Download versi cetak: 1248_KebaktianPagi_2026-25-Jan
Menghargai Pemberian Tuhan di Tengah Keterbatasan Hidup
Pengkhotbah 9:1-12
Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Dalam satu–dua hari terakhir, muncul kembali sebuah video singkat yang viral tentang penguin, yang sebenarnya merupakan cuplikan dari sebuah film dokumenter tahun 2007 karya Werner Herzog. Dalam dokumenter tersebut, Herzog berdialog dengan Dr. Ainley, seorang peneliti di Antartika, dan mengajukan pertanyaan: apakah mungkin seekor penguin bertindak seolah-olah “gila”, karena stres, muak, atau dorongan lain yang tidak lazim. Umumnya, penguin tetap berada di koloni mereka atau bergerak menuju feeding ground di tepi es. Namun dalam dokumenter itu diperlihatkan satu penguin yang tiba-tiba berhenti, tidak kembali ke koloni dan tidak menuju tempat mencari makan, melainkan berbelok ke arah pegunungan. Penguin itu terus berjalan ke arah yang, dalam radius puluhan kilometer, tidak menyediakan koloni maupun makanan. Dr. Ainley menjelaskan bahwa sekalipun penguin tersebut ditangkap dan dikembalikan ke koloni atau feeding ground, ia tetap akan berbalik dan berjalan ke arah pegunungan. Bahkan ditunjukkan bahwa ada penguin serupa yang ditemukan sekitar 80 kilometer dari koloninya, berjalan masuk ke bagian dalam benua Antartika, menuju wilayah yang ribuan kilometer ke depannya tidak menyediakan apa pun, sebuah perjalanan yang pada akhirnya menuju kematian.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa penguin tersebut bertindak demikian. Para peneliti menjelaskan bahwa perilaku seperti ini sangat jarang dan tidak umum, meskipun memang pernah terjadi. Kemungkinannya adalah penguin tersebut mengalami disorientasi karena petunjuk lingkungan yang biasanya ia gunakan terganggu, atau adanya gangguan neurologis. Namun cuplikan ini menjadi viral karena manusia cenderung memproyeksikan pengalaman hidup mereka ke dalam gambar penguin itu. Sosok penguin yang tampak sebagai titik hitam sendirian di tengah hamparan salju putih memunculkan kesan kesepian dan keterasingan, perasaan yang sering dialami manusia ketika merasa tersesat dan berjalan ke arah yang tidak sepenuhnya dipahami. Gambaran ini bisa saja dipakai untuk melukiskan kebebalan, yaitu memilih jalan yang keliru dan menuju kehancuran. Namun sebaliknya, banyak orang justru mengangkat penguin ini sebagai sosok hero dan simbol pemberontakan terhadap hidup yang rutin dan monoton, seolah-olah ia melambangkan keberanian untuk menolak pola hidup yang dianggap biasa dan mencari jalan lain yang ekstrem, bahkan dengan keyakinan bahwa “penguin itu tahu sesuatu yang tidak kita ketahui.”
Terkait dengan kitab Pengkhotbah, penguin ini bahkan diberi julukan seperti “The Why Penguin” atau “The Nihilistic Penguin”, karena dipakai sebagai gambaran untuk mempertanyakan makna hidup. Melalui ilustrasi ini, seolah-olah penguin tersebut mempertanyakan pola hidup yang berulang: hidup untuk mencari makan, berkembang biak, lalu mengulanginya terus sampai mati, dan kemudian bertanya, “mengapa?”. Pertanyaan ini sejalan dengan pergumulan dalam kitab Pengkhotbah tentang arti kehidupan di bawah matahari, tentang kesia-siaan hidup, dan kenyataan bahwa pada akhirnya semua manusia akan mati. Dalam pasal 9, dua tema besar kembali diangkat, yaitu kematian dan kehidupan, yang sebenarnya sudah berulang kali muncul sebelumnya. Kitab Pengkhotbah tidak dapat didekati dengan mentalitas modern yang hanya ingin poin singkat dan kesimpulan cepat. Kitab ini perlu dinikmati seperti proses slow cooking: berulang, pelan, dan membutuhkan waktu. Tetapi justru melalui proses itulah pemahaman dan kedalaman makna perlahan muncul.
