Download versi cetak: 1252_KebaktianPagi_2026-22Feb

Eksposisi Matius (89) – Kemiskinan dan Manipulasi Dosa

Mat 6:1-4; Mik 2:1-3; Yoh 12:1-6; Kis 4:34-5:4

Pdt. Adrian Jonatan M.Th

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Pada hari ini kita membaca cukup banyak ayat yang semuanya berpusat pada tema kemiskinan dan memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Sebagai orang Kristen dan pengikut Kristus, kita dipanggil untuk ambil bagian dalam menolong mereka yang berkekurangan. Dalam Matius 6:1-4, Yesus memang tidak berkata “engkau harus”, melainkan “apabila” engkau memberi. Jika hanya membaca Perjanjian Baru, orang bisa mendapat kesan seolah-olah memberi itu tidak wajib. Namun kita perlu mengingat bahwa Perjanjian Baru berdiri di atas Perjanjian Lama. Perintah untuk menolong sudah dianggap jelas dan dipahami. Karena itu, yang Yesus tekankan bukan lagi kewajibannya, melainkan sikap hati saat melakukannya. Ia tahu para pendengar-Nya sadar akan panggilan untuk menolong, tetapi Ia mengingatkan agar mereka menjaga motivasi dan tidak melakukannya dengan maksud yang salah.

Dalam bagian ini kita diingatkan bahwa memberi sedekah atau menolong orang yang membutuhkan harus dipahami sesuai prinsip Alkitab, sebab maknanya sering berubah mengikuti zaman. Perbedaan yang mendasar adalah bahwa kita memberi bukan untuk menimbun kebenaran bagi diri sendiri, melainkan karena kita sudah dibenarkan. Di dalam berbagai agama dan pandangan dunia, orang memberi supaya memperoleh kebenaran dan diterima oleh Tuhan. Namun sebagai pengikut Kristus, kita sudah dibenarkan. Kita tidak memberi untuk mendapatkan pembenaran. Justru karena kita telah berada di dalam kebenaran itulah kita terdorong untuk melakukannya.

Seperti halnya perjamuan kudus, kita melakukannya bukan untuk dibenarkan atau diselamatkan, tetapi justru karena kita sudah diselamatkan. Orang merayakan ulang tahun bukan supaya bertambah usia, melainkan karena usianya sudah bertambah, sebagai ungkapan syukur atas apa yang telah terjadi. Demikian pula, sebagai orang yang telah dibenarkan, kita memiliki kesadaran untuk melakukan hal-hal tersebut. Yesus dalam khotbah di bukit berbicara kepada mereka yang sudah menjadi warga Kerajaan Surga, bukan karena usaha atau perbuatan mereka, melainkan sepenuhnya karena karya Tuhan: Bapa menetapkan, Yesus menebus, dan Roh Kudus menyatakan keselamatan. Namun itu tidak berarti mereka tidak perlu melakukan apa-apa. Justru karena sudah menjadi warga Kerajaan Surga dan anak-anak Bapa, mereka rindu melakukan kehendak-Nya, bukan untuk menjadi anak, tetapi karena mereka sudah menjadi anak dan ingin serupa dengan Bapa.

Di dalam menjalani kehidupan rohani, kita perlu memeriksa diri: apakah kita melakukan semuanya supaya dilihat orang, supaya dibenarkan, atau karena memang ada kerinduan sejati dalam hati? Jika kita beribadah, berdoa, atau melakukan hal rohani hanya agar dianggap orang Kristen, itu menunjukkan kita belum sungguh-sungguh hidup sebagai warga Kerajaan Surga. Kerohanian yang sejati lahir dari hati yang ada di dalam Kristus, yang rindu melakukannya dan bertanya, “Tuhan, bagaimana aku melakukannya dengan benar?” Demikian juga dalam menolong sesama, bukan sekadar memberi, tetapi memahami prinsip dan dasar yang benar mengapa kita melakukannya.

