Download versi cetak: 1251_1424_KebaktianPagiSore_15Feb2026_IR

Berani Berisiko dengan Bijaksana Tuhan

Pengkhotbah 11:1-6

Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Sebelum kita membahas bagian Pengkhotbah 11:1-6, saya ingin mengajak kita melihat apa yang disampaikan oleh Pengkhotbah di dalam pasal 9 dan 10. Pengkhotbah 9:1-12 berbicara tentang kematian. Kematian pasti akan terjadi pada setiap orang. Kematian adalah sesuatu yang tragis dan menyedihkan dan kematian bisa terjadi tiba-tiba. Semua akan mati tetapi tidak ada dari kita yang tahu kapan kita akan mati. Dalam pengertian ini, Pengkhotbah memberikan saran bagaimana seharusnya kita menjalani hidup yang sementara dan pasti akan berakhir. Bukannya menjadi pesimis terhadap kehidupan yang suatu hari nanti pasti akan berakhir, Pengkhotbah justru memerintahkan kepada kita untuk menghargai dan menikmati hidup ini. Karena hidup adalah anugerah dari Tuhan. Tidak peduli hidup sesusah apa pun, jika kita masih mendapat kesempatan untuk hidup, itu lebih baik daripada orang yang sudah meninggal.

Kitab Pengkhotbah 7 kali bicara tentang tema bahwa hidup itu anugerah, hidup itu harusnya dinikmati. Ini adalah bagian yang ke-6. Bagian yang paling unik. Ada semacam perintah untuk kita belajar menghargai hidup ini. Pengkhotbah bicara dengan lebih detail hal-hal apa yang seharusnya kita nikmati dalam hidup ini. Yang pertama dia mengatakan, “Nikmati roti dan anggur.” Yang kedua dia bicara, “Nikmatilah istri yang engkau kasihi.” Dan kemudian dia mengatakan, “Nikmatilah segala kesempatan yang Tuhan berikan untuk di mana engkau bisa bekerja.” Makanan, pernikahan, kesempatan bekerja ini semua adalah anugerah yang Allah berikan kepada Adam dan Hawa di taman Eden. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, untuk mencari makan, manusia harus bersusah payah bekerja. Relasi dengan suami, dengan istri juga menjadi tidak mudah. Tapi bagaimanapun juga, tiga hal ini adalah anugerah Tuhan. Sekalipun sulit, nikmatilah selama engkau masih bisa.

Setelah bagian ini, Pengkhotbah membandingkan antara orang bodoh dengan orang bijaksana. Dia mengatakan hikmat bijaksana itu lebih baik daripada alat-alat perang. Karena hikmat orang miskin itu bisa menyelamatkan kota yang sedang dikepung oleh seorang penguasa yang kuat. Hikmat adalah sesuatu yang penting, sayangnya hikmat itu Sering kali dilupakan. Orang berhikmat sering kali jasanya dilupakan oleh orang banyak. Karena orang banyak lebih suka melihat seorang penguasa yang duduk dengan gagah di atas posisi yang tinggi. Kebodohan sepertinya itu lebih umum kita temukan ketimbang bijaksana.

Bagian selanjutnya Pengkhotbah 10 memberikan peringatan kepada orang yang bodoh. Pertama, orang yang bodoh ketika sudah membangun sesuatu yang mungkin perlu waktu puluhan tahun, membangun usaha, reputasi, kepercayaan. Semua itu bisa hancur dalam sekejap hanya dengan kebodohan sesaat. Engkau punya minyak wangi di satu botol, satu lalat kecil yang masuk maka seluruh minyak itu menjadi bau busuk. Sayangnya orang yang bodoh tidak selalu menjadi orang-orang yang hidupnya gagal di bawah. Karena justru posisi-posisi di atas, bahkan posisi raja dan penguasa kadang diisi oleh orang-orang bodoh. Ini adalah satu kecelakaan yang membawa masalah besar bagi kota atau negara yang dipimpinnya. Bagian berikutnya dikatakan ada orang bodoh yang gali lubang malah dia sendiri kecemplung di dalam lubang itu. Ada orang yang mendobrak menghancurkan tembok karena tidak hati-hati dia digigit oleh ular. Orang yang bodoh kerja dengan cara yang tidak efisien, dia memakai besi yang tumpul. Dan karena dia lamban dan malas, akhirnya atap rumahnya bocor dan runtuh. Sekalipun demikian, orang bodoh itu adalah orang yang tidak bisa mengendalikan lidahnya. Dikatakan ketika orang bodoh berbicara, seolah-olah dia tahu tentang masa depan. Padahal tidak ada manusia yang tahu masa depan. Dia juga mengucapkan kata-kata yang dia pikir tidak ada orang lain dengar, tidak ada orang lain tahu. Tapi justru akhirnya lewat ucapan mulutnya itu sendiri, dia terjerat dan mengalami celaka. Hidup ini singkat, jangan hidup seperti orang bodoh. Jadilah orang yang sensibel.


