Download versi cetak: 1266KebaktianPagi_2026-31May

Mengerti Karunia Roh

Yohanes 3:3-8; 1 Korintus 12:1-13

Pdt. Adrian Jonatan M.Th

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Kita sudah dengar Roh Kudus adalah air yang dijanjikan Yesus, yang menghapuskan dahaga kita. Yesus mengundang kita boleh menerima Roh Kudus untuk bekerja dalam hati kita. Kita merenungkan pekerjaan Roh Kudus, khususnya dalam abad ke-20, sepertinya ada kebangkitan pembicaraan mengenai Roh Kudus. Seakan-akan selama 19 abad Roh Kudus tidak bekerja, hanya abad ke-20 pekerjaan Roh Kudus meledak di mana-mana. Tetapi kita lihat abad ke-21 terjadi banyak kebingungan, ketegangan, fenomena-fenomena aneh terjadi dan diasosiasikan dengan Roh Kudus. Maka kita patut merenungkan kembali apa yang Roh Kudus sungguh-sungguh kerjakan. Orang mengatakan orang reformed jarang membicarakan dan tidak memuliakan Roh Kudus. Tapi Roh Kudus itu sangat penting sebenarnya dalam seluruh kehidupan rohani kita.

John Calvin itu disebut Theologian of the Holy Spirit, Teolog Roh Kudus, karena dia menyadari, semua kerohanian kita itu hanya dimungkinkan oleh pekerjaan Roh Kudus. Kita bisa percaya kepada Yesus itu karena Roh Kudus. Kita bisa bekerja, bisa melayani itu karena Roh Kudus. Kita bisa mengerti Alkitab, melalui pemahaman Alkitab (PA) itu karena Roh Kudus. Semua kerohanian kita dan yang dikerjakan dalam gereja itu semua di-drive oleh Roh Kudus. Kalau kita mau betul-betul memuliakan Roh Kudus, kita harus mengerti apa sebenarnya pekerjaan Roh Kudus dan bagaimana dia konsisten dari awal terus bekerja. Setiap kita membaca Alkitab, saudara boleh merenungkan dan merefleksikan apa yang boleh kita pelajari. Hari ini kita belajar bagaimana Roh Kudus bekerja dalam kehidupan kita. Minggu lalu kita merayakan Pentakosta, hari di mana Roh Kudus turun dan memulai pekerjaan yang baru. Tapi Roh Kudus bukan baru bekerja setelah hari Pentakosta. Orang seringkali keliru Roh Kudus baru muncul pada hari Pentakosta, seakan-akan sebelumnya tidak ada pekerjaan Roh Kudus sama sekali. Roh Kudus itu sudah bekerja sejak awal. Roh Kudus itu sudah ada karena Roh Kudus adalah salah satu pribadi dari Allah Tritunggal. Dalam kekekalan Roh Kudus sudah ada bersama dengan Allah Bapa dan Allah Anak. Roh Kudus sudah bekerja dalam penciptaan. Walaupun Allah Tritunggal dalam pribadinya mengambil peran berbeda dalam setiap kegiatan, tapi Allah ketiga pribadi itu selalu bekerja bersama-sama, menjadi satu kesatuan yang indah. Demikian juga dalam penciptaan, Allah Bapa yang menentukan dan merencanakan seluruh desain dari penciptaan itu. Tetapi Allah itu mencipta di dalam Firman sehingga seluruh ciptaan itu diciptakan dalam Allah pribadi kedua yaitu Allah Firman. Karena itulah Allah pribadi kedua itulah yang akan menerima seluruh ciptaan. Seluruh ciptaan itu sebenarnya diciptakan untuk Allah pribadi kedua yaitu Yesus Kristus, karena itu juga Yesus Kristus yang kemudian mati menebus seluruh ciptaan.

