Download versi cetak: 1250KebaktianPagi_2026-08-Feb_DT

Allah atau ilah

Ibrani 11:13, 11:39-12:3

Pdt. David Tong, Ph.D., Ph.D.

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Ibrani 11 mencatat mengenai banyak saksi iman. Setelah penulis Ibrani bicara mengenai siapa Kristus, ia juga bicara mengenai orang-orang yang sudah mengenal Kristus sebelumnya dalam Perjanjian Lama. Kita tidak mengetahui secara pasti siapa penulis Kitab Ibrani ini. Dahulu ada orang yang percaya bahwa penulis kitab Ibrani ini adalah Paulus. Namun, nama dari Paulus tidak disebutkan di dalam Kitab Ibrani. Peneliti kemudian menyimpulkan bahwa ini kemungkinan bukan Paulus, walaupun teologi banyak yang mirip antara teologi Paulus dan penulis Kitab Ibrani ini, tetapi gaya penulisan mereka sangat berbeda sekali. Walaupun kita tidak tahu siapa yang menuliskan, tetapi Tuhan memberikan Kitab Ibrani kepada gereja Tuhan. Sehingga kita akhirnya mengetahui bahwa Kitab ini adalah inspired by the Lord, by God Himself, menjadi suatu hal yang kita treasure di dalam kehidupan gereja. Kita mungkin tidak mengetahui nama dari penulis Kitab Ibrani, tetapi kita bisa tahu apa yang menjadi isi hati dari penulis Kitab Ibrani. Penulis Kitab Ibrani mungkin bukan hanya teolog, tetapi adalah seorang gembala. Dia mungkin sedang berbicara kepada jemaatnya pada saat itu.

Jemaat Kristen yang mula-mula itu berasal dari orang Yahudi dan mereka mengalami penganiayaan. Sehingga mereka memikirkan untuk kembali kepadaYudaisme, karena ketika mereka menjadi orang Yahudi, paling tidak di dalam Kerajaan Romawi ada dua sistem yang memproteksi keberadaan mereka. Sebagai orang Yahudi, Yudaisme itu hanya terbatas kepada satu bangsa saja. Sedangkan Christianity terbuka bagi semua bangsa. Penulis Ibrani mengatakan dalam Ibrani 12:4 tersebut, “Dalam pergumulan kamu melawan dosa, kamu bahkan belum sampai mencucurkan darah.” Berbeda dengan Kristus yang walaupun tidak berdosa, harus mencucurkan darah. Penulis Ibrani kemudian melanjutkan, “Kamu yang berdosa, dalam pergumulan kamu melawan dosa, bahkan belum mencucurkan darah pada saat ini. Tidak salah kamu tidak memikirkan mengenai Kristus dan memikirkan untuk kembali kepada Yudaisme?” Maka penulis Ibrani banyak membicarakan mengenai Kristus, dan membandingkan Kristus dengan Perjanjian Lama.

Ibrani 11:13 yang telah kita baca kembali menampilkan kebesaran Kristus. Namun, dalam terjemahan bahasa Indonesia, ungkapannya masih dapat diperbaiki. Dalam bahasa Indonesia, kesannya seolah-olah orang-orang ini sangat malang dan patut dikasihani karena mereka meninggal tanpa memperoleh apa yang dijanjikan kepada mereka. Tetapi kalau kita perhatikan di dalam bahasa Inggris atau di dalam bahasa aslinya, walaupun mereka tidak memperoleh apa yang dijanjikan kepada mereka, tetapi sense-nya adalah mereka mati tetap dengan memegang janji tersebut. Fakta bahwa akan ada generasi penerus merupakan sebuah pengharapan yang besar, begitu juga di dalam kekristenan, fakta bahwa ada orang yang akan meneruskan iman kita merupakan suatu pengharapan yang besar bagi gereja. Demikian besarnya fungsi atau andil dari generasi penerus tersebut sehingga penulis Ibrani dalam Ibrani 11:40 mengatakan suatu kalimat yang sangat luar biasa sekali. Dia menulis, “sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.”