Dalam khotbah sebelumnya telah dijelaskan bahwa perintah menolong orang yang membutuhkan sudah ada sejak Perjanjian Lama, dengan tiga fondasi utama. Pertama, menyadari bahwa segala kelebihan yang kita miliki adalah anugerah Tuhan, sebagaimana bangsa Israel mengakui bahwa apa yang mereka punya berasal dari Tuhan. Kedua, mereka saling menolong karena menyadari bahwa mereka adalah satu saudara, sama-sama umat Tuhan dan anak-anak Abraham. Seperti dalam satu keluarga, jika ada yang kekurangan, yang lain akan berbagi, bukan menyalahkan Tuhan, tetapi memastikan semua mendapat bagian. Ketiga, kemiskinan akan terus ada selama dunia berada dalam dosa, sehingga umat Tuhan perlu membiasakan diri hidup dengan kesadaran untuk saling menolong.

Pandangan ini berbeda dengan cara pikir masa kini yang sering melihat sedekah sebagai memberi kepada orang acak di jalan. Bagi orang Israel, pertolongan diberikan kepada saudara yang benar-benar mereka kenal dan tahu kebutuhannya. Dengan pemahaman yang benar, menolong sesama menjadi sesuatu yang indah, seperti melipatgandakan berkat. Seperti saat perayaan Tahun Baru Imlek, ketika orang memberi ang bao, ada sukacita karena apa yang kita miliki dapat menjadi sukacita bagi orang lain, biasanya dari yang lebih tua kepada yang lebih muda. Mungkin bagi kita jumlahnya tidak terlalu besar, tetapi bagi yang sungguh membutuhkan, itu menjadi berkat yang sangat berarti. Betapa indahnya ketika kelebihan yang kita miliki dapat menjadi berkat bagi orang lain.

Namun ketika kita memberi, kita harus menjaga sikap hati. Kita tidak boleh melakukannya supaya dianggap baik atau dikagumi karena jumlah yang kita berikan. Itulah sebabnya Yesus mengingatkan agar tidak memberi supaya dilihat orang. Dalam budaya yang mendorong sedekah demi pujian, orang bisa terdorong untuk memamerkannya. Tetapi cara pandang yang dibentuk oleh ajaran Kristus berbeda: kita menolong secara nyata, bukan untuk pertunjukan. Kita juga tidak memberi supaya merasa diri murah hati. Karena itu Yesus berkata agar tangan kiri tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanan, supaya kita tidak berfokus pada diri sendiri. Kita memberi dengan memandang kepada Tuhan, meneladani kemurahan dan belas kasihan-Nya kepada kita, dan dari situ belajar berbelaskasihan kepada orang lain.

Dalam khotbah sebelumnya kita melihat bahwa Tuhan adalah Tuhan yang dekat dengan orang yang menderita dan memperhatikan mereka yang berada dalam kesulitan. Ia mengundang kita untuk ambil bagian dalam menolong, seperti seorang tuan yang meminta kita membayar lebih dahulu dan berjanji akan menggantinya. Karena itu kita tidak perlu khawatir saat menolong, sebab Tuhan yang akan membalas. Kita juga diingatkan bahwa istilah “sedekah” berkaitan dengan “tzedek” yang berarti kebenaran. Jadi memberi bukan sekadar karena rasa kasihan, melainkan karena kerinduan menegakkan kebenaran bagi mereka yang mengalami ketidakadilan. Bukan sekadar memberi recehan atau berdonasi tanpa arah, tetapi sungguh menolong mereka yang membutuhkan secara benar.

Pada zaman bangsa Israel, ketika seseorang terkena wabah, paceklik, atau akibat peperangan, mereka mengalami ketidakadilan atau ketidakbenaran dalam hidup. Dengan menolong mereka, kita sedang menegakkan kebenaran bagi mereka, bukan memberi secara sembarangan kepada asal orang. Memberi harus disertai doa dan kesadaran untuk benar-benar menolong. Seperti yang disebutkan pendeta Ivan, memberi kepada orang acak di jalan tanpa sadar bisa menegakkan ketidakbenaran, misalnya jika mereka bagian dari sindikat yang memanfaatkan orang di jalan. Kita mungkin merasa sudah memberi sedekah, tapi sebenarnya tidak benar-benar menolong orang yang membutuhkan. Karena itu, kebijaksanaan sangat diperlukan dalam memberi.

