Download versi cetak: 1433_KebaktianSore_8Feb2026

Panggilan Tuhan kepada Daud (10)

Pdt. Dr. Stephen Tong

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Semua agama mengetahui ada orang yang benar, ada orang yang berdosa. Menurut konsep umum, orang berdosa harus dihukum dan banyak kecelakaan tiba karena kesalahannya. Sedangkan orang kalau berbuat baik, akan hidup lancar dan mendapat berkat dari dewanya sebagai imbalan untuk dia. Tetapi di dalam kitab suci seperti sedikit lain. Kita melihat cara Tuhan menghadapi manusia menghindarkan banyak orang beriman Kristen. Seperti orang baik tidak dapat berkat dan balasan yang baik dari Tuhan. Orang yang jahat seperti kurang dihukum atau tidak sesuai dengan hukuman yang kita inginkan. Itu sebabnya kalau kita menginjili ada orang bukan saja tidak mau terima, tapi juga antipati kepada penjelasan orang Kristen. Maka hari ini kita sedikit membicarakan bagaimana Tuhan menghadapi tingkah laku manusia.

Mengapa Alkitab mengatakan Tuhan tidak terima persembahan Kain, tetapi terima persembahan Habel? Sebelum mereka memberikan persembahan, tidak ada catatan Kain berbuat jahat, tidak ada catatan Habel berbuat baik. Karena tidak ada catatan, orang bertanya, “Dasar apa Tuhan menerima ini dan Tuhan tidak terima itu?” Jikalau akhirnya mengakibatkan Kain iri hati pada Habel dan dia pukul sampai adiknya mati, apa salahnya dia? Mungkin dia mempunyai kesimpulan karena Allah tidak adil dan ketidakadilan Allah membuat dia tidak setuju pada Tuhan, maka ia ambil tindakan sendiri sesuai ukuran dia, tidak perlu diatur atau dibalas oleh Tuhan Allah sendiri.

Di dalam Alkitab juga mencatat, sebelum dua anak dilahirkan, Tuhan sudah bicara, “Saya mencintai yang ini, saya membenci yang lain.” Allah mencintai dan membenci tanpa alasan. Mungkinkah diterima oleh orang-orang yang pakai logika umum? Sering kita tidak mengerti mengapa orang yang jahat selalu diampuni dan lancar. Kadang-kadang orang berbuat baik tetapi tidak lancar bahkan cepat mati. Saya kira banyak orang Kristen pun di dalam kesempatan-kesempatan tertentu bingung menanggapi cara Allah menghadapi manusia. Di dalam kasus Saul dan Daud, kita melihat juga gejala seperti ini. Saul memang kurang baik. Tapi dibanding Daud, apakah Daud lebih baik daripada Saul? Alkitab berkata secara jumlah Daud membunuh lebih banyak orang. Secara kesempatan berbuat dosa, Daud pernah berzinah, tapi Saul tidak pernah. Menurut catatan sejarah, kita lihat tidak ada pengampunan Tuhan untuk Saul. Tetapi seolah-olah Daud dipuji sebagai yang memperkenan hati Tuhan, yang menulis banyak Mazmur dan akhirnya menjadi raja yang diberkati oleh Tuhan. Bukankah ini memusingkan kita? Mungkin ada orang mengatakan saya kurang setuju Tuhan caranya memperlakukan manusia begini. Mungkin dia punya pengertian lebih logis. Sudah berbulan-bulan kita bicara mengenai Saul dan Daud. Apakah betul-betul Allah pilih kasih? Apakah betul Allah tidak adil? Apakah betul Allah terlalu keras kepada orang yang baik? Apakah betul kadang-kadang Allah terlalu longgar kepada orang yang tidak baik? Saya tidak heran jikalau engkau curiga dan tidak  sepaham dengan kitab suci. Saya kira itu sangat normal. Mari kita berasumsi seperti ini. Tuhan tidak senang Saul karena Saul dipilih oleh manusia bukan pilihan Tuhan Allah.  Daud bukan dipilih oleh manusia tetapi ditetapkan oleh Tuhan, maka Tuhan sangat senang padanya. Apakah artinya Allah menanggapi segala sesuatu semau dia sendiri? Sesuai kitab suci kita melihat Saul akhirnya sama sekali dibuang oleh Tuhan. Meskipun kelihatan dia tidak lebih jahat dari Daud. Sedangkan Daud diterima. Kadang-kadang engkau memikirkan seharusnya Tuhan lebih baik memperlakukan saya daripada apa yang sekarang saya terima. Tapi saya pikir ada prinsip-prinsip Alkitab yang belum kita mengerti secara tuntas yang mengganggu kita mengambil Keputusan seperti ini.