Ayat pertama ini melanjutkan pasal 8 yang menegaskan keterbatasan manusia, bahwa banyak hal dalam hidup tidak kita mengerti. Namun di tengah ketidaktahuan itu, ada satu penghiburan: apa pun yang dialami manusia, baik atau malang, semuanya berada di dalam tangan Allah. Sekalipun membingungkan bahwa hal-hal buruk pun ada dalam kedaulatan-Nya, bagi umat Tuhan kenyataan bahwa hidup ini ada dalam pemeliharaan Allah tetap memberi penghiburan. Meski demikian, masalahnya adalah hidup manusia begitu singkat dan rapuh, seperti uap atau asap, dan pada akhirnya setiap orang akan mati. Dari pasal ini, dapat dipelajari tiga hal tentang kematian: kematian adalah sesuatu yang pasti, kematian adalah sesuatu tragedi yang menyedihkan, dan kematian dapat datang secara tiba-tiba tanpa dapat diprediksi. Ayat 2 dan 3 menekankan bahwa kematian adalah kepastian bagi semua orang, tanpa memandang apakah seseorang benar atau fasik, baik atau jahat, bermoral atau tidak bermoral. Kehidupan religius, moralitas, atau ketaatan pada aturan apa pun tidak membebaskan manusia dari kematian, karena setiap orang tetap berada di bawah kenyataan kefanaan yang sama.
Pengkhotbah, di ayat ketiga, menyebut kenyataan ini sebagai sesuatu yang celaka dan jahat, yaitu bahwa orang baik dan orang jahat sama-sama mengalami tragedi kematian. Kematian digambarkan sebagai kecelakaan besar karena hati manusia penuh kejahatan dan kebebalan, sehingga pada akhirnya semua menuju alam orang mati. Gambaran ini mengingatkan pada peristiwa air bah, ketika kebebalan dan kejahatan hati manusia membawa kebinasaan bagi semua. Inilah sebabnya setiap orang, baik maupun jahat, akan binasa, karena kejahatan dalam hati manusia adalah sesuatu yang natural. Namun jika kematian hanya dipandang sebagai bagian alami dari siklus hidup, seharusnya ia tidak terasa menyedihkan. Faktanya, ada sesuatu dalam hati manusia yang membuat kematian menjadi tragedi yang sangat menyakitkan.
Dalam ayat 4–6, Pengkhotbah menegaskan perbedaan antara orang hidup dan orang mati: yang hidup masih memiliki pengharapan, sedangkan yang mati tidak memiliki apa-apa. Karena itu dikatakan bahwa seekor anjing yang hidup lebih baik daripada singa yang mati, meskipun anjing pada masa itu dipandang hina dan najis, sementara singa melambangkan kegagahan dan kemuliaan. Keberadaan yang paling hina sekalipun, selama masih hidup, lebih baik daripada posisi setinggi apa pun ketika sudah mati. Selama seseorang masih hidup, sekecil dan serepot apa pun keadaannya, masih ada sesuatu yang bisa diperjuangkan. Sebaliknya, sebesar dan sehebat apa pun seseorang, ketika ia mati, semuanya berakhir. Orang yang hidup masih memiliki kesadaran, termasuk kesadaran bahwa suatu hari ia akan mati, sedangkan orang mati tidak mengetahui apa-apa lagi, seolah-olah tidak pernah ada. Segala cinta, kebencian, kecemburuan, dan gairah hidup berhenti dan tidak lagi memiliki bagian dalam dunia ini. Karena itu, ketika manusia, sebagai puncak ciptaan Allah, meninggal, kematian menjadi sesuatu yang sangat menyedihkan. Sekalipun di dalam Kristus ada pengharapan akan keselamatan dan kebangkitan, hal ini tidak membuat kematian menjadi sesuatu yang baik, sebab kematian tetap merupakan sebuah tragedi.