Dalam membahas kemiskinan, Alkitab menunjukkan bahwa isu ini selalu ada karena adanya dosa, bukan karena dunia kekurangan sumber daya. Bumi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan semua manusia. Kita tidak perlu bersikap alarmis seperti pandangan pada tahun 1798, ketika umat manusia kurang dari 1 miliar, dan ada kekhawatiran kelaparan jika jumlah manusia mencapai 1 miliar. Namun sekarang, dengan hampir 8 miliar manusia di dunia, masalah kelaparan tidak seperti yang dikhawatirkan dulu; bahkan ada masalah kegemukan karena konsumsi berlebih. Ini menunjukkan bahwa kemiskinan lebih berkaitan dengan dosa dan ketidakadilan, bukan keterbatasan alam. Bumi yang Tuhan ciptakan sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan semua manusia. Masalah kemiskinan atau kelaparan bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena manusia tidak membagikannya secara adil. Alkitab menekankan hal ini, sehingga orang Kristen tidak perlu bersikap alarmis terhadap isu-isu seperti kelaparan, bencana alam, atau masalah lingkungan. Memperhatikan lingkungan memang penting, tetapi tanpa pemahaman Alkitab bahwa masalah dunia bersumber dari dosa, kita mudah gelisah dan berpikir berlebihan tentang keadaan dunia. Alkitab memberikan penjelasan yang tepat mengenai kemiskinan dan bagaimana kita seharusnya menanggapinya.

Di dalam Alkitab tercatat bagaimana orang bisa memanipulasi kemiskinan. Pada zaman Perjanjian Lama, Tuhan memberikan tanah yang cukup bagi bangsa Israel, dan setiap orang mendapat bagiannya. Namun, ketika peperangan, bencana, atau wabah melanda, beberapa mengalami ketidakadilan. Seharusnya, sebagai satu bangsa, mereka saling menolong sehingga tidak ada kesulitan yang tak bisa diatasi bersama. Sedekah seharusnya menopang dan menegakkan kebenaran. Sayangnya, sebagian orang Israel justru memanfaatkan kesulitan orang lain untuk memperkaya diri, membeli tanah dengan murah, bahkan menjadikan anak-anak orang miskin sebagai budak. Nabi-nabi besar dan kecil mencatat kemarahan Tuhan atas perilaku ini, dan Tuhan mengancam penghakiman bagi mereka yang mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain. Pelajaran yang dapat kita ambil adalah bahwa siapa pun yang mengambil keuntungan dari kesusahan orang lain harus segera bertobat. Meskipun praktik semacam ini masih ada di dunia, Tuhan memperhatikan perbuatan mereka dan akan menghakimi pada waktunya. Sebaliknya, bagi mereka yang merasa dianiaya atau dimanfaatkan, kita bisa bersyukur karena Tuhan membela orang yang tertindas. Bagi yang mengalami ketidakadilan di tempat kerja atau kehidupan sehari-hari, kita dapat yakin bahwa Tuhan memahami penderitaan kita dan akan menolong pada saat yang tepat. Contoh ini menunjukkan bagaimana orang Israel memanipulasi kemiskinan, namun isu kemiskinan tidak berhenti di sana.

Model kedua terkait orang Farisi, yang juga memanipulasi kemiskinan. Farisi hidup pada zaman Second Temple Judaism, setelah kembali dari pembuangan ke Babel dan berusaha membangun kembali bait Allah. Mereka sadar nenek moyang mereka dibuang karena meninggalkan hukum dan kebenaran Tuhan. Setelah kembali, mereka banting setir total, dari sebelumnya memanfaatkan kesulitan orang lain, kini mereka menekankan menegakkan hukum Tuhan. Namun, mereka berfokus pada menunjukkan ketaatan secara lahiriah. Mereka menciptakan bentuk kerohanian baru yang ekstrem, dari mengabaikan kerohanian menjadi sangat menekankan hukum dan tampak patuh, tapi kadang kehilangan esensi menolong orang yang membutuhkan. Orang Farisi menekankan menolong orang miskin dan lemah dengan cara yang terukur, bahkan dicatat dan dibandingkan. Pimpinan masyarakat diharapkan memberi lebih banyak agar menjadi teladan. Tujuan mereka adalah menegakkan hukum Tuhan secara terlihat dan menjadi tren. Namun tanpa disadari, hal ini menciptakan sistem ekonomi baru: adanya permintaan untuk menampilkan amal dan munculnya supply, yaitu orang-orang yang duduk di jalan supaya terlihat menerima bantuan. Dengan begitu, tujuan Tuhan untuk menegakkan kebenaran justru tidak tercapai, dan praktik minta-minta malah bertambah. Dosa manusia mempengaruhi seluruh aspek kehidupan sehingga maksud Tuhan sering diselewengkan.