Allah Roh Kudus juga bekerja dalam ciptaan. Dalam Kejadian 1:2, waktu Tuhan menciptakan alam semesta, alam semesta itu belum berbentuk dan kosong dan Tuhan sedang mempersiapkan untuk membentuk seluruh ciptaan. Jadi penciptaan bukan 6 hari, penciptaan itu terjadi seketika. Kejadian 1:1 Allah menciptakan langit dan bumi, ayat 2 dikatakan langit dan bumi itu masih kosong dan tidak berbentuk, jadi yang kita sebut enam hari penciptaan itu sebenarnya bukan hari penciptaan tapi hari Tuhan membentuk ciptaan yang kosong dan tidak berbentuk itu menjadi suatu bentuk yang indah. Seorang potter memisahkan bentuknya lalu membuat bentuk yang diinginkan. Di situlah Kejadian 1 itu begitu indah, Allah memisahkan terang dan gelap, memisahkan air di atas dan air di bawah, memisahkan daratan dan lautan. Kemudian Allah mulai mengisi terang dan gelap, lalu mengisi air yang di atas dan air yang di bawah, kemudian mulai mengisi daratan, Allah membentuk seluruh ciptaan sesuai kehendaknya. Tapi kita lihat, yang membentuk seluruh ciptaan sesuai kehendak Tuhan itu adalah Allah Roh Kudus. Kej 1:2, waktu dunia itu belum berbentuk dan masih kosong kita melihat Roh Allah itu sedang bersiap melayang-layang untuk membentuk seluruh ciptaan. Bahkan waktu Allah menghembuskan nafas kepada manusia sehingga manusia menjadi makhluk hidup, itu juga adalah pekerjaan Roh Kudus yang membawa kehidupan jasmani kepada kita.

Alkitab juga mengatakan bagaimana Roh Kudus bekerja sehingga manusia bisa bekerja. Dalam Perjanjian Lama, kita melihat bagaimana ada orang-orang yang dipenuhi Roh Kudus sehingga mereka boleh mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang Tuhan kehendaki. Seorang teolog, Miroslav Volf, menulis buku Work in the Spirit, mengatakan bahwa seluruh pekerjaan manusia entah betapa kompleks atau simpel itu sebenarnya dimungkinkan karena Roh Kudus. Roh Kudus yang bekerja dalam orang yang bekerja, bahkan dalam tindakan kita sehari-hari. Roh Kudus itu sudah bekerja bahkan sebelum kita menyadari dia bekerja, sehingga kita bisa bekerja. Sebelum kita minta Dia bekerja, Roh Kudus sudah bekerja. Pekerjaan Roh Kudus itu tidak ditentukan dari permintaan atau perasaan kita. Yang menjadi problem zaman sekaran dan dari dulu adalah, manusia mengira manusialah yang mengontrol segala sesuatu. Kalau sesuatu terjadi itu karena manusia yang melakukannya, kalau kita bisa mengenali sesuatu itu karena manusia yang mengenalinya. Ada filsuf yang mengatakan kalau ada pohon yang tumbang di tempat yang tidak ada manusia, apakah ada suaranya? Karena yang bisa mengidentify suara itu hanya manusia. Seakan-akan manusialah yang menentukan dan menggerakkan segala sesuatu.

Kita belajar bahwa sebenarnya bukan manusia yang menggerakkan segala sesuatu. Justru Alkitab menunjukkan bahwa kita bisa bekerja dan beraktivitas itu karena sudah ada Roh Kudus yang bekerja. Roh Kudus bukan bekerja hanya kalau saya minta dia bekerja atau waktu saya bisa merasakan ketika dia bekerja, tidak. Sebaliknya, Roh Kuduslah yang dengan bebas dan inisiatif dia sendiri menggerakkan kita, bahkan kita bisa menyadari bahwa dia sedang bekerja itu karena Roh Kudus sudah bekerja sebelumnya. Dalam Yohanes 3 waktu Yesus mendefinisikan bagaimana Roh Kudus bekerja, Roh Kudus itu bekerja seperti angin. Saudara tidak tahu kapan angin itu mulai bertiup, siapa yang menyebabkan dia bertiup, di mana dia bertiup. Kita hanya merasakan angin meniup kita. Tapi waktu angin itu meniup kita, itu bukan angin baru mulai bekerja, jauh sebelumnya angin itu sudah bertiup, baru efeknya sampai pada kita. Inilah gambaran pekerjaan Roh Kudus yang dikatakan Alkitab, betapa besarnya pekerjaan Roh Kudus yang tidak bisa kita bayangkan. (1 Korintus 12) Rohlah yang memberi karunia kepada setiap orang sesuai dengan kehendaknya. Bukan kita yang minta Tuhan, saya ingin punya karunia seperti ini. Bukan kita yang tentukan karunia kita, tetapi Roh Kudus yang menentukan. Yesus memberikan gambaran pekerjaan Roh Kudus itu sebagai seseorang yang dilahirkan. Kalau kita dilahirkan, tidak ada dari kita yang memutuskan atau meminta untuk dilahirkan, kita dilahirkan karena kehendak dan keputusan  pihak lain, demikian juga kelahiran rohani kita.