Kalau kita melihat saksi-saksi iman di dalam Ibrani 11, kita bisa mengatakan bahwa mereka luar biasa. Kita mungkin merasa kecil dibandingkan saksi-saksi iman ini. Namun, penulis Ibrani mengatakan bahwa saksi-saksi iman ini baru berarti karena ada kita. Dengan kata lain, kalau tidak ada future believers, untuk apa ada saksi-saksi iman ini? Maka Ibrani 11:13 di dalam ESV mengatakan bahwa mereka sudah menyambut (greet) janji ini, bahkan King James Version mengatakan bahwa mereka sudah memeluk (embrace) janji ini. Tidak ada orang Kristen yang tidak hidup di dalam janji Tuhan. Keselamatan kita itu belum 100% selesai. Banyak orang yang salah mengerti mengenai hal ini. Pengakuan Iman Westminster mengatakan bahwa ketika kita mati, roh kita akan masuk ke dalam surga sambil menantikan keselamatan yang penuh, yaitu kebangkitan tubuh kita. Semua dari kita pada saat ini masih menantikan tubuh kebangkitan. Jangan menganggap bahwa keselamatan hanya menyangkut jiwa yang masuk ke dalam surga. Manusia diciptakan dengan tubuh dan tubuh ini adalah bagian dari keselamatan yang akan datang. Tuhan menjanjikan tubuh kemuliaan bagi kita sebagai suatu penggenapan keselamatan tersebut. Ketika kita mati, untuk sementara tubuh kita dipisahkan dengan roh atau jiwa kita. Maka kematian adalah abnormal existence bagi manusia. Tuhan menjanjikan kepada kita bahwa kita akan dibangkitkan lagi, dan untuk selamanya kita akan masuk ke dalam Yerusalem yang baru itu di dalam tubuh kita. Maka kita akan menikmati Tuhan di dalam seluruh pancaindra kita. Mereka yang dihukum dalam api neraka yang kekal tersebut juga akan dihukum di dalam tubuh mereka, sehingga mereka juga akan merasakan hukuman tersebut di dalam pancaindra mereka.

Maka apa yang Tuhan janjikan kepada kita, belum digenapi 100%. Kita masih menantikan tubuh kebangkitan, tubuh kemuliaan tersebut. Semua dari kita juga menantikan langit dan bumi yang baru tersebut. Sehingga kita semua akan mati di dalam janji Tuhan. Dengan kata lain, iman yang benar tidak bisa sepenuhnya digenapi dalam satu hidup. Dari mana kita tahu bahwa kita sedang menghidupkan iman yang benar? Karena iman yang kita miliki adalah iman yang tidak akan berhenti ketika kita mati. Luar biasa sekali apa yang dikatakan oleh penulis Ibrani di sini, bahwa mereka semua itu mati tanpa mendapatkan apa yang dijanjikan kepada mereka, tetapi mereka bukan orang yang sial; melainkan mereka adalah orang-orang yang menghidupkan janji tersebut sampai mati.

Namun, meskipun mereka tidak memperoleh kepenuhan janji dari Tuhan tersebut, mereka sudah mencicipi. Abraham dijanjikan satu keturunan yang besar. Abraham pada akhirnya hidup dan mati tanpa melihat kepenuhan dari janji Tuhan tersebut. Janji Tuhan itu lebih besar daripada satu hidup Abraham. Namun, Abraham telah mencicipi janji Tuhan tersebut. Abraham melihat dua generasi ke bawah. Ibrani 11:9 mengatakan bahwa Abraham tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub. Memang dia tidak melihat bahwa keturunannya akan seperti pasir di pantai, bintang di langit, tetapi dia sudah mulai mencicipi janji Tuhan tersebut. Ada keturunan, yaitu Ishak dan Yakub yang tinggal satu kemah dengan dia. Sehingga walaupun dia mati tanpa mendapatkan semua janji Tuhan tersebut, Abraham sudah berjabat tangan dengan janji Tuhan tersebut. Maka janji Tuhan bukan sekedar wishful thinking, tetapi adalah suatu hal yang dia bisa rasakan pada saat itu.

Kita semua sedang menantikan tubuh kebangkitan dan langit dan bumi yang baru tersebut. Itu tidak akan kita lihat sampai kita nanti sudah mengalami kematian. Namun, Tuhan tidak akan membiarkan anak-anak Tuhan, musafir-musafir Tuhan untuk tidak mencicipi janji dari Tuhan. Maka ketika kita melalui dunia yang sementara ini, kita dijanjikan tubuh kebangkitan, sekarang kita mencicipi kebangkitan jiwa kita. Kita dijanjikan langit dan bumi yang baru, sekarang kita menikmati langit dan bumi di dalam gereja Tuhan. Tidak ada satu orang anak Tuhan yang bisa sepenuhnya menikmati atau merasakan semua janji Tuhan, tetapi kita bisa mencicipi janji Tuhan tersebut. Maka salah satu alasan saya sangat anti kepada wealth and health gospel, karena mereka mau mencicipi atau merasakan seluruh kegenapan dari janji Tuhan di dalam dunia sekarang ini. Bahkan mereka merasakan, mereka mau merayakan ada pesta pora di padang belantara, sehingga tidak ada mentalitas musafir di dalam teologi mereka. Ibrani 11:13 mengatakan, saksi-saksi iman ini bukan hanya mati di dalam iman mereka, bahkan mereka mengakui bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. Itulah apa yang akan kita lakukan. Kita mengakui kita hanyalah cuma pendatang dan juga orang asing di dalam bumi ini, sehingga orientasi kita bukan pada bumi ini, orientasi kita adalah kepada bumi yang akan datang.