Ada sebuah lelucon yang menggambarkan keadaan pada zaman Yesus: guru bertanya kepada murid, “Kalau orang miskin diberi uang, jadi apa?” Anak-anak diharapkan menjawab kaya, tapi ada yang menjawab, “Orang miskin jadi banyak,” maksudnya banyak yang menunjukkan kemiskinannya agar ditolong. Inilah yang terjadi di zaman Yesus, di mana orang Farisi melaksanakan perintah Musa bukan untuk benar-benar menolong, tetapi supaya terlihat di rumah ibadat atau di jalan. Yesus tahu isi hati mereka dan mengingatkan agar menolong dilakukan dalam kesembunyian, untuk menegakkan kebenaran bagi yang membutuhkan. Budaya yang dibentuk ajaran Yesus menekankan pertolongan yang sungguh-sungguh, bukan untuk pertunjukan, sehingga orang yang benar-benar membutuhkan akan menerima bantuan secara rahasia, dan memberi hanya untuk dilihat orang dianggap menghina Tuhan.

Model ketiga terkait Yudas, yang juga memanipulasi kemiskinan. Yudas adalah murid Yesus yang menjadi bendahara, mengatur uang yang digunakan untuk menolong orang lain. Secara alami, pengikut Yesus ingin menolong, tapi Yudas menyalahgunakan posisi itu untuk keuntungan pribadi. Contohnya, ketika Maria memecahkan parfum mahal senilai 300 dinar, sekitar 15.000 dolar Singapura untuk mengurapi Yesus menjelang penyaliban, Yudas menentang dan berkata, “Kenapa tidak diberikan kepada orang miskin?” Ia melihat nilai materi, bukan makna tindakan Maria. Sikap Yudas mencerminkan orang yang tampak mengelola pertolongan bagi yang membutuhkan, tetapi sebenarnya mengambil keuntungan untuk diri sendiri. Kejadian ini menunjukkan bagaimana manipulasi kemiskinan bisa terjadi bahkan di tengah pelayanan yang seharusnya suci.

Contoh lain adalah Ananias dan Safira. Orang Kristen mula-mula hidup berbeda dari dunia; mereka rela memberi kelebihan mereka untuk menolong sesama ketika melihat kebutuhan. Namun Ananias dan Safira tertarik dengan keuntungan dari gereja, bukan karena iman yang sejati. Mereka pura-pura menjual bagian mereka tapi menyimpan sebagian untuk diri sendiri. Petrus segera menghakimi mereka, menjadi peringatan bahwa setiap orang dalam tubuh Kristus harus sungguh-sungguh dan serius menjadi bagian yang sejati, bukan hanya tampak ikut serta.

Sebagai rangkuman, ketika Tuhan menciptakan dunia, Ia menyediakan kebutuhan manusia secara kolektif, dan kita semua seharusnya menjadi satu keluarga besar. Namun dosa memecah manusia menjadi individu-individu yang egois, mencari keuntungan sendiri, sehingga kemiskinan terjadi bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena keserakahan dan penimbunan kekayaan. Tuhan memperhatikan hal ini dan akan menegakkan keadilan bagi yang tertindas. Masalah utama kemiskinan adalah dosa manusia. Solusinya adalah mempersatukan manusia di dalam Kristus, sehingga kita menjadi satu dan mampu saling menolong, mewujudkan keindahan rencana Tuhan sejak semula. Kita dipanggil untuk setia di dalam gereja, mempraktikkan prinsip ini, dan hidup dalam kasih serta pertolongan bagi sesama.

Close
Close Search Window