Kalau kita tanya benarkah Saul lebih baik baik daripada Daud? Apakah kita pikir Daud jauh lebih jelek daripada Saul? Ini sangat tergantung ukuran dan standar yang kita ambil. Tapi di dalam Perjanjian Baru kita mendapatkan sesuatu kriteria yang berbeda dengan cara orang umum menilai baik dan jahat. Dalam Perjanjian Baru mengatakan tidak ada satu orang yang baik. Tidak ada satu yang mengerti kebenaran. Bukan saja demikian, tidak ada satu yang mencari Tuhan Allah. Tiga kalimat ini membuktikan Tuhan tidak pakai cara agama yang umum untuk menilai manusia. Apakah yang disebut dalil umum di dalam agama terhadap Tuhan? Semua orang percaya melalui agama orang mencari Allah. Kita semua percaya dengan beragama, orang berbuat baik. Kita semua percaya di dalam agama semua mengerti kebenaran. Mengapa di Mazmur dan juga Roma ada tiga kalimat, bahwa tidak ada seorangpun yang mencari Allah, tidak ada seorangpun yang berbuat baik. Tidak ada satu yang mengerti kebenaran. Kalimat tiga ini benar atau tidak? Kalau kalimat tiga ini memang benar, maka standar Perjanjian Baru harus kita terima. Kalau ini benar, maka kita tidak boleh terima apa yang dikatakan oleh standar agama bahwa semua orang sudah tahu Allah, semua orang sudah mengenal kebenaran, semua sedang berbuat baik.

Karena yang mengatakan adalah Tuhan Allah. Allah tidak mungkin salah. Allah tidak mungkin bohong. Allah tidak mungkin sembarangan menyelewengkan kebajikan orang lain. Maka waktu Tuhan mengatakan tidak ada orang cari Allah, kalau ini kalimat kita tidak bisa terima, kita akan menganggap di dalam kitab suci segala kebenaran dikatakan standarnya kita tidak bisa terima. Kalau satu orang bilang dia cari Stephen Tong dan saya mengatakan tidak ada orang cari saya. Mana yang benar? Kamu percaya saya atau percaya orang itu? Mengapa percaya saya? Karena saya pendetamu? Orang itu juga jujur. Tapi engkau percaya saya, berarti tidak adil bukan? Kalau semua pihak jujur, engkau harus percaya keduanya. Bagaimana boleh mengatakan saya percaya yang satu, saya tidak percaya yang lain? Engkau tidak boleh memihak 1 pihak. Tapi di dalam hal ini, banyak orang agama sungguh-sungguh mencari Tuhan. Tetapi Tuhan orang Kristen mengatakan tidak ada orang mencari Dia. Bagaimana menjawab? Orang beragama berkata, “Saya mencari Allah. Agama orang Kristen mengatakan Tuhan claim tidak ada orang mencari dia. Adakah kemungkinan lain? Kedua pihak begitu jujur dan mengatakan yang sebenarnya. Kemungkinan terjadi di dalam Allah konsepnya beda. Saya sudah mencari Allah. Allah yang dia cari bukan Allah yang sejati, tetapi Allah menurut pikiran, menurut interpretasi, menurut kesan yang dia kira itu adalah Allah.