Masuk pasal 11 Pengkhotbah memberikan saran bagaimana orang yang bijaksana itu seharusnya hidup. Orang yang bijaksana harus hidup dengan berani. Ayat 1-2 menjadi perintah atau saran dari Pengkhotbah kepada orang bijaksana. Ayat 3-6 menggambarkan situasi-situasi yang mungkin terjadi. Ayat 1, cast your bread upon the waters, for you will find it after many days. Give a portion to seven, or even to eight, for you know not what disaster may happen on earth. Seolah-olah ini perintah untuk kita melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, tapi somehow hasilnya baik. Roti jika kita lempar ke air, akan tenggelam atau hancur dan tidak akan kembali lagi ke kita, Kalaupun kembali kita juga tidak mau makan roti yang sudah jatuh ke air. Ada dua macam interpretasi dari ayat ini. Keduanya bisa diterima dan saling melengkapi. Yang pertama, banyak orang menduga ini adalah gambaran perdagangan laut. Melempar roti ke air itu ibarat orang-orang yang bekerja dan mengirim hasilnya lewat kapal dijual ke bekerja dan mengirim hasilnya lewat kapal dijual ke negeri jauh. Ini adalah usaha dagang yang sangat berisiko, tapi kalau berhasil akan mendatangkan untung besar. Setelah lewat lama maka kembali lagi kepada kita. 1 Raja-raja 10:22 bicara tentang raja Salomo. Di mana dikatakan di laut raja Salomo itu punya kapal-kapal Tarsis bergabung dengan kapal-kapal Hiram dan sekali dalam 3 tahun kapal-kapal Tarsis itu datang membawa emas, perak, gading, kerak, burung merak. Sekali kapal itu dikirim, 3 tahun baru balik. Tetapi ketika balik, membawa harta yang begitu limpah. Ayat ini bisa dimengerti roti itu bukannya kamu makan, kamu simpan bagi diri kamu sendiri, tapi lepaskan. Kirimkan lewat kapal supaya dijual sampai beberapa lama kemudian investasimu kembali berlipat ganda. Ini panggilan untuk kita berani ambil risiko demi mendapatkan keuntungan. Karena seperti pepatah mengatakan, nothing ventured, nothing gained. Tidak ada usaha,  tidak ada hasil.

Ayat kedua, ketika dikatakan berikan bagian pada tujuh bahkan delapan orang ini seperti panggilan untuk kita diversifikasi dalam perdagangan. Don’t put all your eggs in one basket. Jangan taruh semua modalmu itu di satu investasi yang berisiko yang kalau hilang habis semuanya. Kirim tujuh kapal, kalau kembali dua atau tiga saja itu sudah masih untung. Ini bukan berarti saudara pulang buka komputer beli saham atau bitcoin. Jangan ambil risiko-risiko yang bodoh yang memicu ketamakan dan akhirnya bikin kita rugi besar. Tetapi ini juga mengingatkan kita, bahwa dalam hidup ini kadang kita harus berani ambil risiko. Karena tanpa ambil risiko banyak hal tidak kita kerjakan.