Kematian juga digambarkan sebagai sesuatu yang tidak dapat diprediksi dan bisa terjadi secara tiba-tiba. Dalam hidup, banyak hal tidak berjalan sesuai harapan, karena ada begitu banyak pengecualian dari apa yang kita perkirakan. Orang yang paling diunggulkan tidak selalu menjadi pemenang, yang paling kuat tidak selalu menang dalam pertempuran misanya Daud dan Goliat, dan yang paling bijaksana atau cerdas tidak selalu hidup berkecukupan atau berhasil. Dikatakan di ayat ke-11, waktu dan nasib, sebagaimana dikatakan, menimpa setiap manusia, dan manusia tidak memiliki kendali atas keduanya. Kita tidak menguasai arah hidup kita sepenuhnya, dan juga tidak menentukan kapan kematian datang.
Ayat 12 melukiskan hal ini dengan gambaran ikan yang tiba-tiba terperangkap jala dan burung yang terjerat perangkap, menunjukkan bahwa kematian dan nasib dapat menimpa manusia secara mendadak, tanpa peringatan. Hidup digambarkan bukan hanya rapuh seperti uap yang bisa menguap, tetapi juga seperti nyala lilin yang dapat padam seketika tanpa peringatan. Banyak peristiwa menunjukkan betapa hidup tidak bisa diprediksi dan sering kali tidak masuk akal, termasuk cara setiap orang akhirnya berjumpa dengan kematian. Pergumulan ini menimbulkan pertanyaan mendalam tentang mengapa manusia harus mengalami kehidupan yang berujung pada kesedihan seperti itu. Ilustrasi dari komik Calvin and Hobbes menggambarkan kesedihan ini melalui pengalaman Calvin yang merawat seekor rakun sekarat, berharap ia sembuh, tetapi akhirnya harus menerima kematiannya. Kesedihan Calvin muncul bukan hanya karena rakun itu mati, tetapi karena kehadirannya yang singkat namun meninggalkan dampak mendalam. Dari situ muncul pertanyaan tentang makna hidup dan kematian, bahkan sampai pada kesan bahwa dunia ini terasa tidak masuk akal. Dalam dialog ringan antara Calvin dan Hobbes, muncul jawaban sederhana dan hampir jenaka tentang arti hidup, yaitu menikmati hal-hal kecil yang ada. Kesederhanaan ini, meski terdengar ringan, sejalan dengan anjuran Pengkhotbah untuk menerima hidup apa adanya dan menikmati bagian hidup yang masih bisa dinikmati.
Ayat 7 sampai 10 kembali menekankan tema yang sudah sering muncul dalam kitab Pengkhotbah, yaitu menikmati hidup. Ini merupakan kali keenam tema tersebut disebut, dan bagian ini menonjol karena penekannya yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Sebelumnya, Pengkhotbah hanya membandingkan dan mengamati, mengatakan bahwa “tidak ada yang lebih baik daripada menikmati hidup.” Namun di bagian ini, ia berbicara dalam bentuk imperatif, seolah memberi perintah yang mendesak: nikmatilah hidup sekarang juga. Karena hidup singkat dan tidak dapat diprediksi, setiap orang harus belajar menghargai setiap hari secara penuh di hadapan Tuhan. Bagian ini juga lebih panjang dalam membahas cara menikmati hidup: Pengkhotbah mengajak untuk bertindak sekarang, berhenti terjebak dalam kesedihan, dan mulai hidup dengan utuh, makan, minum, dan menikmati hidup yang ada.