Saya kira di dalam hal ini hanya satu orang menemukan satu prinsip yang penting sekali. Dia adalah  seorang yang mengajar di Westminster Theology Seminary, namanya Cornelius Van Til. Saya waktu umur 20 dengar kalimat dia saya kaget luar biasa. Van Til begitu penting karena teolog-teolog tidak menemukan apa yang dia umumkan ini. Dia mengatakan dari zaman Aristoteles hingga abad ke-20 orang yang mengatakan bahwa dia mencari Tuhan, dia tidak mencari Tuhan. Dia hanya mencari bayang-bayang Tuhan. Jikalau saya bertanya, “Apakah engkau melihat bulan malam kemarin?” Ya, saya melihat bulan malam kemarin. Begitu jelas saya melihatnya. Lalu kamu langsung percaya. Saya berkata, “Jangan dulu, tanya lebih detil. Di mana engkau melihat bulan?” Lalu dia mengatakan, “Saya melihat bulan melalui jendela kaca rumah.” Apakah yang dilihat itu benar bulan? Tidak! Itu refleksi  bulan.

Saya tanya lagi orang kedua. Apakah engkau melihat bulan malam kemarin? “Ya, saya melihat bulan dengan begitu jelas di danau. Karena kemarin danaunya itu begitu tenang, tidak gelombang. Dan ada bulan di dalam danau.” Bulan yang direfleksikan oleh danau yang tenang itu, apakah itu betul-betul bulan? Itu adalah refleksi bulan yang ada di dalam danau. Inilah yang dikatakan oleh Cornelius Van Til. Orang yang percaya Allah di dalam agama-agama, mereka percaya Allah yang ada dalam kognitif mereka. Semua agama ada konsep Ilahi, bedanya dengan Allah dalam kekristenan adalah Allah yang dipercaya oleh agama lain dimengerti melalui imajinasi dan ilusi. Yang dicari dan yang mencari keduanya jujur. Tetapi yang dia cari Stepen Tong yang lain, bukan saya. Dia sungguh jujur, yang harus kita ragukan adalah yang dia temukan. Oleh sebab itu jangan menghina agama lain. Mereka mencari Allah dengan sungguh-sungguh. Tetapi apa terjadi? Allah yang mereka pikir, sama Allah yang sejati beda. Inilah yang menjadi kesulitan, ketegangan antara agama lain dengan kekristenan. Seumur hidup saya tidak berani menghina agama lain. Tapi saya harus katakan, agama lain percaya kepada Allah dan orang Kristen percaya kepada Allah, ada gap di antara dua ini. Semua agama bermotivasi baik mau mencari Allah, tetapi konsep Allah semua berbeda. Maka engkau boleh mengerti apa yang diklaim oleh Tuhan Allah tidak boleh sembarangan kita tafsir.

Tidak ada yang mencari Saya. Tidak ada yang mengerti kebenaran. Tidak ada yang melakukan kebaikan. Ini kalimat Tuhan yang saya sangat menghormati. Karl Barth mengatakan satu kalimat, saya kira kita harus pikir baik-baik, meski kita tidak setuju seluruh teologinya. Apa yang dikatakan oleh Karl Barth? Allah adalah sesuatu yang suci yang lain. Allah adalah yang berbeda seluruhnya dengan konsep kita. Kalau engkau mengatakan saya sudah menemukan Allah, saya sudah mengenal Allah, saya sudah cari Allah dan Allah berkata tidak, jangan mempersalahkan orang itu, lebih lagi jangan mempersalahkan Allah. Karena Allah tidak mungkin bohong. Jangan mempersalahkan agama, tapi jangan mengira semua Allah yang dipercaya oleh agama adalah sama. Kalau yang paling dasar ini engkau sudah jelas, baru engkau bisa mendengar baik-baik setiap khotbah. Seumur hidup saya paling menyesal, sulit menjelaskan supaya manusia mengerti apa yang saya mau khotbahkan. Begitu sulit untuk menyatakan atau memberitahukan kepadamu apa yang mau saya khotbahkan. Karena kesulitannya adalah kita tidak memiliki dasar yang sama. Itulah sebab pendengar dengar yang dia mau. Yang khotbah mengkhotbahkan yang Tuhan mau. Akhirnya tidak pernah ketemu.