Seringkali manusia berpikir kalau saya berdoa baru Roh Kudus bekerja. Bukan berarti kita jadi tidak perlu berdoa. Minggu lalu sudah dibahas bagaimana kita perlu berdoa memohon agar Roh Kudus mengisi kita dan menghapuskan dahaga kita. Tapi itu adalah efek dari Roh Kudus sudah mulai bekerja dalam hati kita dan kita perlu berespon untuk meminta dengan sungguh, menyadari saya haus perlu Roh Kudus. Poin hari ini adalah, dari Alkitab kita menyadari kita haus pun itu karena Roh Kudus yang sudah membangkitkan kerohanian kita, sebab sebelumnya kita itu mati. Orang mati tidak pernah merasa haus, seperti zombie tidak pernah rasa haus, tidak merasa butuh air. Waktu zombie itu dilahirkan kembali, barulah ada kerohanian yang muncul, lalu dia sadar dia haus dan membutuhkan air yaitu pekerjaan Roh Kudus dalam hidupnya. Untuk kesadaran inilah, kita betul-betul menghargai dan menyadari kemuliaan Roh Kudus. Kita bersyukur Roh Kudus sudah bekerja bahkan sebelum kita minta Dia bekerja. Jangan pikir Roh Kudus baru bekerja waktu kita minta. Analoginya seperti seorang anak yang minta makan kepada orang tuanya, kemudian dia dapat makan. Konyol kalau dia berpikir bahwa yang membuat dia dapat makan itu karena dia minta kepada orang tuanya. Jauh sebelum dia minta, papa mamanya sudah siapkan, sudah tahu jam berapa mesti makan. Memang baik untuk anak itu meminta, tapi jangan sampai anak itu berpikir bahwa karena dia mintalah maka di mendapatkannya, seakan-akan papa mamanya itu seperti vending machine.

Roh Kudus sudah bekerja bahkan dari awal zaman. Roh Kudus juga yang menginspirasikan dan memimpin orang-orang untuk menulis firman Tuhan dan Alkitab. Hari ini kita punya Alkitab dan bisa rutin mempelajari dan mengerti apa yang Alkitab mau katakan itu juga adalah pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus bukan hanya menginspirasikan orang-orang untuk menulis, Roh Kudus menjaga bahwa yang ditulis itu terus bertahan sepanjang zaman. Alkitab tidak ditentukan satu kali kemudian terus-menerus sama. Sepanjang sejarah ada usaha untuk mengurangi atau menambahkan Alkitab. Konsili Nicea itu kanonisasi pertama terjadi, lalu yang jaga Alkitab adalah Gereja. Orang mengira semua yang mau menambah mengurang dihantam gereja, namun justru banyak orang dalam gereja yang berusaha menambah atau mengurangi Alkitab. Yang membuat Alkitab terus bertahan sepanjang sejarah itu adalah tangan yang tidak kelihatan. Pasti bukan manusia karena manusia hanya maximum hidup 100 tahun, setelah orang itu mati, Alkitab bisa diganti. Tetapi ada tangan yang tidak kelihatan, yang menjaga Alkitab terus sampai saat ini dan bukan hanya itu, dia terus memimpin sepanjang sejarah supaya Alkitab itu bisa dimengerti. Alkitab ditulis sekitar 2000 – 3500 tahun yang lalu, apakah saudara pernah baca secara reguler karya lain yang umurnya seperti itu hari ini? Hampir tidak ada sebenarnya, bahkan karya-karya seperti Homer itu juga sangat susah untuk dibaca sekarang. Ada satu klip, bagaimana orang 1000 tahun lagi itu menganalisa dan mengerti percakapan kita saat ini, terutama dengan percakapan-percakapan sosial media sekarang. “Ini so toxic.”, “you slay.”, “let him cook” mungkin orang-orang 1000 tahun lagi mengira orang abad 21 sangat violent dan cannibal. Orang 1000, 2000 tahun lagi ini bahkan sudah tidak mengerti bahasa percakapan orang muda zaman sekarang ini. Kalau kita masih bisa mengerti Alkitab yang 2000-3000 tahun itu adalah pekerjaan Roh Kudus.