Seorang komentator, O’Donnell, merangkum bagian ini dengan tiga hal: Enjoy wine, enjoy wife, enjoy work. Menikmati makanan dan minuman, menikmati relasi pernikahan, dan menikmati pekerjaan. Pengkhotbah pertama-tama memerintahkan untuk menikmati roti dan anggur, yaitu makanan sehari-hari pada zamannya. Menikmati di sini berarti sungguh-sungguh menikmati pemberian Tuhan, bukan makan dengan tergesa-gesa sekadar untuk melanjutkan aktivitas lain. Tuhan menyediakan beragam makanan bagi manusia untuk dinikmati dengan sukacita. Sekilas, ajakan ini tampak mirip dengan semboyan kaum Epicurean yang menekankan makan dan minum karena hidup singkat, namun pendekatan tersebut bersifat dangkal dan putus asa. Karena itu, perintah Pengkhotbah untuk menikmati hidup tidak boleh disalahpahami sebagai ajakan kepada hedonisme, melainkan sebagai sikap menghargai pemberian Tuhan di tengah keterbatasan hidup.
Hidup ini memang penuh ketegangan: di satu sisi ada panggilan untuk memikul salib dan menderita, tetapi di sisi lain hidup adalah anugerah yang harus dinikmati. Menikmati makan dan minum bukan karena keputusasaan atau hedonisme, melainkan karena Allah berkenan atas perbuatan kita dan menyediakan berkat-Nya. Sejak Taman Eden, Tuhan menciptakan makanan bukan sekadar untuk bertahan hidup, tetapi juga dengan rasa dan kenikmatan. Anggur menyukakan hati manusia, dan kehidupan sehari-hari dipenuhi beragam anugerah yang bisa dinikmati. Perintah untuk menikmati hidup tetap berlaku meski kita percaya pada hidup kekal setelah kematian. Yesus sendiri menunjukkan hal ini, baik dengan memberi makan lima ribu orang maupun mengubah air menjadi anggur di pesta pernikahan, menunjukkan sukacita dalam makanan sebagai bagian dari anugerah Tuhan. Menikmati makanan bukan soal kemewahan, tetapi tentang menghargai berkat yang diberikan, dari yang sederhana seperti kaya toast dan kopi hingga yang lebih besar, karena melalui itu kita belajar hidup sepenuhnya meski menyadari kefanaan kita. Ayat 8, “Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu.“ Menekankan simbol sukacita melalui penampilan. Pakaian yang rapi dan cerah serta wajah yang segar dengan minyak menunjukkan cara manusia menikmati hidup. Penampilan yang diperhatikan dengan baik, termasuk senyum dan wajah yang berseri, adalah salah satu bentuk merayakan hidup dan bersyukur atas anugerah yang Tuhan berikan.
Sekarang dari dapur kita ke kamar tidur di ayat ke-9. Bagi O’Donnell di ayat ke-8 tentang berpakaian itu bukan hanya berkaitan dengan bagian sebelumnya tetapi bahkan berkaitan dengan bagaimana kita tampil di depan pasangan kita. Ayat ini juga mengajak kita menikmati hidup melalui relasi dengan pasangan. Menikmati istri atau suami bukan sekadar tentang kamar tidur, tetapi tentang menghargai hubungan pernikahan secara menyeluruh. Seperti di Taman Eden, Tuhan tidak hanya memberi buah-buahan untuk dinikmati, tetapi juga memberi pasangan hidup sebagai teman yang sepadan, yang bisa saling menolong dan menjadi satu. Kerohanian Kristen bukan berarti menolak kenikmatan duniawi, bukan kehidupan asketis, termasuk hubungan suami-istri, makanan, atau minuman, melainkan menikmati semua pemberian Tuhan dengan syukur. Meski pernikahan kadang terasa sulit, itu tetap merupakan anugerah dari surga yang bisa membawa sukacita. Kalau kita tidak menikmati atau lupa menikmati pernikahan, maka dengarkan panggilan pengkhotbah ini dan kerjakanlah pernikahanmu. Yesus menghormati pernikahan, misalnya dengan hadir di pesta pernikahan di Kana, dan Paulus mengajarkan agar suami mengasihi istri seperti Kristus mengasihi gereja, menunjukkan bahwa pernikahan bisa menjadi sarana mengalami kasih dan keindahan hidup yang diberikan Tuhan.