Kembali kepada tema hari ini, mengapa orang baik Tuhan kurang menghargai?  Mengapa orang berdosa Tuhan begitu mudah mengampuni mereka? Kita terlalu mudah mengambil kesimpulan Allah orang Kristen bukan Allah yang adil. Apakah Saul akhirnya dibuang oleh Allah? Itu betul tindakan Allah. Apakah itu benar? Apakah Daud yang sudah berzinah akhirnya tetap dianggap raja yang diterima oleh Tuhan? Itu benar atau tidak? Dua minggu yang lalu saya berkata, Daud menerima satu kalimat, “Pedang tidak akan meninggalkan rumahmu untuk selamanya.” Saya tidak boleh membela Daud, karena memang dia pernah berzinah dengan Batsyeba. Dia pernah membunuh melalui pisau orang lain, yaitu membunuh suaminya Batsyeba. Karena apa? Karena dia punya birahi ketika melihat wanita cantik, dia sudah tidak bisa tahan. Orang yang ganteng sekali, mencintai perempuan yang cantik sekali. Masalahnya dia sudah menikah. Dia tidak berhak suruh Betsyeba ke istana dia, tapi dia kerjakan itu. Orang jahat seperti Daud, mengapa Tuhan masih mau mengampuni dia? Apakah Allah adil? Allah kelihatan tidak adil, tetapi Allah tetap adil. Karena Allah bagaimana mencintai Daud, tidak berarti Allah berkompromi dengan dosa yang diperbuat oleh orang yang dia cintai. Tuhan kirim Natan pergi berjumpa dengan Daud. Tuhan suruh Natan cerita satu hal yang membuat Daud marah. Seorang mempunyai banyak domba. Satu hari ada tamu ke rumahnya. Dia mau menjamu supaya tamu itu boleh makan enak. Dia potong seekor domba kecil untuk masak yang enak, tetapi dia tidak bunuh kambingnya sendiri. Ia sayang dombanya sendiri. Dia ambil milik orang sebelah, dicuri, dipotong, dimasak, dikasih tamunya. Ini hal tidak terjadi, ini cuma cerita. Tapi pada waktu Daud dengar orang jahat ini ambil kambing orang lain, lalu masak menjamu tamunya, dia marah sekali dan mengatakan, dengan sesungguhnya saya bersumpah kepada Tuhan, orang kaya ini harus mati. Sudah keluar kalimat ini dari mulutnya, nabi Natan mengatakan, “Kamulah orang itu!” Cerita yang menarik, menceritakan yang tidak adil, menimbulkan kemarahan Daud yang tidak bisa tahan lalu mengutuk orang kaya itu.