Tetapi memang pada hari Pentakosta, Roh Kudus memulai suatu pekerjaan yang baru, yang tidak bisa dilakukan sebelumnya. Karena Roh Kudus perlu menunggu pekerjaan yang lain, yaitu pekerjaan Yesus mati di atas kayu salib. Pekerjaan baru yang Roh Kudus lakukan setelah hari Pentakosta adalah membawa keselamatan yang Yesus capai di atas kayu salib kepada setiap orang Kristen. Dalam proses keselamatan kita, Allah Tritunggal bekerja bersama-sama. Roh Kudus perlu menunggu Yesus menggenapi keselamatan tersebut, baru setelah itu Roh Kudus bawa keselamatan itu dan tempelkan kepada setiap orang. Kita menyadari di sini, kita bisa selamat itu bukan semata-mata karena kita percaya kepada Kristus, bukan jadi kita tidak perlu percaya, itu bagian yang penting, kita menyadari kehausan kita dan datang kepada Yesus minta air hidup. Ini poin kelima, tapi itu baru bisa terjadi, karena ada empat poin yang terjadi sebelumnya di luar kehendak dan kontrol kita. Poin pertama, Allah Bapa yang menentukan siapa yang akan diselamatkan karena itulah dikatakan yang diselamatkan adalah orang-orang pilihan, itu bukan kehendak kita, itu kehendak Allah Bapa. Poin kedua, Yesus Kristus mati untuk semua orang yang sudah ditentukan oleh Allah Bapa untuk diselamatkan, itu bukan kehendak kita, itu kerelaan Yesus Kristus untuk mati bagi kita. Yang ketiga, Roh Kudus membawa keselamatan yang Yesus capai di atas kayu salib kepada diri kita masing-masing. Inilah yang sering disebut, Allah Bapa merencanakan keselamatan, Allah Anak menggenapi keselamatan. Tapi kalau Allah Anak menggenapi keselamatan saja, keselamatan itu tetap di atas kayu salib itu dan tidak ada dalam hati kita. Yang membawa keselamatan itu kepada kita satu persatu adalah Roh Kudus, maka Roh Kuduslah yang mengaplikasikan keselamatan. Seperti obat, kalau ada di laci tidak berguna, obat itu harus diaplikasikan kepada luka kita. Itulah yang dilakukan Roh Kudus, membawa obat yaitu keselamatan yang Yesus capai untuk ditaruh dalam hati kita.

Dikatakan bahwa Roh Kudus turun dan tidak naik lagi, maksudnya Roh Kudus yang meletakkan dan menjaga keselamatan itu tetap di dalam hati kita, bukan karena kekuatan kita. Kalau kita yang jaga keselamatan, kita terima lalu pegang baik-baik, saya tidak tahu berapa kuat kita bisa menjaga. Mungkin mudah sekali kita sudah hilang lagi keselamatan ini. Tapi puji Tuhan, Roh Kudus itu menjadi meterai yang menempel terus. Dia yang menjaga keselamatan kita terus sampai pada akhirnya. Poin 1-3 itu semua di luar kuasa dan kehendak manusia. Yang keempat adalah kehendak orang yang Tuhan pakai untuk menyampaikan Injil kepada kita. Empat step itu bukan kekuasaan atau kehendak kita. Allah Bapa yang merencanakan, Kristus yang menggenapi, Roh Kudus yang mengaplikasikan, dan Allah menggunakan orang untuk boleh membawa Injil itu kepada kita. Baru yang kelima kita bisa berespons. Sebagai orang-orang yang berespon, kita harus berespon dengan benar. Kalau kita menyadari saya harus berespon, itu tanda Roh Kudus sudah bekerja. Kalau di-summarize, pekerjaan Roh Kudus setelah Pentakosta yang begitu penting adalah membawa Kristus ke dalam hati orang Kristen.