Ini berlaku bukan hanya dalam bisnis atau perdagangan, tapi juga dalam banyak aspek kehidupan kita. Dalam study,  kita harus pilih jurusan. Kita belum tahu apakah jurusan ini cocok dengan saya. Kita juga tidak tahu bagaimana nanti pangsa pasar setelah lulus. Saudara mau pindah kerja, saudara juga tidak tahu rekan di sana seperti apa, tantangannya sebesar apa. Dan dalam pernikahan, itu risiko tinggi, Saat premarital counseling, saya biasa pasti akan bertanya, “Mengapa kamu yakin mau menikah sama dia?” Biasanya jawaban yang standard, karena cocok,  bisa saling melengkapi, makin cinta Tuhan, makin rajin pelayanan. Mengapa yakin dalam 10 tahun  mendatang, kamu masih akan cocok seperti ini. Banyak hal yang ketika masih pacaran, terlihat manis, tapi setelah menikah bisa berubah. Manusia berubah. Apa yang menjamin pasanganmu tidak berubah jadi berkepribadian lebih jelek? Pertanyaan saya tujuannya hanya satu, untuk menghancurkan keyakinan akan kebahagiaan yang pasti. Karena satu hal yang saudara harus sadari, menikah itu tidak ada jaminan bahagia. Menikah itu adalah sebuah risiko yang harus dihadapi bersama-sama dengan orang yang sama sampai kematian memisahkan. Ini bukannya hal yang jelek, ini memang kenyataan yang harus kita sadari. Tanpa melihat realita ini, mungkin saudara akan kecewa begitu berat di kemudian hari. Tapi kalau saudara sudah sadar akan realita ini, jangan takut untuk mengambil risiko menikah. Karena kalau takut mengambil risiko, saudara akan kehilangan kesempatan menikmati banyak hal yang indah di dalam pernikahan. Kesempatan untuk mengetahui seperti apa itu dikasihi tanpa syarat. Kesempatan untuk kita sendiri belajar mengasihi pasangan kita tanpa syarat. Pengalaman kita belajar seperti apa Kristus mengasihi gereja-Nya. Alternatifnya saudara bisa menutup hati dan mengisi dengan segala entertainment yang membuat saudara merasa cukup dan tidak perlu orang lain. Akhirnya memang hati saudara tidak pernah dihancurkan, tetapi hati saudara juga menjadi hati yang irredeemable. Saudara kehilangan kesempatan mengerti mengampuni dan diampuni. Tentu saja ada orang-orang yang dipanggil untuk menjadi single. Tetapi secara umum saya ingin encourage saudara berani mencari pasangan. Ditolak pun itu juga risiko. 

Interpretasi yang kedua tentang ayat 1-2 adalah berbicara tentang memberikan sedekah. Memberikan sedekah ibarat seperti melempar roti ke air, hilang begitu saja, tidak kembali lagi. Tetapi Alkitab mengatakan orang yang memberi tanpa pamrih, dia pasti akan menerima sesuatu kembali. Dalam kitab Amsal dikatakan, orang yang baik hati akan diberkati karena ia membagi rejekinya dengan si miskin. Amsal 19:17, siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu. Ini kalimat berani sekali, kepada siapa Tuhan berhutang? Tetapi di sini dikatakan dengan gaya bahasa, artinya kalau engkau berbelas kasihan kepada orang yang lemah, dan engkau mengorbankan sebagian dari milikmu tanpa mengharapkan balasan, maka saudara pasti akan mendapat sesuatu dari Tuhan. Ayat ini jangan disalahgunakan. Dalam Injil kemakmuran dikatakan, “Engkau kasih persembahan sekian, engkau akan dapat uang berkali-kali lipat kembali.” Tapi apa yang menjadi kesalahan dari Injil kemakmuran, jangan membuat kita melupakan bagian kitab suci yang ini. Bahwa ketika kita memberikan uang kita bagi orang yang memerlukan, bagi pekerjaan Tuhan itu tidak akan kembali dengan sia-sia. Ketika saudara memberikan sesuatu kepada orang lain, pasti itu akan menghasilkan sesuatu yang baik. Entah bagi diri saudara sendiri atau bagi orang itu, atau bagi komunitas di sekitar. Mungkin kembalinya bukan berupa uang, tetapi berupa rasa sukacita, ucapan syukur, atau berupa pembelajaran untuk beriman. 