Yang ketiga, menikmati pekerjaan. Pekerjaan diberikan Tuhan sebagai berkat sejak sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, tercermin dari perintah untuk menggarap dan menguasai bumi serta pola enam hari bekerja dan satu hari istirahat. Setelah kejatuhan manusia, pekerjaan menjadi lebih berat dan penuh tantangan, tetapi tetap harus dijalani dengan sungguh-sungguh. Segala kesempatan yang ada harus dikerjakan sekuat tenaga, karena setelah kematian tidak ada lagi kesempatan untuk bekerja atau belajar. Kesadaran akan kefanaan membuat hidup semakin berharga dan mendorong kita untuk memanfaatkan setiap kesempatan sebaik mungkin. Hidup hanya sekali, sehingga setiap tindakan dan pekerjaan yang kita lakukan haruslah berarti dan dijalani dengan kesungguhan, sekaligus mempertimbangkan bagaimana seorang Kristen seharusnya bekerja.
Baru-baru ini saya mendengar cerita seorang milenial yang merasa terjebak di antara dua generasi: bos dari generasi Boomer yang bekerja mati-matian dan asisten dari generasi Tenggo yang cepat pulang. Situasi ini membuatnya harus menyeimbangkan ekspektasi kedua belah pihak, bahkan sampai harus menyiapkan dua nomor HP agar tetap bisa menjalankan tanggung jawabnya. Kisah ini menggambarkan tekanan kerja yang banyak orang alami, tetapi bagi orang Kristen, pekerjaan tidak boleh sekadar dijalani untuk memenuhi kontrak atau mencari uang. Pekerjaan harus dipandang sebagai panggilan, kesempatan yang Allah berikan untuk melaksanakan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh, sambil tetap sadar akan keterbatasan kita. Kerja tidak boleh menjadi berhala atau hal paling penting, karena hidup juga mencakup panggilan lain: menjadi suami, istri, orang tua, anak, melayani komunitas gereja, dan menjadi saksi Kristus. Selagi masih ada kesempatan, Pengkhotbah mengajarkan agar kita bekerja sekuat tenaga, bukan untuk bos atau uang, tetapi bagi Kristus, memanfaatkan waktu hidup yang singkat dengan bijak dan penuh makna.
Beberapa pekerjaan atau panggilan hanya bisa dilakukan selama kita hidup di dunia, karena di surga hal-hal tertentu tidak lagi diperlukan. Misalnya, dokter tidak dibutuhkan karena tidak ada penyakit, memiliki anak pun tidak lagi relevan, dan penginjilan juga tidak lagi diperlukan. Hobi atau perjalanan mungkin tetap bisa dinikmati, tetapi ada kesempatan yang unik hanya bisa dijalankan sekarang, selama hidup kita di bumi. Seperti kata Pak Tong, Kairos, kesempatan itu seperti dewa dengan rambut di depan tapi botak di belakang, jika tidak segera diambil, ia akan hilang. Maka untung mengakhiri perenungan kita, mari kita pikirkan dan sungguh-sungguh belajar untuk mengambil kesempatan yang Tuhan berikan. Ambil kesempatan sekalian untuk melayani Tuhan. Spurgeon pernah menekankan bahwa melayani Tuhan tidak bisa ditunda sampai besok. Kita harus melayani-Nya sekarang selagi ada kesempatan. Nikmatilah semua yang Tuhan berikan dalam hidup ini, daripada terus memikirkan hal-hal yang tidak kita miliki. Kasihilah pasanganmu sekarang, karena di surga nanti peran suami atau istri tidak lagi ada. Tunjukkan perhatian, cinta, dan pelayanan kepada mereka selagi masih bisa. Seperti pepatah yang ditutupkan: “Yesterday is history, tomorrow is mystery, today is a gift. That’s why it’s called the present.” Hari ini adalah anugerah, kesempatan untuk menikmati hidup dan menyatakan sukacita kita di dalam Kristus Yesus melalui cara kita makan, berpakaian, mencintai, dan bekerja, sehingga dunia dapat melihat sukacita yang nyata di dalam Yesus.