Dalam 1 Korintus, Roh Kudus membawa tiap orang pilihan masuk ke dalam gereja atau tubuh Kristus. Gereja di sini bukan sekedar gedung atau organisasi, tetapi disebut tubuh Kristus. Sama seperti keselamatan adalah pekerjaan Allah Tritunggal, demikian juga membangun gereja adalah pekerjaan Allah Tritunggal. Allah Bapa yang menentukan siapa yang ada dalam tubuh Kristus. Allah Anak yang mati bagi setiap orang yang akan berada dalam tubuh Kristus. Kemudian Allah Roh Kudus yang menarik setiap orang itu satu persatu bergabung dalam tubuh Kristus. Paulus meng-highlight, sebelum mereka mengenal Kristus, mereka adalah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan, menyembah berhala masing-masing. Tapi sekarang mereka menjadi satu. Yang menarik mereka menjadi satu, itu bukan kemampuan mereka sendiri. Marilah kita sadar, bahwa ada suatu kuasa yang lebih besar yang sebenarnya menarik kita untuk datang ke gereja, yang menyadarkan kita, saya harus di sini karena saya ditarik oleh Roh Kudus.

Dalam 1 Kor2 12:3, konteksnya zaman itu orang-orang Kristen mengalami penganiayaan. Dalam penganiayaan itu seringkali mereka ditantang untuk menyangkali Yesus. Kadang mereka diancam pisau atau pedang, sangat sederhana, kamu hanya perlu menyangkali Yesus. Mungkin tidak selalu dalam ancaman, mungkin juga dalam keadaan inconvenient. Kalau saya mengakui Yesus nanti jadi awkward atau tidak diterima oleh teman-teman saya. Semuanya simply deny Jesus, kutuki Yesus, selesai, masalah hilang. Tapi tidak bisa bicara untuk menyangkal Yesus meskipun di bawah ancaman mati, karena ada Roh Kudus dalam hati mereka. Paulus mengatakan, ‘Orang yang punya Roh Kudus dalam hati, tidak bisa mengatakan: terkutuklah Yesus.’ Meskipun dalam kelemahan mereka, mereka mungkin berpikir mau melarikan diri, Roh Kudus dalam hati menguatkan mereka. Sebaliknya, tidak ada orang yang bisa mengakui Yesus adalah Tuhan kalau tidak digerakkan oleh Roh Kudus. Ini bukan berarti tidak ada orang yang bisa pura-pura. Kita tahu Ananias dan Safira itu mengaku Yesus sebagai Tuhan mereka, tapi mereka berpura-pura. Yang Paulus maksud, orang yang bisa dengan sungguh-sungguh dan berani mengatakan Yesus adalah Tuhan, meskipun dia di tengah bahaya. Bukan karena dia lebih berani, tapi karena Roh Kudus yang bekerja dalam hati mereka. Poin kedua 1 Korintus 12, Roh Kudus jugalah yang menarik orang-orang itu untuk datang ke dalam gereja dan membangun gereja meskipun kadang dalam keadaan tidak nyaman, tidak aman. Jadi pekerjaan Roh Kudus yang sangat penting itu membawa Kristus ke dalam hati orang Kristen, dan membawa orang Kristen ke dalam tubuh Kristus. Orang yang memiliki Roh Kudus dalam hatinya akan ditarik kepada gereja Tuhan. Kalau ada orang yang mengatakan, saya mau percaya Tuhan tapi tidak tertarik kepada gereja, kepada tubuh Kristus, yang penting saya percaya Yesus, saya selamat. Ini bukan pekerjaan Roh Kudus. Mungkin dia mendengar suatu pesan yang menarik bagi dia. Mungkin dalam idenya itu Yesus yang menarik dan indah secara ide. Tapi orang yang sungguh memiliki Roh Kudus dalam hatinya itu sadar, saya mau bersama-sama dalam tubuh Kristus, berjuang dan melayani bersama-sama.