Kita dipanggil untuk membagikan apa yang menjadi milik kita bukan hanya kepada satu orang tapi bahkan sampai tujuh dan delapan. Artinya, setiap kali ada kesempatan kita berbuat baik, berbuat baiklah. Mengingatkan kepada kita sekalian tentang kisah seorang kaya yang datang kepada Yesus. Dia begitu ingin mendapatkan rahasia kerajaan Allah. Dia tahu ini adalah harta yang paling penting. Tapi ketika Yesus mengatakan, “Jual segala hartamu, bagikan kepada orang miskin,” maka orang kaya itu tidak bisa terima. Untuk bisa berkorban dalam memberi dan menjadi kekurangan, itu perlu keberanian yang berisiko. Perlu keberanian yang besar untuk memberikan apa yang menjadi pegangan kita. Adalah lebih mudah, memegang sesuatu yang bisa menjadi jangkar kita, dibanding dengan berani memberikan itu bagi sesuatu yang baik. Tetapi sekali lagi dalam konteks pengkhotbah ini kita diingatkan hidup kita singkat dan kapan pun bisa berakhir. Time and chance, waktu dan nasib apapun itu bisa menimpa setiap orang. Saudara bisa terus kumpulkan, harta, dengan itu saudara rasa aman, namun tiba-tiba semuanya hilang begitu saja. Bukankah lebih baik ketika tiba-tiba Tuhan kasih kesempatan untuk melakukan hal yang baik, kita berani untuk memberi, karena pada akhirnya kita melihat ayat ke 3-6, banyak hal di luar kendali kita.

Masuk dalam ayat 3-6, kita dipanggil untuk berani ambil risiko melakukan hal yang baik sekalipun keadaan empat poin ini, the inevitable, the uncertainty, the unknown, the outcome. Di ayat ke-3 dikatakan kalau awan itu sudah penuh dengan air, maka akan hujan. Kalau pohon tumbang entah ke selatan atau ke utara, di situlah pohon itu akan tergeletak. Artinya, banyak hal yang memang tidak bisa dihindari. Ada kesulitan-kesulitan yang memang we have to get it over and done with. Kesusahan dalam pekerjaan, dalam relasi dengan teman kantor, keluarga,  harus kita hadapi. Yang kedua, kita berani mengambil risiko sekalipun ada banyak hal yang tidak pasti. Kadang kita menantikan kapan waktu yang tepat. Mau menabur, kita lihat mau hujan. Mau jemur baju, seperti mau hujan, akhirnya kita tidak  jadi jemur baju. Padahal ternyata hari itu tidak jadi hujan. Pagi-pagi mau jogging, tidak jadi karena seperti mau hujan. Padahal akhirnya cuaca sangat baik. Mau terlibat dalam pelayanan-pelayanan di gereja, kita baru menikah masih perlu adjust dulu sama pasangan. Begitu adjust dengan pasangan anak lahir. Tunggu sampai anaknya agak besar baru bisa ikut retreat dan pelayanan. Tapi begitu anak ini besar, dapat anak yang lain. Dalam hidup ini kita harus belajar prioritas. Jangan juga sembarangan. Tapi kalau saudara memulai sesuatu ketika keadaan itu ideal dan nyaman bagi saudara, maka saudara tidak akan mengerjakan apa. Panggilan yang betul-betul dari Tuhan perlu penyangkalan diri. Ketika kita melayani dalam keadaan paling nyaman buat kita, maka kemungkinan kita bukan lagi melayani Tuhan, tapi kita sekedar menyelayani hidup kita sendiri. Berani mengambil risiko sekalipun banyak hal yang kita tidak tahu. 

