa. Semua sama-sama datang beribadah, bersekutu, melayani satu dengan yang lain. Kita sama-sama satukan hati kita, fokus bukan untuk cari berkat dan pertolongan Tuhan saja, tetapi memuji Tuhan itu sendiri. Kita ibadah mengingat segala kebaikan, pertolongan, keselamatan yang Tuhan berikan bagi kita. Kita sama-sama belajar menyerahkan segala tantangan hidup ini dengan bersandar pada Dia dalam doa. Lewat firman kita kembali diingatkan, ditegur, dibimbing, dikuatkan.

Dalam Yohanes 5 juga ada ironi lain, selama 38 tahun, orang lumpuh ini menunggu di serambi kolam Betesda bersama dengan orang sakit lainnya. Itu banyak sekali orang-orang sakit di sana. Tapi sekalipun orang ini dikelilingi orang lain, ironisnya dia mengatakan, “tidak punya siapa-siapa yang bantu saya turun ke kolam.” 38 tahun dikelilingi keramaian tetapi hidup dalam keterasingan. Betesda bukanlah komunitas tapi kompetisi. Hanya yang pertama masuk yang menang. Ini gambaran dunia yang jatuh dalam dosa. Dunia yang mengatakan tidak cukuplah kalau itu dibagikan untuk semua orang. Tetapi Kristus mengatakan, “Siapa saja semua yang letih lesu, berbeban berat, datang kepada-Ku, Aku akan memberikan kelegaan.” Siapa pun yang akhirnya datang kepada Kristus, dia tidak diselamatkan seorang diri. Dia dipersatukan dalam tubuh Kristus jadi bagian dari keluarga Allah, di mana kita sesama orang cacat ini belajar untuk mengasihi satu sama lain seperti Kristus mengasihi kita. Maka tidak peduli siapa pun engkau, tua muda, latar belakang pekerjaan, suku, keluarga, apa masa lalumu; mari semua datang bersekutu menikmati berkat dan hadirat Tuhan. Sabat sekali lagi bukanlah sekedar jangan bekerja, jangan angkat tilam. Yesus mengatakan manusia bukan diciptakan untuk Sabat, tapi Sabat adalah sesuatu yang Allah berikan supaya manusia bisa mengalami sukacita atas kehidupan, mengingat pertolongan dan keselamatan dari Tuhan dan memiliki persekutuan dengan Allah dan saudara seiman.

Empat hal ini hanya bisa kita dapatkan dalam Kristus karena hanya dalam Kristus kita bisa belajar menikmati segala anugerah Tuhan tanpa menjadikannya berhala. Hanya dalam Kristus kita berhenti bersandar pada usaha kita sendiri untuk mengontrol hidup ini, tapi bersandar pada pemeliharaan dan kesetiaan Tuhan. Hanya dalam Kristus kita bisa berhenti lari dari hadapan Allah, karena kita bisa belajar menikmati Allah yang denganNya kita sudah diperdamaikan. Hanya dalam tubuh Kristus, kita bisa belajar tidak hidup individualis, terasing, tapi jadi bagian dari satu keluarga Allah yang telah ditebus. Yesus berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Karena proyek Sabat Allah itu belum selesai, Allah masih terus bekerja memulihkan kejatuhan manusia dalam dosa. Sampai nanti hari di mana suara yang pernah mengatakan di tepi kolam Betesda, “Bangkitlah, berjalanlah,” akan kemudian berkata-kata kepada semua orang dalam kubur: “Keluar, bangkit!” Sehingga akhirnya mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal. Mukjizat ketiga ini hanyalah cicipan kecil dari rest yang sesungguhnya yang nanti kita akan alami dalam langit dan bumi yang baru, di mana kita bisa menikmati ciptaan Allah yang baik, pemeliharaan Tuhan, menikmati hadirat Tuhan dan persekutuan yang indah satu dengan yang lain.

Close
Close Search Window