Berikutnya, waktu Roh Kudus menarik orang ke dalam gereja, Dia akan memberikan karunia bagi setiap orang supaya mereka boleh melayani dalam tubuh Kristus. Ini yang ditekankan oleh Paulus. Ayat 4-6 itu kata kuncinya rupa-rupa tapi satu. Sama seperti tubuh, banyak rupa-rupa dalam tubuh. Tidak bisa semua organ sama, itu berbahaya. Tapi keragaman itu dipersatukan dalam satu pribadi. Tiap bagian bukan merasa dirinya sebagai pribadi masing-masing. Pesan ini penting untuk jemaat Korintus, karena mereka adalah jemaat yang memuliakan hamba-hamba Tuhan tertentu. Saya pengikut Paulus, pengikut Kefas, pengikut Apolos. Paulus ingatkan kembali, kalau kita sadar kita digerakkan Roh Kudus, kita akan berusaha untuk menolak ide seperti ini. Kita mau bersatu bersama-sama karena yang paling utama bukan saya suka siapa atau saya kelebihannya apa. Tetapi bagaimana saya bersama-sama dalam tubuh Kristus membangun tubuh Kristus dalam kesatuan. Inilah pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan kita.

Selanjutnya Paulus menerangkan mengenai karunia-karunia Roh Kudus. Kuncinya di ayat 7, setiap orang dikaruniakan manifestasi roh untuk kepentingan bersama, bukan untuk kepentingan dirinya. Jemaat Korintus itu memiliki banyak karunia, tetapi mereka menggunakan karunia untuk menonjolkan diri. Ada yang pintar berkata-kata, dia bukan menggunakan kata-katanya untuk membangun orang lain, tapi membangun dirinya dan menarik perhatian kepada dirinya. Yang terjadi adalah perpecahan karena setiap orang memakai karunianya untuk kepentingan dirinya sendiri. Kemudian Paulus mengajarkan bahwa karunia itu diberikan untuk kepentingan bersama. Kita diberikan karunia supaya kita bisa pakai karunia itu untuk orang lain, bukan untuk diri kita. Untuk diri kita sendiri justru menjadi sesuatu yang tidak berguna atau salah.

Dalam abad 20 itu seakan-akan terjadi explosion dari pekerjaan Roh Kudus, tapi sebenarnya menjadi kekacauan. Kalau saudara mempelajari sejarah, abad 20 adalah respon balik dari abad 19. Di abad 19 berkembang liberalisme dalam gereja. Orang mengatakan saya Kristen tapi tidak percaya Alkitab, tidak percaya Yesus bangkit dan mati bagi saya, dan tidak percaya pekerjaan Roh Kudus. Dalam abad 19, jadi Kristen itu menjadi orang yang lebih baik, orang yang ke gereja, yang mengatakan dia Kristen, karena berperilaku baik. Mereka tidak percaya Yesus mati bagi mereka. Yesus mengajarkan bagaimana saya menjadi lebih baik. Akhirnya banyak orang yang ada dalam gereja tapi tidak haus. Saya ke gereja untuk menunjukkan saya orang baik, good standing and law abiding citizen. Itu orang Kristen dalam gereja abad 19. Abad 20 itu respon ekstrem sebaliknya, yang menekankan bahwa orang Kristen itu adalah orang yang memiliki Roh Kudus. Ini respon balik penting, tapi kemudian keterusan. Kalau kamu memiliki Roh Kudus, harus ada tanda yang kelihatan. Karena itu zaman abad 20 banyak sekali movement-movement yang muncul dan menekankan tanda Roh Kudus bekerja, mulai di Amerika kira-kira tahun 1906. Orang yang menekankan bahwa kalau Roh Kudus bekerja harus ada baptisan Roh Kudus dan ada tandanya. Ada yang jatuh misalnya, istilahnya slain by spirit. Kalau engkau menerima Roh Kudus harus ada sukacita yang luar biasa, sehingga ada orang-orang yang tertawa terus menerus bukan ketawa biasa karena sukacita yang begitu luar biasa. Ada orang yang ketika Roh Kudus bekerja itu menangis sampai menggerung-gerung. Bahkan ada orang yang drunk by the spirit (mabuk oleh roh), ada yang barking by spirit (menggonggong karena Roh Kudus). Sehingga yang terjadi bukan pekerjaan Roh Kudus, tetapi kekacauan dan kebingungan besar dalam gereja. Banyak gereja akhirnya jumpship, ikut model gaya ini, mengharapkan ini terjadi dalam gerejanya. Mereka melakukan musik atau ibadah ke arah sana sehingga worship dalam gerakan seperti ini sangat disorder (unruly). Gereja jadi seperti disco club, tidak heran ini jadi bertumbuh. Saya menunaikan tugas menjadi, saya ke gereja menikmati gereja. Maka itu penting untuk kembali kepada Alkitab. Roh Kudus adalah roh yang memberikan keteraturan. Roh yang dari ciptaan tidak berbentuk dan kosong menjadi suatu yang indah. Roh Kudus adalah roh yang memberikan kita Alkitab, jadi harusnya memimpin kita kepada Alkitab. Kalau roh memimpin kita keluar dari Alkitab dan meninggalkan Yesus, yang mati dan bangkit untuk keselamatan kita dan mengajarkan yang lain, ini bukan pekerjaan Roh Kudus.