Ayat ke-5. Jangan menunggu sampai kita bisa figure out everything seperti Tuhan. Kita tahu bayi itu hasil pembuahan sperma yang masuk ke sel telur, tapi kapan jiwa itu ada, kita tidak tahu. Sebagai manusia kita terbatas. Sekali lagi kita tidak in control. Jangan tunggu sampai kita in control, baru kita berani melakukan. Pada akhirnya, kita juga tidak tahu apa yang menjadi hasil dari yang kita kerjakan. Karena itu Pengkhotbah mengatakan, “Karena kamu tidak tahu, pagi hari tabur benih. Lalu petang hari jangan istirahat, terus bekerja. Kerjakan lebih banyak lagi supaya kemungkinan berhasil lebih besar.” Lebih baik melakukan sesuatu tapi kemudian gagal, daripada kita tidak pernah melakukan apapun. Karena begitu kita tidak melakukan apapun, sudah pasti kita gagal. Pdt. Stephen Tong mengatakan hal ini, “Mengerjakan sesuatu mungkin bisa salah dan gagal. Tapi tidak mengerjakan apa-apa juga salah, karena kita tidak berhasil melakukan apa-apa.” Yang paling salah adalah orang yang tidak  kerja apa-apa tapi kritik orang yang kerja. Berani mengambil risiko, berani berbuat baik sekalipun banyak hal kita tidak ada jaminan, banyak hal kita tidak mengerti. 

Sampai bagian ini terus terang saya berasa agak seperti motivational speaker yang mengajarkan semangat kiasu (takut kalah) dan kiasi (takut mati). Ini sangat berbeda dengan apa yang diajarkan oleh kitab Pengkhotbah. Kitab Pengkhotbah, mengajarkan kepada kita, menghindari risiko-risiko yang bodoh. Orang bodoh hidupnya seperti tadi begitu. Mengerjakan sesuatu malah kecemplung. Membongkar tembok malah digigit ular. Tapi orang bijaksana, bukan berarti kemudian harus diam tidak melakukan apa-apa, itu juga salah. Orang bijaksana harus berani ambil risiko yang bijaksana. Tapi seperti apa, mengambil risiko  dengan bijaksana? Saya kalau ditanya bagaimana menggumulkan kehendak Tuhan? Saya percaya menggumulkan kehendak Tuhan setiap orang pengalamannya bisa beda-beda. Tapi kalau saya mencoba merumuskan, saya suka memakai kerangka dari John Frame. John Frame itu punya kerangka tiga perspektif, ada perspektif normatif, situasional, dan eksistensial. Yang pertama, menggumulkan kehendak Allah dengan bijaksana. Kita harus belajar melihat situasi yang ada. Mengambil risiko itu hal yang baik, tetapi mengambil risiko dengan well informed, well advised. Yesus sendiri mengatakan mau membangun gedung kita harus mengadakan perhitungan dulu. Jangan melangkah karena emosi, karena buru-buru tanpa tanggung jawab. Kita tanya pendapat orang dan diskusi dengan mereka. Kita melihat kesempatan yang Tuhan bukakan bagi kita, talenta kita, kesanggupan kita, keadaan keluarga, ekonomi, berbagai situasi. Memang pada akhirnya yang namanya risiko, kita harus berani lompat. Ambil risiko yang bijaksana. Yang kedua, kalau kita bertanya apa sih kehendak Tuhan? Tuhan mau pimpin saya ke mana? Kita tentu dalam memutuskan segala sesuatu, kita harus memutuskan sesuai dengan kehendak Tuhan. Ini prinsip normatif, harus sesuai dengan kehendak Tuhan. Tapi kadang kita juga kurang jelas. Karena Alkitab tidak secara eksplisit bicara tentang pasangan kita yang mana, pekerjaan yang mana yang harus diambil, kuliah apa dan seterusnya. Mendengarkan suara Tuhan dalam keseharian kita berarti kita harus punya kepekaan untuk membedakan yang mana suara Tuhan, yang mana suara dunia. Masalahnya, kita akan susah mengenali suara Tuhan kalau kita cari Tuhan baru setelah mengalami pergumulan. Di tengah- tengah kerumunan ramai kita bisa mengenali suara orang yang kita sudah kenal dekat. Ada relasi yang dibangun selama bertahun-tahun, sehingga kita punya kepekaan. Saat kita harus ambil keputusan, kita bisa teringat firman Tuhan yang dulu pernah kita gumulkan. 