Tiga ribu tahun yang lalu, tidak ada raja yang boleh menerima teguran orang ke istana yang mempermalukan dia sampai tidak ada muka sama sekali. Perhatikan kalimat di bawah ini. Setelah Daud mendengar, “Kamulah orang itu,” saya tanya, Daud membela diri tidak? Daud berbelit-belit tidak? Daud menolak tuduhan itu? Sama sekali tidak! Dia mengatakan, saya sudah berdosa. Saya baru tahu saya seperti orang kaya yang curi domba orang. Nabi Natan berkata, “Bukankah engkau sudah punya istri yang banyak? Masih kurang? Mengapa engkau ambil istri Uria? Mengapa engkau membunuh suaminya supaya dia yang setia pada istrinya dibunuh dan engkau bersenang-senang?  Banyak orang sudah punya istri masih inginkan perempuan orang lain yang cantik. Ada orang sudah menikah mau pergi cari pelacur yang lebih cantik. Ini semua yang terjadi setiap hari di seluruh dunia, termasuk Jakarta dan Singapura. Tuhan melihat, Tuhan mengetahui dan Tuhan tidak berdiam. Tuhan memanggil seorang yang jujur namanya Natan menjadi nabi mewakili Tuhan, pergi membongkar dosanya Daud dan berkata, “Engkau harus menanggung resiko perbuatan dosamu.” Saudara perhatikan kalimat yang dikatakan oleh Daud. Orang kaya ini harus mati. Karena dia ambil domba orang lain membunuhnya. Dia harus kembalikan empat kali. Sesudah Daud mengatakan kalimat yang begitu keras, Natan mengatakan, “Kamulah orang itu.” Berarti, kamu harus mati dan kamu harus bayar empat kali.

Ini sangat menakutkan. Kalau baca kitab suci jangan anggap itu cerita kuno. Kalau engkau sudah baca kitab suci pikirkan dirimu sendiri, dan engkau berkata, “Tuhan ampunilah saya, saya seperti orang jahat yang ditulis di dalam kitab suci.” Maka Tuhan akan mengampuni dosamu. Tuhan akan menerima kembali engkau. Inilah bedanya Saul dibanding dengan Daud. Waktu Samuel berkata pada Saul, “Karena engkau menghina Tuhan, maka sekarang Tuhan mau membuang engkau. Tuhan perintahkan engkau bunuh semua musuh, mengapa engkau tidak bunuh dan engkau mengambil domba dan lembu yang tambun. Engkau pikir, engkau cinta Tuhan.” Saul tidak mengaku dosa. Saul mengatakan, “Saya mengambil binatang-binatang yang tambun untuk dipersembahkan kepada Tuhan.” Kelihatan dia cinta Tuhan, tetapi hatinya tidak jujur. Dia menipu supaya kelihatan dia orang baik, jangan dipersalahkan karena itu mempermalukan dia. Inilah perbedaan Saul dan Daud. Saul lebih baikkah? Tidak tentu. Tetapi waktu Saul dosanya dibongkar, dia sama sekali tidak mengaku. Daud lebih jahatkah? Sangat mungkin. Tapi waktu Daud dibongkar dosanya, dia tidak lari, dia tidak menyangkal, dia langsung berkata, “Aku sudah berdosa.” Dia mengubah konsep bagaimana Allah menanggapi orang berdosa.

Saya adalah orang berdosa dan engkau orang berdosa. Kita semua telah melakukan dosa. Tetapi pada waktu Tuhan menyatakan dosamu, jangan lari, jangan sanggal, jangan gengsi, jangan tolak. Karena itulah yang dituntut oleh Tuhan. Tuhan melihat Daud. Tuhan puas karena Daud mengatakan bahwa saya telah melakukan dosa di hadapanMu ya Tuhan. Tapi Saul tidak. Setelah ditegur dosanya, dia bukan saja di tidak mau bertobat, Saul mencari alasan dengan memelihara beberapa kambing domba yang begitu baik dan mengatakan bahwa dia akan mempersembahkannya kepada Tuhan. Orang yang berdosa tidak mau mengaku, masih mencari alasan untuk berjasa di hadapan Tuhan. Ini membuat Tuhan sangat marah. Samuel berkata pada Saul, Tuhan sudah bosan dengan kamu. Tuhan akan mengambil takhtamu dan memberikannya kepada orang yang lebih baik dari kamu. Apa reaksinya Saul? Dia menjawab, “Tolong angkat saya di tinggi-tinggi di hadapan rakyat. Supaya mereka tidak mempermalukan saya.” Tuhan dengar kalimat ini Dia sudah muak, dia mau memuntahkan Saul keluar dari mulutnya. 