Ketiga, bagaimana roh ini memberikan karunia-karunia. Interpretasinya sering terkunci dengan Roh Kudus bekerja itu harus supernatural. Sebenarnya kita bisa bekerja yang biasa pun itu sudah pekerjaan Roh Kudus. Tetapi orang berpikir bahwa pekerjaan Roh Kudus itu mesti luar biasa. Akhirnya semua karunia-karunia ini ditafsirkan menjadi supernatural. Ada pandangan reformed yang tetap melihat hal ini pasti ada unsur supernatural di dalamnya, tetapi semua karunia ini sebenarnya juga bisa ditafsirkan menjadi karunia yang ‘natural’. Ada orang yang memiliki karunia berkata-kata dengan hikmat dan bijaksana, dia tidak banyak bicara tetapi ketika dia bicara, itu kulminasi dari pemikiran yang dalam. Ada orang-orang yang berkarunia berkata-kata dengan pengetahuan. Dia pintar, tahu banyak pengetahuan lalu dia bisa jelaskan dan mengajar kepada orang lain pengetahuan tersebut. Ada orang-orang yang memiliki karunia iman, ini juga bersifat natural. Dia sadar kita harus melakukan hal ini dan percaya pada pimpinan Tuhan, imannya begitu kuat. Tidak semua hamba Tuhan seperti ini. Saya melihat dalam gereja ada orang-orang yang memiliki karunia-karunia yang berbeda-beda seperti ini. Ada orang yang diberi karunia menyembuhkan, bukan pasti selalu mukjizat. Kalau kita tafsirkan sebagai natural, ada orang-orang dalam gereja yang memang punya karunia menyembuhkan orang lain, dia tahu obat, pengertian, sangat memperhatikan kalau ada orang sakit. Beberapa diakonis kita di sini seperti itu, menyarankan obat atau dokter dan sebagainya. Saya yakin Tuhan bisa memberikan penyembuhan dengan mukjizat, tetapi kita melihat ada penafsiran natural di sini. Ada orang yang punya karunia yang bisa menolong orang lain. Kita melihat bagaimana mereka perlu memakai semua karunia ini untuk menolong orang.