Prioritaskan kerajaan Allah. Ingat untuk bermurah hati kepada orang lain, kepada siapa engkau memberikan pakaian, makanan, minuman, engkau melakukannya bagi Aku. Setia dalam perkara kecil, maka kepadamu akan dipercayakan perkara besar. Saat kita terus dikasih makan firman Tuhan, kita terus bercakap-cakap dengan Tuhan, ketika kita berhadapan dengan situasi tertentu, kita bisa mendengar pimpinan Tuhan. Mengambil risiko secara bijaksana berarti kita mempelajari situasi kita. Kita belajar mencari pimpinan Tuhan. Yang ketiga, kita mendoakan hal ini di hadapan Tuhan. Yakobus mengatakan apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat hendaklah ia minta kepada Allah yang akan memberikan kepada semua orang dengan murah hati. Ini sisi eksistensial dari kerangka John Frame tadi. Terkadang kita berhadapan pada satu kesempatan pelayanan yang mungkin penuh dengan risiko, penuh dengan kesulitan. Tapi kita berdoa Tuhan, kalau memang ini kehendak Tuhan maka terus tambahkan beban dalam hati. Dan ketika kita doakan, Tuhan terus beri kegelisahan sampai akhirnya kita tidak bisa tidak terdorong melakukan hal itu. Inilah perbedaan kita dengan orang-orang kiasu. Bukannya kita kurang rajin, bukannya kita kurang sungguh-sungguh, tetapi kita kerjakan segala sesuatu dengan rajin, sungguh-sungguh, berani karena kita melihat ini pimpinan Tuhan.  Pengkhotbah 4:5-6, “Orang yang bodoh melipat tangannya dan memakan dagingnya sendiri. Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin.” Dalam dua ayat ini ada tiga kata yang berbeda yang dipakai untuk menggambarkan tangan. Ayat 5 mengatakan orang yang bodoh itu lipat tangan (yat : dari jari sampai siku), artinya orang bodoh tidak mau kerjakan apa-apa. Orang yang bodoh, juga orang yang berjerih payah dengan menggenggam kedua tangannya (koven, mengejar ambisi, ingin mencapai segala sesuatu, tidak mau kalah, mau terus tumpuk bagi dirinya sendiri). Tapi orang yang bijaksana, adalah orang yang dengan segenggam ketenangan (kaf , membuka tangannya, menerima apa yang Tuhan berikan kepada dia). Dan itulah yang dikatakan dalam surat Yakobus pasal ke-4, kita mengatakan kalau Tuhan berkenan maka Tuhan yang akan memberikan. Tetap pergi bekerja dengan keras mengambil risiko, tapi menyadari semua yang kita dapat adalah anugerah dari Tuhan. Banyak hal kita tidak tahu tentang masa depan. Banyak hal kita tidak tahu apa yang harusnya kita lakukan. Tapi yang kita tahu hidup kita telah ditebus oleh Kristus. Dan kita dipanggil untuk mempergunakan waktu yang ada. Making the most of every opportunity untuk memuliakan nama Tuhan. Berani mengambil risiko untuk mengerjakan hal-hal yang baik. Melakukan penginjilan itu risiko besar, kita bisa ditolak, dihina, dan diremehkan. Tapi ini adalah risiko yang tidak seberapa dengan gain yang mungkin akan kita dapatkan kalau kita berani melakukannya. Ada artikel yang menulis tentang mengapa zaman ini ada orang yang suka mengirim gambar alat kelaminnya kepada wanita. Salah satunya ditulis karena ada thrill ketika dia sebarkan foto itu katakanlah kepada 50 orang. Kalau ada satu yang reply, itu sudah kemenangan besar buat dia. Saya pikir ironi, ada orang sakit jiwa yang ambil risiko dipermalukan oleh 50 perempuan. Tapi mengapa kita yang punya injil yang menyelamatkan dunia, kita takut ambil risiko memberitakan Injil. Biarlah setiap kesempatan yang ada yang Tuhan berikan kita pakai, berani ambil risiko bagi kemuliaan nama Tuhan.