Saya tidak tahu bagaimana kehidupan di Singapura, tetapi kehidupan di Singapura itu tidak ada bandingnya dibandingkan dengan langit dan bumi akan datang yang dijanjikan kepada kita. Kesalahan banyak orang Kristen adalah kita merasakan feel at home berada di tempat tertentu, sehingga kita tidak lagi bisa menghidupkan janji tersebut dan merasakan kenikmatan janji Tuhan tersebut. Semua orang Kristen yang benar akan mati di dalam janji Tuhan. Paulus mengatakan bahwa kesengsaraan yang dia alami tidak ada bandingnya dengan kenikmatan dan kemuliaan yang akan datang setelahnya. Apakah kita juga pada saat ini merasakan bahwa kemuliaan yang akan datang lebih besar daripada apa yang sudah kita dapatkan di dalam dunia sementara ini? Ini menjadi salah satu ciri bahwa kita sedang menghidupkan iman yang benar.

Di dalam Ibrani 12:1-3 mencatat bahwa kita harus masuk ke dalam suatu perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Maka ini adalah suatu perlombaan yang diwajibkan bagi seluruh anak Tuhan, bukan hanya dianjurkan, tidak ada anak Tuhan yang seharusnya merasa bahwa dirinya adalah sekedar penonton di dalam perlombaan ini. Saingan kita dalam perlombaan ini bukanlah orang Kristen yang lainnya, tetapi penulis Ibrani mengatakan bahwa saingan yang paling besar dalam perlombaan ini adalah diri kita sendiri. Maka ada dua hal yang bisa merintangi kita untuk berlomba, yaitu beban dan dosa. Beban bisa menjadi dosa, tetapi belum tentu adalah dosa. Namun, dosa sudah pasti adalah beban. Penulis Ibrani mengatakan bahwa dosa adalah sesuatu yang begitu merintangi kita, seperti kaki daripada gurita yang demikian banyaknya yang membuat kita akhirnya entangle di dalamnya. Beban bisa membuat kita lambat di dalam perlombaan yang diwajibkan tersebut. Namun, dosa hanya memperlambat saja, tetapi membuat kita berhenti dan buat kita akhirnya terjerat di dalam perlombaan tersebut.

Orang-orang yang seumur hidup hanya memikirkan mengenai untuk dan rugi di dalam hidupnya, tidak mungkin bisa mengikuti Tuhan. Kalau Tuhan sudah memikul salib untuk kita, mengapa kita masih memikirkan mengenai untuk dan rugi di dalam mengikuti Dia? Beban saya adalah sebuah rumah di Amerika ketika mau pulang ke Indonesia. Beban daripada Pdt. Stephen Tong ketika beliau mau masuk ke dalam SAAT adalah 600 buah piringan hitam musik klasik. Maka saya tidak tahu hari ini, beban apa yang kita semua miliki untuk bisa mengikuti Tuhan. Ada seorang figur yang luar biasa, yaitu Abraham, ketika dia dipanggil untuk mengikuti Tuhan. Abraham memiliki rumah yang besar di tanah Mesopotamia. Di dalam Kejadian pasal 14, ketika Abraham bertempur melawan Kedorlaomer, Abraham sudah melatih 318 orang yang lahir di rumahnya. Kalau kita memperkirakan, mungkin household daripada Abraham itu ada sekitar 1200-1500 orang. Namun, sebesar-besarnya apa yang dimiliki oleh Abraham, Abraham dipanggil oleh Tuhan bukan untuk mendirikan kota, melainkan untuk mendirikan kemah. Mengapa kemah? Supaya akhirnya kemah itu gampang dihancurkan untuk bisa mengikuti Tuhan terus. Yang menjadi beban bagi kita pada saat ini adalah kita mau mendirikan kota. Kita tidak mau hanya dipuaskan dengan kemah. Dengan segala yang kita miliki, kita pikir kita layak dan harus mendirikan kota. Sehingga kita tidak gampang mengikuti Tuhan lagi. Itulah beban saudara. Kalau kita memang dipanggil untuk mendirikan kota, tidak ada salahnya. Namun, kalau kita dipanggil untuk mendirikan kemah, jangan sekali-kali kita mencoba mendirikan kota.