Karunia yang membuat kontroversi yaitu karunia berbahasa roh. Sayang LAI menerjemahkan itu menjadi bahasa roh, istilah aslinya bukan dua kata, hanya satu kata: Glosson. Gloson artinya lidah, kalau kita tafsirkan secara literal, orang-orang memiliki karunia menggunakan lidah. Istilah lidah ini dipakai untuk berkata-kata dan berbahasa. Penafsiran yang bersifat natural di sini, kita bisa lihat ada orang-orang yang diberi karunia untuk menguasai banyak bahasa. Saya yakin Roh Kudus bisa bekerja secara supernatural seperti yang terjadi pada hari Pentakosta, para rasul diberikan kekuatan untuk bicara bahasa yang lain. Tetapi secara natural juga ini bisa terjadi. Ada orang-orang yang punya kemampuan bicara banyak bahasa. Ini bisa ditafsirkan secara natural. Orang-orang yang memiliki kemampuan berbahasa atau menggunakan lidah itu harusnya memakai karunianya untuk membangun tubuh Kristus. Mereka bisa memiliki koneksi lebih banyak untuk menyatakan injil, bisa berelasi dengan banyak kebudayaan. Kita perlu membawa Injil kepada semua kebudayaan dalam dunia ini. Saya yakin sampai sekarang masih ada orang-orang yang Tuhan berikan karunia ini secara natural. Karunia berikutnya adalah menginterpretasikan bahasa. Karena ada orang yang punya karunia berbahasa, tapi karunia menginterpretasikan (mentranslate) itu juga karunia lain. Tidak semua orang yang bisa berbahasa, langsung bisa menginterpretasi. Ini bukan interpretasi bahasa aneh, tetapi bahasa natural. Karena yang menginterpretasi itu menyatukan dua bahasa.

Jemaat Korintus itu punya banyak bahasa, common language-nya itu Latin. Tapi Yunani tidak pakai Latin, semuanya pakai bahasa masing-masing. Dalam Kisah Para Rasul dikatakan mereka dari tembat berbeda dan bahasanya beda-beda. Waktu mereka berkumpul bersama-sama, mereka lebih suka berkumpul dengan bahasa mereka. Paulus mengatakan “lebih baik kamu berkata hanya lima kata tapi semua mengerti, daripada berkata-kata 1000 kata tapi kamu hanya bicara dengan teman-temanmu”. [1 Kor 14:19]. Ini bukan mengatakan bahwa interpretasi yang paling tepat hanya natural saja. Tidak! Justru interpretasi ini membuat bagian ini masih sangat meaningful sekarang. Kalau ini sangat bersifat supernatural, kita bingung siapa yang punya karunia supernatural ini. Apakah ayat ini hanya ditulis untuk zaman tertentu? Tapi kita melihat ini suatu karunia yang diberikan kepada setiap orang dalam gereja. Ini panggilan untuk kita sadar kalau kita punya karunia itu bukan buat diri kita, itu harus dipakai untuk membangun tubuh Kristus. Masalahnya jemaat gereja Korintus, itu membanggakan karunia mereka masing-masing. Kita bisa mengevaluasi kekacauan dalam abad 20. Seringkali orang-orang yang mengalami manifestasi yang luar biasa itu, kesulitannya adalah waktu ditantang, Alkitab tidak katakan seperti ini. Lalu orang itu berkata, orang-orang yang mengalami hal ini tiba-tiba jadi dekat dengan Tuhan, bukankah ini pasti pekerjaan Roh Kudus? Tapi ketika saya renungkan lagi, apa tujuan karunia roh diberikan? Bukan untuk membangun diri, ini suatu diversion. Orang yang mengalami karunia roh itu bukan menjadi lebih dekat kepada Tuhan. Dia menjadi dekat kepada Tuhan karena dia mendengar Firman dan terus bertumbuh secara rohani. Kalau dia memiliki karunia, karunia itu adalah apa yang dilakukan untuk orang lain.

Penutup, kalau kita hanya berfokus dan mementingkan karunia-karunia, kita miss the point. Karena tujuan karunia itu bukan untuk membangun diri, tapi untuk membangun gereja Tuhan. Apakah saudara mengenali karunia-karunia yang saudara miliki? Apakah kita berpikir karunia natural ini punya saya? Karunia-karunia yang bersifat natural pun dalam hidup kita pun juga adalah pemberian Roh Kudus. Sudahkah kita pakai karunia itu untuk membangun tubuh Kristus? Karunia itu dipakai untuk bersama, bukan untuk sendiri. Kalau kita betul-betul mau memuliakan Roh Kudus, Roh Kudus membawa Kristus ke dalam hati setiap orang Kristen dan Roh Kudus membawa orang Kristen ke dalam tubuh Kristus. Sehingga setiap orang Kristen boleh bersama-sama melayani dan membangun tubuh Kristus. Kiranya Tuhan memberkati kita.

Close
Close Search Window