Saya hari ini cuma bicarakan sedikit tentang konsep Allah yang berbeda dan sifat manusia yang membela diri disbanding dengan orang yang jujur yang bertobat itu beda sekali. Natan berkata kepada Daud, “Dosamu telah diampuni. Engkau telah melakukan dosa dan engkau telah mengakuinya. Allah telah membuang dosa daripadamu. Tetapi Tuhan akan memberikan kepadamu hukuman dan engkau tidak akan dapat lari dari perkataanmu akan orang kaya yang harus bayar empat kali lipat. Natan mengatakan bahwa pedang tidak akan pergi dari rumahmu selama-lamanya.

Daud membunuh Uria, balesannya empat kali. Berapa anak Daud yang dibunuh? Empat. Kenapa empat? Karena Daud berkata, “Harus bayar empat kali.” Tuhan mengatakan, “Anakmu empat harus mati.” Apakah engkau mengira Allah orang Kristen tidak adil? Apakah engkau kira Allah tidak sesungguhnya menjadi Allah yang adil di dalam dunia ini? Anak pertama yang mati yang baru dilahirkan oleh Betsyeba langsung mati. Saya percaya mungkin itu bayi yang terindah sepanjang Adam sampai sekarang. Tetapi Tuhan berkata, “No.” Dia harus mati karena ini adalah hasil perselingkuhan. Ini hukuman pertama.

Jangan menikmati perbuatan dosamu melawan Tuhan. Saya percaya anak Daud semua ganteng dan cantik sekali. Kalau Tamar tidak cantik tak mungkin Amnon cinta dia sampai siang malam tidak bisa tidur sampai kurus mau mati. Dia ingin mendapatkan Tamar meskipun dia tahu itu adik sendiri, tidak boleh menikah sama adik perempuan. Tapi dia tidak tahan, dan hari itu Amnon memperkosa Tamar. Setelah memperkosa, Alkitab berkata, “Timbullah kebencian kepada Tamar.” Tamar berapa cantik ternyata begitu mudah saya hari ini mendapatkanmu.  Saya tidak lagi cinta padamu. Anak muda dengar kalimat di bawah ini. Kalau perempuan terlalu mudah didapat, tidak mungkin engkau mencintai dia. Setelah engkau memperkosa yang paling engkau cinta, sesudah itu engkau mulai benci dia. Akhirnya Amnon dibunuh oleh Absalom. Ini yang kedua.

Alkitab mengatakan masih ada dua yang lain. Yang ketiga mati adalah Absalom yang membunuh Amnon akhirnya juga dibunuh. Sesudah tiga mati masih ada satu, Adonia juga dibunuh. Ini yang keempat. Dan ini semua menjadi sesuatu realisasi dari kalimat Daud mengatakan orang kaya yang mencuri domba itu harus mati dan harus membayar empat kali lipat. 

Saya tidak berani mengatakan Allah tidak adil. Saya makin tua makin mempelajari kitab suci, makin saya takut akan Tuhan. Itu sebab orang-orang reformed di sini jangan mengikuti orang Kristen yang bukan reformed. Jangan sembarang menilai, mengkritik, memberikan vonis bahwa Allah tidak adil. Tuhan mengetahui siapa adalah siapa. Tuhan membalas kepada orang yang harus terima balasan. Meskipun engkau orang yang baik, orang yang mencintai Tuhan, jangan kira engkau berdosa boleh sembarang diampuni. Dosa boleh diampuni, tetapi akibat dosa harus engkau telan seluruhnya ke dalam hidupmu. Kiranya Tuhan memberkati kita. Kiranya Tuhan memberikan kita hati yang takut kepada Dia sehingga kita hidup di dunia ini menjadi orang yang mengerti Tuhan lebih daripada orang dunia yang tidak mengerti Dia. Takutlah kepada Tuhan. Hati-hatilah menjalankan kehendakNya. Peliharalah kesucianmu supaya diperkenan oleh Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati kita masing-masing.