Kemudian Ibrani menggambarkan dosa seperti gurita, yang akhirnya dengan demikian banyak kaki membuat kita terperangkap di dalamnya. Saya selalu teringat dengan seorang jemaat yang saya layani di Amerika. Dia memiliki inferiority complex yang akhirnya terbanting superiority complex. Pada akhirnya dia jadi suka berbohong. Minggu demi minggu berbohong mengenai pekerjaan dia, mengenai umur dia, dan seterusnya. Padahal kalau dia jujur dari awal, tidak akan ada masalah. Gereja terbuka bagi semua macam manusia. Namun, karena dia minder, dia akhirnya memproyeksi dirinya lebih dari apa yang seharusnya. Dosa dari kebohongan ini membuat dia terperangkap di dalamnya. Saya tidak tahu pada saat ini apakah ada dosa yang kita lakukan yang membuat kita terperangkap di dalamnya. Kalau ada, maka firman Tuhan pada hari ini mengatakan, kita harus meninggalkan semua hal tersebut. Sehingga kita adalah anak Tuhan yang kembali berlomba dalam perlombaan yang diwajibkan tersebut. Beban dan dosa yang bisa merintangi kita pada saat ini membuat kita akhirnya tidak bisa berlomba dengan seharusnya.

Ada sebuah perkataan di dalam Ibrani 12:1, yaitu kita harus dengan tekun berlomba dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Bagaimanakah kita bisa tekun berlomba? Kita bisa tekun berlomba ketika kita berfokus kepada Kristus. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus. Yesus bukan hanya memerintahkan kita untuk berlomba, tetapi Dia sendiri juga sudah berlomba dalam perlombaan yang akan kita lakukan ini. Dia sudah melintasi perlombaan ini dengan setia sampai mati, bahkan mati di atas kayu salib dan Dia memanggil kita semua untuk berlomba bersama-sama di dalam perlombaan yang sudah Dia jalankan tersebut. Kemudian di dalam Ibrani 12:3, di dalam bahasa Yunani memakai kalimat imperatif, yaitu “ingatlah selalu akan Dia.” Ini bukan hanya sekedar memory, suatu kenangan saja. Dalam bahasa aslinya, ini menyatakan bahwa kita harus consider Him intensely.

Salah satu cara kita bisa mengingat Dia secara intense ini adalah dengan kesadaran bahwa kita semua dipanggil untuk menghidupkan hidup Kristus. Banyak orang Kristen yang mengatakan bahwa saya mau mengikuti Yesus. Banyak orang Kristen yang mengatakan saya mau hidup seperti Kristus. Namun, sedikit orang Kristen yang mengatakan, “Saya mau menghidupkan hidup daripada Kristus.” Satu-satunya cara kita bisa mengikuti Kristus, adalah kalau kita menghidupkan hidup Kristus. Kalau Kristus sudah memikul salib-Nya, apa hak kita tidak mau memikul salib? Kalau Kristus akhirnya menumpahkan darah, apa hak kita mengatakan bahwa kita harus lepas daripada pertumpahan darah tersebut? Bahkan di sini dikatakan, Kristus menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari orang-orang yang Dia ciptakan. Maka apa hak kita untuk merasa bahwa kita harus mendapatkan perlakuan baik selama berada di dalam dunia sementara ini?

Kalau Kristus sudah hidup sebagai the suffering servant, apakah kita juga mau hidup sebagai the suffering servant? Banyak orang yang mengatakan, “Saya mau hidup mengikuti Kristus, tetapi kalau bisa saya hidup tidak seperti Kristus.” Ini adalah suatu kebohongan. Kalau saudara mau hidup mengikuti Kristus, saudara saat ini diundang dalam perlombaan yang diwajibkan ini untuk hidup seperti Kristus.

Maka penulis Ibrani mengatakan, kita sekarang diwajibkan berlomba, tetapi bukan tanpa contoh, karena contoh kita adalah Kristus. Inilah gereja Tuhan, yang tidak dipenuhi dengan penonton. Kita semua dipanggil untuk berlomba dalam perlombaan tersebut. Kita bisa saja jatuh dalam perlombaan tersebut. Kita bisa saja bergerak dengan lambat dalam perlombaan tersebut. Namun, kita diwajibkan untuk berlomba dalam perlombaan tersebut. Satu-satunya cara bagi kita untuk bisa berlomba dengan baik adalah dengan memandang kepada Kristus. Bukan hanya sekedar memandang kepada Kristus, tetapi juga menghidupkan hidup Kristus. Marilah kita meninggalkan segala sesuatu yang membuat kita lambat dalam perlombaan ini. Marilah kita mengarahkan mata kita kepada Kristus yang membuat kita cepat berlomba dalam perlombaan yang diwajibkan tersebut. Amin.